Serena kembali ke tempat duduknya, ia melamun memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya itu lewat telpon. Louis sudah mengirimkan data yang berisi informasi orang hilang melalui surel, tetapi tidak ada satu pun yang berkaitan dengan Van.
"Kau ini sebenarnya siapa...." Lirih Serena.
Hari sudah sore, gadis itu segera menutup tokonya. Ia juga pergi keluar untuk membeli beberapa barang keperluan dan juga stok makanan. Van sedang membaca setumpuk buku yang diberikan oleh Serena, laki-laki itu berdiam di loteng sendirian.
"Aku pergi sebentar, jangan keluar sampai aku kembali." Teriak Serena dari bawah tangga.
Tidak ada sahutan, tetapi ia yakin jika Van mendengarnya. Laki-laki itu selalu menuruti perkataannya, jadi Serena tidak terlalu merasa khawatir.
Gadis itu pergi mengunjungi beberapa toko untuk membeli keperluan. Ia juga ingin singgah ke toko milik Harry untuk membeli beberapa bahan masakan, tapi ternyata pria itu tidak membuka tokonya.
"Kemana dia?" Serena berdiri lesu di depan toko yang tertutup.
Toko milik Harry adalah satu-satunya yang punya persediaan lengkap, sekarang ia harus memutar lebih jauh untuk pergi ke toko yang lain. Baru saja ia berbalik, Serena dikejutkan oleh Harry yang sudah berdiri di belakangnya.
"Arghhh!" Serena terlonjak kaget.
Bagaimana tidak, Harry yang bertubuh tinggi dan besar muncul tanpa suara dengan menggunakan mantel hitam lebar serta topi yang menutupi separuh bagian wajahnya.
"Mengagetkan saja...." Kesal Serena.
Harry melihat gadis itu dengan tatapan datar, ia berjalan melalui Serena dan membuka pintu tokonya. Serena yang tadinya akan pergi tentu saja langsung kembali dan masuk ke dalam toko.
"Aku kira kau tidak akan membukanya," Celetuk Serena.
Harry sedang melepaskan mantelnya dan mengeluarkan beberapa buku dari sana.
"Bagaimana bisa kau menyembunyikan buku sebesar itu di dalam mantelmu?" Ucap Serena dengan heran saat melihat buku yang baru saja dikeluarkan oleh Harry.
"Toko ini sudah tutup beberapa hari," Suara Harry terdengar lelah, pria tua itu bersandar pada kursi tua miliknya.
Serena melirik pria itu sebentar, ia masih fokus memilih beberapa barang yang harus dibeli.
"Kenapa kau terlihat lesu begitu," Ucap Serena tanpa mengalihkan pandangannya dari rak susunan selai, "tidak cocok untuk pria tua sepertimu, wajah gagahmu jadi hilang, Pak." Tambah Serena dengan wajah polos.
Gadis itu membeli banyak selai. Tentu saja semua itu bukanlah untuknya, melainkan untuk Van yang sangat menyukai makanan manis.
Ia membawa keranjangnya ke meja kasir dan Harry langsung menghitungnya. Tetapi perhatiannya kini berpusat pada sebuah buku dengan sampul merah tua yang terlihat usang, ia mendekatkan wajahnya pada buku itu karena tidak bisa melihat tulisannya dengan jelas.
"Apa ini buku dongeng?" Tanya Serena pada Harry.
*****
Van terbangun di atas tumpukan buku yang ia baca, laki-laki itu menguap lebar sambil merenggangkan tubuhnya.
"Bunga..." Gumamnya.
Ia masih sempoyongan, tetapi Van bangun dan pergi ke bawah. Ia membuka pintu belakang karena memang selalu masuk dari sana.
"Bunga?" Panggilnya, ia mencari-cari Serena.
Tentu saja tidak ada sahutan karena Serena sedang pergi keluar, sekarang hanya ada Van sendirian di rumah itu.
Van berdiri di depan pintu kamar milik Serena, ia berkali-kali memanggil gadis itu meskipun tidak ada sahutan sama sekali.
Ia memutar gagang pintu dengan ragu, laki-laki itu memasukan kepalanya di celah pintu dan melihat ke sekeliling kamar tetapi tidak menemukan Serena di sana.
"Bunga, dimana...." Gumamnya.
Seharusnya menutup pintu itu kembali, tapi Van kembali membukanya. Hidungnya mengendus aroma harum yang memabukkan, tubuhnya seakan berada di luar kendali oleh kesadarannya.
Van masuk ke sana, ia berbaring di atas kasur milik Serena dan terus menghirup aroma dari selimut milik gadis itu. Manik kuningnya berkilat terang, kini taring milik laki-laki itu mulai memanjang hingga terlihat dari sela-sela bibirnya.
Van seperti seekor kucing yang menggila karena dimabuk oleh aroma catnip, geraman halus terdengar dari mulut laki-laki itu.
Cukup lama ia seperti itu sebelum akhirnya kilatan nafsu di matanya menghilang, kini Van melamun di atas ranjang dengan kasur yang berantakan. Ia melihat sekelilingnya dan langsung memasang ekspresi yang tidak bisa diartikan.
Laki-laki itu bangkit dan berlari dengan cepat ke arah pintu belakang. Ia tidak kembali ke loteng, melainkan terus berlari hingga masuk ke dalam hutan yang ada di belakang rumah milik Serena.
Van menggeram tertahan, tubuhnya terasa panas seperti terbakar. Ia seperti sedang menahan sesuatu yang ingin melepaskan diri dari tubuhnya, urat-urat yang ada ditubuhnya menonjol dengan sangat jelas pada kulit pucat miliknya.
*****
"Aku pulang~" Ucap Serena, itu adalah kalimat yang selalu ia ucapkan saat sudah kembali ke rumahnya meskipun ia tinggal sendiri.
Gadis itu langsung menjatuhkan tubuhnya pada sofa besar di ruang tengah, ia benar-benar lelah hari ini.
"Apa anak itu masih di atas?" Gumam Serena.
Ia bangkit dan berniat untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Van, tetapi gadis itu sontak berhenti saat melihat pintu kamarnya yang terbuka dengan isi kamar yang berantakan.
"Apa-apaan ini...." Panik Serena.
Apa ada pencuri? Siapa yang melakukan ini?
Serena kebingungan.
Tetapi ia merasa aneh, hanya kasur yang berantakan. Bantal-bantal bertebaran di atas lantai, serta Vas bunga miliknya tergeletak di atas lantai dengan keadaan sudah tak berbentuk lagi.
Dimana anak itu? Van?
Serena langsung berjalan menuju pintu belakang.
Namun, lagi-lagi ia dikejutkan dengan pintu belakang yang sudah terbuka lebar.
"Van? Kau di sana?" Panggil Serena, dengan panik ia menaiki anak tangga menuju loteng.
Brakkkk!
Pintu dibuka dengan kasar, gadis itu terengah-engah karena panik. Ia sama sekali tidak menemukan Van di sana. Serena kembali turun dan menyusuri kebun miliknya sambil memanggil nama Van.
"Van..., kau dimana?!" Teriaknya.
Tentu saja tidak ada sahutan, tempat itu sepi karena hanya ada Serena di sana. Gadis itu mengacak rambutnya dengan frustasi, sekarang ia takut karena tidak tahu kemana Van pergi.
Apa ada yang melihatnya? Dia pergi ke mana? Aku harap bukan karena ada yang menemukannya....
Serena kembali masuk ke dalam rumahnya dan merapikan kamarnya yang berantakan, tetapi ia menemukan sesuatu yang aneh di sana.
Bulu putih yang panjang menempel di mana-mana pada selimutnya, Serena menatap bingung helaian bulu itu.
"Apa ini? Apa ada hewan yang masuk ke kamarku?" Bingungnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments