"Sedang apa kau di sini?!"
Serena tersentak, ia mengenal dengan jelas siapa pemilik suara itu.
"Apa yang kau lakukan? Bukankan aku sudah memperingatimu tadi pagi?" Ucap Harry dengan wajah dingin.
Ya, rupanya suara tembakan keras tadi berasal dari senapan milik pria itu. Ia menenteng beberapa ekor burung besar yang sudah mati, sudah jelas hewan itu adalah hasil dari letupan senjata milik Harry.
"Kau mengagetkanku," Ucap Serena yang berusaha menyembunyikan rasa gugupnya, meskipun itu terlihat sangat alami.
Harry mengernyitkan dahinya, meneliti Serena dan sekitarnya. Ekspresi dingin dan datar pria itu selalu sama, membuat siapa saja yang berhadapan langsung dengannya akan merasa terintimidasi seiring berjalannya waktu.
"Ah, aku hanya ingin melukis. Lagipula aku sudah selesai dan akan segera pul-"
"Sepertinya kau memang selalu keras kepala," Potong Harry, "pulang lah, ibumu tidak akan senang jika terjadi hal buruk padamu di tempat ini." Lanjutnya lagi.
Serena hanya diam, Tadinya ia cemas jika Harry akan bertanya lebih banyak padanya, tetapi pria itu hanya mengeluarkan kata-kata yang justru di luar prasangkanya.
"Ya ya, aku juga akan pulang." Ucap Serena sambil membereskan barang bawaannya.
Gadis itu memungut bekas wadah makan yang berserakan di atas tanah karena laki-laki liar yang ditemuinya tadi, hal itu tentu saja membuat Harry melihatnya dengan heran.
"Aku menjatuhkan ini karena melihat seekor tupai dan ingin menangkapnya," Ucap Serena yang menyadari jika Harry melihatnya dengan heran, "huh, berantakan sekali."
Entah kenapa ia lebih memilih untuk berakting dan menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi, perasaannya mengatakan jika lebih baik tidak memberitahu siapapun dulu tentang laki-laki liar itu.
"Kenapa kau masih di sini?" Tanya Serena yang heran karena Harry menunggunya berbenah.
"Aku juga akan pulang, ini sudah akan gelap, ayo pergi." Harry membalas tanpa ekspresi dan langsung melangkah pergi.
Serena mengekor di belakang pria itu, Harry sangat tinggi sehingga Serena terlihat mungil saat berdampingan dengannya.
"Aku sering datang ke sini karena merindukannya," Celetuk Serena memecah keheningan.
Tidak ada sahutan, hanya suara riuh angin dan gemerincing lonceng pada sepeda yang didorong oleh Serena.
"Untuk sekarang lebih baik kau menjauhi tempat ini." Balas Harry setelah cukup lama ia membisu.
"Kau sendiri berkeliaran di sini, kenapa aku tidak boleh?" Serena menyahut dengan nada tidak setuju.
Harry menghentikan langkahnya dan membuat Serena juga ikut berhenti.
"Ada apa?" Tanya Serena dengan heran.
"Kau pernah mendengar tentang sang penanggung kutukan?" Ucap Harry dengan nada serius
Sementara Serena hanya memasang wajah bingung, gadis itu tidak mengerti dengan apa yang pak tua itu ucapkan.
"Sang...., apa tadi? Kutukan apa?" Serena mengernyit heran.
"Itu hanya legenda." Harry melanjutkan langkahnya.
"Heh? Jelaskan padaku!" Teriak Serena yang kembali mendorong sepedanya untuk menyusul Harry.
****
Serena meletakkan sepeda miliknya di samping rumah, ia berjalan dengan langkah gontai sambil memikirkan dengan apa yang baru saja diceritakan oleh Harry dalam perjalanan pulang tadi.
Entah kenapa ia merasa aneh setelah mendengar cerita itu. "Sang penanggung kutukan", legenda dari orang-orang terdahulu yang katanya mungkin masih ada sampai sekarang.
"Ah sudahlah, kenapa aku memusingkan hal itu." Gerutu Serena.
Belum beberapa langkah ia menuju halaman rumah, Serena dikejutkan dengan kedatangan dua orang polisi yang sepertinya sedang berpatroli.
"Selamat sore, Nona. Apakah kami bisa meminta waktumu sebentar?" Ucap salah satu polisi tersebut.
"Ya, tentu saja," Jawab Serena dengan wajah yang terlihat bingung.
"Kau pasti sudah mendengar tentang yang terjadi di kota baru-baru ini, berhubung karena dalam data kau salah satu penghuni asal tempat ini maka bolehkah kami menanyakan beberapa hal?" Polisi itu memulai pembicaraan.
"Yeah, tanyakan saja apa yang kalian inginkan,".
*****
Kini sudah malam, Serena bersiap-siap untuk tidur. Sebelum itu dia sempat ke luar lagi untuk memeriksa apakah semua pintu sudah terkunci.
Beberapa hari ini sedikit berbeda dari biasanya, cukup banyak hal tak terduga yang terjadi padanya. Semuanya terasa begitu kontras karena setelah kepergian sang ibu hidupnya begitu datar dan sepi, gadis itu hanya hidup sendiri dengan melanjutkan bisnis kecil ibunya.
Serena memasuki ruangan itu, ruangan dengan ukuran cukup luas di samping rumahnya. Namun ruangan itu masih bisa diakses dan terhubung dengan bangunan utama.
Sudah berapa lama sejak aku menutup toko ini?
Batinnya.
Saat menjelang hari peringatan kematian ibunya minggu lalu, Serena menutup toko itu dengan tujuan untuk beristirahat. Tetapi sampai sekarang ia belum juga membukanya kembali, bunga-bunga di dalam sana bahkan sudah banyak yang rusak.
"Yah, besok aku akan mengemasinya," Ucapnya dengan helaan nafas letih.
Malam sudah larut dan ia berniat untuk istirahat setelah memakan beberapa kudapan, tetapi baru saja melangkah ia sudah dikagetkan dengan suara keras di belakang rumahnya.
Suaranya seperti pot yang jatuh, di belakang rumahnya memang terdapat kebun bunga dan tentu saja ada banyak sekali pot tanaman di sana.
"Apa lagi ini...." Gumamnya.
Ia berjalan menuju dapur dan mencoba menyibak tirai jendela secara perlahan. Sebenarnya ia sedikit takut, tetapi Serena tetap memberanikan dirinya untuk mengintip.
Matanya meneliti dan menyapu area belakang rumah dari balik jendela kaca itu, tetapi yang ia dapati hanya pemandangan kebun bunga sepi yang diterangi oleh cahaya redup lampu untuk penerangan di sana. Ia juga bisa melihat sebuah pot bunga mawar yang sudah tidak berbentuk lagi tergeletak di atas tanah.
"Sialan!" Desisnya.
Tanpa berpikir panjang Serena langsung membuka pintu belakang rumahnya dan berlari menuju tempat di mana pot itu jatuh, ia langsung mengambil pohon mawar kecil itu.
"Huh..., kenapa ini bisa terjatuh?" Gerutunya sambil mencari pot kosong yang lain di sekitar sana.
Serena meletakkan pohon mawar itu ke dalam pot yang baru, itu sangat berharga untuknya karena mawar itu adalah kesukaan ibunya.
Tanpa ia sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan seksama. Netra kuning itu berkilat mengikuti setiap gerak-gerik Serena.
Sementara gadis itu tidak menyadarinya sama sekali, setelah meletakkan kembali mawar miliknya ke tempat yang lebih aman kini ia kembali masuk ke dalam rumah.
Kakinya sempat terhenti di ambang pintu, Serena menoleh ke arah belakangnya. Taman kecil yang dipenuhi oleh berbagai bunga, sepi. Entah kenapa ia merasa seperti ada yang sedang memperhatikannya.
Apa hanya perasaanku saja?
Serena menggosok telapak tangannya yang terasa dingin.
Gadis itu langsung masuk dan menutup pintu, ia akan beristirahat. Sementara si pemilik netra kuning tadi kini berada tepat di mana serena meletakkan pohon mawar miliknya.
Tangannya menyentuh bunga itu, membelai lembut setiap kelopaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
notKnown
Smngttt
2023-08-13
0