Suara tumpukan salju yang terinjak. Suara sesuatu yang cukup tebal di geret di atas putihnya salju. Tiupan angin dingin musim dingin menusuk sampai ke tulang. Tak lama sekumpulan kelopak mawar mulai berjatuhan dan berserakan di atas putihnya salju. Mereka menghentikan langkah mereka dan memperhatikan kelopak mawar yang berserakan. Wanita lavender mengambil sekelopak mawar itu. Ia tersenyum senang.
"Sepertinya game baru saja dimulai." Tak lama pusaran salju mengelilingi mereka. Kabut tebal mengelilingi mereka.
"Ara, sepertinya kedatangan kita disambut baik. Sungguh baik mereka mau menyambut kita seperi ini." Mereka semua tersenyum bahagia. Sudah lama mereka tidak merasa sesenang ini. Saat mereka membuka mata, mereka tidak bisa menemukan teman mereka.
"Ara, sepertinya kita sudah di buat berpisah." Wanita lavender memperhatikan sekelilingnya. Semua berwarna putih tak berujung.
"Sepertinya ini sistem pertahanan dari tempat ini." Wanita onyx menutup matanya sambil tersenyum bahagia.
"Sekarang kejutan seperti apa yang disiapkan oleh lawanku. Ini akan menjadi menarik." Pria dengan tanda bintang ungu di pipi kirinya tertawa kesenangan.
"Sekarang apa yang akan terjadi selanjutnya. Memikirkannya saja membuatku begitu bahagia." Sang kembaran menutup matanya. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Seseorang mendekati mereka. Suara angin mulai berputar-putar di sekitar wanita lavender diikuti sejumlah kelopak mawar. Gaun lavendernya mengikuti arus angin di sekitarnya. Harum mawar yang begitu wangi mengelilinginya. Suara tawa seorang wanita terdengar di seluruh penjuru tempat itu.
"Lihat ekspresi mu itu. Aku sangat suka dengan ekspresi mu. Sungguh anggun dan tangguh."
"Ha... mau sampai kapan kau terus bersembunyi dalam pusaran angin mu itu." Ia menatap kemana arah pusaran angin itu bergerak. Ia hanya memperhatikan dari tadi.
"Kau ini orang yang tidak sabaran, ya." Angin itu mulai mereda dan terlihat seorang wanita dengan anggunnya keluar dari pusaran angin di sertai kelopak mawar di sekelilingnya. Rambutnya yang bergelombang berwarna putih teratai yang di gradasi merah muda dari kelopak mawar merah muda tersapu dengan lembut oleh tiupan angin. Gaunnya begitu kembang dan menjuntai sampai kebawah. Perpaduan yang sempurna antara warna merah muda, biru langit dan hijau tosca membuat gaun itu terlihat sangat sempurna. Warna rhodochosite menghiasi kedua matanya. Tatapan penuh kelembutan, keanggunan dan berwibawa terpancar dari mata rhodochositenya.
"Kenapa kau begitu terburu-buru? Padahal aku hanya ingin memberikan sambutan yang hangat padamu, sebelum kau merasakan namanya neraka." Ia membuka matanya. Matanya seperti permata merah muda yang baru saja di poles. Menunjukkan keindahan yang tiada tara.
"Neraka, ya. Sayang sekali, tapi aku sudah sangat bosan dengan namanya neraka. Dan aku harus berterima kasih pada mu. Karna sudah berbaik hati menyambut diriku sebaik dan sehangat itu. Izinkan aku memperkenalkan diri. Aku adalah penguasa dari seluruh kontrak kematian. Sang dewi kontrak kematian, Hell. Senang bisa bertemu denganmu." Ia memberikan hormatnya pada lawan di depannya. Melihat keanggunan wanita musuhnya. Ia sangat tersanjung. Ia begitu senang bisa mendapatkan lawan seperti ini.
"Sungguh tidak sopan bagi diriku untuk tidak memperkenalkan diri setelah lawanku memperkenalkan dirinya. Izinkan aku memperkenalkan diriku. Aku adalah lambang dari kecantikan, masa muda, kesucian dan para gadis muda yang penuh energi dan gairah masa muda. Akulah sang dewi kecantikan dan masa muda, Omorfia. Senang bertemu dengan mu, Hell." Ia membalas penghormatan lawannya. Mereka saling lempar senyum yang sangat manis satu sama lain.
Omorfia mulai melangkahkan kakinya dengan anggun, seolah-olah ia sedang berdansa. Ia menutup matanya dan mulai berputar dengan sangat tenang dan anggun. Lalu membuka kedua matanya sambil mengangkat tangan kanannya. Gaunnya yang begitu kembang sekarang berubah menjadi baju perang yang simpel namun anggun. Perpaduan antara putih dengan lisir-liris merah muda di pinggiran jahitannya membuat baju itu tetap indah walau sekalipun itu baju perang. Kristal merah yang begitu berkilau mulai bergerak ke arah musuhnya.
Hell melompat menghindari. Kristal itu terus menyerang Hell. Lama kelamaan kristal itu mengelilinginya dan ingin mengurungnya di dalamnya. Ia mengeluarkan serangan untuk menghancurkan kristal-kristal itu. Tak lama hujan kristal menghujani darinya dengan cepat. Selagi ia terfokus pada menghindari serangan itu, Omorfia sudah menduga pergerakan lawannya. Ia merentangkan tangannya kemudian mendorong tangannya ke depan. Kristal merah berukuran besar meluncur ke arah lawannya. Hell berhasil menghindari semua serangan itu tapi sayangnya gaun lavendernya jadi rusak. Ia mendarat dengan mulus ke tanah. Ia memberikan tangannya. Gaun lavendernya kini sudah berubah menjadi gaun yang begitu simpel selutut berwarna lavender.
"Hebat juga, kau. Belum ada sejarahnya ada serangan yang mampu membuat gaunku rusak separah itu. Tidak, bahkan belum ada serangan yang mampu menyentuh gaun ku tadi." Ia sedang membersihkan gaunnya dari debu pertarungan.
"Wah, itu pujian yang begitu luar biasa bagi ku. Senang rasanya menjadi yang pertama bisa merusak gaun mu yang cantik itu. Tapi, itu belum ada apa-apanya. Selanjutnya aku tidak akan menahan diri." Mereka saling melempar senyuman yang begitu mematikan. Dan mulai menyerang serangan satu sama lain.
Di tempat wanita onyx. Ia sedang di hadapkan dengan wanita berambut dan bermata berwarna emerald. Wanita itu tersenyum manis. Wanita onyx hanya memperhatikan gerak-gerik wanita di depannya.
"Selamat datang di illusion marbles. Izinkan ku memperkenalkan diri. Aku adalah sang ibu pertiwi. Akulah perlambangan dari bumi dan seluruh kehidupan didalamnya. Akulah sang dewi bumi, Gi. Aku yang akan menjadi lawanmu. Tidakkan ku biarkan kau lolos dari sini." Ia memberi hormat pada lawannya. Ia sangat tersanjung mendapatkan penghormatan dari lawannya ini.
"Suatu kehormatan bagiku, karna sudah mau menyambutku dengan begitu ramah dan hangat. Baru kali ini dalam sejarah pertarunganku, lawanku memberikan rasa hormat begitu. Kau adalah lawan yang sangat terhormat. Dan aku merasa terhormat mendapatkan penghormatan seperti darimu. Sungguh memalukan bagiku jika, aku tidak memperkenalkan diriku. Aku sang pembawa malapetaka, Pandora. Senang bisa bertemu dengan mu, Gi sang dewi bumi." Mereka saling melempar senyuman. Senyuman penuh merendahkan, melecehkan, dan penghinaan. Tak lama mengayunkan kedua tangannya dengan anggun seolah-olah memberi salam yang hangat. Sebuah pusaran yang begitu kuat mengarah ke arah Pandora. Sebuah pusaran api yang begitu kuat.
Pandora hanya menghela napas dan mulai menghindarinya. Namun seberapa pun ia menghindari serangan itu, pusaran itu terus mengikuti dirinya. Tepat lawannya lagi disibukkan dengan serangan itu. Tanah mulai bergetar. Dan sesuatu yang besar sedang berusaha keluar dari dalam bumi. Pandora yang terus menghindari sambil memperhatikan apa yang terjadi. Tak lama sesuatu yang besar dan menggeliat mulai mengejar dirinya. Ia masih asik menghindar.
"Ho, tadi pusaran api. Sekarang akar-akar itu berusaha menangkapku. Ini serangan yang bisa dibilang sangat cerdik. Serangan ini sungguh membuat lawan kerepotan. Bahkan diriku sendiri. Tapi sayang sekali, serangan ini belum cukup menghentikan ku." Ia mengayunkan tangannya seolah-olah menebas sesuatu. Cahaya putih melesat dan memotong akar-akar itu dengan sekejap. Ia mendarat ke tanah dengan sayang mulus. Pusaran api itu berniat melahap ia saat ini.
Pandora menoleh ke arah pusaran itu mulai mendekat. Ia meniup pelan ke arah api itu. Pusaran itu menghilang setelah ia meniup pelan. Ia kembali menoleh ke arah lawannya dan tersenyum jahat. Lawannya hanya tersenyum lembut sambil menutup matanya. Sesuatu yang sangat cepat muncul tepat di bawah Pandora dan menahan dirinya di tempat itu. Ia terkunci di dalam bongkahan es yang begitu besar. Pandora hanya terus memperhatikan gerak-gerik lawannya itu.
" Ice rose of eternity." Semak mawar mulai menjalar dengan sangat cepat ke arah Pandora dan mulai membelit es yang menguncinya saat ini.
"The prick of the ice rose thorn." Duri-duri dari mawar yang tadinya membelit dirinya menusuk bagian tubuhnya sekarang. Cairan berwarna merah banyak yang menetes ke bawah. Memberikan kesan warna merah yang kuat di tempat yang semuanya serba putih itu. Perlahan kuncup bunga mawar es tadi perlahan mulai memerah dan mulai mekar. Gi tersenyum jahat.
"Oh, jadi begitu ya. Duri-duri yang menusuk tubuhku rupanya menyerap darahku. Itu terlihat bagaimana sekelompok kuncup mawar yang tadinya segitu es sekarang mulai memerah dan perlahan mulai mekar. Jadi serangan ini dapat membuat siapapun yang terkena serangan ini mati kehabisan darah." Ia dengan tenang berkata seperti dengan mata tertutup. Lawannya terkikik kesenangan dengan sangat anggun. Ia perlahan membuka mata emeraldnya. Warna emerald itu sungguh merendahkan dan penuh penghinaan pada siapapun yang ia tatap.
"Itu benar sekali. Tidak ku sangka kau tau tujuan sebenarnya tadi. Dan aku harus salut padamu, kau tetap diam walau sudah tau serangan itu mampu membunuhmu. Dan kau tetap tenang tanpa berbuat sesuatu untuk melepaskan dirimu dari tempat itu." Ia terkekeh melihat keadaan lawannya begitu. Pandora terkekeh sejenak. Ia tidak marah melihat lawannya merendahkan dirinya begitu. Melihat lawannya terkekeh, Gi menatapnya dengan tatapan yang serius.
"Hmmm. Apa kau pikir aku akan mati begitu saja? Kau pikir serangan ini cukup membunuhku, ha? Harus aku akui serangan itu cukup menyakitkan dan mampu melukaiku separah ini. Tapi aku tidak akan mati karna kehabisan darah, kau tau.Apa kau sudah lupa aku ini siapa, ha? Bagaimanapun aku ini adalah seorang dewi. Dewi pembawa malapetaka." Ia menggerakkan tangannya yang terkunci dalam bongkahan besar es. Terdengar suara retakan dari bongkahan itu. Dan... bongkahan itu kini hancur berkeping-keping. Bunga mawar merah yang mekar karna serapan darah Pandora. Kini mulai berjatuhan disekitarnya. Jatuh dan menghiasi daerah tempat jatuhnya bongkahan es itu.
Gi mundur selangkah. Ia tidak percaya pemandangan apa yang ia lihat. Duri semak mawarnya mampu dihancurkan berkeping-keping dengan begitu mudahnya. Ia berusaha tetap tenang.
"Permainan sudah berakhir sampai disini. Sekarang waktunya untuk pertarungan yang lebih serius. Aku tidak akan menahan diri lagi. Dan aku berharap kau juga akan serius bertarung denganku mulai detik ini. Jangan kecewakan, Gi, sang dewi bumi." Ia menatap lawannya seolah siap menerkam mangsanya kapan saja dia mau. Gi merasakan tekanan yang begitu besar dari tatapan maut lawannya. Ia dengan mengayunkan tangan kanannya, seketika tempat itu yang tadinya serba putih sekarang jadi seperti tempat terbuka dikelilingi pepohonan, tanaman semak disekitarnya. Seperti tempat terbuka di tengah hutan rimbun.
"Keluarlah pendampingku, sang penjaga keseimbangan bumi. Isorropia." Tanah mulai bergetar begitu hebat. Suara retakan tanah terdengar dengan sangat jelas. Sesuatu yang sangat besar merayap keluar dari dalam tanah. Pecahan tanah melayang di angkasa, suara raungan yang memecahkan gendang telinga memenuhi daerah itu. Hewan yang sangat aneh keluar kini ada di tengah-tengah mereka. Kepalanya perpaduan antara harimau putih dengan surai emas khas singa jantan di sekeliling kepalanya. Badannya seperti kuda jantan yang tangguh dengan kaki-kaki cheeta yang kuat dan juga lincah. Di punggungnya terdapat sayap elang yang kuat menantang hembusan angin di angkasa lepas. Ekornya Seekor ular yang sangat besar. Badan ular itu layaknya ular piton dengan kepala berbentuk sendok seperti ular cobra lengkap dengan bisa yang begitu mematikan ciri khas ular cobra. Monster itu menatap tajam kearah Pandora.
Di tempat lain. Hell dan Omorfia asik beradu pedang satu sama lain. Mereka sama sama memiliki serangan dan pertahanan yang kuat. Mereka begitu terbawa suasana menjatuhkan salah satu dari mereka. Sekarang tinggal masalah waktu untuk menetukan siapa yang akan tumbang duluan. Beberapa lama begitu asik beradu pedang akhirnya Omorfia terduduk di tanah. Ia tidak menyangka lawannya ini punya stamina yang begitu luar biasa. Seolah-olah ia tidak memiliki batas stamina. Ia mengusap darah dari daerah mulutnya dan mulai bangkit.
"Hebat juga, kau Hell. Aku belum pernah melawan dengan orang seolah-olah tidak punya batas stamina. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku sangat menikmati pertarungan ini. Aku tidak akan melupakan pertarungan hari ini. Pertarungan ini begitu hebat."
"Aku juga, Omorfia. Kau orang baru yang bisa menandingi diriku selama ini dari seluruh pertarungan yang sudah aku lalui. Pertarungan ini sungguh luar biasa. Setiap seranganmu. Setiap gerakanmu begitu luar biasa. Kau menunjukkan seperti apa itu dewi kecantikan yang penuh keanggunan dan penuh kewibawaan. Walaupun begitu kau juga begitu dalam pertarungan ini. Kau seperti dewi perang saja. Mungkin kau lebih pantas dapat julukan sebagai dewi kecantikan dengan keanggunan yang tiada dengan jiwa seorang ksatria sejati."
"Ara, terima kasih atas pujian mu itu, Hell. Aku merasa tersanjung dengan pujianmu itu. Kau sungguh baik, Hell. Kau tidak seperti yang aku pikirkan. Walaupun kau itu dewi kontrak kematian, namun kau sungguh baik hati, keanggunan, kelembutan, dan penuh kasih sayang. Maaf sudah memikirkan dirimu yang tidak-tidak. Maaf kan aku, Hell. Dan bagaimana kalau kita mulai masuk babak penentuan. Babak siapa yang akan terus bertahan dan siapa yang akan tumbang disini."
"Ara. Boleh juga itu, Omorfia. Tapi sebelum itu terjadi. Izinkan aku mengucapkan terima kasihku sudah disanjung seperti itu. Dan kau tidak perlu minta maaf, Omorfia. Sudah wajar orang akan berpikiran yang aneh-aneh tentangku. Mengingat aku adalah dewi kontrak kematian. Aku tak lebih seperti dewi pencabut nyawa. Dan ya. Sudah waktunya menentukan siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan tumbang. Tenang saja, Omorfia. Aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya akan membuat mu tidak sadarkan diri saja."
