Dentuman musik yang di mainkan DJ dan lampu disko menyambut Irina saat memasuki club malam tersebut. Perasaannya was-was, seumur hidupnya ia tidak pernah datang ke tempat seperti ini. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan sekitar. Area dance floor di penuhi dengan para pengunjung yang berjoget sambil meliuk-liukkan tubuh mereka. Banyak para wanita muda memakai pakaian sexy yang sedang menggoda para om-om butuh belaian. Irina melihat hal tersebut sangat risih, tapi hal tersebut sebentar lagi akan dia rasakan, mengingat sebentar lagi dia akan menjadi bagian dari para wanita itu.
Wanita berusia 25 tahun itu terus berjalan menuju tempat bartender di mana Meyda menunggunya.
“Mbak,” sapa Irina ketika melihat Meyda sedang berciuman dengan seorang pemuda di dekat meja bartender. Sebenarnya Irina merasa risih saat melihat adegan live tersebut.
Meyda menghentikan aktifitasnya, seraya mengibaskan salah satu tangannya, menyuruh pemuda itu pergi, kemudian ia menatap Irina dari atas sampai bawah, lalu kembali ke atas lagi dan berhenti tepat di wajah Irina yang di poles make-up tipis, yang membuat wanita itu semakin cantik. Irina juga mengenakan pakaian sexy berwarna putih yang begitu pas di tubuh montoknya.
“Lu cakep juga ya kalau dandan kayak gini,” puji Meyda sembari mengambil sebatang rokok lalu menyulut ujung rokoknya dengan korek api. Meyda menyesap asap rokoknya lalu mengeluarkan dari hidung dan mulut secara bersamaan.
“Makasih pujiannya, Mbak. Sekarang aku harus apa?” tanya Irina kepada Meyda yang sedang main mata dengan om-om botak dan perut buncit.
“Duduk, dan nikmati rokok ini. Bersikaplah seperti seorang lon*te yang profesional!” Meyda memberikan sebatang rokok dan korek api kepada Irina.
“Maaf, Mbak, aku nggak ngerokok,” tolak Irina halus.
“Udah! Jangan banyak bacot deh kalau mau dapat duit banyak. Itu, rokok sudah ada jampe-jampenya dari Mbah Mang-kok!” Meyda memaksa Irina agar merorok.
Dengan terpaksa, Irina merokok, walaupun di awalnya dia harus terbatuk sampai tenggorokanya terasa panas dan sakit.
“Terus bagaimana?” tanya Irina lagi setelah menyesap rokoknya yang terselip di sela jari tangannya.
“Tunggu pelanggan datang!” balas Meyda.
*
*
“Gila kamu!” umpat Aslan pada Dimas yang mengajaknya ke club malam.
“Nggak usah banyak tanya deh! Ayo, masuk!” Dimas menarik tangan Aslan ketika pria tersebut enggan masuk.
Sampai di dalam club malam, Dimas mencari wanita yang ia kenal. Dan akhirnya berjumpa dengan orang tersebut di depan meja bartender.
“Mey!” seru Dimas kepada Meyda yang sedang mengobrol dengan seorang wanita cantik.
“Eh, ada ayang Dimas!” canda Meyda lalu mengecup pipi Dimas dengan mesra. “Siapa yang di bawa itu? Kenalin dong ...” Meyda menatap Aslan dengan tatapan mesumnya, sambil menggigit bibir bawahnya.
Dimas berdehem lalu membisikkan sesuatu ke telinga Meyda.
“What?! Oh .. emji!!” Meyda menatap Aslan dengan tatapan tidak percaya, lalu ia beralih menatap Irina.
Aslan memutar kedua matanya dengan malas, melihat wanita malam tersebut, pandangannya terlihkan pada wanita sexy memakai dress putih, duduk kalem dan tersenyum manis kepadanya.
“Tenang, ayang ... teman gue bisa bantu masalah teman lu kok, iya ‘kan Rin?” Meyda menatap Irina sambil melotot dan mengedipkan matanya berulang kali, memberikan kode agar Irina mengangguk setuju.
Mengerti akan kode yang di berikan kepadanya, akhirnya Irina setuju dengan ucapan Meyda meski pun ia tidak tahu yang di maksud temannya itu.
“Bagus kalau begitu! Bisa langsung di mulai malam ini ‘kan?” tanya Dimas menatap Meyda dan Irina bergantian.
Meyda menyenggol tangan Irina, agar menjawab pertanyaan Dimas.
“I-iya!” jawab Irina gugup.
“Ingat, Rin. Pelanggan pertama lu ini punya kelainan, emh ... lebih tepatnya impoten, kerahkan seluruh tenaga lu agar buyung garudanya bangun dari hibernasinya. Dia akan bayar mahal berapa pun yang lu mau,” bisik Meyda di dekat telinga Irina.
“Serius? Dia bakal bayar berapa pun yang aku mau?” beo Irina, menatap temannya lekat.
“Iya, bawel! Tapi, syaratnya lo harus berhasil bikin buyungnya kembali normal! Paham ‘kan yang harus lo lakuin?” jelas Meyda dan diangguki oleh Irina.
Dimas dan Aslan menatap jengah pada kedua wanita itu yang malah asyik berbisik.
“Jadi atau tidak?!” tanya Dimas dengan nada kesal.
“Jadi! Cus ... bawa ini teman gue ...” Meyda tersenyum tipis lalu mendorong punggung Irina hingga menabrak dada bidang Aslan.
BRUK!
“Maaf,” cicit Irina menundukkan kepala.
“HEEM!” Aslan menjawab dengan datar. “Ikuti aku!” Aslan berbicara sambil melangkahkan kakinya keluar dari club malam tersebut. Dan diikuti oleh Irina.
*
*
Irina saat ini sudah berada di dalam mobil Aslan. Wanita cantik itu diam menatap lurus ke depan.
“Kita belum berkenalan. Panggil aku, Aslan.” Pria tersebut menatap Irina yang terlihat tegang.
“Aku, Irina.” Irina menatap Aslan lalu ia segera mengalihkan pandangan, karena kedua mata elang itu menatapnya dengan tajam.
“Aku ingin kamu melakukannya di sini!” tegas Aslan membuat Irina sangat terkejut.
“Di-di sini? Bagaimana nanti kalau ada orang yang melihatnya?” Irina menjadi panik dan gugup yang bercampur menjadi satu.
“Jangan banyak tanya!” Aslan menurunkan resletingnya dan mengelurkan buyungnya yang bobok ganteng.
“Astaga!” pekik Irina saat melihat benda yang terkulai lemas itu, ia menutup matanya dengan kedua tangannya.
Terkejut, karena baru pertama kali ia melihat ‘itu’ selain punya milik suaminya.
“Cepat!” Aslan tidak sabaran.
Irina menggigit bibirnya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Tapi, saat mengingat suaminya yang sedang sakit parah, ia memberanikan diri, menyentuh benda tersebut dengan penuh kelembutan dan perasaan. Dan selanjutnya, Irina melakukan hal yang harus dia lakukan.
Aslan memejamkan mata saat merasakan sentuhan dari wanita malam itu. Ia merasakan kalau miliknya mengeras akan tetapi tidak bertahan lama. Ini sebuah keajaiban, karena sebelumnya miliknya tidak pernah bereaksi meskipun mantan istrinya telah berusaha keras, selama ini dia juga sudah berobat dan terapi ke dokter manapun tapi tidak membuahkan hasil. Tapi dengan Irina, buyungnya bisa berdiri lemas, walau tidak bertahan lama.
Ia akan meminta Irina menjadi terapinya.
“Cukup!” Aslan menyuruh Irina berhenti.
Irina menegakkan badannya, seraya mengusap ujung bibirnya yang basah sambil menatap pria tersebut yang sedang membenarkan celananya.
“Kamu sudah tahu masalahku kan?” tanya Aslan ketika celananya sudah rapi.
Irina mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Aslan.
“Aku akan membayarmu 1 Miliyar jika kamu berhasil menyembuhkan penyakitku,” tegas Aslan to the point.
Apa? 1 Miliyar? Irina terkejut saat mendengar bayaran yang akan di berikan oleh Aslan. Ini keberuntungan untuknya, dia tidak perlu bersusah payah melayani banyak pria hidung belang untuk mendapatkan uang.
Tanpa banyak berpikir, Irina langsung menyetujui tawaran Aslan.
“Berikan aku waktu 1000 jam untuk menyembuhkanmu,” balas Irina.
“Deal!" Aslan dan Irina saling menjabat tangan.
“Tapi, ada syarat yang harus kamu lakukan. Kamu harus tinggal di rumahku, karena kita harus saling berinteraksi dan bersentuhan!”
“Aku tidak masalah, yang terpenting berikan aku DP-nya dulu!" balas Irina menatap Aslan dengan lekat.
"Dasar mata duitan!" umpat Aslan. "Kamu tidak akan mendapatkan uang sebelum bekerja!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Rina ratnasari
😂😂😂
2024-02-22
0
Sweet Girl
Kasih dong Aslan... sebagai tanda jadi proyek penegakan Buyung.
2024-01-24
1
Sweet Girl
Buyung Tatak Tua
2024-01-24
0