Sampai di rumah, Aslan memerintahkan dua pelayan untuk membereskan semua belanjaan Irina. Sedangkan Irina sendiri saat ini sedang berada di dapur membuatkan kopi untuk Aslan.
Irina tertegun beberapa saat ketika mengaduk kopi hitam yang ada di hadapannya. Dia menjadi mengingat Yoga--suaminya--juga menyukai kopi yang sama seperti Aslan.
"Kamu melamun?" Suara Aslan membuyarkan lamunan Irina. Wanita terkesiap lalu menoleh pada Aslan yang berdiri di belakangnya. Entah sejak kapan pria tersebut ada di sana.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Aslan maju satu langkah lalu memeluk Irina dari belakang, kemudian menyibakkan rambut panjang wanita tersebut ke sisi kiri, lalu ia mengecup leher jenjang milik Irina yang putih, mulus dan juga sangat harum.
Irina menghentikan kegiatannya yang sedang mengaduk kopi. Ia memiringkan kepala, saat Aslan mengecupi lehernya dengan penuh gairah. Di tambah lagi saat Aslan meraba dadanya dengan gerakan kasar, membuat Irina merasakan sensasi luar biasa hingga tanpa sadar dessahan lolos dari bibir manisnya. Irina tidak menolak sentuhan dari Aslan, karena semua itu bagian dari pekerjaannya. Mereka setiap hari saling bersentuhan. Irina mengerjakan tugasnya layaknya seorang palacur pada umumnya yang melayani pelanggan di atas ranjang, tapi bedanya Irina dan Aslan tidak melakukan making love karena senjata Aslan belum bisa tegak sempurna. Namun, terapi yang di lakukan Irina menunjukkan kemajuan yang lumayan, karena milik Aslan sudah bisa berdiri walaupun masih lemas dan tidak tidak terlalu keras.
Cumbuan yang di berikan Aslan berbeda dari yang sebelummya. Di tambah lagi dia merasakan sesuatu yang keras mengenai boko*ongnya. Kedua alis Irina mengernyit kemudian ia menjauhkan mengehentikan Aslan yang masih mencumbunya.
"Ada apa?" tanya Aslan kesal, senjatanya sudah tegak sempurna dan mengeras kini kembali melempem saat Irina menghentikan aksinya.
"Kamu sudah sembuh?" Irina membalikkan badan, menatap Aslan dengan lekat, kemudian salah satu tangannya menyentuh senjata Aslan yang lemas. "Kok bisa sih? Tadi aku merasakan sesuatu yang keras." Irina berkata dengan bingung.
"Mungkin yang kamu maksud ikat pinggangku!" bohong Aslan seraya menunjuk ikat pinggangnya.
Aslan tentu tidak akan mengakui kalau sebenarnya dia sudah sembuh karena dia tidak ingin Irina pergi meninggalkannya.
Irina menipiskan bibirnya, menatap Aslan sambil membuang nafas kasar. “Mungkin kamu benar, yang keras tadi adalah kepala ikat pinggangmu.”
“Iya, tentu, aku tidak akan sembuh dalam waktu cepat, karena kata dokter penyakitku ini sudah kronis. Sepertinya kamu harus berjuang lebih keras lagi.” Aslan berbisik seraya memegang ujung dagu Irina, menatap lekat kedua manik hitam legam itu. Kemudian ia mengecup bibir Irina sekilas dan penuh dengan kelembutan.
Irina memejamkan kedua mata saat benda kenyal dan hangat itu mendarat di permukaan bibirnya, tak berselang lama dia kembali membuka mata saat Aslan menjauh darinya.
“336 jam sudah terlewati, dan aku masih mempunyai waktu 664 jam lagi untuk menyembuhkanmu,” jawab Irina dengan suara lirih.
“Kamu pikir setelah 1000 jam bisa lolos dari sini?!” desis Aslan tidak suka dengan perkataan Irina yang seolah akan meninggalkannya setelah 1000 jam terlewati.
“Aslan!” Irina memekik ketika pria tersebut mencengkram salah satu pundaknya dengan kuat, bahkan dia sampai meringis kesakitan. “Lalu apa yang kamu inginkan?” Irina mulai terisak saat Aslan semakin menggila, mencengkram pundaknya semakin kuat dan menatapnya sangat tajam.
“Tetap berada di sisiku untuk selamanya!” tegas Aslan tidak mau di bantah.
“Tapi, mana bisa seperti itu, aku sudah mempunyai suami.” Irina tidak habis pikir dengan jalan pikiran Aslan.
“Aku tidak peduli! Berikan seluruh hatimu kepadaku, dan aku akan memberikan segalanya untukmu, bukankan ini adil? Anggap saja sekarang kita sedang bekerja sama dan saling menguntungkan!” Aslan melepaskan cengkraman tangannya saat melihat Irina menangis.
“Cintai aku, Irina.” Aslan merengkuh pinggang ramping itu dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya menarik tengkuk Irina dan langsung melabuhkan ciuman panas di bibir yang sudah menjadi candunya itu. “Aku tidak ingin mendengar kata ‘tidak’ jika hal itu terjadi maka aku bisa melakukan apa saja, termasuk membuat suamimu menderita!” desis Aslan saat ciuman itu terlepas sesaat. Aslan tidak akan memberikan kesempatan pada Irina untuk protes, atau pun menolak permintaannya. Dia menghalalkan cara untuk menjerat wanita tersebut agar menjadi miliknya untuk selamanya.
Tidak perlu di tanyakan lagi kenapa Aslan begitu tertarik dengan Irina. Yap, karena Irina berbeda dengan wanita pada umumnya.
Mendengar ancaman Aslan, Irina pun terpaksa mengangguk, karena dia tidak ingin kalau Aslan menyakiti Yoga.
“Aku akan mencintaimu, tapi jangan sakiti Mas Yoga atau pun Ibu mertuaku,” bisik Irina menatap Aslan dengan sendu.
“Good girl. Aku tidak akan nakal kalau kamu patuh,” balas Aslan kemudian kembali memagut bibir Irina dengan penuh kelembutan, berusaha membuat Irina tenggelam dalam suasana erotis yang dia ciptakan.
*
*
Di sisi lain. Dimas saat ini sedang berada di dalam Club malam. Dia tidak bersenang-senang di sana, akan tetapi sedang mengikuti Kevin—musuh bebuyutan Aslan. Kevin terlihat tidak sendirian di Club malam itu, dia di temani seorang pria yang tak lain adalah seorang manager di perusahaan Aslan.
“Sialan! Mereka saat ini pasti bersekongkol membuat rencana jahat untuk menghancurkan Aslan!” Dimas mengambil ponselnya untuk mengambil video dua pria tersebut yang terlihat berbicara serius.
Setelah mendapatkan bukti. Dimas segera menyimpan ponselnya, lalu beranjak dari sana. Sepertinya dia harus segera melaporkan kejadian itu kepada Aslan.
Dimas keluar dari Club malam itu lalu mengendarai mobilnya menuju rumah Aslan. Walaupun dia tahu kalau saat ini sudah tengah malam dan tidak pantas untuk bertamu, tapi bagaimana lagi kondisi lagi genting.
Kembali ke Aslan dan Irina yang masih berciuman di dapur.
“Aslan, nanti dilihat orang!” Irina menahan tangan Aslan sudah melesak masuk ke dalam roknya dan menyentuh titik sensitifnya.
“Ck! Tidak ada yang berani ke sini!” balas Aslan kesal menatap sebal pada Irina yang sudah merusak kesenangannya.
“Masih ada waktu untuk melakukannya saat di kamar nanti. Sekarang cepat minum kopimu sebelum dingin.” Irina mendorong dada bidang Aslan agar melepaskan pelukan itu. Kemudian ia mengambil secangkir kopi yang sudah tidak panas dan di berikan kepada Aslan.
“Kali ini aku melepaskanmu!” Aslan menerima secangkir kopi yang di berikan oleh Irina, kemudian dia beranjak dari dapur menuju ruangan pribadinya.
Irina menghembuskan nafas lega seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Kini dia bagaikan menelan pil pahit dengan terpaksa, karena dia terpaksa menerima segala keputusan dari Aslan demi kebaikan keluarganya.
Irina menyadari kalau dia saat ini terjebak semakin dalam ke kubangan lumpur yang sudah di gali oleh Aslan.
***
Tolong Likenya ya 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
D
aku kasi likeny👍
2025-03-18
0
Kalele Femmy
apa tu yg tegak tapi bukan tiang bendera😇😇😂😂
2024-07-11
0
Wati_esha
Tq ya update nya.
2023-11-09
1