"Ara, kau sungguh baik, Hell. Kau adalah dewi kematian yang kedua memiliki sifat yang begitu lembut dan penuh kasih sayang."
"Lalu siapa yang pertama?"
"Dia adalah temanku. Sang penjaga alam kematian, Diakoptis."
"Oh sungguh kehormatan bagiku bisa bertemu dan bertarung dengannya." Mereka saling melempar senyum bahagia dan mulai menerjang satu sama lain. Bunyi pedang saling beradu memenuhi tempat itu. Berusaha menyerang celah lawannya dan mempertahankan pertahanan mereka agar tidak bobol dari serangan lawan. Omorfia terdorong kebelakang, Hell berusaha mengambil kesempatan emas untuk menyerang lawannya saat ini. Tapi sayang, Ia tidak akan begitu saja membiarkan lawannya menyentuhnya saat dia penuh dengan celah seperti ini.
"Rose bush." Semak mawar mulai menjalar dan menyerang Hell. Ia memotong semak mawar yang menghalangi jalannya dengan cepat. Kelopak-kelopak mawar berguguran jatuh ke tanah. Semak itu sungguh menjengkelkan. Setiap kali, Hell memotong mereka. Mereka dengan cepat tumbuh di tempat yang dipotong tadi. Dan itu sungguh memperlambatnya mendekati Omorfia. Ia kehilangan kesempatan emas untuk menyerang balik.
"Red Rose Mist." Angin mulai bertiup dengan kencang di sekeliling Hell. Kelopak-kelopak mawar yang berguguran mulai berterbangan mengikuti arah angin berhembus. Perlahan sekitarnya mulai menjadi merah muda. Ketajaman pandangannya mulai menurun. Melihat kesempatan emas yang berhasil ia buat, tubuh Omorfia mulai melebur seperti pusaran angin merah muda itu. Ia bersatu dengan pusaran angin itu.
Sekarang jarak pandang Hell hanya sebatas sekeliling kabut merah muda itu. Melihat lawannya jadi lengah, Omorfia menyerang Hell tanpa menunjukkan wujud manusianya. Saat ini dia menyerang Hell dengan wujud spiritualnya. Ia terus memberikan serangan pada Hell dari segala arah dengan cepat. Pertama Hell kepayahan menangani semua serangan itu. Namun setelah ia tau pola serangan yang diberikan pada lawannya dan bagaimana cara kerjanya. Ia hanya perlu menunggu waktu untuk membalas semua serangan itu.
Sekarang tubuhnya dipenuhi luka sayatan di sekujur tubuhnya. Ia dengan tenang menerima setiap serangan yang lawannya berikan pada dirinya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya. Sebuah senyuman penuh kebahagiaan. Sebuah senyuman yang sudah lama tidak ia bisa tersenyum seperti ini. Jika ia ditanya sekarang, kapan ia terakhir tersenyum sebahagia ini. Ia pun tidak bisa menjawab dengan pasti kapan ia merasakan hal ini. Ia sudah lama sekali sudah tidak merasakannya. Tapi satu hal yang pasti ia merasakan hal waktu bersama sang adik yang begitu ia sayangi. Waktu yang ia habiskan bersama sang adik adalah waktu ia tersenyum sebahagia ini. Dan sekarang ia bertemu dengan orang bisa dibilang kayak sang adik. Walau kekuatannya belum ada apa-apanya dibandingkan adiknya. Namun perasaan ini sama seperti ia menghabiskan waktu dengan adiknya.
Ia mengeluarkan senjata pemungkas andalannya. Senjata yang bisa memisahkan antara raga dengan jiwa hanya sekali serang jika terkena lawannya. Death Scyth-nya. Tepat serangan itu datang dari depannya, ia menahan serangan Omorfia menggunakan death scyth-nya. Mereka saling memberi senyuman bahagia.
"Omorfia, terima kasih. Terima kasih sudah memberiku sebuah pertarungan yang begitu hebat ini. Aku sungguh bahagia. Pertarungan kita ini mengingatkan ku pada adu pedang dengan adikku. Walaupun pertarungan ini belum ada apa-apanya dengan adu pedang dengan ku. Tapi..., perasaan yang aku rasakan sama seperti saat itu. Terima kasih sudah mengingatkan ku akan kenangan yang begitu indah yang hampir ku lupakan."
