Dimas segera pulang setelah bertemu dengan Aslan. Tapi, dia tidak kembali ke rumahnya melainkan menuju club malam untuk bertemu dengan seseorang.
"Hai, apa kabar?" sapa Dimas pada Meyda yang sedang duduk cantik di depan meja bertender menunggu pelaggan.
"Hai, Ayang. Kabarku sangat baik." Meyda beranjak dari kursi, menyambut Dimas, memeluk dan mencium pipi pria tampan itu.
"Tumben baru datang ke club." Meyda memberikan kode kepada bartender untuk memberikan satu gelas bir kepada Dimas.
"Iya, lagi sibuk di kantor." Dimas menjawan sambil mengambil satu gelas bir yang sudah tersaji di atas meja, kemudian ia meneguk cairan berwarn coklat yang sudah tercampur dengan es batu.
"Btw, gimana kabar Irina?" tanya Meyda menatap Dimas yang mengecapkan bibir berulang kali setelah meminum bir.
"Dia baik, apakah kalian tidak saling bertukar kabar?" Dimas menjawab sekaligus memberikan pertanyaan.
Meyda menggeleng pelan, dan menjelaskan kalau dirinya dan Irina tidak terlalu dekat, jadi mereka tidak pernah bertukar kabar. Namun, Meyda turut senang kalau Irina baik-baik saja.
"Mey, kamu mau kerja nggak? Kerja halal," ucap Dimas menatap Meyda yang sedang mengambil sebatang rokok lalu menyelipkan ke sela bibir yang dihias dengan lipstick merah merona.
"Kerja halal? Ha ha ha." Meyda menghembuskan asap rokok sambil tertawa pelan saat mendengar tawaran Dimas yang terdengar sangat lucu di pendengarannya.
"Aku serius, kerjamu sangat mudah ..." Selanjutnya Dimas menjelaskan pekerjaan yang ditawarkannya kepada wanita tersebut.
Meyda menyesap rokoknya dengan dalam lalu menghembuskan melalui mulut dan hidung secara bersamaan, sambil mendengar penjelasan Dimas.
"Kamu paham? Aku akan membayarmu mahal." Dimas tersenyum, setelah menjelaskan semuanya kepada wanita tersebut.
"Seberapa banyak bayaran yang aku dapatkan?"
"Berapa pun yang kamu mau," balas Dimas sangat serius.
"500 juta?" tanya Meyda, seraya memicingkan kedua matanya pada Dimas yang duduk di hadapannya.
"Deal!" jawab Dimas mengulurkan tangannya kepada wanita tersebut.
"Oh My God! Kau serius?!" pekik Meyda sangat terkejut, pasalnya dia tadi hanya bercanda saat menentukan bayarannya. Tanpa membuang waktu, dia langsung menjabat tangan Dimas dengan mantap.
500 juta? Oh God! Dia bisa membeli rumah baru atau mobil baru ... Emh, atau membuka usaha, karena dia pun sudah lelah menjadi wanita malam. Hati Meyda sangat berbunga-bunga, dia tidak menyangka kalau akan menjadi seorang jutawan.
"Tapi, ingat, kamu harus bisa mendekatinya lalu laporkan semua kegiatannya kepadaku," ucap Dimas mengingatkan Meyda dengan tegas.
"Rebes pokoknya! Kalau boleh tahu siapa pria itu?" ucap Meyda sambil meneguk birnya.
"Kevin Atmaja," jawab Dimas lalu mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan foto Kevin kepada Meyda.
"Wih, ganteng banget. Ini yang namanya cowok keren limited edition!" seru Meyda sambil bertepuk tangan kecil saat melihat foto Kevin yang gagah dan sangat tampan. Baru melihat fotonya saja sudah membuat miliknya berkedut manjah.
"Ck!" Dimas berdecak saat Meyda memuji dan terpesona kepada foto Kevin. Dia segera memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya, lalu menatap tajam Meyda. "Baru melihat fotonya saja, kamu menjadi cacing kepanasan, apalagi kalau melihatnya langsung. Ingat, Mey! Tujuan dan pekerjaanmu untuk memata-matain dia! Awas saja bila nanti kamu malah menjadi seorang penghianat, kau akan kehilangan kepalamu!!!" Dimas berkata dengan tegas, sembari menunjuk wajah Meyda dengan jari telunjuknya.
"Iya ... Iya, aku akan selalu ingat tujuanku!" balas Meyda sembari mengepalkan salah satu tangannya di depan dada, bertanda kalau dia semangat dan tidak akan melupakan tujuannya.
"Aku pegang kata-katamu!" ucap Dimas datar.
Meyda mengacungkan dua jempol tangannya, kemudian dia menuangkan bir ke dalam gelas Dimas.
"Thanks." Dimas tersenyum lalu menengguk minumannya hingga tandas.
"Btw, aku nggak bisa berlama-lama di sini. Aku harus segera pulang." Dimas beranjak dari duduknya lalu mengeluarkan 5 lembar uang berwarna merah lalu memberikannya kepada Meyda. "Buat jajan," ucap Dimas sambil terkekeh.
"Ck! Baik banget sih." Meyda tersipu malu, tapi dia tetap menerima uang tersebut dengan hati yang senang. "Makasih ya Ayang Dimas." Meyda mendekati Dimas lalu mengecup salah satu sudut bibir pria tersebut dengan mesra.
Dimas mengangguk lalu segera pergi dari sana, meninggalkan Meyda yang masih berdiri di sana.
Setelah Dimas sudah tidak terlihat, tak berselang lama Meyda menatap sosok pria yang ia lihat di ponsel Dimas.
"Itu 'kan Kevin," gumam Meyda lalu segera mengikuti pria tersebut menuju ruang VIP yang ada di dalam club malam tersebut.
"Wah, sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu," gumam Meyda saat melihat salah satu pegawai masuk juga ke dalam ruangan tersebut dengan cara mengendap-endap seolah takut ada yang melihatnya. Tak berselang lama Meyda mengintip di pintu yang kebetulan tidak tertutup rapat. Wanita tersebut melihat Kevin dan pegawai club malam tersebut sedang bicara serius.
"Aslan?" gumam Meyda saat melihat gerak bibir Kevin seolah menyebut nama Aslan. Karena di club malam itu sangat bising karena musik berdentum keras, membuat Meyda tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, jadi Meyda hanya bisa memandang dari jauh sambil menatap gerakan bibir Kevin yang sedang berbicara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Patrish
yaahh..... rencana rahasia...
2023-12-10
0
Wati_esha
Tq update nya.
2023-11-10
0
Wati_esha
Mmm Kevin kok nggak ada kapiknya ya?!
2023-11-10
0