Dimas datang ke rumah Aslan saat malam hari. Dua pria tampan itu sedang berbicara serius di dalam ruang pribadi. Sedangkan Irina di dalam kamar sedang menatap bingung pada semua lingerie yang tergantung di dalam lemari, ruang ganti. Kata Bi Imah, semua lingerie tersebut dipesankan khusus untuknya.
“Aku harus pilih yang mana?” gumam Irina, lalu pilihannya jatuh pada lingerie warna maroon dan kainnya tidak terlalu tipis. “Oke, Irina, mulai saat ini bersikaplah seperti seorang jallang yang sesungguhnya, karena jika tidak begitu, pria sombong itu akan mendepakmu,” gumam Irina lalu segera mengganti pakaiannya dengan lingerie tersebut.
Selesai berganti pakaian, Irina mengambil ponselnya sambil merebahkan diri di atas ranjang, kemudian ia bertanya kepada Mbah Google tentang cara mengatasi dan menyembuhkan pria impoten. Ternyata banyak cara yang di lakukan untuk menyembuhkan pria impoten, salah satunya yaitu sering melakukan rangsangan kepada si pria yang menderita impoten.
“Oke, aku akan melakukan apa pun agar pria itu cepat sembuh. Semangat Irina!”
*
*
“Sekarang kamu sudah percaya kalau Irina itu wanita baik-baik?” tanya Dimas seraya menatap Aslan yang sedang menyaksikan sebuah video seorang pria yang terbaring lemah di rumah sakit. Yap, pria tersebut adalah Yoga—suami Irina. Dimas mencari informasi tentang Irina dan tentu saja dengan bantuan Meyda. Dia hanya ingin memastikan kalau Irina bukanlah wanita toxic seperti mantan istri Aslan.
Aslan terdiam lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Kini dia baru percaya jika Irina adalah wanita yang berbeda dan rela berkorban demi pria yang di cintainya.
“Aku selalu ingin yang terbaik untukmu, Bro, jadi aku mencari tahu latar belakang Irina,” jelas Dimas menatap Aslan yang masih terdiam.
“Thanks,” jawab Aslan pada asistennya sekaligus sahabatnya itu.
“Oke, sudah waktunya aku pulang, karena sudah larut malam.” Dimas mengambil ponselnya lalu beranjak dari sana.
“Tidur saja di sini. Kamarmu selalu di bersihkan sama Bi Inah.” Aslan menatap Dimas yang sudah akan membuka pintu ruangannya.
“Oke!” jawab Dimas seraya mengacungkan salah satu jempol tangannya, setelah itu dia langsung keluar dari ruangan tersebut menuju kamarnya yang ada di lantai bawah.
Aslan pun beranjak, menuju kamarnya. Sampai di kamar dia menatap Irina yang sudah terlelap di atas tempat tidur. Entah kenapa dia merasa iba dan kasihan kepada wanita tersebut. Begitu besar pengorbanan yang sudah wanita itu lakukan. Aslan menjadi berandai-andai ingin memiliki Irina seutuhnya.
“Tidak salah ‘kan kalau aku menginginkannya tetap disisiku untuk selamanya,” gumam Aslan lalu merebahkan diri di samping Irina, memiringkan tubuhnya, menatap Irina yang terlihat cantik natural meski wajahnya tidak di poles make-up. Salah satu tangannya terulur untuk mengusap pipi mulus itu dengan punggung tangannya, namun ia secepat kilat menarik tangannya lagi saat melihat Irin akan membuka mata.
“Kenapa kamu tidur tanpa menungguku!” Aslan berkata datar ketika Irina menatapnya.
“Maaf, aku sangat mengantuk,” jawab Irina sembari tersenyum manis, bahkan sangat muanis sehingga membuat jantung Aslan tiba-tiba berdetak sangat cepat. Salah satu tangan Irina masuk ke dalam selimut dan menyusup masuk ke dalam celana pendek yang di kenakan oleh Aslan, dia mencari burung kutilang yang masih setia bobok ganteng di balik jeruji kain.
