Serena meneguk obatnya dengan wajah masam, kini ia terkena demam akibat menerobos hujan lebat demi membawa laki-laki liar itu ke rumahnya. Sedangkan Van yang ikut bersamanya terlihat sangat sehat bahkan tidak menunjukkan reaksi apapun dari luka di dadanya, padahal Serena sudah panik setengah mati pada orang itu.
"Baiklah, kebetulan kau ada di sini, bagaimana jika kau memberitahuku dari mana asalmu? Dengan begitu aku mungkin bisa membantu mencari jalan keluar atau apapun," Ucap Serena yang kini sudah duduk berhadapan dengan Van yang sedang sibuk memakan cemilan.
Kini sudah malam dan hujan masih turun dengan lebat di luar sana, ia membiarkan Van berada di rumahnya karena tidak mungkin jika laki-laki itu ia usir begitu saja di tengah hujan begini.
Ia juga sempat dikagetkan dengan Van yang sudah mengganti bajunya dengan pakaian yang memang telah ia bawa untuk laki-laki itu, tetapi Serena tidak mengira jika Van tahu cara memakai baju. Terkadang laki-laki itu terlihat seperti anak polos yang asing dengan benda yang ia bawa, tetapi untuk beberapa hal Van bisa dibilang cukup normal.
"Hey? Sebenarnya kau ini bisa bicara atau tidak?" Ujar Serena, ia gemas karena sejak tadi Van hanya melihatnya sambil mengunyah cemilan.
Serena berbicara dengan nada yang cukup tinggi hingga membuat Van menghentikan aktivitasnya, laki-laki itu menunduk sambil memainkan sebelah telapak tangannya dengan jari seolah sedang menulis sesuatu di sana.
"P-paman..., t-tunggu paman..., k-kembali," Ucap Van, ia bisa mengucapkannya dengan jelas meskipun masih terbata-bata.
Serena mematung, untuk pertama kalinya ia mendengar suara laki-laki itu.
Ia tidak bisu...
Tanpa sadar Serena tersenyum mengetahui bahwa Van ternyata bisa berbicara.
"Paman? Pamanmu? Kau menunggu pamanmu?" Tanya Serena bertubi-tubi.
Van menggeleng, raut wajahnya kini menjadi muram. Entah kenapa laki-laki itu terlihat sedih.
"T-tidak boleh pulang...." Lirihnya, Van hanya menunduk menatap kedua tangannya.
Serena terdiam. Ia juga bingung, tetapi gadis itu lebih memilih untuk tidak banyak bertanya lebih jauh melihat keadaan Van yang seakan menunjukkan bahwa semua hal yang akan ia tanyakan adalah sesuatu yang tidak ingin diingat oleh laki-laki itu.
"Begini, Van. Jika kau ingin kembali pada keluargamu, mungkin aku bisa membantu-"
"T-tidak boleh kembali!!" Potong Van.
Serena cukup kaget, Van kini terlihat gelisah sambil menggigiti kukunya.
"H-hey..., maaf, maafkan aku..." Panik Serena, "tidak apa-apa, jangan gigit jarimu, itu bisa berdarah..." Ucapnya lembut, perlahan ia menarik tangan Van yang ujung jarinya mulai berdarah karena laki-laki itu menggigitnya terlalu keras.
"Tidak apa-apa..." Ucap gadis itu lagi menenangkan, kini ia berjongkok di depan Van yang masih terlihat gemetar.
Apa anak ini punya gangguan kecemasan? Bisa dilihat jelas dia memiliki trauma, tapi karena apa? Apa yang harus aku lakukan?
Banyak sekali pertanyaan dalam benaknya, sekarang ia mulai menaruh simpati lebih pada laki-laki itu.
"Kau bisa tidur di sini, kembalilah besok jika kau ingin ke hutan itu lagi," Ucap Serena, akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan Van berada di rumahnya malam ini.
*****
Pagi-pagi sekali Serena terbangun karena Van yang sangat berisik ingin keluar, rupanya laki-laki itu tidak tahu cara membuka kuncian pintu. Awalnya Serena mengira jika Van sudah ingin pergi, tetapi semua itu salah. Laki-laki itu menunjuk ke arah luar sambil menunjuk bagian "bawahnya", butuh beberapa saat sebelum Serena mengerti dengan apa yang yang dimaksud oleh laki-laki itu sebelum akhirnya ia membukakan pintu.
Serena mengira jika Van tidak akan kembali, tetapi ia salah. Laki-laki itu kembali lagi dan kini sedang duduk di dekat pot bunga mawar yang pernah ia mainkan sebelumnya.
"Aku kira kau kembali ke hutan." Ucap Serena sambil menenteng kantong sampah.
"R-rumah," Van menyahut, jemarinya menunjuk ke arah rumah Serena.
Rumah? Maksudnya rumahku?
Serena kebingungan.
Ia mendekati Van yang sedang berjongkok memandangi bunga mawar yang sedang mekar, "Ini bunga mawar putih, orang-orang menyebutnya sebagai lambang ketulusan ataupun cinta yang murni tergantung kepada siapa kau memberikannya." Ucapnya, kini Serena ikut berjongkok di samping laki-laki itu.
Van tidak bergeming, ia hanya terus memandangi bunga yang sedang mekar itu tanpa berkedip. Sedangkan Serena menoleh ke arahnya, wajah Van tertutup karena rambut laki-laki itu cukup panjang hingga menyentuh bahunya.
"Van," Panggil Serena, "apa aku boleh merapikan rambutmu?" Ucapnya, tangannya perlahan menyisipkan rambut Van yang menutupi wajah laki-laki itu.
"Tunggu di sini." Ujarnya lagi, Serena kembali masuk ke dalam rumahnya.
Tak lama pun gadis itu kembali lagi dengan membawa sebilah gunting dan juga sisir serta sebuah kursi.
"Rambutmu, " Ucap Serena sambil memperagakan gerakan seperti sedang menggunting, "aku bantu rapikan, kau mau?" Tambahnya lagi.
Awalnya Van menolak dengan berlarian saat Serena mendekatinya dengan sebilah gunting. Tapi itu hanya sebentar, laki-laki itu langsung menurut dan duduk dengan tenang saat Serena memberikan sebatang permen padanya. Bahkan ia tidak peduli jika Serena sudah memangkas rambut panjangnya.
"Nah, sudah selesai," Ucap Serena dengan girang, " aku pernah memiliki cita-cita untuk menjadi tukang potong rambut, tetapi temanku bilang jika itu adalah impian bodoh." Tambah Serena, wajahnya terlihat kesal saat mengatakan kalimat terakhir.
"Biar aku lihat..." Serena membalikkan tubuh Van agar menghadap ke arahnya, "waaw..." Gumamnya, matanya tidak berkedip saat melihat hasil karyanya pada rambut laki-laki itu.
"I-ini lebih baik," Ucapnya kikuk, "rambut panjangmu tadi itu benar-benar jelek" Tambahnya, lalu gadis itu langsung berlalu pergi dengan wajah yang merona merah.
Van melihat punggung Serena yang menghilang di balik pintu dengan bingung, ia jua meraba-raba rambutnya yang kini sudah dipangkas menjadi pendek oleh Serena.
"Bunga...." Lirih Van, tatapannya masih terpaku pada pintu tertutup tempat Serena menghilang.
*****
"Aku tidak bisa membuka toko... bisa gawat jika anak itu belum pergi," Gumam Serena.
Lagipula hari ini ia berencana untuk mencari informasi mengenai orang hilang, barangkali ia bisa mendapat petunjuk tentang Van. Sebenarnya ia bisa saja melapor kepada polisi, tetapi hatinya terasa berat dan khawatir untuk melakukan itu. Apalagi kini para polisi sedang disibukkan dengan kasus "monster" yang ada di hutan, ia takut jika Van akan disangkut pautkan dengan hal itu. Melihat wajah sikap polos laki-laki itu benar-benar membuatnya tidak tega.
Serena mulai menyalakan komputernya yang sudah lama tidak ia pakai, dengan sabar gadis itu berusaha meneliti setiap orang yang ada di daftar orang hilang resmi di kotanya.
Apa ini...
Serena benar-benar dibuat bingung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments