Sivian terbangun, instingnya memang jauh lebih peka di antara mereka bertiga. Ia duduk lama di atas kasurnya, laki-laki itu bisa merasakan dengan jelas jika malam ini hawanya sangat aneh. Terlalu dingin dan sunyi, bahkan suara serangga malam saja tidak terdengar.
Kreekk... Kreekkk... Kreekkk...
Suara seperti cakaran terdengar dari pintu luar, Sivian langsung bangun dengan waspada dan berjalan mendekat ke arah pintu itu. Laki-laki itu mengambil sebilah pedang yang tergeletak di atas meja, rumahnya memang dipenuhi oleh senjata tajam karena Sivian juga seorang pandai besi.
Krieettt~
Pintu dibuka, tetapi tidak ada apa-apa di sana. Hanya sepi dan gelapnya malam yang menyambut Sivian seorang diri. Laki-laki itu kembali menutup pintu, tetapi betapa kagetnya ia saat tangan pucat dan dingin tiba-tiba menariknya keluar dari sela-sela pintu yang sudah hampir tertutup.
Sivian tercekat, ia tidak bisa berteriak sama sekali. Lehernya dicekik dengan keras hingga tubuhnya terangkat dan mengambang di udara. Ia benar-benar tidak bisa bernafas sama sekali, paru-parunya seperti akan meledak.
"Jadi, dimana sisanya...." Suara serak mengalun dari sosok tinggi berjubah yang sedang mencekiknya.
Penglihatan Sivian semakin buram, tapi anehnya ia belum pingsan. Seharusnya sekarang ia sudah kehilangan kesadaran karena tidak bernafas terlalu lama, tetapi alam bawah sadarnya seakan ditahan untuk tetap terjaga hingga benar-benar membuatnya berada dalam sebuah penyiksaan.
Masih di ambang kesadarannya, Sivian bisa mendengar jeritan dari Sam dan Sean. Mereka diseret oleh tiga sosok tinggi yang mengenakan jubah.
"Jadi, bagaimana cara yang harus aku pakai agar kalian mati dengan menyedihkan?" Suara lembut seorang wanita mengalun merdu.
Dari belakang para sosok tinggi yang berdiri sejajar di depan mereka, seorang wanita dengan jubah putih muncul dan berdiri sambil tersenyum manis. Rambut putihnya yang panjang terlihat bercahaya saat diterpa oleh sinar bulan, bibir merah dan kulit pucatnya pun terlihat sangat kontras di antara mereka semua.
"A-aku tidak tahu siapa kalian..., tapi kenapa kau melakukan ini pada kami...." Ucap Sivian dengan tubuh bergetar, tenaganya sudah habis karena dicekik oleh sosok besar itu tadi.
Sekarang mereka bertiga tersungkur di tanah dalam keadaan terikat, rantai yang melilit mereka benar-benar aneh karena mengeluarkan cahaya yang berpendar dari sana.
"Aku sedih sekali...." Wanita itu kembali membuka suara, "anak-anakku dibunuh tanpa sebab..., dan kalian masih bertanya kenapa kami melakukan ini?" Suaranya mengalun lembut, tetapi entah kenapa terasa seperti menusuk gendang telinga.
Sivian yang mendengar wanita itu langsung menangkap apa maksud dari perkataannya, ia langsung menatap Sam yang kini juga sedang membelalakkan matanya dengan tubuh gemetar, sedangkan Sean sudah terkapar tidak sadarkan diri.
"Para manusia, padahal kami sudah mengikuti aturan untuk tidak melanggar perbatasan," Wanita itu berjalan mendekat ke arah Sam yang tersungkur dengan beberapa luka memar yang besar di sekujur tubuhnya, "tapi kenapa..., kalian seenaknya masuk ke wilayah kami lalu menghabisi anak-anakku?!!" Teriaknya geram, lengkingan suara wanita itu benar-benar membuat telinga berdengung.
"Lihat ini..., aku sedang berbagi kisah sedihku... Tapi anak manis ini malah tertidur...." Jemari lentiknya yang pucat membelai lembut wajah Sean.
"L-Lepaskan dia...." Lirih Sivian.
"Karena dia tidak punya sopan santun, maka aku akan menghabisinya lebih dulu kekekekeke!!" Suara tawa wanita yang tadinya lembut kini langsung berubah menjadi lengkingan menyeramkan.
Ia mengayunkan tangannya, tubuh Sean yang tergeletak di atas tanah langsung mengambang di udara.
"TIDAK!!! LEPASKAN DIA... BIAR AKU SAJA!" Jerit Sivian, laki-laki itu berusaha bangun dengan susah payah.
Wanita itu tidak mendengarkannya, ia hanya melirik sebentar pada Sivian sebelum akhirnya merapalkan mantra yang membuat tubuh Sean terbakar oleh api berwarna hitam. Bahkan saat tubuhnya terbakar Sean jadi terbangun dan berteriak histeris penuh dengan jerit kesakitan, perlahan tubuhnya dibuat meleleh oleh api hitam itu hingga hanya tersisa tulang belulang saja.
Sivian dan Sam sama-sama dibuat tak berdaya, keduanya menatap shock ke arah tubuh saudara mereka yang hangus dilahap api. Sivian kini menangis, tubuhnya gemetar dengan raungan histeris memanggil nama adiknya.
"T-tidak... I-ini tidak benar... Ini salahku, t-tolong...INI SALAHKU!!! HUKUM AKU SAJA!! TOLONG HUKUM AKU SAJA!!!" Jerit Sam dengan raungan pilu.
Laki-laki itu meronta sambil meraung kepada sang penyihir, ia merayap maju dengan tubuh terikat untuk menggapai kaki penyihir itu.
"Tolong..., habisi aku! Aku yang harus menerima hukuman... Aku mohon!!" Sam meraung sejadi-jadinya, ia tidak menyangka jika kali ini ia melakukan kesalahan yang begitu fatal hingga membawa saudara-saudaranya ikut terjerat.
"Nak...," Penyihir wanita itu menunduk, tangannya terulur mengusap kepala Sam, "aku memang sedang menghukum dirimu, karena itu aku membiarkan kau menyaksikan sendiri bagaimana keluargamu ku habisi, KEKEKEKEKEKE!" Gelak tawanya pecah, mata penyihir itu berkilat menatap Sam yang meraung histeris.
Kini terdengar teriakan dari Sivian, salah satu sosok berjubah hitam menyeret tubuhnya ke hadapan Sam. Sebilah pedang panjang yang terlihat menyala seperti bara api di keluarkan dari balik jubahnya. Perlahan pedang itu ditusukkan ke dada Sivian yang sontak membuatnya berteriak dan meraung kesakitan.
Pedang itu membelah tubuh Sivian dari bagian dada hingga perut bawahnya. Tak cukup sampai di situ, tangan pucat si sosok berjubah kini terulur dan menarik keluar jantung milik Sivian hingga benda itu benar-benar tercabut keluar dari tubuhnya.
Sam kini menatap nanar tubuh Sivian yang sudah tidak bernyawa dalam keadaan mengenaskan, tubuhnya bergetar hebat dengan mata kosong penuh dengan ketakutan dan rasa sakit.
"T-tidak... Ini s-salahku... TIDAK!!!" Raung Sam, suara tangisannya terdengar pilu dan menyayat hati di antara heningnya malam.
"Bagaimana rasanya?" Wanita itu berjongkok di samping Sam yang masih meraung histeris, "aku bertanya padamu, BAGAIMANA RASANYA?!" Ucapnya geram, tangannya mencengkram wajah Sam dengan keras hingga membuat kuku-kuku panjangnya menembus kulit laki-laki itu.
Wanita itu kini ikut menangis, air matanya berwarna hitam pekat hingga membuat wajah pucatnya ternoda.
"Bahkan rasanya sekedar kematian pun tidak cukup untuk membayar dosamu padaku...." Lirihnya pelan.
"HENTIKAN!"
Suara derap langkah kuda menggema, cahaya obor terlihat terang di belakang mereka. Logan datang diikuti oleh beberapa pengawalnya, pria itu terlihat shock melihat pemandangan di depannya.
"Apa yang terjadi...." Lirihnya.
"Lihat siapa yang datang," Penyihir wanita itu bangkit dan mendekati Logan yang sudah turun dari kudanya, "lama tidak melihatmu, Logan." Ucapnya lembut.
"Khith..., apa yang kau lakukan pada anak-anakku..." Suara Logan terdengar lirih sambil menatap tubuh mengenaskan milik Sivian serta tulang belulang yang ia sudah tahu jelas itu milik siapa.
"Jadi itu anak-anakmu? Hoho..., pantas saja...." Lirih penyihir wanita bernama Khith itu.
"Jawab aku." Desak Logan dengan suara dingin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments