episode 5

Setelah kejadian malam, dimana mereka melakukan perbuatan zina. Anwar mengatakan pada Ibunya, bahwa dia saat ini kembali dekat dengan Nadin. Bu Fatma sangat setuju. Pasalnya keluarga Nadin, termasuk keluarga kaya dan terpandang.

"Kapan kamu menikahi Nadin dan menceraikan Vina?" tanya Bu Fatma. Tadi, dia pergi belanja dengan Sarah. Pulangnya mereka mampir ke rumah Anwar.

"Ibu, jangan keras-keras ngomongnya. Nanti Vina dengar." bisik Anwar.

"Halah, biar saja dia dengar. Biar dia bisa mempersiapkan dirinya." bantah Bu Fatma.

Sarah, hanya mendengarkan pembicaraan Ibu dan Masnya itu. Dia memilih diam, sebab dia lagi asyik dengan handphonenya.

"Memangnya kamu nggak mau untuk menikahi Nadin?" bisik Bu Fatma. Karena dia juga gak mau membantah sang anak.

"Aku sih mau aja Bu, tetapi Nadin maunya jadi istri satu-satunya. Dia gak mau jadi yang ke-dua." kata Anwar.

"Makanya kamu ceraikan saja si Vina, biar bisa cepat nikah sama Nadin. Ibu mah lebih cocok ke Nadin. Apalagi dia kan masih cinta sama kamu." ucap Bu Fatma.

"Lagi pula, keluarga mereka kaya, terus bibit bebet bobotnya jelas. Gak kaya Vina, nggak ada asal usulnya." sambung Bu Fatma.

Kemudian Vina datang membawakan minuman serta kudapan untuk mertuanya.

"Mbak, pijitin dong. Kaki aku kebas, tadi habis mutar-mutar untuk belanja." pinta Sarah dengan sombongnya.

Vina terdiam, sebenarnya dia mau menolak. Tetapi, melihat mertua dan suaminya yang nggak merespon ucapan Sarah terpaksa dia melakukannya.

Gak lama kemudian Adit dan Saka pulang sekolah, karena mereka dihalaman rumah ada mobil Tantenya, perasaan mereka langsung nggak enak. Tanpa mengucap salam mereka langsung masuk ke dalam. Mereka mendengarkan suara Ayah, Nenek dan Tante-nya lagi tertawa. Dan Bunda mereka memijat kaki Sarah.

Adit maupun Saka langsung menegur Tantenya.

"Tante, cukup ya. Jika memang kaki Tante bermasalah biarkan Abang panggilkan Mbah Ijah biar di urut sama dia." teriak Adit.

Sarah, Anwar, Bu Fatma dan Vina terkejut mendengar teriakan Adit.

"Apa-apaan sih Bang. Tante mu itu capek habis belanja. Dia cuma minta tolong pijitin sama Bunda mu." bela Anwar.

"Minta tolong sih minta tolong, tapi ada adabnya juga, Bunda duduk dibawah. Kalian ketawa-ketawa. Bunda pijitin Tante, memang kalau kalian jadi Bunda gimana perasaan nya?" tanya Saka.

" Sudah-sudah gak usah ribut-ribut. Oo ya dik, tadi Nenek ada beliin adik sepatu sama baju untuk Adik." kata Bu Fatma. Dia mengalihkan pembicaraan supaya nanti Saka tidak membenci dirinya. Bagaimanapun Saka cucu kesayangannya.

Adit cuma terdiam, karena dia tau pasti Nenek hanya membeli untuk Saka.

"Makasih Nek, untuk Abang?" Tanya Saka. Padahal dia tau, semenjak Adit melabrak Nenek dan Tantenya. Adit sudah tidak di anggap cucu oleh Bu Fatma.

"Uang Nenek nggak cukup, lagian kata Ayahmu dia udah bekerja kan? Jadi, udah mampu lah untuk beli sendiri." kata Bu fatma.

"Iya, padahal Adik juga mau bekerja, tapi dilarang sama Abang dan Bunda." adu Saka.

Sebenarnya Saka tidak terlalu menyukai Neneknya, tetapi dia berfikir logis. Jika Nenek tidak membencinya. Maka diapun tidak membenci Neneknya. Mungkin, nanti di masa depan dia perlu bantuan Neneknya. Masalah keuangan misalnya.

"Kamu nggak usah kerja, kalau uang jajan nggak cukup, atau kamu mau beli sesuatu, kamu bisa beritahu Nenek. Nanti akan Nenek berikan untukmu. Berapapun. Oke." tegas Bu Fatma.

🍁🍁🍁🍁🍁

Malamnya di apartment Nadin. Setelah melakukan rutinitas seperti suami istri. Nadin menekankan pada Anwar bahwa dia ingin segera menikah. Dia bosan melakukan hubungan secara sembunyi-sembunyi.

"Sebenarnya kamu niat nggak sih Mas, buat nikahin aku. Aku capek Mas." keluh Nadin.

"Makanya, kita nikah siri ya. Mas janji Mas akan lebih banyak waktu sama kamu." ucap Anwar.

"Kenapa gak Mas ceraikan saja si Vina tuh, aku benci sama dia tau nggak. Kalau nggak ada dia mungkin kita udah nikah." ucap Nadin.

Padahal dulu Nadin lah yang meninggalkan Anwar. Tetapi sekarang seolah-olah dia lupa.

"Mas nggak bisa ceraiin dia Na, di dunia ini dia nggak ada siapa-siapa. Dia sendiri Na." tegas Anwar.

"Terus Mas peduli? Atau Mas masih cinta?" berang Nadin.

"Bukan peduli, tapi Mas nggak tega aja" sahut Anwar.

"Tapi Mas tega sama aku." Nadin menangis.

"Mas keluar aja, aku mau sendiri. Sebelum Mas mutusin siapa yang Mas pilih. Mas dilarang kesini lagi." usir Vina.

Anwar pergi dengan gontai dari apartment Nadin.

Sementara itu, jam sudah pukul 12 malam, Aldi baru saja menutup toko fotocopy. Saat dia menghidupkan motornya, ternyata kehabisan bahan bakar.

"Sial, bisa-bisanya gue lupa isikan bensin. Mana yang jual eceran pada tutup." kata Aldi. Terpaksa dia mendorong motornya menuju pom bensin yang jaraknya 1km.

"Ada yang bisa dibantu dik," kata pengemudi mobil yang kebetulan lewat jalan yang sama dengan Aldi.

"Dokter Iqbal kan? Yang di rumah sakit Citra Husada. Tempo hari yang ngerawat Bunda saya." kata Aldi senang, karena bertemu orang yang dikenal. Setidaknya bukan tukang begal.

"Oo kamu anak pasien saya ya?" tanya Iqbal.

"Saya nggak ingat maaf ya," sambung Iqbal.

"Ya, nggak apa-apa dok, lagian pasien dokter kan banyak." jawab Aldi.

Setelah, membantu Aldi dan mereka saling cerita. Baru Iqbal ingat, kalau Aldi anak dari Vina. Padahal ingin sekali berjumpa dengan Vina, tetapi mengingat dia sudah berkeluarga. Keinginannya pun di kuburkan.

Sejak saat pertemuan antara Aldi dan Iqbal mereka berteman. Iqbal sering ke tempat kerjanya Aldi, sekedar mengobrol ataupun ngopi dan ngeteh bareng.

"Dok, aku nyaman loh berteman dengan dokter, aku berasa punya Ayah." kata Aldi.

"Bukankah kamu memang mempunyai Ayah?" Tanya Iqbal. Seingatnya dulu dia pernah bertanya tentang Ayahnya. Waktu Vina di rumah sakit.

"Memang aku masih memiliki Ayah, tetapi hubungan diantara kami tidaklah baik." gumam Aldi.

Mengalir lah, cerita bagaimana dia yang dulu sangat mencintai Ayahnya sampai berubah jadi benci.

"Dokter tau, selama beberapa bulan terakhir Ayah memang tidak melakukan kekerasan fisik untuk Bunda, tetapi mungkin Ayah punya selingkuhan." tegas Aldi.

"Dulu, walaupun Ayah melakukan kekerasan, dia selalu pulang tepat waktu. Malam pun tetap bermalam di rumah. Sekarang Ayah pulangnya hanya untuk menitipkan baju kotor. Setiap kali ditanya, dia selalu beralasan tidur tempat Nenek." kata Aldi.

Iqbal terdiam, haruskah dia melindungi Adiknya, dan membawa dia pergi. Atau harus memberi efek jera untuk Anwar karena sudah berani menyakiti Adik yang sangat di sayangi.

Terimong Gaseh,

Saleum, dari pidie.

Terpopuler

Comments

Yenie Gitoe Lhoo

Yenie Gitoe Lhoo

Ini namanya anaknya Adit apa aldi sih

2025-03-19

0

flower

flower

Aldi???? Adit kali..

2025-03-13

0

Neneng Liauw

Neneng Liauw

yaa itu seh krna emak lo yg bego Adit.

2023-12-25

0

lihat semua
Episodes
1 Bercerailah, Bunda
2 Pingsannya Vina
3 Menyerah lah
4 Kembalinya Nadin
5 episode 5
6 pertemuan kembali
7 Ceraikan aku
8 Bercerai
9 Episode 9
10 episode 10
11 episode 11
12 episode 12
13 episode 13
14 episode 14
15 Persiapan lamaran
16 maukah jadi pendampingku?
17 episode 17
18 episode 18
19 episode 19
20 episode 20
21 episode 21
22 Akhirnya sah
23 Gadis itu.
24 episode 24
25 episode 25
26 episode 26
27 episode 27
28 episode 28
29 episode 29
30 episode 30
31 episode 31
32 Episode 32
33 episode 33
34 episode 34
35 episode 35
36 episode 36
37 episode 37
38 episode 38
39 Episode 39
40 episode 40
41 episode 41
42 episode 42
43 episode 42
44 Episode 44
45 Permintaan Adit
46 kenangan masa lalu
47 episode 47
48 Mulainya karma untuk Nadin
49 episode 49
50 episode 50
51 episode 51
52 episode 52
53 Hukuman untuk Anwar
54 episode 54
55 episode 55
56 Meninggalnya, Bu Fatma.
57 Anwar menyesal
58 Saka bertemu keluarga Gina
59 Persahabatan Gina dan Intan
60 Gina bertemu Vina
61 Cinta yang terpendam
62 episode 62
63 Anwar, manfaatkan situasi
64 Anwar, menemui anak-anaknya
65 Bertemu masa lalu
66 episode 66
67 Hilangnya Vina
68 episode 68
69 Kesetiaan Intan
70 episode 70
71 Pelajaran untuk Anwar
72 Penyesalan Anwar
73 Benarkah, Anwar Menyesal?
74 Sisi Lain Tiara
75 Terbukanya Perasaan Adit dan Saka
76 Langkah Pertama Dari Adit
77 Akhirnya ...
78 Ingin melihat kesungguhan mu
79 episode 79
80 Episode 80
81 Akhirnya, Ketahuan Juga
82 Rencana Nadin
83 Akhirnya Sah
84 Andai Kita Bercerai
85 Lakukan Lah
86 Menyelidiki
87 Episode 87
88 Kebaikan Adit
89 Kisah Intan
90 Episode 90
91 Ketahuan
92 Sasa Melahirkan
93 Niat Baru Nadin
94 Maafkan Ayah! Benarkah?
95 Dituduh Pelakor
96 Kemarahan Adit
97 Tentang Bara dan Sasa
98 Pengakuan Karin
99 Episode 99
100 episode 100
101 episode 101
102 Yuk, Pacaran
103 Episode 103
104 Nadin, Di Rumah Sakit Jiwa.
105 Burhan dan Anita
106 Anita Dan Burhan 2
107 Pernikahan Adit
108 ekstra part
109 Pengumuman Novel Baru
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bercerailah, Bunda
2
Pingsannya Vina
3
Menyerah lah
4
Kembalinya Nadin
5
episode 5
6
pertemuan kembali
7
Ceraikan aku
8
Bercerai
9
Episode 9
10
episode 10
11
episode 11
12
episode 12
13
episode 13
14
episode 14
15
Persiapan lamaran
16
maukah jadi pendampingku?
17
episode 17
18
episode 18
19
episode 19
20
episode 20
21
episode 21
22
Akhirnya sah
23
Gadis itu.
24
episode 24
25
episode 25
26
episode 26
27
episode 27
28
episode 28
29
episode 29
30
episode 30
31
episode 31
32
Episode 32
33
episode 33
34
episode 34
35
episode 35
36
episode 36
37
episode 37
38
episode 38
39
Episode 39
40
episode 40
41
episode 41
42
episode 42
43
episode 42
44
Episode 44
45
Permintaan Adit
46
kenangan masa lalu
47
episode 47
48
Mulainya karma untuk Nadin
49
episode 49
50
episode 50
51
episode 51
52
episode 52
53
Hukuman untuk Anwar
54
episode 54
55
episode 55
56
Meninggalnya, Bu Fatma.
57
Anwar menyesal
58
Saka bertemu keluarga Gina
59
Persahabatan Gina dan Intan
60
Gina bertemu Vina
61
Cinta yang terpendam
62
episode 62
63
Anwar, manfaatkan situasi
64
Anwar, menemui anak-anaknya
65
Bertemu masa lalu
66
episode 66
67
Hilangnya Vina
68
episode 68
69
Kesetiaan Intan
70
episode 70
71
Pelajaran untuk Anwar
72
Penyesalan Anwar
73
Benarkah, Anwar Menyesal?
74
Sisi Lain Tiara
75
Terbukanya Perasaan Adit dan Saka
76
Langkah Pertama Dari Adit
77
Akhirnya ...
78
Ingin melihat kesungguhan mu
79
episode 79
80
Episode 80
81
Akhirnya, Ketahuan Juga
82
Rencana Nadin
83
Akhirnya Sah
84
Andai Kita Bercerai
85
Lakukan Lah
86
Menyelidiki
87
Episode 87
88
Kebaikan Adit
89
Kisah Intan
90
Episode 90
91
Ketahuan
92
Sasa Melahirkan
93
Niat Baru Nadin
94
Maafkan Ayah! Benarkah?
95
Dituduh Pelakor
96
Kemarahan Adit
97
Tentang Bara dan Sasa
98
Pengakuan Karin
99
Episode 99
100
episode 100
101
episode 101
102
Yuk, Pacaran
103
Episode 103
104
Nadin, Di Rumah Sakit Jiwa.
105
Burhan dan Anita
106
Anita Dan Burhan 2
107
Pernikahan Adit
108
ekstra part
109
Pengumuman Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!