15 : Domba dan serigala [1]

"Van, jangan mematahkannya!"

Serena sedang sibuk merapikan batang-batang bunga yang baru dipetik, Van juga ikut membantunya walaupun sebenarnya akan lebih tepat jika dibilang bahwa laki-laki itu sedang mengacaukannya.

Sudah dua minggu berlalu sejak Van tinggal di sana, semakin hari laki-laki itu juga terlihat semakin normal. Ia banyak meniru apa yang dilakukan oleh Serena, bahkan Van sempat mencoba untuk memasak walaupun hasilnya hanya membuat dapur berantakan.

Memang hanya baru sebentar, tapi bagi Serena itu adalah waktu yang sangat panjang. Van sudah seperti anak kecil yang harus selalu diawasi, lengah sedikit saja maka sudah ada kekacauan yang ia buat di rumah Serena.

"Lakukan dengan perlahan, kau tidak boleh menyakiti mereka," Ucap Serena sambil mengarahkan tangan Van yang sedang membersihkan setangkai bunga Lily.

"Bunga sangat pintar," Van tersenyum manis melihat Serena yang begitu fokus membersihkan bunga-bunga di hadapannya.

Serena hanya melirik laki-laki itu sebentar lalu melanjutkan kegiatannya, "kau sudah pandai bicara," Balas gadis itu.

Ya, semakin hari Van juga lebih lancar berbicara. Sekarang Serena paham jika laki-laki itu sebenarnya tidak bisu, ia hanya terlalu lama sendirian atau semacamnya hingga tidak bisa berbicara dengan benar.

Tringgg~

Lonceng di pintu toko berbunyi menandakan ada yang datang ke sana, Serena dan Van sontak menoleh pada seorang perempuan yang sedang melihat-lihat barisan bunga di dalam toko itu.

"Selamat datang," Sambut Serena dengan ramah.

Perempuan itu membalas sapaan Serena dengan hangat, ia memilih bunga cukup lama sebelum akhirnya meminta untuk dibuatkan sebuah buket bunga Sunflower.

"Apa dia kekasihmu, Nona?" Tanya perempuan itu saat melihat Van yang masih fokus membersihkan tangkai-tangkai bunga.

Van yang mendengar itu hanya melirik perempuan tadi dengan sorot mata dingin.

"Ah..., t-tidak, dia bekerja bersamaku," Sahut Serena dengan senyum kikuk.

"Oh, begitu ya..., padahal kalian terlihat sangat serasi," Ucap perempuan itu lagi dengan kekehan kecil.

Serena hanya membalasnya dengan senyuman, setelah membayar perempuan tadi langsung pergi.

Serena kembali duduk, semua bunga yang harus dibersihkan sudah habis. Van menyelesaikan semuanya dengan cepat saat Serena melayani pembeli itu tadi.

"Waw..., kau cepat sekali," Kagum Serena, ia menatap tidak percaya pada beberapa vas kaca besar yang sudah diisi oleh berbagai macam bunga yang tadi ia petik dari kebun.

"Bunga, kekasih itu apa?" Celetuk Van sambil menatap Serena dengan wajah serius.

Serena kini kebingungan, rupanya laki-laki itu masih belum mengerti tentang banyak hal.

"Itu..., saat kau mencintai seseorang lalu orang itu juga sama, dan mereka saling menyatakan bahwa mereka memiliki satu sama lain dan ingin terus bersama..., itulah kekasih... Menurutku sih...." Sahut Serena dengan ragu.

Van menyimak gadis itu dengan serius, bisa dilihat jika ia sedang berpikir keras dari dahinya yang berkerut dalam hingga membuat wajahnya terlihat lucu.

"Pfft, apa itu? Apa kau belum paham?" Tanya Serena, ia terkekeh saat melihat raut wajah Van yang sedang berpikir.

Laki-laki itu hanya membalas Serena dengan tatapan datar, tetapi kini ia memajukan badannya hingga tubuh bagian depannya condong ke arah Serena.

"Bunga, aku akan jadi kekasihmu." Ucapnya serius.

Serena membatu, ia berhasil dibuat shock dengan perkataan Van barusan. Wajahnya terlihat kaget, tapi beberapa detik kemudian langsung disusul dengan gelak tawa.

