“Dari mana saja kamu?!” suara bariton tersebut terdengar datar dan sangat dingin menyambut indra pendengaran Irina yang baru memasuki kamar yang terlihat remang karena hanya lampu tidur di atas nakas yang menyala.
“Kamu belum tidur?” Irina menjawab pertanyaan Aslan dengan pertanyaan lainnya. Irina menatap Aslan yang bersadar di headboard ranjang sambil menatapnya tajam.
“Aku tanya, dari mana saja seharian ini?!” Aslan kembali melontarkan pertanyaan yang sama seraya turun dari ranjang menghampiri Irina yang masih berdiri di dekat pintu.
“Aku dari rumah sakit,” lirih Irina ketika pria tersebut sudah berdiri di hadapannya lalu merengkuh tubuhnya dengan sangat erat. “Aslan, kamu kenapa?” Irina bertanya dengan suara yang lembut, tahu kalau pria yang sedang memeluknya ini sedang emosi.
“Jangan pergi lagi!” Aslan menjawab dengan penuh ketegasan, lalu mengurai pelukan tersebut, seraya menangkup wajah cantik Irina dan menatap kedua manik hitam dan teduh itu dengan tatapan yang dalam.
“Maksud kamu apa? Aku besok harus kembali lagi ke rumah sakit karena Mas Yoga akan di operasi.” Irina membalas tatapan itu dengan penuh kebingungan, tidak mengerti kenapa Aslan tiba-tiba bersikap posesif seperti ini.
“Kamu tidak boleh pergi ke mana pun! Aku sudah memberikanmu uang 500 juta untuk biaya operasi suamimu, lalu sebagai imbalannya, kamu harus tetap berada di sini, tanpa menjauh dariku. Paham!” Kedua manik biru yang tadinya menatap lembut dan dalam kini berubah menjadi sangat tajam seperti ujung pedang yang siap menghunus lawannya.
“Bukankah hubungan ini sangat menguntungkan? Kamu mendapatkan apa pun yang kamu mau, sedangkan aku, mendapatkan apa yang kamu mau!” lanjut Aslan tanpa bisa dibantah dan tidak memberikan kesempatan pada Irina yang ingin protes, karena dia langsung membungkam bibir manis itu dengan ciuman yang sangat menuntut.
Irina meronta, berharap kalau Aslan melepaskan ciuman tersebut, akan tetapi tenaga pria sombong itu sangat kuat, hingga membuatnya tidak bisa berkutik di bawah kuasa Aslan.
Irina menangis di dalam hati, dia sudah terlanjur menerima uang 500 juta tersebut yang artinya dia harus menyepakati segala keputusan Aslan. Sekarang rumah tangganya menjadi taruhannya, karena dia terjebak dalam situasi yang dia ciptakan sendiri.
Menyesal?
Sudah pasti Irina sangat menyesal. Tapi, di sisi lain, dia sedikit lega karena Yoga sebentar lagi akan melakukan transplantasi hati. Dia berharap kalau besok operasi suaminya lancar, agar pengorbanan yang dia lakukan tidak sia-sia.
“Aslan, jangan seperti ini.” Irina memohon kepada Aslan yang kini menggendongnya menuju ranjang mewah yang ada di tengah kamar tersebut.
“Jangan mengaturku, Irina! Mulai saat ini dan detik ini, kamu adalah milikku! Kamu boleh menemui suamimu yang penyakitan itu kalau aku mengizinkanmu!” desis Aslan dengan penuh penekanan, lalu meletakkan Irina di permukaan ranjang yang empuk dan lembut itu dengan penuh hati-hati, seolah dia takut kalau Irina terluka.
“Jika kamu melanggar aturan yang sudah aku tetapkan, maka kamu akan tahu akibatnya!” lanjut Aslan dengan suara yang begitu dalam, terdengar datar, dan sangat menakutkan di indra pendengaran Irina.
“Paham!” Aslan menatap tajam Irina yang ada di bawah kungkungannya.
Cara yang dia lakukan sangat egois, karena dia ingin mempertahankan dan memiliki Irina seutuhnya, dia akan melakukan berbagai cara agar wanita itu tetap berada di sampingnya.
“Kamu egois!” Irina terisak saat setelah mendengar penuturan Aslan. Dia tidak menyangka jika semuanya akan menjadi seperti ini. Dia sudah terjerat dengan permainan tersebut.
“Ssttt, jangan menangis, aku tidak suka kedua mata indah ini mengeluarkan air mata kesedihan!” Aslan mengusap air mata Irina yang mengalir di setiap sudut mata. Aslan merebahkan diri di samping Irina, lalu memeluk wanita tersebut dengan sangat erat.
“Tidur!” perintah Aslan, karena hari juga sudah larut malam.
“Hemm.” Irina menjawab dengan singkat, lalu memejamkan mata, dia takut kalau pria tersebut marah.
Irina sebenarnya bukan tipe wanita yang lemah, tapi dia hanya takut kalau Aslan menyakiti suaminya, maka dari itu dia lebih memilih mengalah dan menuruti semua keinginan dan perintah pria tersebut.
*
*
Pagi hari telah tiba. Irina kebingungan mencari ponselnya di setiap sudut kamar tersebut, akan tetapi dia tidak menemukannya.
“Aneh, apa ketinggalan di rumah sakit ya?” gumam wanita itu sambil mengeluarkan isi tasnya. Tapi, seingatnya, dia sudah memasukkan ponselnya ke dalam tas, akan tetapi dia tetap tidak menemukan ponselnya.
Irina menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menoleh ke kiri dan ke kanan, menatap setiap sudut kamar tersebut, memastikan kalau di setiap tempat sudah dia periksa.
“Ya ampun, bagaimana ini? Aku harus memberi kabar kepada Ibu,” keluh Irina dengan kedua mata berkaca-kaca, lalu pandangannya tertuju pada jam dinding yang ada di kamar mewah itu. Waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi, tandanya sebentar lagi suaminya akan memasuk ruang operasi.
“Kamu mencari ini?” suara Aslan mengejutkan Irina yang sedang kebingungan.
Irina menoleh, menatap Aslan yang memasuki kamar tersebut sambil membawa ponselnya.
“Aslan, berikan kepadaku!” Irina menghampiri Aslan dan berusaha mengambil ponselnya yang di pegang oleh pria tersebut.
“Kamu tidak akan pernah mendapatkannya!” Aslan mengangkat ponsel tersebut ke udara dengan tangan kananya, sedangkan Irina meloncat berulang kali, berusaha untuk mengambil ponsel tersebut.
“Aslan!” geram Irina.
“Untuk sementara waktu, ponselmu aku sita! Tapi, tenang saja aku sudah mengirimkan pesan kepada ibu mertuamu, kalau kamu tidak tidak bisa datang lantaran sedang sibuk bekerja!” ucap Aslan tersenyum miring penuh kelicikan, tanpa memikirkan perasaan Irina.
“Kamu kejam!” bentak Irina dengan perasaan yang sangat emosi.
“Aku tidak peduli!” jawab Aslan santai, lalu keluar dari kamar tersebut, dan tidak lupa segera mengunci kamar itu, agar Irina tidak bisa keluar dari sana.
“Aslan!!!” teriak Irina diiringi dengan gedoran pintu bertubi-tubi.
Aslan menatap pintu kamarnya dengan tatapan datar, kemudian ia menghela nafas panjang, lalu menatap semua pelayan yang berdiri di depan pintu kamar tersebut.
“Untuk sementara waktu, jangan biarkan Irina keluar dari kamar, dan putus semua sambungan telepon rumah!” titah Aslan sangat dingin, lalu segera beranjak dari sana menuju halaman rumah, karena dia haru berangkat bekerja.
Para pelayan termasuk Bi Inah menatap kasihan pada pintu kamar tersebut. Apalagi mereka mendengar suara Irina yang terus berteriak minta di bukakan pintu. Mereka tidak ada yang berani membantah ucapan Aslan, karena masih membutuhkan pekerjaan, jadi mereka harus sekuat tenaga membuang hati nurani agar tidak menolong Irina.
“Kasihan.” Bi Inah menangisi Irina yang malang.
“Mau bagaimana lagi, Bi. Kita nggak bisa membantah perintah Tuan Aslan,” sahut salah satu pelayan di sana.
“Masa seharian kita harus seperti ini. Sebagai seorang wanita, aku juga sakit hati melihat Nona Irina di perlakukan seperti itu,” sahut pelayan lainnya lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
LENY
TERLALU EGOIS ASLAN INI IH AMIT2 KASOHAN KAMU IRINA GAK BISA LIHAT OPERASI SUAMI KAMU. EGOIS DAN KEJAM MENTANG2 PUNYA UANG JD SEWENANG WENANG SIKAPNYA ASLAN SAMA IRINA.😥
2025-02-02
0
LENY
MANUSIA KEJAM ASLAN MENTANG2 PUNYA UANG
2025-02-02
0
Lina aja
y ampun Aslan..jangan lahk egois..
.itu istri orang
2024-06-18
1