Keadaan Yoga sudah membaik dan sudah di pindahkan ke ruang pemulihan setelah hampir satu minggu berada di ruang intensif. Selama itu juga Irina belum ada menjenguknya. Dia sangat merindukan istrinya.
"Bu, apakah Irina sudah bosan sama aku ya?" tanya Yoga dengan lirih sembari menatap kosong ke arah langit-langit ruangan tersebut.
"Huss! Ngomong apa kamu ini!" Bu Nining memperingatkan putranya agar tidak berburuk sangka kepada Irina yang sudah berjuang keras demi pengobatan Yoga dan biaya sehari-hari kehidupan mereka.
"Buktinya selama hampir satu minggu dia tidak datang, dan juga tidak mengirimkan pesan atau menelepon." Yoga tetap mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini begitu mengganjal di dalam dada.
Bu Nining menghela nafas kasar, lalu menggenggam salah satu tangan putranya dengan erat.
"Irina sedang sibuk, Ga. Dia sedang berjuang keras untuk mencari uang untuk kita. Jadi tolong, buang jauh-jauh prasangka burukmu itu." Bu Nining lagi-lagi mengingatkan putranya.
"Entah Bu. Pikiran dan perasaanku nggak enak."
"Udah, fokus sama kesehatanmu, jangan pikirkan yang lainnya." Bu Nining menenangkan putranya.
*
*
Irina menatap Aslan dengan tatapan berbinar karena pria itu telah mengembalikan ponselnya.
"Makasih." Irina tersenyum senang lalu memeluk pria tersebut dengan erat.
"Setelah aku pikirkan berulang kali. Aku nggak ada hak buat ngelarang kamu untuk menghubungi atau bertemu dengan suamimu," ucap Aslan dengan nada pelan, membalas pelukan Irina tidak kalah erat.
Irina mendongak menatap Aslan sambil tersenyum, "akhirnya kamu sadar," ucap Irina sekaligus menyindir pria yang tengah memeluknya dengan sangat erat.
"Jangan senang dulu!" Aslan mengurai pelukan tersebut, menatap Irina dengan dalam, lalu menjawil hidung mancung wanita tersebut.
Ah! Sudah Irina duga, kalau Aslan adalah pria yang tidak mau rugi walau seujung kuku saja. Seharusnya dia tadi tidak usah senang dulu karena pria sombong dan menyebalkan itu pasti memberikan beberapa persyaratan yang harus di patuhi.
"Katakan apa maumu?!" Irina sudah hafal dengan tabiat Aslan.
"Yang pertama, kamu boleh menghubungi suamimu harus di depanku. Dan yang kedua, kamu boleh menemuinya tapi hanya satu jam saja, setelah itu kamu harus segera kembali ke rumah!" tegas Aslan seraya menangkup kedua sisi wajah Irina dengan kedua tangannya.
"Kamu paham 'kan?"
"Iya, aku paham. Lagi pula aku juga tidak akan bisa melawanmu," balas Irina menatap dua manik biru yang terlihat sangat tajam namun begitu menenangkan untuknya.
"Good girl." Aslan memajukan wajahnya, lalu melabuhkan ciuman lembut di permukaan bibir Irina.
Irina membalas ciuman Aslan tidak kalah lembut. Dia sudah terbiasa dan nyaman bersama dengan Aslan.
Salahkan kalau dia mulai mempunyai sebuah rasa kepada pria sombong dan arogan itu? Dia sudah berusaha sekuat tenaga menepis perasaan tersebut akan tetapi selalu gagal. Perasaan itu kembali hadir dan semakin berkembang di sudut hatinya yang paling dalam.
Lalu bagaimana dengan perasaannya terhadap Yoga?
Tentu jawabannya adalah dia juga masih sangat mencintai suaminya. Hanya saja saat ini hatinya telah mendua.
Aslan melepaskan ciuman tersebut, nafasnya memburu bertanda kalau gairahnya sudah mengusainya. Kemudian ia mengangkat tubuh Irina dan merebahkannya di atas ranjang kamar yang lebar dan empuk.
"Aslan, kamu sudah sembuh?" Entah sudah berapa kali dia bertanya seperti itu saat mereka sedang bercumbu, akan tetapi Aslan tidak pernah mau menjawabnya. Padahal dia merasakan kalau senjata Aslan sudah berdiri kuat, akan tetapi pria tersebut selalu menepis tangannya saat akan menyentuh cacing raksasa yang bersembunyi di balik boxer itu.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu. Aslan langsung turun dari atas tubuh Irina. Ia merebahkan diri di samping wanita tersebut.
"Aslan, jujur kepadaku. Kamu sudah sembuh 'kan?" Irina mengulangi pertanyaannya, akan tetapi pria tersebut malah cuek dan memejamkan kedua mata.
"Aslan!!" Irina menjadi kesal. Dia menggoyangkan tangan pria tersebut dengan kasar.
"Bisa diam tidak?! Aku ngantuk!" Aslan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu kembali memejamkan kedua mata, dia malas menanggapi ucapan Irina, karena pada ujungnya mereka akan bertengkar.
"Aslan ..."
"Diam! Jika tidak, aku tidak mengizinkanmu bertemu dengan suamimu!" balas Aslan dengan nada dingin.
Mendengar ancaman Aslan, Irina langsung mundur, memilih diam dari pada pria tersebut berubah pikiran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
LENY
BERARTI ASLAN DAN IRINA BELUM PERNAH SAMPE BERHUBUNGAN SEX YA THOR
2025-02-02
0
Ta..h
pantesan mommy alegra bilang pusing sama anak2 mu yang satu merebut istri orang ternyata ini 😅😅😅.
2023-11-17
6
Wati_esha
Tq update nya.
2023-11-10
1