11 : Tinggal lah di sini

Suasana di meja makan itu menjadi hening, Van menatap Serena dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

"Y-yah..., maksudku... Kau bisa kembali ke sini kapan pun kau mau," Ucap Serena dengan kikuk, "kebetulan loteng rumah ini kosong, kau bisa tinggal di sana jika mau," Tambahnya lagi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Rumah," Sahut Van polos, ia menunjuk ke arah Serena, "rumah." Ucapnya lagi.

Serena melihat laki-laki itu dengan bingung, "yeah, rumah...." Sahutnya pelan.

Ia tidak tahu dengan apa yang di maksud oleh Van, tetapi Serena hanya mengiyakannya saja. Setelah selesai makan laki-laki itu langsung pergi keluar dan kembali duduk di taman tempat ia berbaring. Serena ingin mengikutinya, tapi baru saja ia ingin melangkah keluar dari pintu, Van sudah kembali lagi membawa setangkai bunga mawar.

"Bunga," Ucap Van sambil menyodorkan mawar itu pada Serena.

Apa ini? Lagi-lagi dia memberiku bunga, apa ini seperti tanda terimakasih atau semacamnya?

Serena kebingungan, tetapi ia tetap menerima bunga itu dengan senyum manis.

"Van," Panggilnya, "ikuti aku," Ucap Serena sambil berjalan ke sisi lain rumahnya, di sana terdapat sebuah tangga yang langsung menuju loteng.

Van mengikutinya seperti anak ayam yang mengekor pada induknya, ia mengikuti Serena sampai ke atas loteng. Tempat itu memang memiliki akses masuk terpisah dari bangunan rumah utama dan selama ini hanya dipakai sebagai penyimpanan lukisan-lukisan yang dibuat oleh Serena.

"Aku tidak tahu seperti apa kehidupanmu sebelumnya atau bagaimana caramu hidup di hutan itu..., tapi kau bisa tinggal di sini kapan pun kau mau," Ucapnya.

Van sedang sibuk melihat satu-persatu lukisan dengan antusias seperti anak kecil yang baru saja melihat mainan, ia berkeliling ke sana kemari.

"Pfft, itu lukisan, aku yang membuatnya," Serena terkekeh melihat Van yang sepertinya menyukai kanvas-kanvas yang diberi polesan cat tersebut.

"Kau bisa tidur di sini, setidaknya tempat ini hangat," Ucapnya sambil menepuk-nepuk sofa besar yang terlihat tua, meskipun begitu tetap terlihat nyaman karena Serena memang selalu menjaga ruangan itu.

"Rumah... Rumah... Rumah...." Gumam Van, ia berguling-guling di atas sofa yang empuk.

Serena hanya tersenyum melihat tingkah laki-laki itu. Entah apa yang dilakukannya sekarang, membawa orang yang tidak ia ketahui asal usulnya lalu memberinya tempat tinggal. Bagaimanapun itu ia sudah bersiap menanggung resikonya, lagipula tidak masalah membiarkan laki-laki itu tinggal di sana.

"Tinggal lah jika kau mau," Ucap Serena, ia bersiap turun dan menutup pintu, "dan jangan sampai terlihat oleh orang lain," tambahnya lagi, gadis itu tersenyum manis sebelum akhirnya menutup pintu dan pergi meninggalkan Van di loteng itu.

Aku harap dia mengerti ucapanku....

Serena menuruni anak tangga sambil melamun, ia kembali menoleh sebentar dan kembali tersenyum saat melihat Van belum keluar dari sana.

"Sepertinya dia menyukainya," Lirihnya lega.

*****

Serena sedang berada di toko serba yang selalu ia datangi, ia harus membeli beberapa barang dan bahan makanan untuk stok beberapa hari.

Setelah semuanya selesai, ia langsung menuju tempat pembayaran. Harry sedang duduk di sana dengan wajah datar dan bersiap untuk menghitung belanjaan milik Serena.

"Aku dengar kau kembali membuka toko," Celetuk Harry, tangannya sibuk memasukkan satu-persatu barang ke dalam kantong belanja.

"Begitulah, tapi beberapa hari ini kembali tutup karena aku sedikit sibuk," Balas Serena seadanya.

Tidak ada sahutan, Harry hanya melirik datar gadis itu sambil memberikan kantong belanja dan sejumlah uang kembalian.

Serena menerimanya, ia langsung berlalu pergi setelah mengucapkan terimakasih. Tetapi langkahnya terhenti, gadis itu berbalik lagi dengan ragu dan kembali mendekati Harry yang sudah fokus membaca koran.

"Uhm..., Harry..., aku ingin menanyakan sesuatu," Ucapnya dengan kaku.

"Apa itu?" Sahut Harry tanpa menurunkan koran besar yang menutupi wajahnya.

"Apa kau pernah mendengar tentang orang hilang di kota ini? Atau mungkin dari kota lain, orang-orang yang berada dalam pencarian," Tutur Serena dengan ragu.

Harry kini menurunkan dan langsung melipat koran yang tadi ia baca, pria itu menatap Serena dengan dingin.

"Untuk apa kau bertanya?" Pria itu kini menjawab dengan pertanyaan.

"Aku hanya penasaran," Jawab Serena, "baru-baru ini ada polisi yang mendatangiku dan bertanya tentang rumor di hutan itu, menurutku itu bukanlah monster atau semacamnya..., bisa saja itu orang biasa bukan?" Jelasnya dengan ragu, tatapan tajam dan dingin dari Harry benar-benar membuatnya tertekan.

Harry menatapnya cukup lama, hal itu membuat Serena bertambah kikuk dan tidak nyaman. Jika tatapan seseorang bisa melubangi benda, maka sepertinya wajah Serena sudah berlubang karena terus-terusan ditatap dengan tajam oleh pria itu.

"Entahlah, tidak banyak kasus orang hilang yang ditemukan di kota ini," Harry akhirnya menjawab, "beberapa dari mereka adalah korban penculikan dan tindakan kriminal, jika ditemukan pun pasti dalam keadaan mati mengenaskan atau sudah menjadi tulang-belulang." Ucap Harry dengan ekspresi datar yang masih sama.

Jawaban Harry sukses membuat Serena bergidik ngeri, entah kenapa rasanya semua yang dikatakan oleh pria tua itu selalu menjadi hal yang menyeramkan. Ditambah lagi Harry mengatakannya dengan wajah yang datar.

"Ah..., begitu ya...." Balas Serena pelan, "baiklah, terimakasih. Aku pergi," Ucapnya, gadis itu segera keluar dari toko dengan bulu tubuh yang berdiri.

Seharusnya aku tidak bertanya padanya....

Serena menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melangkah cepat untuk kembali ke rumahnya.

Gadis itu sudah berlalu, tetapi Harry masih menatap tajam punggung Serena yang semakin menjauh dari dalam toko.

*****

"Kau menyukainya?"

Van memakan kue yang diberikan Serena dengan senang, saat di perjalanan pulang gadis itu membeli pai keju favoritnya dan sekarang ia membaginya dengan Van karena teringat jika laki-laki itu menyukai makanan manis.

Serena tersenyum tipis, ia senang melihat Van memakan kue itu dengan lahap.

"Kau bisa mandi dan memakai toiletku di bawah, yah... Jika kau tahu cara pakainya sih...." Ucapnya ragu.

Kini sudah malam, mereka berdua sedang duduk menghadap lilin yang menyala. Tadinya Serena menyalakan lampu, tetapi Van langsung menggeram dan membuat Serena kembali mematikannya. Sepertinya laki-laki itu tidak menyukai cahaya terang dari lampu, karena itulah sekarang hanya ada cahaya dari lilin di ruangan itu.

"Istirahatlah, aku akan turun," Ucap Serena, ia keluar dan menutup pintu untuk segera turun ke bawah.

Van menatap pintu yang sudah tertutup, manik kuningnya berkilat saat terpapar cahaya lilin yang redup.

"Bunga, cantik...." Lirihnya.

Cahaya rembulan menembus masuk dari kaca jendela, dari loteng itu bisa terlihat jelas langit malam yang dipenuhi bintang dan juga bulan yang sedang bersinar terang.

Van mendekat ke arah jendela, matanya berbinar menatap bulan yang sedang bertengger di langit malam. Kepalanya mendongak keatas sambil memejamkan mata, tubuhnya mulai bergetar hebat hingga urat-uratnya menonjol pada kulit pucat milik laki-laki itu.

"Grrrrr...."

Terpopuler

Comments

shookyot7💜

shookyot7💜

semangat kak, ceritanya bagus, menarik

2023-08-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!