“Nggak ngotak banget kamu! Parah!” Dimas emosi ketika mendengar curhatan Aslan. Bagaimana tidak emosi kalau teman sekaligus bosnya ini tidak mempunyai hati karena sudah mengurung Irina karena Aslan tidak ingin wanita itu pergi menemui suaminya yang akan di operasi.
“Apa aku salah? Aku sudah memberikannya uang 500 juta secara cuma-cuma kepadanya, tapi dengan syarat dia harus patuh dengan semua perintahku,” balas Aslan menatap Dimas yang berdiri di depan mejanya.
“Tapi, nggak seharusnya kamu berbuat kejam seperti ini. Minimal berikan Irina kesempatan untuk menemani suaminya yang akan melakukan operasi!?” Dimas semakin emosi pada temannya itu sambil menyugar rambutnya kasar.
“Aku hanya mempertahankan milikku!” balas Aslan lagi dengan santainya, seraya melipat kedua tangannya di dada, menatap jengah pada Dimas yang sejak tadi mondar-mandir di depan mejanya.
Dimas menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan Aslan. Ia menatap temannya itu dengan tajam sambil berpikir keras, segala sikap Aslan yang menurutnya sangat aneh. Pasalnya, Aslan adalah tipe pria yang sangat cuek, tidak pernah peduli dengan pasangan, tidak mudah di sentuh oleh wanita dan sangat dingin pada orang di sekitarnya. Akan tetapi, setelah bertemu dengan Irina, sifat temannya itu mendadak berubah 180 derajat, menjadi takut kehilangan dan sangat peduli dengan Irina, dan rela melakukan segala cara agar Irina tetap berada disisinya.
“Kayaknya kamu membutuhkan psikiater deh.” Dimas bersuara setelah menemukan jawaban dari segala pertanyaan yang ada di dalam otaknya.
“Kamu pikir, aku ini gila!” balas Asla kesal, menatap tajam Dimas.
“Kamu nggak gila, hanya saja sedang stres karena trauma dengan pernikahanmu yang gagal,” balas Dimas dengan serius.
“Sifat Sofia dan Irina sangat bertolak belakang. Sofia menghianatimu karena kamu tidak bisa memuaskannya, sedangkan Irina menerimamu apa adanya, apalagi setelah kamu mengetahui bahwa Irina adalah wanita yang sangat spesial, dari perbedaan da rasa trauma itulah yang membuatmu menjadi sangat posesif pada Irina dan sangat takut kehilangannya. Apakah dugaanku benar?” lanjut Dimas menjelaskan segala praduganya yang ada di dalam pikirannya.
Aslan terdiam ketika mendengar penjelasan Dimas yang panjang kali lebar. Mungkin yang dikatakan Dimas ada benarnya kalau dirinya trauma dengan masa lalunya. Akan tetapi, Aslan berusaha menepis segala rasa tersebut, dan meyakinkan hatinya kalau dia telah jatuh hati pada pesona Irina yang luar biasa.
“Percuma ngomong sama kamu!” Dimas semakin jengkel menghadapi sikap Aslan, dia langsung keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan kesal luar biasa. “Apakah aku harus menghubungi Meyda ya, biar wanita itu membantu Irina keluar dari masalah ini! Tapi ... bodo amat ah ... ngapain juga aku ikut campur masalah mereka!” Dimas terlanjur kesal pada Aslan, dia kembali ke ruangannya dan segera melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
*
*
Bu Nining sangat cemas dan terus memanjatkan doa untuk kelancaran operasi trasplantasi hati putranya. Wanita paruh baya itu meneteskan air matanya, merasa sedih karena Irina tidak bisa datang di hari yang penting dan sangat menegangkan itu. Pagi tadi, dia mendapatkan pesan dari Irina, kalau menantunya itu tidak mendapatkan izin dari bosnya. Tapi, yang membuatnya heran, ponsel Irina langsung tidak aktif setelah mengirimkan pesan kepadanya.
Bu Nining merasa ada yang aneh dan janggal dengan Irina. Kalau dipikir secara logika, mana mungkin ada boss yang tega melarang anak buahnya menemani keluarga yang sedang sakit. Pikiran Bu Nining berkecamuk, akan tetapi dia membuang segala pikiran negatifnya dan lebih fokus pada kesehatan putranya.
Di sisi lain, saat ini Irina duduk di atas lantai sambil bersandar di ranjang, dan pandangannya kosong. Pikirannya tertuju pada suaminya yang sedang berjuang di ruang operasi. Irina tidak hentinya menyebut nama Yoga di dalam doanya. Wanita cantik itu menundukkan kepala, seraya meneteskan air matanya yang sejak tadi tidak mau berhenti mengalir.
Ceklek!
Suara pintu terbuka dari luar. Irina mengangkat kepalanya, menatap ke arah pintu tersebut. Ia menghela nafas kasar, menatap lega saat yang datang adalah Bi Inah sambil membawa makan siang untuknya.
“Nona, makan dulu, dari tadi pagi sampai menjelang sore Nona Irina belum makan loh.” Bi Inah membujuk Irina yang sejak tadi pagi tidak makan dan tidak minum, dia turut prihatin dengan keadaan yang menimpa wanita cantik itu.
“Bagaimana aku bisa makan, Bi, kalau ...” ucapan Irina terhenti ketika dia tersadar jika dia berada di rumah tersebut menjadi kekasih Aslan, bukan sebagai terapis atau pun wanita panggilan.
“Kalau apa?” Bi Inah mengulangi ucapan Irina yang terhenti, ia menatap wanita tersebut dengan lekat, penasaran dengan kelanjutan perkataan Irina.
“Emh ... Bi Inah mau meminjamkan aku ponsel tidak?” tanya Irina, memohon kepada wanita paruh baya itu.
“Maaf, Nona, bukannya nggak mau meminjamkan, akan tetapi saya tidak berani, takut ketahuan sama Tuan Aslan, nanti saya di pecat,” jelas Bi Inah apa adanya.
Irina menghembuskan nafas kasar, tidak mungkin dia memaksa Bi Inah untuk meminjamkan ponsel, apalagi setelah mendengar alasan wanita paruh baya itu membuat hati Irina tidak tega, dan takut juga kalau Aslan mengetahuinya.
“Dasar pria menyebalkan!” geram Irina di dalam hati. Kini dia sangat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, di tambah lagi rumah mewah tersebut keamanannya sangat ketat, jadi kalau kabur pasti akan tertangkap juga.
*
*
Malam harinya. Operasi transplantasi hati yang belangsung lebih dari 10 jam itu akhirnya berakhir dengan sempurna. Para Tim Dokter bernafas lega dan sangat bahagia karena pasien mereka telah melewati masa kritis. Bu Nining tidak hentinya mengucapkan banyak terima kasih kepada Tuhan. Wanita paruh baya itu sangat bahagia dan senang karena operasi putranya berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan sama sekali.
Akan tetapi, kebahagiaan yang di rasakan oleh Bu Nining tidak menular pada Irina yang saat ini sedang galau dan masih di kurung di dalam kamar.
“Kata Bibi kamu tidak mau makan seharian?” Suara bariton itu terdengar sengat mengerikan di indra pendengaran Irina.
“Nggak lapar!” balas Irina menatap Aslan yang berdiri di ambang pintu kamar tersebut.
“Jangan membuat kesabaranku habis, Irina!” Aslan berjalan mendekati Irina yang masih setia duduk di atas lantai, kemudian ia meletakkan tas kerjanya di pinggiran tempat tidur, lalu mensejajarkan posisi duduknya dengan Irina.
“Aku tidak akan kabur atau pergi dari sisimu, tapi aku mohon berikan aku kesempatan untuk bertemu dengan suamiku.” Irina menatap Aslan dengan iba, berharap pria arogant itu mengasihinya.
“Sepertinya kamu butuh refresing! Bersiaplah, aku akan membawamu ke shoping!” Tanggapan Aslan diluar dugaan Irina. Pria tersebut malah mengabaikan permohonannya.
“Dasar manusia kejam! Aku membencimu!” ucap Irina namun hanya mampu ia katakan di dalam hati.
Visual Aslan dan Irina 🥺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Kalele Femmy
👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰
2024-07-11
0
Kalele Femmy
gila cinta alias bucin akut🥰🥰😊😊
2024-07-11
0
floren yanti
😄😄😄 aku mbacanya kok iriana ya bukan irina, sorry.....
2024-04-13
2