Sudah sangat lama ia berkutat di depan komputer, tetapi tidak ada satu pun informasi berguna yang ia dapat dari sana. Serena sudah mencari semua data tentang orang hilang yang telah masuk ke dalam daftar resmi pencarian, tapi dari semua data itu tidak ada satu pun yang berkaitan dengan Van.
"Apa dia sudah pergi?" Gumam Serena, ia bangkit dan segera berjalan ke arah pintu belakang.
Sesampainya di sana, Serena cukup terkejut. Ia mengira jika Van sudah kembali ke hutan, tapi ternyata laki-laki itu masih berada di kebunnya. Bahkan kini Van sedang tertidur pulas di atas rerumputan hijau dan bunga mawar yang sedang mekar.
Noted : Ilustrasi kebun mawar milik Serena
Laki-laki itu terlelap dengan tenang di sana, bahkan ia tidak peduli jika kupu-kupu sedang berkerumun di atas kepalanya.
"Kenapa dia masih di sini...." Lirih Serena.
Perlahan gadis itu mendekat, kini ia sedang duduk di samping Van yang tertidur pulas. Matanya menatap wajah laki-laki itu, ini adalah pertama kalinya ia melihat wajah Van dengan jelas dalam jarak yang begitu dekat.
Kulit pucat dan bersih, bulu mata lentik dan panjang menghiasi kelopak matanya yang tertutup. Serena tahu jika di balik kelopak mata itu tersembunyi sepasang manik berwarna kuning yang sangat indah.
Rasanya seperti melihat seorang pangeran yang keluar dari dalam buku dongeng....
Tanpa sadar segurat senyum terukir di bibirnya.
Serena mematung, matanya terus menatap wajah Van yang sedang terlelap dengan damai. Entah dari mana asal laki-laki itu, ia tidak mengenal atau tahu sedikit pun tentang Van. Baginya, Van hanyalah anak terlantar dari hutan yang mungkin memiliki gangguan jiwa. Sampai sekarang ia sudah melihat cukup banyak sisi lain dari laki-laki itu.
"Kau tahu..., hidupku sangat datar untuk beberapa tahun terakhir," Gumam Serena, tatapannya masih belum lepas dari wajah Van, "aku kehilangan satu-satunya orang yang berharga dalam hidupku..., dan semua itu adalah salahku...." Lirihnya, kini ia mengalihkan pandangannya.
Matanya berair, genangan air bak kumpulan kristal bening seakan bersiap-siap untuk turun menjejaki pipi mulus gadis itu. Namun, Serena segera mengusapnya dengan kasar. Meskipun begitu, tetap saja bulir yang lain akan segera menyusul dan kembali membasahi matanya.
"Sial..., kenapa aku menangis," Gumam Serena, tangannya mengusap bulir bening itu dengan kasar.
"Bunga,"
Serena tersentak, ia dikagetkan oleh Van yang ternyata sudah duduk di sampingnya.
"Ah! K-kau sudah bangun?" Kaget Serena, "maaf, aku kira kau sudah per-"
"Bunga jangan menangis," Potong Van, tangannya terulur meraih pipi Serena yang masih lembab dengan bekas buliran air mata.
Serena mematung, untuk pertama kalinya ia mendengar laki-laki itu bicara dengan lancar layaknya orang normal. Ditambah dengan apa yang sedang dilakukan oleh Van kini juga membuatnya lebih terkejut lagi.
Laki-laki itu menatapnya dengan tatapan lembut, sepasang manik kuning yang selalu menatapnya dengan tajam bak binatang buas itu kini berubah menjadi sangat jauh berbeda.
"A-ah..., maaf... Apa kau mendengarku?" Ucap Serena kikuk.
Van masih menatap wajahnya, tangan laki-laki itu menarik sebatang mawar yang ada di sampingnya.
"Bunga, jangan menangis." Ucap Van lagi, tangannya terulur memberikan setangkai mawar itu pada Serena.
Lagi-lagi Serena mematung, ia menatap Van dan juga bunga mawar itu bergantian.
"Mawar..., untukku?" Tanya Serena dengan bingung.
Van mengangguk polos, tangannya masih terulur menodongkan mawar itu pada Serena.
"Ah..., terimakasih...." Ucap Serena masih dengan raut wajah tidak percaya.
Ia mengambil mawar itu. Serena merasa aneh, entah kenapa kini ia tersenyum tipis. Jujur saja ia masih tidak percaya jika Van bisa melakukan hal seperti ini.
"K-kau bisa bicara lancar rupanya," Ucap Serena, terlihat raut kagum pada wajahnya.
Tapi kini Van sudah kembali seperti biasanya, laki-laki itu hanya diam tak bergeming tanpa melepas pandangannya pada Serena.
"Kau diam lagi? Kau bisa bicara bukan? Ayo bicaralah lagi! Apa aku harus menangis lagi?" Serbu gadis itu.
Van membelalak kaget, ia menggeleng dengan cepat sambil mundur perlahan.
"T-tidak boleh banyak bicara, nanti bisa mati...." Gumam Van, wajahnya kini menunduk.
Serena tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Van, gadis itu diam mematung dengan wajah bingung.
"Mati? Kenapa harus mati? Siapa yang mengatakannya?" Tanya Serena tanpa henti.
Bukannya sahutan dari mulut Van, yang membalasnya adalah suara riuh perut laki-laki itu yang jelas sekali sedang protes minta diisi. Serena yang tadinya masih tidak mengerti dengan perkataan Van dan menuntut laki-laki itu untuk bicara kini jadi memasang wajah datar.
"Kau lapar?" Tanya Serena.
Kali ini Van mengangkat wajahnya, menatap Serena dengan wajah polos.
"Dasar...." Lirih Serena, "kemarilah, aku punya banyak makanan," Ucapnya sambil berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Ia mengeluarkan beberapa makanan beku yang ada di kulkas, Serena menghangatkan makanan itu menggunakan oven.
"Sampai kapan kau akan berdiri di situ? Masuk dan makanlah di sini," Ucap Serena, ia menatap tajam ke arah Van yang sedang mengintipnya dari pintu belakang.
Kini Van muncul di depan pintu yang terbuka, tetapi ia masih berdiri diam di sana. Serena yang gemas melihat tingkah laki-laki itu langsung menariknya masuk ke dalam dan mendudukkan Van di kursi meja makan.
"Kau boleh masuk jika aku ijinkan, sekarang makanlah ini," Ucap Serena sambil meletakkan sepotong besar ayam panggang dan kentang di dalam piring.
Van menatap makanan itu dengan mata berbinar, ia langsung mengambil potongan ayam tetapi tangannya ditahan oleh Serena.
"Cuci dulu tanganmu," Sela gadis itu.
Ia menarik Van menuju wastafel dan membasuh tangan laki-laki itu, "kau harus selalu mencuci tanganmu jika ingin makan." Ucapnya sambil terus membersihkan tangan Van yang cukup kasar.
Tangannya besar sekali....
Serena cukup kaget melihat perbandingan tangannya dengan Van yang begitu jauh.
"Nah, sekarang kau boleh makan." Ucap Serena setelah membawa Van mencuci tangannya.
Laki-laki itu langsung melahap makanannya, sepertinya ia sangat menyukai ayam. Cara makan Van memang berantakan, bahkan kini ada banyak saus belepotan di pipinya hingga membuat laki-laki itu terlihat seperti anak kecil yang mulutnya penuh dengan makanan.
Serena tersenyum tipis saat memperhatikan Van yang makan dengan lahap di depannya.
Sudah lama sekali sejak ada yang ikut makan denganku di meja makan ini.....
Serena menatap ke luar pintu belakang yang masih terbuka.
"Van," Panggilnya.
Van yang tadinya fokus melahap makanannya kini melihat ke arah Serena.
"Apa kau mau tinggal di sini?" Ucapnya ringan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments