17 : Jangan pergi

Hari sudah hampir gelap, Serena masih menunggu Van yang belum juga kembali. Terlihat jelas raut khawatir pada wajah cantik gadis itu.

Apa dia pergi? Apa dia tidak akan kembali?

Serena masih duduk sendiri pada kursi tua yang ada di kebun miliknya, matanya tak lepas dari arah hutan lebat yang ada di belakang sana.

Serena bangkit dan kembali ke dalam rumahnya, gadis itu memutuskan untuk memasak makanan karena perutnya juga sudah lapar.

Sepi, hanya suara dentingan dari sendok dan garpu yang bergesekan dengan piring lah yang terdengar. Serena melahap makanannya dalam diam.

"Sudah lama tidak sesepi ini...." Lirihnya.

Ia menoleh pada pintu belakang yang masih terbuka, di luar sudah gelap tetapi gadis itu tetap membiarkan pintunya terbuka.

Kenapa aku memikirkannya? Toh dia bukan siapa-siapa, pergi sesukanya juga terserah dia kan?

Malam itu ia memutuskan untuk tidur lebih awal, meskipun ujung-ujungnya Serena terbangun frustasi karena tidak bisa tidur. Ia kembali ke kebun belakang rumahnya hingga mengecek loteng tempat Van tinggal berkali-kali. Namun Van tidak kunjung kembali, yang ia dapati hanyalah ruangan kosong dengan sisa-sisa jejak Van yang tertinggal.

"Apa kau benar-benar pergi...." Lirihnya.

Serena duduk sendiri menghadap jendela kaca besar di loteng itu, sinar bulan yang terang menerpa wajahnya. Entah kenapa ia merasa aneh, Ia tidak suka kesunyian ini. Padahal dirinya sudah terbiasa dengan kesendirian. Tapi untuk kali ini saja, ia membencinya.

"Anak itu kemana sih? Kenapa pergi tanpa pamit dulu padaku?!" Kesal Serena, terlihat jelas perasaan kecewa pada matanya, "padahal aku sudah mengajarinya cara untuk pamit jika mau pergi ke mana saja," Lirihnya pelan.

Kenapa aku menunggunya seperti ini?

Serena duduk termenung sambil memeluk kedua kakinya.

Malam itu ia terus menunggu di sana, pada akhirnya Serena tertidur di loteng itu karena ia sudah tidak bisa menahan kantuknya.

*****

"Huh, perjalanan malam hari memang lebih menyenangkan," Ucap seorang laki-laki yang sedang menyandarkan kepalanya pada jendela mobil.

Mobil hitam itu melaju pada jalanan gelap di malam hari, di sepanjang jalan yang ia lalui hanyalah barisan pohon cemara yang tumbuh menjulang.

Louis membuka ponselnya, tadinya ia ingin mengetik beberapa patah kata lalu mengirimkannya ke nomor seseorang. Tapi kini laki-laki itu mengurungkan niatnya.

"Aku rindu dengan gadisku, sepertinya akan lebih baik jika aku membuat kejutan~" Gumamnya, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman manis.

*****

Serena terbangun, sinar matahari yang menerpa wajahnya dari jendela kaca membuat gadis itu keluar dari alam mimpinya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali.

Loteng? Kenapa aku tidur di sini?

Gadis itu masih mengumpulkan sisa-sisa nyawanya.

Beberapa detik kemudian ia langsung bangkit berdiri dengan sempoyongan, matanya menyapu seisi ruangan. Hening, sesaat kemudian ia kembali menunduk lesu.

"Dia tidak kembali ya...." Lirih Serena.

Ia turun ke bawah, langkahnya gontai seperti orang yang kehilangan semangat. Mau bagaimanapun Serena tidak bisa berbohong jika sekarang ia merasa sedikit sedih.

Semua rasa itu seakan membaur menjadi satu. Sedih, khawatir dan juga takut. Ia tidak tahu apa yang terjadi kemarin pada Van sampai laki-laki itu menghilang.

Hutan....

Langkah Serena terhenti, ia menatap hutan lebat yang ada di belakang kebunnya.

