“Besok siang kamu harus sudah berada di rumahku!” Aslan memberikan kartu namanya kepada Irina.
Irina menerima kartu nama tersebut, yang juga tertera alamat rumah Aslan di sana. Ia mengangguk sebagai jawaban lalu memasukkan kartu tersebut ke dalam tasnya.
“Tapi, aku benar-benar butuh uang itu, untuk pengobatan suamiku,” ucap Irina pada Aslan yang kini menatapnya dengan tajam.
“Aku tidak peduli! Sesuai dengan kesepakatan, kamu tidak akan mendapatkan uang sebelum bekerja! Sekarang keluar dari mobilku!” usir Aslan tanpa perasaan dan belas kasihan kepada Irina.
Tanpa banyak kata, Irina langsung keluar dari mobil mewah tersebut, lalu menatap Aslan yang sudah menyalakan mesin mobil, tidak berselang lama melajukan mobilnya keluar dari area club malam tersebut. Setelah mobil Aslan sudah tidak terlihat, Irina segera berlari menuju toilet yang tidak jauh dari area parkir sana.
Irina membasuh mulutnya dan berkumur berulang kali ketika dia sudah sampai di toilet. Ia merasa jijik saat melakukan hal ‘itu’ kepada pria lain yang bukan suaminya.
“Ya Tuhan,” gumam Irina, meneteskan air mata, kemudian dia membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari keran wastfel. Begitu berat cobaan yang dia dapatkan, bahkan ia rela berkorban demi kesembuhan suaminya dengan cara menjual diri kepada seorang pria arogan dan sangat sombong. Membayangkan hidup satu rumah dengan pria sombong itu rasanya ia sudah tidak sanggup.
“Aku pasti kuat, semua ini demi Mas Yoga.” Irina bergumam seraya menegakkan badannya lalu segera keluar dari toilet tersebut. Malam ini ia harus segera pulang ke rumah, agar besok pagi bisa ke rumah sakit sebelum dia berangkat ke rumah Aslan.
Aslan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Ia beberapa kali mengusap bibirnya, sembari membayangkan wajah Irina yang terlihat cantik, bermata teduh akan tetapi menyimpan sebuah kesedihan yang begitu mendalam.
“Jadi, dia sudah menikah? Dan suaminya sedang sakit? Apakah dia menjadi wanita malam demi membiayai pengobatan suaminya?” Aslan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, namun beberapa saat kemudian, ia menggeleng pelan sambil tersenyum miring.
“Di jaman sekarang mana ada seorang wanita berkorban demi pasangannya! Aku rasa dia sedang berakting agar dikasihani!” ucap Aslan, lalu menambah kecepatan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang terlihat ramai lancar pada malam hari itu.
*
*
“Kevin, surat cerai dari Aslan sudah aku tanda tangani, lalu kapan kamu akan menikahiku?” tanya Sofia kepada pria yang usianya 4 tahun lebih muda darinya. Dan tentu saja pria tersebut lebih kaya, lebih gagah dan selalu memuaskannya di atas ranjang.
“Sabar,” jawab Kevin sambil mengerling nakal pada Sofia yang masih terkapar di atas ranjang yang berantakan itu, mereka baru saja melakukan percintaan panas yang memabukkan dan sangat menggelora.
“Tapi, aku tidak sabar, berapa lama lagi aku harus menunggu?” tanya Sofia seraya beranjak dari tempat tidur sambil melilitkan selimut ditubuhnya untuk menutupi tubuh polosnya. Ia berjalan menghampiri Kevin yang berdiri di dekat sofa sambil memakai baju.
“Paling tidak menunggu kehancuran mantan suamimu,” jawab Kevin namun hanya di dalam hati.
Kevin Leonard, pemuda berusia 25 tahun itu adalah musuh bebuyutan Aslan dalam dunia bisnis. Karena tidak ingin tersaingi oleh perusahaan Aslan, dia menghalalkan berbagai cara agar membuat Aslan hancur, termasuk merebut Sofia dari tangan Aslan.
“Kenapa diam saja?” tanya Sofia memeluk Kevin dari samping, seraya meraba dada bidang itu dengan gerakan sensual.
“Kamu belum resmi bercerai dengannya, Sofia, jadi sabar,” balas Kevin lalu menggenggam tangan nakal Sofia, kemudian mengecup tangan itu dengan penuh kelembutan. “Ingin lanjut lagi?” bisik Kevin dengan suara yang begitu dalam.
“Yeah,” balas Sofia lalu mencaplok bibir Kevin dengan rakus.
Dan, selanjutnya, bayangin sendiri.
*
*
Irina bangun jam 4 pagi. Ia mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencuci pakaian suami dan ibu mertuanya yang ia bawa dari rumah sakit. Selesai mencuci ia beberes dan memasak. Semua pekerjaannya selesai tepat jam 7 pagi. Dan kini ia sudah siap berangkat ke rumah sakit sambil membawa dua rantang besar untuk sarapan dan makan siang ibu mertuanya. Di tangan kanannya membawa tas besar yang berisi pakaian ganti suami dan ibu mertuanya. Dia menaiki sepeda motornya dengan hati-hati karena membawa muatan yang banyak.
Hampir setengah jam perjalanan, akhirnya dia sampai ke tempat yang dituju dengan selamat, tanpa kendala apa pun. Irina memasuki ruang rawat suaminya setelah mengetuk pintu. Ia tersenyum menyapa ibu mertuanya yang sepertinya baru selesai memandikan suaminya.
“Wah, pagi-pagi sudah repot,” ucap Ibu Nining kepada menantunya yang membawa banyak bawaan.
“Iya, ini semua makanan dan pakaian ganti untuk ibu dan Mas Yoga,” jawab Irina meletakkan tas di atas lantai, lalu beralih meletakkan dua rantang di atas meja. Karena ruang rawat yang di tempati Yoga adalah kelas 2 maka dari itu ada dua pasien lainnya yang ada di dalam ruangan tersebut.
“Mas Yoga apa kabar hari ini? Maaf, tadi malam aku tidak bisa menemani Mas,” ucap Irina seraya menggenggam tangan suaminya yang terasa dingin. Irina sangat sedih melihat kondisi Yoga yang sangat memprihatinkan. Perut Yoga semakin hari semakin membesar, dan tubuhnya semakin mengecil, bahkan kedua bola mata suaminya sudah terlihat kuning. Irina sangat takut jika suatu saat nanti kehilangan suami tercintanya.
“Baik, nggak apa-apa, Sayang.” Yoga menepuk punggung tangan istrinya dengan lembut.
Irina mengangguk sambil terisak sedih. Lalu segera mengusap air matanya, dan tersenyum menatap suaminya.
“Jangan sedih, aku nggak apa-apa. Maaf, sudah merepotkanmu,” ucap Yoga seraya mengusap air mata istrinya yang terus mengalir.
“Nggak ada yang di repotkan di sini. Jadi, jangan ngomong kayak begitu.” Irina memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang. Baik Irina dan Yoga menangis sambil berpelukan, keduanya seolah menguraikan kesedihan yang selama ini tertahan di dalam dada.
“Sudah, jangan pada sedih lagi. Kita doa yang baik-baik saja agar Yoga bisa cepat sembuh dan diangkat semua panyakitnya,” ucap Bu Nining kepada anak dan menantunya yang sudah mengurai pelukan mereka.
“Amin,” sahut Irina dan suaminya bersamaan.
Irina menatap ibu mertua dan suaminya secara bergantian, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan masalah pekerjaannya.
“Bu, Mas, aku mau ngomong. Aku sudah mendapatkan pekerjaan,” ucap Irina dengan nada pelan.
Yoga menghela nafas panjang, sebagai seorang suami, dia yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga, mencari nafkah untuk istrinya, tapi ini malah sebaliknya, istrinya yang mencari nafkah sekaligus mencari uang untuk pengobatannya.
“Mas, minta maaf, Sayang, karena membuatmu susah.” Yoga menatap istrinya penuh sesal karena dia merasa tidak berguna sebagai suami.
“Kerjamu apa? Dan di mana?” tanya Ibu mertuanya.
“Emh ... kerjanya hanya menjaga rumah orang kaya, tapi di lokasinya di luar kota,” jawab Irina, berbohong kepada suami dan ibu mertuanya.
“Ya Tuhan, maafkan aku,” jerit Irina di dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Mardiana
syedihhh 🥺
2025-03-11
0
Ta..h
ko sedih ya kasian juga yoga sakit separah itu.
2023-11-17
2
Sleepyhead
kagabisa thor
2023-11-11
0