08 : Pangeran yang terluka [3]

Serena tersentak saat Van tiba-tiba menghentikan langkahnya, "kenapa kau berhenti?" Ucapnya bingung.

Van tidak menyahut, laki-laki itu hanya menatapnya datar di bawah guyuran hujan. Tetapi perlahan ia melepaskan genggaman Serena pada pergelangan tangannya.

"Ah! M-maaf...," Serena terlihat kikuk, "aku sampai tidak sadar jika masih menarik tanganmu."

Tidak ada sahutan, Van hanya berdiri diam menatapnya. Hal itu juga membuat Serena sedikit merasa canggung dan memilih untuk berbalik dan melanjutkan langkahnya.

"Cepatlah, lukamu harus diobati." Ujarnya sambil melangkah menjauhi Van.

Sedangkan laki-laki itu masih tak bergeming di tempatnya berdiri, ia terdiam memperhatikan punggung Serena yang perlahan semakin menjauh. Van memandangi tangannya yang digenggam Serena barusan dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.

"Kau tidak ikut?! Aku kira kau mengerti ucapanku, ternyata tidak ya?" Omel Serena yang kembali menghampiri Van.

"Seharusnya aku tidak melepaskan tanganmu tadi," Tambahnya lagi, tanpa ragu ia kembali menarik pergelangan tangan laki-laki itu dan menariknya untuk berjalan.

Van yang terdiam hanya menurut saja, ia berjalan mengikuti setiap langkah kaki gadis di depannya. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu, tetapi matanya hanya menatap Serena yang sedang menuntunnya dari depan.

*****

"Baiklah..., sepertinya tidak ada yang melihat kita," Ucap Serena sambil menutup pintu belakang rumahnya.

Ya, ia benar-benar membawa Van ke rumahnya. Di tengah hujan lebat ia nekat menyeret laki-laki itu bersamanya tanpa peduli jika ada yang melihat ataupun mencurigainya. Sekarang mereka sudah berada di dalam rumah dengan keadaan basah kuyup.

"Duduk di sini, aku akan mengambil handuk dan kotak obat." Ujar Serena sambil mendudukkan Van di salah satu kursi meja makan.

Laki-laki itu terlihat bingung, ia menoleh ke sana kemari karena mungkin itu adalah tempat asing baginya. Perlahan laki-laki itu berdiri dan meneliti setiap barang yang ada di ruangan itu, raut wajahnya sudah seperti anak kecil yang penasaran dengan tempat baru.

"Hey, jangan terlalu banyak bergerak, badanmu basah," Serena datang membawa handuk dan beberapa baju yang sempat ia ambil dari gudang beberapa hari lalu.

Ia menarik Van dan mendudukkannya kembali ke kursi, Serena mengeluarkan berapa gulungan perban serta cairan antiseptik dari kotak obat miliknya. Jangan lupakan Van yang kini matanya sedang berbinar penasaran dengan benda-benda yang dibawa oleh Serena, beberapa kali ia ingin meraihnya tetapi langsung ditepis oleh gadis itu.

"Diam sebentar, biarkan aku mengobati lukamu itu," Serena memegang kedua bahu kekar milik Van dengan susah payah, "seharusnya ini dijahit..., tapi paling tidak dibersihkan dulu." Tambahnya dengan nada cemas.

Serena terdiam, wajahnya yang tadi terlihat cemas langsung berubah menjadi raut wajah bingung. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya untuk memastikan apa yang ia lihat bukanlah mimpi atau halusinasi.

"A-ada apa dengan lukanya?" Ucapnya bingung, "bukankah lukamu sangat dalam? Kenapa sekarang jadi kecil begini?" Serena benar-benar kebingungan.

Van hanya diam melihat Serena yang sedang kebingungan dan meracau sendiri di hadapannya, ia hanya memperhatikan gadis itu menunjuk lukanya berkali-laki dengan wajah aneh.

"Apa aku salah lihat?" Gumamnya sambil menempelkan plester luka berukuran besar untuk menutupi luka pada dada Van, "mungkin karena di sana sedikit gelap...." Lirihnya lagi.

