Pingsannya Vina

"Bunda, bangun Bun. Bunda kenapa?" tanya Saka panik. Soalnya pas dia ke kamar Bundanya, Vina terletak di depan pintu kamar mandi.

"Halo Bang, cepetan ke rumah. Bunda pingsan. Cepetan ya Bang." ujar Saka begitu panggilan terhubung.

Setelah menelpon Adit, Saka berlari keluar meminta pertolongan tetangganya. Soalnya dia nggak kuat pindahin Bundanya ke kasur.

"Buk Sur, tolongin Bunda Bu. Bunda pingsan. Tolong pindahin ke kasur ya" teriak Saka sama tetangga samping rumahnya.

"Baik Saka, sebentar ya Ibu panggil yang lain dulu." jawab Bu Sur.

"Bunda, bangun. Tolong jangan takutin Adik. Tolonglah Bun." sambil membalur minyak kayu putih pada hidung juga telapak kaki Vina.

"Sebaiknya di bawa ke rumah sakit aja sih Saka, kasihan Bundanya." usul Bu sur dan di iyakan sama tetangga lainnya yang membantu Vina.

"Iya Bu, ini lagi nungguin Abang dulu." jawab Saka.

Tak lama kemudian, Adit sampai dengan taksi dan dia meminta Saka agar membantunya angkatin Bundanya. Juga sekalian meminta Bu sur membawakan perlengkapan untuk Bundanya nanti ke rumah sakit.

"Kasihan ya Bu Vina, hampir setiap hari di kasarin sama suaminya." kata Ibu melihat Bu Vina.

"Iya, kalau aku jadi dia, udah ku lawan suami ku itu. Mentang-mentang dia laki. Dikira kita nggak bisa mukul dia balik." sahut ibu yang lainnya.

"Udahlah Bu, diam aja. Kita nggak tau masalah rumah tangga orang lain. jadi, stop berkomentar" perintah Bu Sur.

Sebenarnya, Bu Sur sudah menyarankan agar Vina melaporkan kepada pihak berwajib. Tetapi, Vina tidak melakukan itu. Karena dia takut berdampak terhadap masa depan dan pendidikan anaknya kelak. Jika ada yang tau, kalau suaminya pernah masuk penjara gara kasus KDRT.

"Bang, kita telfon Ayah dulu ya?" tanya Saka ragu-ragu sama Adit. Pasalnya sesudah Bundanya di tangani oleh dokter Adit tidak bicara sepatah kata pun.

"Untuk apa? Kalau untuk bayar rumah sakit, kita pakai uang tabungan kita aja." jawab Adit.

Selama ini Adit diam-diam memilih bekerja paruh waktu di tempat fotocopy. Sedangkan Saka, Adit melarangnya. Juga melarang agar Saka tidak memberitahu Bundanya. Karena setau Adit, bundanya jarang keluar rumah kalau tidak ada kepentingan mendesak. Karena untuk kebutuhan dapur, ada warung di dekat rumahnya. Lengkap dengan segala jenis ikan.

Adit, memiliki ciri-ciri manis, tinggi 170 cm, hidung mancung juga memiliki mata hazel. Pembawaannya pendiam dan agak emosian. Berbeda dengan Saka. Dia memiliki ciri-ciri ganteng, panjang 175 cm, ramah ke setiap orang juga sabar dalam menyikapi masalah.

"Dengan keluarga Bu Vina?" tanya perawat yang baru keluar dari ruang pemeriksaan Vina.

"Ya, kami berdua anaknya" jawab Adit. Langsung berdiri.

"Ayahnya kemana ya? Ada yang ingin dokter sampaikan." tanya perawat.

"Ayah lagi diluar kota sus," jawab Saka.

"Kalau ada apa-apa bisa sampaikan sama kami saja." tegas Adit lagi.

"Bisa, telfon Ayahnya saja?" karena ini ada hal yang tidak bisa dibicarakan sama anak-anak.

"Tolong sampaikan sama Ayahnya ya dik" kata perawat lagi, sambil berlalu.

"Kamu aja yang telfon Ayah. Suruh ke sini." suruh Adit sama Saka.

"Nggak di angkat Bang, ini sudah beberapa kali Adik telfon." ujar Saka.

"Coba aja lagi." Kata Adit.

"Ditolak Bang," lirih Saka.

Di kediaman Ibu Fatma. Bunyi handphone Anwar terdengar nyaring diruang tamu. Sedangkan pemilik handphone tertidur dikamar dengan pulesnya.

"Coba kamu lihat, siapa sih yang nelpon Mas mu dari tadi. Kalau Vina yang nelpon kau matikan saja." suruh Bu Fatma pada anaknya.

Mereka lagi nyantai di gazebo halaman depan.

"Ibu, Saka yang nelpon." kata Sarah.

"Bangunin Mas mu, mungkin Saka ada perlu." kata Bu Fatma.

Bu Fatma walaupun membenci Vina, tetapi dia sangat menyayangi Saka. Tetapi, jika sama Adit Bu Fatma juga benci. Karena, dulu Adit pernah memarahi dan melarang Nenek juga Tantenya agar tidak ikut campur masalah keluarga mereka.

"Mas, bangun Saka nelpon." Kata Sarah sambil mengetuk kamar Anwar.

"Kau matikan sajalah, aku ngantuk masih ingin tidur. Palingan juga minta duit itu anak." teriak Anwar dari dalam kamar.

Kembali ke rumah sakit.

"Apa Saka ke rumah Nenek aja? Atau ke tempat kerja Ayah."

Anwar berkerja di kantor kecamatan. Menjabat sebagai sekretaris kecamatan.

"Hari ini tanggal merah. Jadi, Ayah libur. Kemungkinan besar kalau gak ke tempat Nenek dia ketempat tongkrongannya." Kata Adit.

"Lagian, kamu gak usah kemana-mana. Kalau nanti dia pulang gak ada Bunda. Nanti dia juga yang kebingungan. Jadi, nggak usah nelpon-nelpon lagi." tega Adit lagi.

Diruang dokter, dokter umum yang kebetulan jaga hari ini adalah Iqbal. Iqbal merupakan anak yatim piatu yang di rawat bersama dengan Vina di panti Kasih Sayang. Dulu saat di berpisah dengan Vina dia berumur 15 tahun. Dan Vina 10 tahun. Setelah berpisah hampir 30 tahun. Akhirnya yang dicari-cari pun telah bertemu. Tapi sayang dia telah menikah.

Iqbal tau, mungkin luka-luka yang ada ditubuh Vina akibat perlakuan dari orang terdekatnya. Cuma, dia sadar diri itu semua bukan ranahnya untuk ikut campur.

"Adikku, akhirnya kita bertemu" gumam Iqbal sambil memandang foto masa kecil mereka bersama Ibu panti.

"Sebenarnya, banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Tetapi, setelah melihat keadaanmu aku berasa menjadi Abang yang gagal terhadapmu. Karena dulu kita pernah berjanji akan saling menjaga hingga kita dewasa." gumamnya lagi.

Dokter Iqbal, seorang duda yang diceraikan oleh istrinya akibat Iqbal divonis mandul. Dia telah menduda selama 10 tahun terakhir. Selama dia duda, tak terpikirkan olehnya untuk menikah lagi. Karena, menurutnya semua percuma. Tetapi, setelah melihat Vina juga keadaannya niat itu seakan-akan lenyap. Dia ingin melindungi dan menjaga Vina bukan lagi sebagai Abang. Melainkan suami.

🍁🍁🍁🍁🍁

"Vina, Vina" teriak Anwar.

"Kenapa, lampu nggak dihidupkan? Dimana kau Vina. jawab" teriak Anwar lagi.

Anwar menuju ke kamar. Saat melihat gak ada Vina di kamar hatinya mulai emosi. Tanpa pikir panjang dia langsung menuju lemari pakaian Vina. Soalnya dia takut kalau Vina kabur.

"Bajunya masih ada semua. Terus dia kemana juga ya." lirihnya.

"Apa dia ke tempat anak-anak? Kalau kamu berani keluar tanpa izin aku suamimu. Habis kamu Vina." gumam Anwar.

Anwar mengambil kunci mobil hendak keluar. Namun, dilihat oleh Bu Sur.

"Maaf Pak Anwar. Mau ke rumah sakit ya?" Tanya Bu sur.

"Ke rumah sakit? Ngapain?" tanya Anwar lagi.

"Lho, jadi Pak Anwar belum tau kalau Bu Vina ke rumah sakit? Tadi dia pingsan Pak. Terus dibawa Adit sama Saka ke rumah sakit." jelas Bu Sur.

"Saya belum tau Bu. Kalau boleh tau rumah sakit mana ya?" tanya Anwar.

"Rumah sakit Citra Husada Pak." jawab Bu sur.

Setelah mengucapkan terimakasih, Anwar langsung menuju ke rumah sakit.

"Awas kamu Vina, berani-beraninya kamu mempermalukan aku. Kenapa nggak ada yang memberi tahu aku. Pasti Vina sengaja supaya tetangga tau kalau aku nggak peduliin dia." tuduh Anwar.

Terpopuler

Comments

Sulis Tyawati

Sulis Tyawati

maaf thor gazebo, bukan kanebo

2025-03-13

1

N Wage

N Wage

panjang?
tinggi kali thor😁

2024-12-29

1

Sunarmi Narmi

Sunarmi Narmi

Thor...Jgan panjang ....tinggi biar bahasanya jg lebih manis..maaf ya cuma masukan 🙏🙏

2025-03-12

0

lihat semua
Episodes
1 Bercerailah, Bunda
2 Pingsannya Vina
3 Menyerah lah
4 Kembalinya Nadin
5 episode 5
6 pertemuan kembali
7 Ceraikan aku
8 Bercerai
9 Episode 9
10 episode 10
11 episode 11
12 episode 12
13 episode 13
14 episode 14
15 Persiapan lamaran
16 maukah jadi pendampingku?
17 episode 17
18 episode 18
19 episode 19
20 episode 20
21 episode 21
22 Akhirnya sah
23 Gadis itu.
24 episode 24
25 episode 25
26 episode 26
27 episode 27
28 episode 28
29 episode 29
30 episode 30
31 episode 31
32 Episode 32
33 episode 33
34 episode 34
35 episode 35
36 episode 36
37 episode 37
38 episode 38
39 Episode 39
40 episode 40
41 episode 41
42 episode 42
43 episode 42
44 Episode 44
45 Permintaan Adit
46 kenangan masa lalu
47 episode 47
48 Mulainya karma untuk Nadin
49 episode 49
50 episode 50
51 episode 51
52 episode 52
53 Hukuman untuk Anwar
54 episode 54
55 episode 55
56 Meninggalnya, Bu Fatma.
57 Anwar menyesal
58 Saka bertemu keluarga Gina
59 Persahabatan Gina dan Intan
60 Gina bertemu Vina
61 Cinta yang terpendam
62 episode 62
63 Anwar, manfaatkan situasi
64 Anwar, menemui anak-anaknya
65 Bertemu masa lalu
66 episode 66
67 Hilangnya Vina
68 episode 68
69 Kesetiaan Intan
70 episode 70
71 Pelajaran untuk Anwar
72 Penyesalan Anwar
73 Benarkah, Anwar Menyesal?
74 Sisi Lain Tiara
75 Terbukanya Perasaan Adit dan Saka
76 Langkah Pertama Dari Adit
77 Akhirnya ...
78 Ingin melihat kesungguhan mu
79 episode 79
80 Episode 80
81 Akhirnya, Ketahuan Juga
82 Rencana Nadin
83 Akhirnya Sah
84 Andai Kita Bercerai
85 Lakukan Lah
86 Menyelidiki
87 Episode 87
88 Kebaikan Adit
89 Kisah Intan
90 Episode 90
91 Ketahuan
92 Sasa Melahirkan
93 Niat Baru Nadin
94 Maafkan Ayah! Benarkah?
95 Dituduh Pelakor
96 Kemarahan Adit
97 Tentang Bara dan Sasa
98 Pengakuan Karin
99 Episode 99
100 episode 100
101 episode 101
102 Yuk, Pacaran
103 Episode 103
104 Nadin, Di Rumah Sakit Jiwa.
105 Burhan dan Anita
106 Anita Dan Burhan 2
107 Pernikahan Adit
108 ekstra part
109 Pengumuman Novel Baru
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bercerailah, Bunda
2
Pingsannya Vina
3
Menyerah lah
4
Kembalinya Nadin
5
episode 5
6
pertemuan kembali
7
Ceraikan aku
8
Bercerai
9
Episode 9
10
episode 10
11
episode 11
12
episode 12
13
episode 13
14
episode 14
15
Persiapan lamaran
16
maukah jadi pendampingku?
17
episode 17
18
episode 18
19
episode 19
20
episode 20
21
episode 21
22
Akhirnya sah
23
Gadis itu.
24
episode 24
25
episode 25
26
episode 26
27
episode 27
28
episode 28
29
episode 29
30
episode 30
31
episode 31
32
Episode 32
33
episode 33
34
episode 34
35
episode 35
36
episode 36
37
episode 37
38
episode 38
39
Episode 39
40
episode 40
41
episode 41
42
episode 42
43
episode 42
44
Episode 44
45
Permintaan Adit
46
kenangan masa lalu
47
episode 47
48
Mulainya karma untuk Nadin
49
episode 49
50
episode 50
51
episode 51
52
episode 52
53
Hukuman untuk Anwar
54
episode 54
55
episode 55
56
Meninggalnya, Bu Fatma.
57
Anwar menyesal
58
Saka bertemu keluarga Gina
59
Persahabatan Gina dan Intan
60
Gina bertemu Vina
61
Cinta yang terpendam
62
episode 62
63
Anwar, manfaatkan situasi
64
Anwar, menemui anak-anaknya
65
Bertemu masa lalu
66
episode 66
67
Hilangnya Vina
68
episode 68
69
Kesetiaan Intan
70
episode 70
71
Pelajaran untuk Anwar
72
Penyesalan Anwar
73
Benarkah, Anwar Menyesal?
74
Sisi Lain Tiara
75
Terbukanya Perasaan Adit dan Saka
76
Langkah Pertama Dari Adit
77
Akhirnya ...
78
Ingin melihat kesungguhan mu
79
episode 79
80
Episode 80
81
Akhirnya, Ketahuan Juga
82
Rencana Nadin
83
Akhirnya Sah
84
Andai Kita Bercerai
85
Lakukan Lah
86
Menyelidiki
87
Episode 87
88
Kebaikan Adit
89
Kisah Intan
90
Episode 90
91
Ketahuan
92
Sasa Melahirkan
93
Niat Baru Nadin
94
Maafkan Ayah! Benarkah?
95
Dituduh Pelakor
96
Kemarahan Adit
97
Tentang Bara dan Sasa
98
Pengakuan Karin
99
Episode 99
100
episode 100
101
episode 101
102
Yuk, Pacaran
103
Episode 103
104
Nadin, Di Rumah Sakit Jiwa.
105
Burhan dan Anita
106
Anita Dan Burhan 2
107
Pernikahan Adit
108
ekstra part
109
Pengumuman Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!