“Mau apa?” tanya Aslan ketika tangan Irina sudah berhasil menggenggam senjatanya.
“Tentu saja melakukan terapi.” Irina menjawab sambil memainkan senjata Aslan dengan gerakan yang penuh kelembutan dan penuh dengan perasaan.
Aslan menatap Irina yang berusaha keras menyembuhkannya, kemudian ia menarik tangan Irina dari bawah sana. Kemudian menatap Irina dengan tajam dan dalam sambil mendekatkan diri pada wanita tersebut, lalu melabuhkan ciuman lembut pada bibir Irina yang terlihat begitu menggoda.
Awalnya Irina terkejut, tapi sadar kalau ciuman tersebut adalah sebagian dari pekerjaannya, maka dia membalas ciuman Aslan tidak kalah lembut.
“Beberapa hari ini kamu sudah bekerja keras, maka aku akan memberikanmu bonus,” bisik Aslan ketika ciuman mereka terlepas. Aslan menatap Irina dengan dalam, lalu salah satu tangannya menyelinap masuk ke dalam selimut dan menyentuh titik sensitif Irina dengan penuh kelembutan.
Irina sangat terkejut, bahkan kedua matanya sampai terbuka lebar, tapi beberapa saat kemudian dia menikmati permainan Aslan di bawah sana, yang membuatnya selalu melenguh dan terus mendessah tidak karuan.
*
*
“Sudah beberapa hari Irina nggak ada kabar ya, Bu?” tanya Yoga pada ibunya yang sedang membasuh wajahnya dengan air hangat.
“Istrimu sedang sibuk cari uang dan saat ini dia sudah beristirahat. Doakan semoga pekerjaan istrimu lancar dan cepat banyak uang untuk membiayai pengobatanmu.” Bu Nining menatap putranya yang terlihat diam.
“Tapi, perasaanku tidak enak, aku takut kalau Irina ...”
“Huss! Jangan berpikiran yang macam-macam!” omel Bu Nining menyetop ucapan putranya sendiri.
“Maaf.”
“Sekarang kamu tidur, karena sudah malam. Jangan lupa berdoa biar nggak mimpi buruk.” Bu Nining mengingatkan putranya.
Bu Nining membantu Yoga merebahkan diri di atas tempat tidur, karena sebelumnya putranya itu duduk. Tidak lupa menarik selimut sampai sebatas leher, agar putranya itu tidak kedinginan.
Bu Nining menghela nafas kasar, sebenarnya dia juga merasakan perasaan yang sama seperti putranya. Dia takut kalau menantunya mengambil jalan yang salah, akan tetapi dia berusaha keras untuk selalu berpikiran positif.
*
*
Irina tersenyum puas dan nafasnya terengah saat sampai puncak kenikmatan. Dia menatap Aslan yang kini sudah kembali merebahkan diri di sampingnya.
Aslan membalas senyuman Irina lalu memeluk wanita tersebut dengan sangat erat, seolah takut kehilangan.
“Apakah kamu merasa puas?” tanya Aslan sambil menghirup aroma rambut Irina yang sangat harum.
“Sangat puas,” jawab Irina jujur.
“Benarkah?” Aslan seolah tidak percaya, karena mantan istrinya saja meninggalkannya karena dia hanya bisa memuaskan dengan cara menggunakan jari dan lidah, dan lebih extrime menggunakan alat bantu yang bernama dil**.
“Iya, aku serius dan jujur.” Irina menatap lekat kedua manik berwarna biru itu.
Aslan tersenyum, lalu memeluk Irina semakin erat, dan tidak ingin melepaskan wanita tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Dyah Oktina
masih istri orang itu..
2024-12-13
0
Kusii Yaati
aduh Irina lama2 kamu juga doyan 😩
2024-04-05
1
Sweet Girl
Cepat kali kau tertarik sama istri orang Bang Aslan...
2024-01-24
0