Serena benar-benar kebingungan saat melihat luka yang tadinya seperti sayatan besar yang dalam kini berubah menjadi goresan biasa. Meskipun luka itu tetap dibilang cukup besar, tetapi benar-benar berbeda dengan penampakan saat pertama kali Serena melihatnya saat di hutan.

Walaupun begitu, Serena beranggapan bahwa ia sudah salah lihat karena waktu itu hutan memang sedikit gelap. Ditambah lagi sekarang Van tidak menunjukan reaksi kesakitan sama sekali, padahal saat ia muncul di hutan laki-laki itu terlihat gemetar dengan bibir yang memucat.

"Nah, sudah selesai." Ucap Serena sambil merapikan kotak obatnya.

Gadis itu mengambil handuk dan memberikannya pada Van, "pakailah ini, keringkan badan dan rambutmu".

Van hanya menatap gumpalan kain itu, ia melihatnya bergantian ke arah Serena.

"Ah..., apa kau tidak tahu juga cara menggunakannya?" Ucap Serena frustasi, "berikan padaku," Gadis itu mengambil kembali handuk yang berada di tangan Van.

Serena mendekat dan meletakkan handuk itu di atas kepala Van yang basah kuyup hingga menutupi wajahnya, laki-laki itu sempat kaget tetapi kembali diam setelah ditenangkan oleh Serena. Kini ia hanya menurut seperti anak kecil saat Serena mengeringkan rambutnya.

Sedangkan Serena kini kembali mematung, posisi mereka sekarang sangat dekat. Tangannya masih menangkup handuk yang menyelimuti kepala Van, tetapi wajah laki-laki itu bisa terlihat jelas sedang menatap dirinya dengan manik kuning yang begitu cantik.

"Matamu..., sangat cantik...." Gumam Serena.

Ini adalah pertama kalinya ia melihat wajah laki-laki itu dengan jelas, bahkan sekarang ia melihatnya dari jarak yang begitu dekat. Van memiliki wajah yang sangat tampan dengan rahang tegas dan sepasang manik kuning mencolok. Alis tebal dan bibirnya yang merah benar-benar membuat laki-laki itu terlihat seperti datang dari dunia lain.

Serena masih terdiam memandangi wajah laki-laki itu, ia belum menyadari jika sekarang ini posisi mereka agak..., mungkin terlalu dekat. Van sedang duduk di kursi, sedangkan Serena berdiri menghadapnya tanpa melepas tangkupan tangannya pada wajah laki-laki itu.

Hanya sebentar, Serena segera tersadar dan langsung mundur beberapa langkah menjauhi Van yang menatapnya dengan wajah datar.

"A-aku harus membilas badanku, k-kau tunggu dulu di sini, apa kau mengerti?" Ujar Serena dengan nada suara yang entah kenapa seperti orang kikuk.

Tentu saja laki-laki Itu tidak menyahut, ia hanya menatap Serena yang menjauhinya dan menghilang di ambang pintu.

*****

Apa itu? Kenapa matanya berwarna kuning? Apa iya tidak normal sehingga dibuang ke hutan? Tidak..., ...Tidak, Ia mengerti semua ucapanku, tapi kenapa ia tidak pernah bicara? Apa dia bisu?

Banyak sekali pertanyaan dalam kepalanya, gadis itu melamun sambil membiarkan air dari shower mengguyur tubuhnya.

Bisa dibilang ia cukup gila hari ini, membawa seseorang yang tak begitu ia kenal bahkan tak tahu asal usulnya. Seharusnya ia tidak melakukan itu, ditambah lagi ia hanya tinggal sendirian. Jangan lupakan juga bahwa laki-laki itu sedikit..., tidak normal? Yah, kelihatannya begitu.

Meskipun begitu Serena tidak pernah merasa terancam dengan kehadiran Van, laki-laki itu juga selalu menurut dengannya seperti anak kecil. Namun, tetap saja ia tidak bisa langsung menilai bahwa Van tidak berbahaya. Karena itulah, Serena sekarang membiarkan laki-laki itu berada di dapurnya tetapi ia mengunci pintu pembatas antara dapur dan ruang tamu.

Aku ini melakukan apa sih?

Batinnya frustasi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!