Irina menatap sedih pada suaminya yang terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur pasien. Mereka baru menikah setengah tahun, mereka menikah karena saling mencintai, walaupun keadaan ekonomi mereka sangat sulit. Irina adalah anak yatim piatu dan selama hidupnya tinggal di panti asuhan, ia bekerja sebagai buruh cuci karena pendidikannya rendah, sedangkan suaminya yang bernama Yoga bekerja sebagai pengemudi ojek online.
“Bu, aku harus segera cari uang untuk biaya operasi transplatasi hati Mas Yoga,” ucap Irina pada mertuanya yang duduk di kursi tidak jauh dari tempat tidur pasien.
“Ibu nyerah, Rin. Ibu nggak sanggup, ibu ikhlas kalau Yoga ...” Wanita paruh baya itu tidak sanggup melanjutkan perkataannya, ia menundukkan kepala, lalu kembali mengangkat kepala, menatap putranya yang terbaring tidak berdaya, di tambah lagi perut Yoga kini sudah membesar bertanda kalau penyakit putranya sudah sangat parah.
“Bu! Jangan bilang seperti itu. Aku akan berjuang keras mencari uang untuk biaya operasi Mas Yoga.” Irina menatap ibu mertuanya dengan nanar. Air matanya kembali menetes di pipinya.
“Bagaimana caranya, Rin? Buat makan sehari-hari kita saja sulit.”
“Pasti ada cara, Bu, Aku akan mencari pekerjaan, aku titip Mas Yoga ya, Bu.” Irina memohon kepada ibu mertuanya.
“Iya, tapi tetap berada di jalan yang benar ya. Jangan sampai kamu melakukan perkerjaan haram.” Sang ibu mertua mengingatkan menantunya.
Irina menjawab dengan anggukan kepala, lalu berpamitan, mencium tangan ibu mertuanya.
*
*
Aslan memasuki rumahnya saat hari sudah malam. Rumah mewah yang ia sengaja beli untuk membangun rumah tangga dengan Sofia. Rasa emosi kini kembali merambat kerelung hatinya, hingga membuatnya kalap dan mengancurkan semua barang-barang yang ada di dekatnya.
Dimas yang sedang berada di dapur membuat kopi sangat terkejut saat mendengar suara gaduh di ruang tengah.
“Den Dimas! Tuan, mengamuk!” Salah satu pelayan tergopoh-gopoh mendatanginya.
“Tenang, Bi.” Dimas menenangkan pelayan tersebut, setelah itu ia segera berlari ke ruang tengah, di mana Aslan menghancurkan semua barang yang ada di sana.
“Arghhhh!!!” teriak Aslan seraya mengangkat meja kecil yang ada di sana lalu membantingnya ke atas lantai.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Hancur meja tersebut karena di banting berulang kali. Dimas meringis melihatnya, ingin menghentikan bos sekaligus sahabatnya itu tidak mungkin, karena Aslan akan bertambah mengamuk kalau ada yang ingin menghalanginya.
“Bi, ambilkan perabotan di dapur, dan berikan kepada Aslan,” ucapan Dimas membuat beberapa pelayan di sana sangat tercengang.
“Tapi, Den ...”
“Dari pada furnitur yang di ruang tengah itu hancur semua,” jawab Dimas, karena ia tahu kalau furnitur yang ada di rumah Aslan sangat mahal, dan sangat sayang jika hancur sia-sia.
Beberapa pelayan di sana dengan kompak mengangguk, dan segera mengambil perabotan yang ada di dapur, seperti piring, panci dan sebagainya, lalu memberikannya kepada Aslan.
Sontak saja Aslan langsung melampiaskan amarahnya dengan cara membanting semua perabotan dapur yang ada di hadapannya itu.
Setelah puas melampiaskan amarahnya, Aslan terdiam, sembari mengurai nafas yang memburu.
Dimas mendekati Aslan, lalu berkata, “sudah puas belum ngamuknya?” tanya Dimas pada Aslan.
“Diam!” bentak Aslan menatap tajam asisten sekaligus temannya itu.
“Eh, buset, galak banget!” celetuk Dimas sambil terkekeh pelan. “Lagian ngapaiin ngabisin tenaga dengan ngamuk kayak gini, rugi tahu nggak!” cerocos Dimas lalu menarik tangan Aslan menuju ruang keluarga saat ruang tengah itu akan di bersihkan.
“Si Sofia wanita siluman itu juga sudah angkat kaki dari rumah ini! Buang segala kenangan buruk tentangnya, dan mulailah lembaran baru, Bro!” Dimas menepuk pundak Aslan memberikan ketenangan,
“Bacot doang!” umpat Aslan pada sahabatnya itu.
“Terserah kamu deh! Di kasih tahu ngeyel! Ini dengerin, kalau kamu ngamuk-ngamuk kayak gini yang ada Sofia sangat senang karena mengira kalau kamu nggak bisa hidup tanpa dia.” Lagi-lagi Dimas memberikan nasehat, dan kali ini nasehatnya itu di dengar oleh Aslan.
“Kamu benar!” jawab Aslan setuju dengan saran temannya.
“Jadi, aku harus bagaimana? Aku juga ingin menjadi normal lagi kayak pria pada umumnya.” Aslan menghela nafas kasar.
“Aku ada cara, tapi aku nggak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak, tapi wajib di coba dulu.” Dimas langsung membisikkan sesuatu di dekat telinga Aslan.
“Nggak mau! Saranmu itu gila!” umpat Aslan, menolak cara gila yang disarankan temannya itu.
*
*
“Bantu aku cari kerjaan, Mbak. Yang gampang dapat uangnya.” Irina menemui temannya yang bernama Meyda.
“Ngelon*te,” jawab Meyda seraya menyesap rokoknya lalu menghembuskan asap rokoknya itu ke wajah Irina.
“Cuma perkerjaan itu yang menghasilkan banyak uang dalam semalam,” lanjutnya saat melihat wajah Irina tercengang. “Mau nggak? Katanya butuh kerjaan?”
Meyda adalah perempuan bermata sipit dan berkulit putih bersih, serta body montok incaran om-om. Usianya 25 tahun sama seperti Irina.
“Tapi, nggak harus jual diri juga ‘kan,” lirih Irina.
“Serah lu deh! Lagian lu datangnya ke orang yang salah! Kalau lu mau kerjaan halal datang saja sama tukang bubur sana, dia lagi cari karyawan untuk jaga warung buburnya!” Meyda menunjuk arah utara di mana rumah tukang bubur berada.
Irina terdiam sejenak, seraya mengambil nafas dalam. Tidak ada cara lain untuk menghasilkan uang dengan cepat kecuali jual diri. Hati Irina merasa gamang, pikirannya sudah buntu. Ia tidak bisa berpikir jernih karena ia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan suaminya. Dengan penuh keraguan, ia akan mengambil jalan pintas tersebut.
“Ibu, Mas Yoga, maafkan aku," batin Irina, penuh sesal.
“Aku mau mbak, kerja kayak Mbak Mey, bagaimana caranya?” tanya Irina seraya menelan ludahnya dengan kasar, seolah sedang menelan pil pahit.
“Ya, tinggal ngang*kang doang!” jawab Meyda frontal.
“Kalau lu serius, nanti malam datang ke Club X, jangan lupa pakai baju super sexy dan dandan yang cantik! Gue tunggu di sana,” ucap Meyda, langsung di angguki oleh Irina.
Irina bergegas pulang, setelah mendapatkan saran dari Meyda. Sebelum itu, ia menuju toko baju wanita yang letaknya tidak jauh dari rumah mewah Meyda. Ia membeli baju sexy sekaligus alat make-up yang harganya murah dan pas di kantongnya. Setelah mendapatkan semua keperluannya, ia segera pulang untuk bersiap.
Ini adalah hal gila yang pertama kali ia lakukan seumur hidupnya. Memilih pekerjaan haram demi pengobatan suaminya. Irina pulang menggunakan motor matic milik suaminya yang biasa digunakan untuk ngojek.
“Ya Tuhan, maafkan aku. Aku tahu jalan yang aku tempuh ini salah, tapi aku terpaksa melakukannya. Aku tahu jika Engkau tidak akan memaafkan keputusanku ini, tapi mau bagaimana lagi, saat ini aku sedang membutuhkan uang,” batin Irina ketika dia mengendarai motornya, membelah jalanan ibu kota pada malam hari itu. Air matanya menetes ke pipi tanpa di minta. Sepanjang perjalanan dia terus menangis.
***
Like-nya jangan lupa ya bestie❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
ALNAZTRA ILMU
hmm kalau sampai jual' diri..rasanya di dunia reality..orang2 akan ambik jalan pasrah..daripada jalan haram
2025-03-10
0
Titin Sundari
waduh...
2025-02-27
0
Fe
knp novel2 bikin cerita nya orang2 kaya kalo engga sm wanita2 malam jodoh nya ya sama yg miskin bgt, kasian amat ya
2024-09-08
1