01 : Pertemuan [1]

Skotlandia, 2014.

Suara alunan melodi yang berasal dari piano terdengar lembut. Nada yang indah, meskipun entah kenapa terdengar sendu.

Serena membiarkan jemarinya menari di atas tuts piano yang menciptakan nada-nada indah berirama, wajahnya datar tanpa ekspresi. Belum selesai lagu itu dimainkan, ia tiba-tiba berhenti sambil menghela nafas berat.

"Sudahlah...." Lirihnya.

Gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke halaman rumah. Cuaca di awal musim semi memang sangat bagus, tetapi suasana hatinya hari ini sedang tidak baik. Ia melihat lurus ke arah anak kecil yang berlarian mengejar kupu-kupu di depan rumahnya.

"Apa sebaiknya aku keluar juga?" Matanya masih fokus melihat ke arah anak-anak yang sudah berlari menjauh.

Ya, Serena memutuskan untuk pergi ke luar sebentar. Sangat disayangkan jika ia menyia-nyiakan musim semi yang berharga ini. Ia berniat untuk piknik di tempat yang dulu selalu ia datangi dengan ibunya, membawa beberapa alat lukis dan menikmati waktunya sebentar di sana tidak buruk juga.

"Mari kita lihat...." Ucapnya sambil membuka lemari pendingin.

Gadis itu mengambil beberapa bahan makanan untuk ia masak dan dibawa saat ia pergi nanti. Kakinya melangkah menuju dapur, tetapi ia berhenti di depan meja yang terdapat foto seseorang di atasnya.

Serena melihat datar foto itu, "aku masih hidup, ibu," segaris senyum tipis tiba-tiba terukir di bibirnya, "aku berusaha...." lirihnya lagi.

Sesaat setelah itu ia langsung berlalu, kembali ke niat awalnya untuk memasak beberapa makanan. Semua dilakukannya dengan cepat. Setelah menyiapkan beberapa keperluan untuk melukis, Serena langsung keluar rumah sambil menenteng tas kecil berisi makanan dan membawa peralatan lukis.

Kakinya melangkah menyusuri jalan setapak yang mulai membawanya memasuki area hutan, suara kicauan burung dan hewan-hewan lainnya seakan menyambut kedatangan dan juga mengiringi langkahnya.

Ia sudah mengenal daerah itu, sejak kecil ia sering bermain di sana dengan sahabatnya ataupun ibunya. Mereka selalu pergi ke sana setiap musim semi tiba, meskipun ini adalah pertama kalinya lagi bagi Serena karena ia tidak pernah datang ke tempat itu lagi sejak beberapa tahun terakhir.

"Masih sama ya...." Ucapnya tenang sambil menghirup udara segar dari semilir angin yang sejuk.

Serena menghentikan langkahnya, ia sudah sampai. Sebuah padang rumput luas yang di penuhi oleh bunga Dandelion , tempat yang dulu sering ia kunjungi bersama ibunya.

Sudah lama ia tidak mencium aroma rumput dan pepohonan dari tempat itu, "rasanya seperti kembali ke masa lalu." Lirihnya.

Beberapa ingatan yang mengganggu kembali berputar di benaknya, tetapi Serena berusaha menepisnya sebisa mungkin dan segera menyibukkan dirinya.

"Baiklah, mari nikmati hari ini, Serena." Ucapnya dengan semangat, meskipun itu hanya usaha yang dilakukannya untuk menutupi perasaannya.

Ia merentangkan selembar kain yang cukup lebar untuk alas duduk di sana, begitu juga dengan makanan dan peralatan lukis yang dibawanya. Serena menggigit sebiji apel sebelum memulai untuk melukis.

Kanvas kecil dan juga pallet lukis sudah siap di depannya, tetapi ia belum juga mulai menyapukan kuas di atas kanvas polos itu. Matanya menyipit melihat pemandangan di depannya, beberapa saat lagi ia langsung berdiri.

"Nah, ini baru sudut yang bagus." Ucapnya senang.

Serena berpindah sedikit dari tempat awal ia duduk tadi karena menurutnya akan sulit untuk melukis dari sana. Selanjutnya hanya keheningan yang diisi oleh semilir angin dan juga kicauan burung yang mengelilinginya, gadis itu kini fokus dengan lukisan yang ia buat.

Tanpa ia sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang mengintainya dari kejauhan. Bahkan kini posisinya semakin mendekati tempat Serena berada, tepat di belakangnya adalah semak-semak dan juga pepohonan, tentu saja siapapun tidak akan menyadari jika ada yang sedang memperhatikan mereka dalam diam.

Suara ranting yang patah mengejutkan Serena untuk sesaat, gadis itu menoleh kaget ke arah belakangnya dengan tatapan waspada. Namun semua kekhawatirannya itu hilang begitu melihat seekor burung yang terbang ke atas pohon dari arah suara yang ia dengar tadi.

"Mengagetkan saja." Celetuknya sembari melanjutkan kegiatannya.

Ia kembali fokus dengan lukisannya, hingga tanpa ia sadari mahluk yang tadi memperhatikannya dari semak-semak kini semakin mendekat. Sangat dekat, tanpa suara. Kaki dan tangannya yang di penuhi oleh tanah merangkak perlahan menuju Serena, tepat di belakangnya.

"ARGHHH KENAPA HARUS TERCORET?!" Serena tiba-tiba berteriak karena tanpa sengaja merusak lukisannya sendiri.

Teriakan itupun tentu saja membuat mahluk di belakangnya ikut kaget, suara keras berupa geraman buas terdengar yang sontak membuat Serena membalikkan badannya dengan kaget.

Gadis itu mematung, nafasnya berhenti sebentar dengan wajah tegang. Apa yang ia lihat di depannya barusan benar-benar membuatnya kaget sekaligus bingung.

Tetapi itu hanya sebentar, matanya teralihkan pada tempat di mana ja meletakkan tas miliknya tadi. Serena langsung berdiri, mahluk, bukan, orang itu mengambil dan membawa kabur tas miliknya.

"HEYY! PENCURI! KEMBALIKAN TASKU!" Teriak Serena.

Ia tak tahu pasti apa yang ia lihat, yang jelas itu adalah seseorang bertubuh tinggi dan pakaian compang camping dan berjalan seperti...., monyet?. Lupakan soal monyet, ia hanya melihat punggung orang itu jadi tidak tahu ia adalah laki-laki atau perempuan.

Gadis itu langsung berlari mengejarnya, bukan karena makanan ataupun tasnya. Namun di dalam sana ada barang yang sangat berharga untuknya, yaitu foto ibunya.

"Hah ... hah! Di mana dia?!" Serena terengah-engah sambil memegangi kakinya yang sakit karena berlari di atas tanah yang berkerikil tanpa alas kaki karena tadi ia melepas sepatunya saat sedang melukis.

Ia kehilangan jejak orang itu, ditambah lagi sekarang ia sudah berada jauh dari tempatnya tadi, ia sudah berlari cukup jauh. Namun matanya menangkap beberapa potongan roti dan buah anggur yang berceceran, itu adalah makanan dari tas miliknya.

Tak jauh dari tempat ia berdiri, terlihat punggung seseorang dari balik semak-semak. Serena sangat yakin itu adalah pencuri yang mengambil tas miliknya tadi.

Kau bersembunyi di sana heh?

Dengan perlahan ia melangkah mendekati semak itu dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara.

Hanya tinggal beberapa langkah, tangannya siap memukul orang itu tetapi kini ia malah terjatuh dan menjerit saat melihatnya dari dekat.

"Akhhhh!!" Serena menjerit hingga terjatuh.

Sosok di depannya itu adalah seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengannya, tapi yang membuat Serena ketakutan adalah karena laki-laki itu sepertinya gila atau sejenisnya.

"Grrrrr...."

Laki-laki itu memeluk erat beberapa potong roti dan buah yang telah ia curi, matanya melihat Serena dengan tajam. Entah apa yang terjadi sekarang, tetapi ia benar-benar menggeram seperti seekor anjing yang marah pada Serena.

"K-kau ini siapa?" Ucap Serena masih dengan wajah takut.

Terpopuler

Comments

notKnown

notKnown

Mcm guk2 aje

2023-08-13

1

🌈Rainbow🪂

🌈Rainbow🪂

Hadir, semangat berkarya 👍

2023-08-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!