"Aku harus mencari anak itu...." Gumamnya sambil bergegas membuka pintu belakang.

Baru saja pintu terbuka, kini Serena diam mematung melihat apa yang ada di dalam rumahnya.

"K-kau...." Gadis itu berdiri kaku dengan ekspresi wajah seperti orang yang baru saja melihat hantu.

"Bunga, sudah bangun?"

Van tersenyum manis sambil memakai apron dan memegang sebuah spatula di tangannya. Aroma semerbak makanan gosong menguar di dapur itu, beberapa telur dadar gosong dan sosis yang tidak berbentuk tertata berantakan di atas piring.

"K-kau...," Serena melangkah maju perlahan ke arah Van, "KAU KEMANA SAJA?! KENAPA PERGI TANPA PAMIT PADAKU!!!" Teriak Serena.

Tangannya menarik keras kerah baju yang dikenakan oleh Van hingga laki-laki itu terhuyung, Serena terus memukul dada Van tanpa henti. Tapi itu hanya sebentar, sesaat kemudian ia kembali terdiam dan menunduk.

Netranya mulai berair, cairan bening itu kini meluncur dengan cepat membasahi pipi mulusnya. Mata cantik yang jernih itu kini dibasahi oleh genangan air mata.

"Aku benci pada orang yang selalu pergi tanpa pamit tahu...." Lirihnya pelan.

Meskipun tak bersuara, dari getaran bahunya terlihat jelas jika gadis itu sedang menahan isakan tangis.

Van terdiam, ia menatap Serena dengan raut wajah bingung. Tetapi perlahan laki-laki itu mendekat ke arah Serena yang sedang menunduk.

Satu tarikan, ia menarik Serena ke dalam pelukannya. Tangannya bergerak menepuk punggung gadis itu.

"Bunga, jangan menangis..., maaf...." Lirih Van.

Serena yang tiba-tiba berada dalam rengkuhan hangat tubuh kekar Van terdiam sebentar, hanya beberapa detik sebelum tangisannya pecah. Isakannya kini sudah tak ia tahan, Serena benar-benar menangis dalam pelukan laki-laki itu.

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu hingga Serena akhirnya berhenti menangis, ia melepaskan dirinya dari pelukan Van dengan kikuk dan wajah yang sembab.

"K-kenapa kau memelukku seperti itu?!" Kesal Serena, tangannya sibuk membersihkan sisa air mata pada wajahnya.

"Menenangkan," Jawab Van polos, "di buku, katanya dipeluk saat menangis akan membuat lebih baik," Tambah laki-laki itu lagi.

Serena menatap Van dengan sorot mata tidak percaya, "entah buku mana yang kau baca, sepertinya aku harus memperhatikan setiap buku yang aku berikan padamu." Balasnya datar.

Serena mendengus kesal, kini matanya teralihkan pada telur dadar gosong dan sosis yang tak berbentuk lagi di atas piring pada meja makan.

"Kau menghilang semalaman lalu kembali dan menghancurkan dapurku," Serena maju mendekati Van yang menatapnya dengan polos, "kau benar-benar anak nakal." Jemarinya menarik kencang telinga Van hingga laki-laki itu meringis.

Van semakin mundur, tetapi Serena masih belum melepaskan cubitannya pada telinga Van. Kaki laki-laki itu tersandung sehingga membuatnya jatuh ke lantai dan sialnya Serena juga ikut bersamanya karena Van sedang menggenggam pergelangan tangan Serena.

Sekarang mereka mendarat di atas lantai dengan posisi Serena menempel di atas tubuh Van yang terlentang. Serena bergegas ingin bangun, tetapi Van menarik pinggang gadis itu hingga kembali terjatuh dan kini posisi wajah mereka saling berhadapan.

Van menatap wajah gadis itu dengan seksama, lengan kekarnya memeluk erat pinggang Serena yang sedang berada di atasnya. Tatapan mereka bertemu, manik kuning terang yang sedang berlawanan dengan sepasang netra abu-abu.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!"

Terpopuler

Comments

shookyot7💜

shookyot7💜

🤣🤣

2023-08-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!