Pagi hari telah tiba. Seperti biasa, Irina selalu bangun pagi untuk membuat sarapan dan membantu para pelayan membersihkan rumah. Hari ini hatinya sangat senang ketika mengingat kejadian tadi malam saat Aslan memuaskan dirinya. Mungkin karena sudah lama dia tidak di sentuh oleh suaminya, membuatnya haus belaian seperti ini.
“Nona, biarkan saja kami yang memasak. Nanti Tuan akan marah kalau melihat Nona berada di dapur,” ucap Bi Inah kepada Irina yang sedang membuat bumbu ayam goreng.
“Santai saja, Bi, aku akan bertanggung jawab kalau Tuan Aslan marah kepada kalian,” jawab Irina sambil terus mengulek bumbu di cobek sampai halus, padahal ada blender akan tetapi Irina lebih suka menghaluskan bumbu dengan cara di ulek.
Bi Inah hanya bisa pasrah saat mendengar jawaban Irina. Ia pun segera beranjak dari dapur untuk mengerjakan perkerjaan lainnya.
Aslan baru membuka kedua mata dan menatap sisi sebelahnya yang kosong, entah kenapa kali ini dia merasa sangat hampa dan kesal saat Irina tidak berada di sampingnya ketika dia baru membuka kedua mata. Padahal hari-hari sebelumnya, dia cuek dan tidak peduli pada wanita tersebut, apakah ini tanda-tanda kalau dirinya mulai tertarik dengan wanita tersebut?
Aslan berusaha meraba hatinya sampai kebagian yang paling dalam untuk menemukan jawabannya. Setelah mendapatkan jawabannya, Aslan tersenyum tipis seraya beranjak dari tempat tidur dan segera memakai jubah tidurnya lalu keluar dari kamar tersebut untuk mencari keberadaan Irina.
“Di mana dia?” tanya Aslan dengan datar pada Bi Inah yang sedang menyapu tangga.
“Nona Irina sedang memasak di dapur, saya sudah berusaha melarangnya tapi Nona Irina tetap memaksa,” jawab Bi Inah menundukkan kepala, tidak berani menatap tuannya yang terlihat sangat marah kepadanya.
Aslan langsung melanjutkan langkah kakinya menuju dapur tanpa merespons jawaban Bi Inah. Saat sampai di dapur, ia menatap Irina yang sedang sibuk sendiri memasak di sana.
“Ayam goreng enak di makan ... nyam ... nyam ... nyam ...” Aslan terkekeh saat mendengar Irina bernyanyi menirukan suara anak kecil sambil menggoreng ayam. Wanita itu terlihat sangat menggemaskan, ia mendekati Irina lalu memeluk wanita tersebut dari belakang.
“Eh ... astaga!” Irina terkejut ketika ada dua tangan kekar memeluknya dari belakang, hampir saja ayam yang ada di tangannya terjatuh kalau dia tidak memegangnya dengan erat. “Kamu membuatku terkejut,” ucap Irina pada Aslan yang kini meletakkan dagu di pundaknya dengan manja.
“Kenapa memasak? Di rumah ini sudah banyak pelayan, jadi kamu nggak perlu bersusah payah seperti ini!” Aslan menggesekkan jambang lebatnya ke pipi Irina, dan ia melakukannya berulang kali sehingga membuat wanita itu memejamkan mata menahan geli.
“Kenapa kamu jadi mengaturku? Dan kenapa kamu jadi manja seperti ini?” Heran Irina pada Aslan yang sejak tadi memeluknya dengan erat dan bersikap manja kepadanya.
Mendengar ucapan Irina, Aslan menjadi jengkel lalu melepaskan pelukannya itu dengan cepat dan segera menjauhkan diri dari wanita tersebut.
“Dasar aneh!” cibir Irina sambil menatap Aslan yang kini berubah dingin lagi, lalu ke mana perginya sifat hangatnya tadi?
“Memangnya salah kalau aku mengaturmu?” tanya Aslan dengan nada datar, menatap punggung Irina yang sedang sibuk menggoreng ayam.
“Nggak ada yang salah, tapi bukankah kita hanya sebatas ...” ucapan Irina terhenti saat Aslan memotongnya.
“Aku ingin hubungan kita lebih dari ini. Kamu paham ‘kan?!” Aslan menjawab dengan penuh penekenan.
