Siapa yang tidak merasa dilema ketika dihadapkan pada pilihan yang begitu sulit. Sebagai seorang istrinya yang sangat mencintai suami, Irina rela melakukan apa pun demi suami tercinta. Namun, tanpa dia inginkan, dia telah terjebak pada situasi yang sangat rumit. Kesetiaannya di uji, dan rumah tangganya saat ini di pertaruhkan. Bagaimana tidak? Di saat dia membutuhkan banyak uang, Aslan memberikan tawaran yang begitu menggiurkan dan memberikan begitu banyak keuntungan untuk dirinya. Dengan berat hati dan dengan terpaksa, Irina menerima tawaran tersebut dan mengikuti semua kemauan Aslan demi kesembuhan suaminya yang saat ini sedang sekarat di rumah sakit.
Uang memang bukan segalanya, akan tetapi segalanya membutuhkan uang! Kalimat tersebut terpatri di dalam pikiran Irina. Walaupun keputusan yang dia ambil salah, tapi mau bagaimana lagi, dia juga butuh uang untuk pengobatan suaminya dan memenuhi kebutuhan keluarganya.
Saat ini Irina sedang berada di rumah sakit. Untuk menyelesaikan transplatasi hati suaminya. Biaya transplatasi sebesar 400 juta telah di bayar lunas, dan lusa Yoga akan menjalani operasi besar.
“Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu, Rin?” tanya Bu Nining kepada menantunya yang sedang menyuapi Yoga.
Yoga menatap istrinya dengan tatapan intens, dia menunggu jawaban istrinya dengan raut yang penasaran.
Irina menelan ludahnya dengan kasar, kedua tangannya bergetar, dan lidahnya mendadak kelu, seolah tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Akan tetapi, Irina memberanikan diri dan segera menutupi rasa takut yang sedang melanda dirinya dengan cara tersenyum tipis sambil menatap ibu mertua dan suaminya secara bergantian. Dia berusaha terlihat baik-baik saja, agar tidak menimbulkan kecurigaan.
“Bosku bersedia meminjamkan uang, Bu, Mas,” jawab Irina pada akhirnya, dan tentu saja dia telah berbohong kepada kedua orang tersebut.
“Meminjamkan uang? Lalu bagaimana caranya kamu mengembalikan uang sebanyak itu?” Bu Nining sangat terkejut dengan jawaban yang dilontarkan oleh menantunya. Dia juga tidak mengira jika ada bos sebaik itu yang mau meminjamkan uang kepada Irina yang notabennya beru bekerja beberapa hari.
“Tenang saja, gajiku akan di potong setiap bulannya. Walaupun akan membutuhkan waktu yang lama untuk melunasinya yang penting Mas Yoga bisa sembuh.” Semakin pandai berbohong dia. Irina merasakan perasaan bersalah yang semakin menggerogoti hatinya, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mempunyai cara lain selain menjadi seorang wanita penghibur Tuan Aslan yang berkedok menjadi seorang terapis atau kekasih palsu pria tersebut.
Mendengar penjelasan Irina membuat hati Yoga dan Bu Nining terharu. Mereka tidak menyangka kalau Irina rela berjuang untuk kesembuhan Yoga.
“Kamu memang wanita berhati malaikat. Terima kasih, Rin.” Bu Nining menghampiri Irina lalu memeluk menantunya itu dengan erat, dan tidak hentinya mengucapkan banyak terima kasih,
“Aku bukan wanita malaikat, Bu. Tapi, aku adalah wanita iblis karena telah melakukan cara kotor demi mendapatkan banyak uang,” batin Irina menangis pilu.
Yoga tersenyum lalu menggenggam tangan istrinya dengan lembut, lalu mengecup punggung tangan itu dengan kasih sayang. Yoga merasa sangat beruntung karena mendapatkan wanita yang sangat baik seperti Irina.
Tapi, bagaimana bila suatu saat nanti Yoga dan ibunya mengetahui kebenaran tentang Irina, apakah mereka masih bersikap baik dan menyanjung Irina?
*
*
Aslan tidak fokus pada meeting yang ada di hadapannya. Sejak tadi dia melamun memikirkan Irina yang tidak ada kabar sama sekali. Terus terang saja, saat ini dia sedang memendam rasa cemburu saat membayangkan Irina sedang bermesraan dengan suaminya.
“Pak ...” Dimas memanggil Aslan berulang kali akan tetapi bosnya itu tetap bergeming dengan pandangan melamun.
Semua pandangan klien yang ada di dalam ruang meeting itu tertuju pada satu titik yaitu menatap Aslan yang masih diam saja tanpa merespons.
“Kacau!” gumam Dimas, seraya menggeser kursinya, mendekati Aslan, lalu menendang kaki Aslan yang ada di kolong meja.
