Suara dari gantungan lonceng sepeda miliknya bergerincing saat Serena mengayuh pedalnya, sepedanya melaju pada jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan.
Ya, ia benar-benar pergi ke padang rumput di mana ia biasa bertemu dengan Van. Sebenarnya ia berencana untuk pergi ke sana setelah selesai bekerja, tetapi pikiran tentang laki-laki itu terus mengusiknya hingga ia memutuskan untuk segera datang kemari.
Tas miliknya penuh dengan berbagai makanan, tentu saja itu semua akan ia berikan untuk Van. Entah kenapa ia merasa bersalah karena melihat laki-laki itu berada di kediamannya kemarin malam, Serena berpikir bahwa Van sepertinya menginginkan makanan. Ia merasa sangat jahat saat memikirkan hal itu.
"Van?! Kau di sini?" Teriaknya lantang begitu sampai di sana.
Nafasnya masih terengah-engah, gadis itu langsung duduk di bawah pohon dan menyandarkan dirinya di sana. Sekarang ia akan menunggu Van menghampirinya. Ia juga tidak tahu bagaimana cara laki-laki itu mengetahui bahwa ia datang ke sana, tapi ia juga cukup yakin jika Van akan menghampirinya beberapa saat setelah ia tiba.
"Huh..., kemana anak itu," Serena mendengus, matanya fokus melihat ke arah semak-semak tempat Van biasa muncul dari sana.
Ini sudah berlalu cukup lama, tetapi tidak ada tanda-tanda jika Van akan muncul. Serena yang awalnya terlihat santai kini mulai terlihat gelisah, ia tidak bisa berada terlalu lama di sana karena memang dilarang sekaligus harus bekerja.
"Biasanya dia akan selalu datang..., kenapa sekarang tidak ada tanda sama sekali?" Gumamnya sambil berjalan mendekati semak-semak yang mengarah ke sisi lain hutan.
Serena berdiri kaku sambil menyilangkan tangannya di dada, matanya terus meneliti sekeliling.
"Hey! Kau di mana?!" Ucapnya lantang.
Tentu saja tidak ada sahutan, hanya suara kicauan burung dan ranting pohon yang saling bergesekan yang terdengar. Serena memandangi hutan di depannya, ia ingin masuk ke sana tetapi hal itu benar-benar tidak mungkin. Ia memang berani sendirian di tempat itu, tetapi tetap saja ia tidak akan mempunyai nyali untuk masuk lebih jauh. Ditambah lagi dengan rumor tentang monster hutan yang sedang mengguncang penduduk kota.
"Yang benar saja...." Gumam Serena diiringi dengan helaan nafas pasrah.
Gadis itu berbalik dan kembali duduk di bawah pohon tempatnya semula, ia bersandar di sana sambil memeluk kedua lututnya.
"Kau tahu..., aku benci menunggu, jadi cepatlah datang...." Lirihnya.
Suara angin yang semakin kencang juga mengusiknya, langit mulai mendung dan meredup. Padahal perkiraan cuaca hari ini bagus, tetapi sepertinya meleset. Langit biru yang tadinya cerah kini mulai dipenuhi oleh awan gelap, angin yang sejuk juga berganti menjadi tiupan dingin.
Apa aku kembali saja?
Serena mondar mandir di bawah pohon besar itu dengan wajah gelisah.
Sejak awal bisa saja ia meninggalkan makanan itu di sana lalu kembali pulang, tetapi sisinya yang lain menginginkan hal yang berbeda. Ia ingin menunggu dan melihat sendiri Van memakannya, karena itulah sekarang ia duduk sendirian di sana seperti orang bodoh.
Namun, sepertinya hal itu harus ia urungkan. Beberapa saat lagi pasti akan turun hujan, ia juga tidak mau berada di tempat itu sendirian saat sedang hujan. Tempat itu memang terlihat sangat indah saat siang hari, tapi percayalah pemandangan itu akan berubah sangat jauh menjadi hutan yang mencekam jika hari sudah mulai gelap ataupun turun hujan.
"Aku harap dia menemukan ini," Ucap Serena sambil menutup makanan yang ia bawa dengan kantong plastik dan meletakkannya di bawah pohon itu.
Ia sudah siap menaiki sepedanya untuk segera pulang, rintikan hujan juga sudah mulai turun membasahi hamparan tanah. Baru saja ia akan mengayuh pedalnya, Serena dikejutkan dengan Van yang muncul dari semak-semak. Ia bukan terkejut dengan kemunculan laki-laki itu, melainkan dengan keadaan Van yang sedang terluka.
"V-van?!,...kau kenapa?!" Panik Serena.
Gadis itu melepas sepedanya begitu saja dan langsung berlari ke arah Van yang terluka. Terdapat luka seperti sayatan yang begitu tajam pada bagian dadanya, darah segar bahkan terus mengalir membasahi kemeja putih lusuh yang ia kenakan.
Serena panik bukan main, ia tidak pernah melihat seseorang mengalami luka dalam seperti itu secara langsung.
"Apa yang terjadi padamu?" Ucapnya panik.
Serena mencoba mendekati Van, tetapi laki-laki itu menggeram padanya.
"Bukan saatnya marah padaku..., k-kau terluka bodoh!" Cemas Serena sambil terus berusaha mendekat ke arah Van.
Hujan kini turun semakin lebat, bahkan langit juga terlihat gelap. Tetapi Serena tidak menghiraukan hal itu, dengan perlahan Serena mendekat sambil mengulurkan tangannya. Van masih menggeram padanya. Van terlihat takut, tetapi ia juga tidak berusaha menjauh saat Serena mendekatinya.
"Ini dalam sekali...." Gumam Serena dengan nada cemas sambil melihat ke arah luka terbuka di dada Van.
Sekarang Serena benar-benar berada di hadapan laki-laki itu, Van juga tidak menjauh serta berhenti menggeram padanya. Bahkan saat Serena mencoba menyentuhnya dengan perlahan, Van hanya diam tak bergeming dan membiarkan gadis itu semakin dekat.
Serena benar-benar panik sekarang, ia juga tidak membawa apapun selain makanan yang memang ingin ia berikan untuk laki-laki itu. Tidak ada barang apapun yang bisa dipakai untuk membalut luka pada tubuh Van.
"D-dengar..., jika kau mengerti ucapanku, ikuti aku kembali ke rumah dan akan aku obati lukamu," Ucap Serena sambil berharap Van mengerti dengan apa yang ia ucapkan, "aku akan berusaha menyembunyikanmu, jadi ikuti aku, apa kau mengerti?" Tambahnya lagi masih menatap serius manik kuning milik laki-laki itu.
Serena berdiri, ia mengulurkan tangan pada Van yang masih terduduk di atas tanah. Van menatap lama tangan Serena yang terulur padanya sebelum akhirnya meraih tangan gadis itu dengan ragu.
Sedangkan Serena terdiam, untuk pertama kalinya ia bersentuhan langsung dengan laki-laki itu. Tangan Van sangat dingin, seperti tidak ada darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Tetapi Serena berfikir bahwa itu karena hujan yang mengguyurnya, ditambah lagi Van juga sedang terluka dan kehilangan banyak darah.
"Ikuti aku." Serena menarik laki-laki itu agar tubuhnya bangkit berdiri.
Van kini berdiri tegak di hadapannya, hal itu membuat Serena lagi-lagi terkejut. Ternyata laki-laki itu sangat tinggi, Serena yang tingginya sekitar 165 cm sekarang terlihat sangat mungil saat berdiri berhadapan dengan Van. Wajah gadis itu tepat berada di dada bidang milik Van yang sedang terluka, bahkan ia harus mendongak ke atas untuk bisa melihat wajah laki-laki itu.
Padahal saat ia tidak berdiri terlihat kecil..., lalu bagaimana bisa aku membawa anak ini agar tidak mencolok di perjalanan....
Serena benar-benar kembali dibuat bingung.
"Ayo," Ucapnya sambil menarik tangan Van agar ikut berjalan bersamanya.
Ia tahu ini akan merepotkan, tetapi ia juga tidak tega melihat Van terluka seperti itu. Bahkan sekarang ia sudah bersiap menerima resiko dari apa yang ia lakukan sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments