Aroma harum dari berbagai bunga memenuhi ruangan toko kecil milik Serena, sekarang ia telah kembali melakukan rutinitasnya sebagai penjual bunga. Gadis itu terlihat rapi dan anggun mengenakan gaun putih selutut, rambut panjangnya dikepang hingga menambah kesan manis pada dirinya.
Pagi-pagi sekali sudah ada beberapa orang yang datang ke sana untuk membeli bunga, dimulai dari pelanggan setia ataupun orang yang tertarik dan kebetulan sedang menginginkannya.
"Aku lapar...." Gumam Serena.
Ia belum sarapan, gadis itu duduk dengan lesu sambil telungkup di meja kasirnya. Ia tak begitu bersemangat hari ini, kembali membuka toko itu membuatnya mengingat begitu banyak kenangan dengan ibunya.
Aroma bunga-bunga dan tempat itu selalu saja membawanya kembali ke masa lalu. Dulu dia selalu membantu ibunya mengurus toko bunga, di sanalah tempat mereka menghabiskan waktu berdua. Terkadang ia juga melihat ibunya menangis sendirian di dalam ruangan ini dengan lampu yang tertutup sambil menggenggam sebuah kalung bekas pemberian ayahnya dulu.
Serena membencinya, ia sangat benci saat melihat sang ibu lagi-lagi meneteskan air mata untuk pria itu. Meskipun begitu ia akan selalu menghampiri dan menenangkan ibunya dengan mengambil sebatang mawar lalu memberikannya pada wanita itu.
Lagi-lagi aku mengingat masa lalu.....
Gadis itu menghela nafasnya dengan kasar.
Serena bangkit dari duduknya, ia menerima pesanan buket bunga dari seseorang dan tentu saja harus segera mengerjakannya. Hari ini cukup sibuk karena ada banyak pelanggan yang berdatangan begitu toko itu dibuka, bahkan ia harus membuka toko hingga malam karena ada seseorang yang menunggunya untuk membuatkan sebuah buket mawar dengan ukuran besar.
"Akhh..., rasanya pinggangku seperti akan patah." Ringis Serena begitu ia merenggangkan badan.
Sudah pukul 07:00 malam dan ia baru saja menutup tokonya, hari ini sangat melelahkan untuknya. Meskipun begitu, semua rasa lelahnya seakan terbayar saat melihat penghasilannya hari ini.
"Waw, ternyata aku menghasilkan banyak uang." Ucapnya kagum sambil menghitung uang hasil dari penjualannya.
*****
Suara bising dari penggorengan memecah keheningan malam, aroma harum dari masakan juga menguar memenuhi dapur. Ya, Serena belum tidur dan sekarang ia sedang memasak makan malam yang bisa dibilang telat sekali.
Setelah makanan yang ia masak matang, gadis itu langsung melahapnya. Sepi, inilah alasan kenapa ia sangat malas untuk makan malam. Ia benci duduk sendirian di ruang makan itu, mengunyah makanan dalam diam dan sepinya malam seakan membuat rasa laparnya hilang terbawa angin.
Menyebalkan sekali....
Serena mengunyah makanannya dengan malas.
Entah kenapa ia jadi merindukan sahabatnya yang berada di luar kota, karena biasanya sahabatnya itu sering datang untuk minta dibuatkan makan malam. Meskipun itu merepotkan, Serena tetap menyukainya. Setidaknya rumah itu tidak terlalu sepi jika orang itu ada di sini sekarang.
"Apa aku harus mengadopsi hewan peliharaan?" Gumamnya sambil mengaduk-aduk malas spaghetti di dalam piringnya.
Gadis itu terlihat sedang berfikir keras, tetapi ia dikejutkan dengan suara berisik dari belakang rumah. Tentu saja ia terkejut hingga langsung bangkit dan memeriksa apa yang terjadi di belakang sana dengan mengintip lewat jendela.
"Apa itu tadi?" Bisiknya pelan.
Matanya terus menyapu sekeliling. Awalnya ia tidak menemukan hal yang aneh, tetapi gadis itu dibuat shock saat melihat sesuatu yang berada di luar dugaannya.
Ia bisa mengenali dengan sangat jelas dengan apa yang ia lihat, seseorang dengan penampilan berantakan serta rambut panjang itu.
Bagaimana bisa dia ada di sini?!
Serena hampir saja berteriak, tetapi ia bisa menahannya.
Perasaannya campur aduk sekarang. Rasa takut, terkejut dan sebagainya seakan berbaur menjadi satu.
"Dia mengikutiku atau bagaimana?" Gumamnya cemas.
Serena membatu di samping jendelanya, mengetahui Van berada di belakang rumahnya sekarang merupakan hal aneh yang membuatnya takut. Tiba-tiba saja otaknya mengingat tentang beberapa adegan yang biasanya terdapat pada film horor atau pembunuhan. Seperti gadis yang terbunuh oleh seorang penguntit, diikuti oleh orang aneh lalu dihabisi nyawanya.
Tidak..., tidak mungkin!
Serena berusaha menepis semua pemikiran itu sambil menepuk-nepuk kepalanya.
Ia kembali lagi mengintip dari jendela. Benar saja, Van masih setia duduk di dekat pot pohon mawar yang sempat rusak sebelumnya. Tetapi gadis itu dibuat termenung saat melihat Van membelai lembut kelopak bunga itu lalu menggoyang-goyangkan kepalanya dengan senang, lelaki itu menyentuhnya dengan lembut seakan takut jika bunga itu gugur saat ia menyentuh terlalu kasar.
Serena terdiam, hatinya terenyuh melihat apa yang dilakukan oleh Van di belakang sana.
"Apa dia menyukai bunga?" Lirih Serena.
Kakinya melangkah menuju pintu, jemari gadis itu bergerak membuka kuncian pintu dan menarik gagangnya. Begitu pintu terbuka, Serena terdiam saat dirinya disambut oleh tatapan polos dari Van yang sedang duduk membelakanginya tetapi menoleh ke arahnya.
"Kenapa kau di sini?" Ucap Serena yang sontak membuat Van terkejut, laki-laki itu menggeram pelan.
Tak ada sahutan tentu saja, Van hanya menatapnya tanpa bergeming. Dengan perlahan Serena mendekat, tetapi hal itu justru membuat Van bergerak mundur menjauhinya.
"H-hei..., tunggu!" Teriak Serena sambil setengah berlari.
Namun itu sudah terlambat, Van kini berlari menjauh dan menghilang ke arah hutan yang ada di belakang rumahnya. Kebun bunga di belakang sana memang berdampingan langsung dengan hutan yang tidak terlalu rimbun. Jarak rumahnya dan tetangga yang lain cukup renggang, mereka dipisahkan oleh kebun kecil dan lahan kosong yang di isi oleh berbagai pohon.
"Bagaimana dia bisa mengetahui tempat ini?" Lirihnya.
Serena menatap datar tempat di mana Van menghilang, tidak mungkin ia mengejar laki-laki itu sekarang.
Besok aku harus ke sana.
Batinnya sambil melangkah kembali ke rumahnya.
*****
Pagi-pagi sekali Serena sudah terbangun, ia dibangunkan oleh salah satu tetangganya. Wanita tua bernama Rose itu membagikan sup labu dan sekeranjang buah-buahan, hal itu memang sudah biasa karena Rose cukup dekat dengan ibunya.
Serena memakan sarapannya, ia harus bersiap-siap membuka toko dan melakukan rutinitasnya.
"Mungkin sore hari saja...," Gumam Serena, "mencari uang lebih penting." Tambahnya lagi.
Gadis itu langsung merapikan tokonya, setelah membuka tirai dan papan penanda "buka" maka pekerjaannya hari ini pun di mulai.
Ia memeriksa beberapa persediaan bunga yang sering dibeli. Semuanya masih cukup banyak, kecuali bunga mawar yang memang sering sekali dipakai.
"Harus mengambil dari kebun...." Ucap Serena sambil mengambil gunting pemotong bunga dan menenteng sebuah keranjang.
Ia pergi ke kebun belakang rumahnya, tempat itu terlihat sangat cantik di siang hari. Tanaman yang tumbuh di sana juga sangat subur dan sehat karena lahan yang mendukung, bahkan tidak perlu melakukan perawatan ekstra pun mereka sudah cukup bagus. Biasanya Serena hanya perlu memberi pupuk beberapa kali dalam seminggu atau pun membersihkan area kebun agar tetap terjaga.
"Halo anak-anak cantik~" Ucap Serena dengan gembira saat melihat segerombolan mawar merah yang masih kuncup.
Ia memotong batang mawar itu satu persatu, tetapi saat melihat bunga itu justru membuatnya mengingat Van yang tadi malam berada di sini.
Serena menatap lama bunga-bunga yang sudah ada di keranjang miliknya, ia bisa mengingat jelas bagaimana Van bermain dengan bunga-bunga itu layaknya anak kecil yang tak memiliki teman.
Huh..., dasar merepotkan!
Ia langsung bangkit membawa keranjang bunga yang hanya terisi dengan beberapa tangkai mawar, gadis itu kembali masuk ke tokonya dan membalik papan penanda menjadi "tutup".
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
notKnown
Comel si van
2023-08-13
0