DUG!
“Aww!” Aslan memekik saat merasakan salah satunya sakit karena mendapatkan tendangan dari Dimas. Kedua matanya melotot lebar, menatap marah pada asistennya itu. Tapi tidak berselang lama dia tersadar kalau dirinya sedang di perhatikan oleh semua klien-nya.
“Maaf, untuk keputusan kerja sama perusahaan kita, saya serahkan kepada Dimas selaku asisten sekaligus sekretaris saya,” ucap Aslan menggunakan bahasa formal dengan tegas dan datar, kemudian ia beranjak dari duduknya, lalu berpamitan keluar dari ruangan meeting tersebut.
Semua klien saling pandang, bisik-bisik mulai terdengar, mereka menilai kalau Aslan tidak profesional dalam bekerja.
Dimas mengusap wajahnya dengan kasar, lagi-lagi dia harus bertanggung jawab atas kekacauan yang di ciptakan oleh Aslan, kemudian ia meredam rasa kesal para klien-nya.
*
*
Aslan melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya dengan kasar, kemudian ia mengempaskan diri di kursi kebesarannya, lalu mengambil ponselnya yang dia letakkan di dalam jasnya. Pria tersebut menghubungi Irina akan tetapi ponsel wanita tersebut tidak aktif.
“Sial! Kenapa aku menjadi overthinking seperti ini!” geram Aslan seraya meletakkan ponselnya di atas meja dengan kesal. Sewaktu masih menikah dengan Sofia dia membebaskan mantan istrinya itu pergi ke mana pun, akan tetapi berbeda saat dia bersama dengan Irina, dia merasa cemas dan takut kehilangan wanita tersebut.
Aslan menyugar rambutnya dengan kesal, bertepatan dengan Dimas memasuki ruagannya sambil marah-marah.
“Bro! Hari ini kamu kenapa sih? Tolong bersikap profesional jika berhadapan dengan para klien! Untung saja mereka masih mentoleransi sikapmu!” omel Dimas seraya mendudukkan di kursi yang letaknya berseberangan dengan Aslan.
“Perusahaanku nggak akan bangkrut walau nggak jadi kerja sama dengan perusahaan mereka!” balas Aslan dengan nada datar dan sangat dingin. Dua manik berwarna biru itu menatap Dimas sangat tajam.
“Mulai lagi sombongnya!” sungut Dimas lalu mendapatkan hadiah pukulan dari Aslan.
BUGH!
Aslan menggulung dua berkas yang ada di atas mejanya lalu memukulkan ke kepala Dimas dengan keras, membuat sang asisten meringis sakit sambil mengusap kepala.
“Aku lagi pusing! Jadi diam saja kalau kamu nggak bisa kasih jalan keluar!” Aslan menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya sembari menatap Dimas dengan sengit.
“Kenapa lagi? Buyung kutilangmu masih belum bisa berubah jadi buyung garuda?!” ejek Dimas sambil berdiri lalu membungkukan setengah badannya ke arah Aslan, kedua matanya menatap sela paha Aslan yang tertutup oleh celana kerja yang sangat mahal.
“Dasar otak kotor!” umpat Aslan seraya mengatupkan sela pahanya dengan cepat.
“Habisnya kamu emosian terus dari sejak tadi pagi! Apa kamu butuh terapis baru?” tanya Dimas.
“Nggak, aku hanya butuh Irina. Dim, kayaknya aku lagi falling in love deh sama itu cewek.” Akhirnya Aslan berkata jujur kepada sahabatnya.
“Siapa? Irina?” tanya Dimas belum paham.
“Iya, siapa lagi kalau bukan dia,” balas Aslan menghela nafas kasar.
“Nah ... kan ... aku sudah memberitahu sebelumnya, jangan sampai melibatkan hati dalam masalah ini, soalnya Irina itu wanita yang spesial dan tidak sama seperti wanita di luaran sana! Lebih baik kamu segera buang perasaan itu sebelum mengembang seperti pohon beringin yang sangat lebat dan akhirnya sulit untuk di tebang.”
“Justru karena dia wanita spesial, maka dari itu aku ingin mempertahankannya!” jawab Aslan tanpa keraguan.
“Wah! Parah!” Dimas geleng-geleng kepala sembari menunjuk Aslan yang terlihat mantap dengan keputusannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
LENY
ASLAN KERJA JADI GAK PROFESIONAL GARA2 IRINA AMPUN🙈KASIHAN DIMAS
2025-02-02
0
Titin Sundari
tambah lama tambah penasaran jadinya
2025-02-27
0
Kalele Femmy
kan...kan spaan tuh bucin juga🥰🥰😇😇
2024-07-11
0