Irina mematikan kompor, mengangkat ayam goreng yang sudah matang lalu memindahkannya ke wadah. Setelahnya, dia langsung mencuci kedua tangannya sampai bersih, kemudian balik badan berhadapan dengan pria tampan dan arogant itu.
“Aku sudah mempunyai suami, kamu tahu itu ‘kan. Dan aku sudah menjelaskannya kalau aku rela bekerja seperti ini demi suamiku yang sedang sakit parah,” jelas Irina menatap Aslan yang juga tengah menatapnya dengan tajam.
“Aku tahu tapi aku tidak peduli! Aku akan memberikanmu penawaran demi keuntungan kita bersama. Aku akan memberikan uang 500 juta secara cuma-cuma untuk pengobatan suamimu, tapi dengan syarat ... kamu harus tetap berada di sampingku! Dan untuk uang 1 Miliyar juga akan menjadi milikmu, bagaimana?” Aslan memanfaatkan kelemahan Irina agar wanita itu tetap berada di sisinya.
Irina terdiam saat mendengar penawaran yang sangat menggiurkan itu. Otaknya berpikir keras, jika dia menerima tawaran Aslan maka dia tidak perlu bekerja keras untuk menghasilkan uang karena sudah pasti Aslan akan mencukupi semua kebutuhannya dan pengobatan suaminya, namun jika dia menerima tawaran tersebut maka rumah tangganya yang di pertaruhkan.
“Aku tidak mau!” balas Irina dengan kesal.
“Kamu yakin akan menunggu 1000 jam untuk mendapatkan 1 Miliyar? Apakah kamu yakin akan menyembuhkan aku dalam waktu sesingkat itu?” Aslan menatap Irina yang kini terlihat kebingungan. “Aku harap kamu bisa memikirkannya lagi! Bukankah kamu sangat mencintai suamimu?” lanjut Aslan pada Irina yang mulai merasa gamang.
“Aslan ...” Irina benar-benar merasa gamang. Semua ucapan Aslan ada benarnya, kemungkinan besar dia tidak bisa menyembuhkan Aslan dalam waktu singkat, jika hal itu terjadi maka nyawa suaminya akan menjadi taruhannya.
Irina memejamkan kedua matanya dengan erat, seraya menarik nafas panjang, dalam hati menggumamkan kata maaf untuk suami tercinta.
“Baik, aku terima tawaranmu! Tapi, waktu 1000 hari itu masih berlaku ‘kan?” tanya Irina dengan lirih.
“Tergantung!” jawab Aslan lalu menarik Irina ke dalam pelukannya, seraya melabuhkan ciuman manis di bibir lembut yang sudah membuatnya kecanduan. “Aku akan segera mentransfer uangnya ke rekeningmu!” Aslan berkata saat ciuman mereka terlepas, kemudian Aslan beranjak dari dapur sambil tersenyum penuh kemenangan.
Irina mengusap wajahnya dengan kasar saat Aslan sudah tidak terlihat. Yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah kondisi suaminya agar segera melakukan operasi transplantasi hati.
*
“Uang 500 juta sudah aku transfer ke rekeningmu, dan kamu boleh menemui suamimu, tapi kamu harus pulang sebelum jam 4 sore!” tegas Aslan kepada Irina saat memasuki kamar.
“Aslan ... tapi ...”
“Dan satu lagi, aku sudah menyiapkan dokter terbaik untuk suamimu!” lanjut Aslan seolah tidak membiarkan Irina bersuara.
Irina langsung terdiam saat mendengar ucapan Aslan yang sudah menyiapkan yang terbaik untuk suaminya.
“Kamu paham!” Aslan berkata datar dan dingin pada Irina yang sejak tadi terdiam sambil menatapnya.
“Iya,” jawab Irina diiringi dengan anggukan kepala, dia pasrah karena sudah terjebak dalam kondisi runyam yang dia ciptakan sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Supry Atun
didalam kehidupan juga ada.teman jauhku suaminya 2.karna sang suami sakit .gara2 bersih2 rmh orang duda kaya . duda kaya suka sama temn.pdhl sdh di bilang kalo temenku sdh ber suami.karna di ancam.terpaksa temenku mau nikah sama duda kaya.
2024-07-05
0
Purwanti Wanti
terus wes berkorban jiwa dan raga alahhhh malah suaminya meninggal piye. kowe kudu tanggung jawab klu sampe itu trjadi thor
2024-07-02
0
Wati_esha
Irina tak tahu terjebak dalam permainan Aslan yang kemaruk pada dirinya.
2023-11-09
5