"Ahahahahahahah~ Ah..., astaga, perutku," Serena masih tertawa sambil memegangi perutnya yang sakit.

"Hey, anak kecil ini bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu dengan polos," Kekeh Serena, "dengar, Van. Kau tidak boleh sembarangan mengatakannya pada wanita, kau harus punya alasan dan perasaan yang kuat, jadi jangan pernah mengatakan hal seperti tadi sembarangan," Tutur Serena.

Van kini memasang wajah cemberut, ia masih terlihat berpikir keras.

"Harus apa? Agar bisa mengatakannya," Ucap Van dengan wajah bingung.

Serena masih tertawa geli melihat tingkah laki-laki itu, perkataan Van barusan benar-benar menggelitik perutnya. Di matanya Van itu hanyalah seorang anak kecil polos yang belum mengerti banyak hal, karena itu setiap yang keluar dari mulut Van hanya ia anggap seperti angin lalu.

"Yeah..., kau bisa mengatakannya jika nanti sudah bertemu dengan wanita yang kau cintai," Sahut Serena, "meskipun aku ragu kau akan menemukannya," Tambah gadis itu lagi.

"Aku..., kecil..." Gumam Van, laki-laki itu sedang menatap kedua telapak tangannya.

Serena menyandarkan kepalanya pada dinding di belakangnya, gadis itu menatap Van sambil tersenyum karena sekarang Van benar-benar terlihat menggemaskan.

"Ya, kau anak kecil," Lirih Serena, "anak kecil yang tumbuh terlalu besar," Tambahnya lagi.

Seperti yang dikatakan oleh Serena, Van memang memiliki tubuh tinggi dan besar layaknya orang dewasa. Bahkan tubuh laki-laki itu terbentuk sempurna, otot-otot yang indah tersusun dengan anggun di tubuhnya. Namun, tetap saja sifat Van sangatlah polos seperti anak kecil.

Serena tidak tahu persis berapa usia Van sebenarnya, tetapi bisa dilihat jika mungkin ia seumuran atau bahkan lebih muda dari dirinya. Ia benar-benar masih belum mendapatkan titik terang tentang asal usul laki-laki itu, setiap hari Serena masih berusaha mencari informasi meskipun hasilnya selalu nihil.

Van sedang membuka buku, laki-laki itu ternyata bisa membaca. Serena awalnya tidak percaya, tapi dari hal itu ia menyimpulkan bahwa Van tidak dibuang dari kecil di hutan itu. Bisa membaca dan menulis menandakan jika laki-laki itu memang normal, kemungkinan lain bisa saja karena ia tersesat atau pun dibuang karena suatu alasan yang entah apalah itu.

Apa dia kehilangan ingatan?

Serena menatap Van dengan mata menerawang.

Gadis itu berpikir keras, tetapi lamunannya buyar oleh suara telpon.

"Halo-"

"Ini aku, aku sangat sibuk tapi karena kau lebih penting jadi aku sengaja membuang waktuku," Ucap seorang laki-laki dari dalam telpon.

Serena memutar bola matanya, "cepat katakan, kenapa kau menelpon," Sahutnya datar.

Van yang tadinya fokus dengan bukunya kini mendekati Serena dengan raut wajah bingung, Serena yang melihat itu langsung memberikan isyarat agar Van diam dan menjauh.

"Kenapa ada suara? Apa dia terkurung di sana?" Ucap Van polos, ia menunjuk ke arah telpon yang digenggam Serena dengan raut wajah bingung.

"Siapa itu? Apa kau bersama seseorang? Apa dia laki-laki?" Tanya laki-laki dari dalam telpon.

"Dia hanya pekerja di toko," Sahut Serena, gadis itu masih memberikan isyarat agar Van tidak mengeluarkan suara lagi, "Louis, cepat katakan ada apa, aku juga sibuk," Kesal Serena.

"Uhh..., kau selalu saja galak padaku," Rengek laki-laki bernama Louis itu, "ya ya ya, Nonaku yang manis. Aku hanya ingin memberitahu soal permintaanmu itu," Ucap Luois.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!