Irina berada di Mall bersama Aslan dan diikuti oleh beberapa bodyguard. Aslan menggandeng tangan Irina dengan sangat erat seolah takut kalau Irina kabur darinya.
Tiga bodyguard sejak tadi sibuk mengikuti boss mereka memasuki berbagai toko pakaian perempuan. Bahkan kedua tangan mereka terlihat penuh dengan papper bag. Mereka bertiga saling pandang, bertanda kalau mereka lelah dan butuh istirahat dan makan malam, akan tetapi bossnya itu keterlaluan.
“Kamu sudah puas berbelanja?” tanya Aslan lalu menoleh ke belakang menatap tiga bodyguardnya yang kelihatan lelah. Bayangkan saja mereka berkeliling Mall dari lantai dasar sampai lantai 4, dan dari jam 7 malam sampai jam 10 malam.
“Belum!” jawab Irina sembari memperhatikan deretan sepatu mahal yang terpajang di etalase toko sepatu ternama di Mall tersebut.
“Salah siapa mengajakku berbelanja! Aku akan membuat dompetmu kering!” batin Irina, membalaskan dendamnya kepada pria arogant dan sombong itu.
“Apakah kamu bisa cepat sedikit?” tanya Aslan sedikit kesal pada Irina yang masih berdiri sambil memperhatikan sepatu wanita yang ada di hadapan mereka.
“Ck! Apakah kamu tidak ikhlas mengajakku berbelanja?!” sewot Irina menatap sengit pada Aslan. Rasa benci dan amarah terlihat jelas dari cara Irina menatap Aslan. Irina benar-benar benci situasi ini. Di saat suaminya sedang sekarat di rumah sakit, dia malah asyik berbelanja dengan pria lain yang menawannya. Ini sungguh gila! Rasanya Irina ingin segera keluar dari situasi yang menjeratnya itu, akan tetapi dia tidak akan bisa karena Aslan adalah pria berkuasa dan akan melakukan segala macam cara untuk menggagalkannya, bahkan pria itu bisa menghancurkann keluarganya dalam satu kali genggaman.
“Kenapa kamu menjadi marah seperti ini?” Aslan merengkuh pundak Irina, agar mood wanita tersebut kembali membaik.
“Karena kamu sangat menyebalkan!” umpat Irina lalu menepis tangan kasar itu dengan kasar dari pundaknya.
“Bungkus semua sepatu yang ada di etalase dengan size 40!” titah Irina sembari menunjuk semua sepatu yang ada di etalase itu dengan rasa jengkel luar biasa.
Para pegawai di toko tersebut bingung karena mereka takut di prank oleh Irina, akan tetapi saat melihat Aslan memberikan kartu ajaib, maka mereka langsung segera menyiapkan pesanan Irina.
“Mohon tunggu setengah jam lagi, Nona, pesanan sedang kami siapkan,” ucap supervisor di toko sepatu tersebut.
“Kirimkan saja sepatunya ke alamat rumahnya,” ucap Irina sambil menatap Aslan yang terlihat jengkel kepadanya.
“Tunggu apalagi? Kenapa kamu diam dan tidak memberikan alamat rumahmu kepadanya!” kesal Irina masih menatap Aslan dengan sengit.
“Ck! Kenapa kamu menjadi pengatur seperti ini! Awas saja kau!” Aslan memberikan ultimatum kepada wanita yang ada di sampingnya itu. Kemudian Aslan menyuruh salah satu bodyguardnya agar mengurus segalanya setelah dia menyelesaikan sepatu tersebut.
“Totalnya 250 juta,” ucap pegawai sambil menyerahkan bukti pembayaran dan kartu ajaib kepada Aslan.
Irina menelan ludahnya dengan kasar saat mendengar total belanjaannya. Ia pikir harga sepatu di Mall tersebut tidak semahal itu. Uang 250 juta bisa digunakan untuk membeli 1 unit rumah. Aduh ... Irina merutuki kebodohannya, niatnya ingin memberikan pelajaran kepada Aslan, akan tetapi dirinya sendiri yang terjebak pada permainannya sendiri.
“Aslan, kenapa mahal sekali?” bisik Irina menyesal.
“Uang segitu hanya seujung kuku! Jadi santai saja, uangku tidak akan habis! Hanya saja kamu harus membayar semua ini dengan tubuhmu!” balas Aslan tersenyum smirk, terlihat sangat menyeramkan di mata Irina.
GLEK!
Irina menelan ludahnya dengan kasar, saat mendengar ucapan Aslan yang berhasil membuat sekujur tubuhnya merinding. Merinding bukan karena bergairah akan tetapi karena ketakutan.
Aslan menggandenga tangan Irina lagi keluar dari toko sepatu tersebut menuju lift yang tidak jauh dari sana. Dia akan mengajak Irina pulang karena hari sudah malam, di tambah lagi Mall tersebut setengah jam lagi akan tutup.
Sampai di dalam lift. Aslan sangat terkejut saat melihat wanita yang sangat dia benci. Ya, siapa lagi kalau bukan sang mantan istri yaitu Sofia. Wanita ular itu sepertinya juga habis berbelanja, karena salah satu tangannya membawa beberapa paperbag.
Sungguh kebetulan yang di luar dugaan. Sofia juga tidak kalah terkejut dan juga sangat kesal saat melihat mantan suaminya menggandeng wanita cantik. Rasa kesalnya menjadi sebuah emosi yang membara di dalam dada, ketika raut wajah Aslan melihatnya dengan tatapan biasa. Padahal mereka ‘kan baru berpisah belum ada satu bulan akan tetapi Aslan seolah sudah melupakannya, padahal sebelumnya mantan suaminya itu bucin abis padanya.
Irina yang tidak tahu apa-apa pun bersikap biasa saja. Wanita cantik itu tersenyum saat Aslan menggelitiki pinggangnya.
“Jangan nakal!” Irina menepis tangan Aslan yang kini memeluk pinggangnya dengan erat. Akan tetapi tangan Aslan semakin erat, membuat Irina gregetan sendiri dan akhirnya membiarkan pria tersebut memeluknya.
Tidak tahan dengan situasi tersebut, akhirnya Sofia angkat bicara.
“Apakah kalian sengaja pamer kemesraan di hadapanku!” celetuk Sofia, menatap pasangan yang ada di hadapannya itu dengan sengit.
“Apakah kamu mempunyai masalah hidup?” Aslan membalas perkataan Sofia dengan tajam.
“Aslan, aku yakin kamu hanya berpura-pura bahagia di hadapanku!” balas Sofia sambil menunjukkan jari manisnya yang tersemat cincin berlian, pamer kalau dia sudah di lamar oleh pria lain yang lebih kaya dari Aslan.
“Kalian saling mengenal?” Irina bertanya pada Aslan.
“Hei, wanita! Kamu akan menyesal jika bersamanya, karena dia adalah pria payah dan pantas untuk di tendang!” seru Sofia sembari menatap tajam pada Aslan yang terlihat murka kepadanya. “Aku adalah mantan istrinya, jadi aku sudah tahu luar dalamnya dia!” lanjutnya sambil tersenyum miring, puas rasanya mempermalukan Aslan di hadapan Irina.
“Maaf, payah dalam hal apa yang Anda maksud? Dalam urusan ranjang? Wah, berarti Anda bukan pawangnya Tuan Aslan. Sayang sekali ...,” balas Irina tidak kalah tajam, membela Aslan yang terlihat down bercampur dengan emosi saat mendengar ucapan wanita ular itu.
“Apa maksudmu?!” Sofia menatap Irina dengan tatapan penasaran.
Irina menipiskan bibirnya, lalu mendekati Sofia dan berbisik pelan di dekat telinga Sofia, “apakah sebagai mantan istrinya kamu belum pernah merasakan kehebatan Aslan di atas ranjang? Masa kalah sih sama aku? Aku sampai keluar berkali-kali!”
Irina segera menjauhkan diri setelah selesai berbisik dan berhasil membuat Sofia terdiam seperti orang bodoh. Irina terseyum puas, lalu menarik tangan Aslan saat pintu lift terbuka dengan lebar.
“Kamu membisikan apa kepada wanita itu?” tanya Aslan penasaran.
“Rahasia!” jawab Irina sambil tertawa pelan, dan terus berjalan menuju basment menggunakan ekskaltor. Walaupun sikap Aslan sangat menyebalkan, entah kenapa dia tidak rela jika ada orang lain yang merendahkan atau menyakiti pria tersebut.
Mungkin karena Aslan sudah membatunya, jadi hatinya tergerak untuk membalas budi kepada pria tersebut. Ataukah ada alasan lain yang di sembunyikan Irina?
Entahlah, hanya Irina yang tahu isi hatinya sendiri. Jadi jangan tanya sama author ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Kalele Femmy
terus tanya siapa dong😊😊😊
2024-07-11
0
Kalele Femmy
setuju👍👍
2024-07-11
0
Kalele Femmy
wadidaww salut irina👍👍🥰🥰
2024-07-11
0