"Ya, Hell. Aku juga ingin berterima kasih padamu, Hell. Terima kasih sudah bertarung denganku dengan begitu luar biasa seperti ini. Pertarungan ini mungkin adalah pertarungan yang paling hebat dalam sejarah pertarunganku. Aku senang bisa bertemu lawan yang begitu tangguh namun, penuh kelembutan, dan keanggunan sepertimu, Hell." Tatapan lembut antara sepasang permata ruby dengan sepasang rhodochosite bertemu dengan penuh kebahagiaan, saling sayang. Mereka menunjukkan wajah bahagia satu sama lain. Mereka sangat bahagia walau sekujur tubuh mereka penuh luka sayatan.
Mereka terdorong ke belakang karna gaya yang dihasilkan gesekan dua senjata artefak mereka. Terjadi kembali pertarungan antara mereka. Hell dengan lincahnya memainkan death scyth-nya. Membuat jarak diantara mereka. Omorfia sedikit kualahan dengan pergerakan sabit milik Hell yang begitu lincah. Hampir tidak memiliki celah untuk menyerangnya. Jangankan menyentuhnya, mendekat saja ia kepayahan. Ia kepayahan menutup celah diantara mereka berdua. Ia harus begitu berhati-hati dengan setiap gerakan death scyth Hell.
Sementara Hell dengan santai memainkan death scyth-nya dan membuat jarak diantara mereka. Sekarang ia mampu menyerang lawan dan mempunyai pertahanan yang kuat. Cukup lama Omorfia hanya menangkis dan menghindari serangan death scyth. Sekarang ia melihat celah untuk menyerang Hell. Dan, boum. Tanah itu hancur dapat serangan dari death scyth Hell. Omorfia berhasil menghindari serangan yang mematikan itu tepat waktu.
Rupanya Hell sengaja membuat celah itu untuk memberikan serangan pamungkas tadi. Omorfia mundur beberapa langkah. Ia mengatur napasnya yang sudah tak beraturan. Ia mulai kehabisan tenaga. Jika pertarungan ini terus berlanjut. Maka, tak lama lagi ia akan tumbang. Ia harus mengakhiri pertarungan ini segera. Ia harus mengakhiri pertarungan ini dengan satu serangan pamungkas yang luar biasa. Mengingat lawannya adalah dewi kontrak kematian. Satu serangan pamungkas yang mampu menumbangkan lawannya ini.
Ia menyayat tangannya. Darah mengalir deras dari luka sayatan itu. Ia membiarkan darah itu mengalir ke bawah dan mengenai pedangnya itu. Setelah pedang itu mulai tertutupi dengan darahnya. Ia mengangkat tinggi-tinggi pedangnya keatas kepalanya. Cahaya merah muda mulai berkumpul di mata pedangnya. Angin mulai berhembus dengan kuat. Kelopak-kelopak mawar yang berserakan di tanah mulai terbang mengikuti ke arah pusaran angin. Semua energi elementalnya mulai terpusat di mata pedangnya. Sekarang mata pedangnya itu ia arahkan ke bagian vital lawannya. Sebuah serangan pamungkas siap diluncurkan ke arah musuhnya.
"BLOOD ROSE MIST STROM." Ia mendorong pedangnya ke arah musuh dengan tenaga yang tersisa. Semua energi yang berkumpul di mata pedangnya tadi. Kini membentuk sebuah pusaran tornado merah muda horizontal ke arah lawannya dengan sangat kuat dan sangat cepat. Melihat serangan pamungkas Omorfia datang menghampirinya, ia mengangkat death scyth-nya. Sebuah energi ungu gelap berkumpul ke dalam dirinya dan death scyth-nya. Mata merah yang ada di death scyth-nya menggeliat.
"Terima kasih sudah bertarung sehebat itu denganku, Omorfia. Aku merasa terhormat bisa menerima serangan pamungkas mu yang hebat ini. Sebagai ucapan terima kasihku, akan aku hancurkan serangan pamungkas mu dengan serangan pamungkas yang sama hebatnya dengan ini. Death storm." Ia menebas serangan pamungkas Omorfia dengan serangan pamungkasnya. Sebuah pusaran badai hitam berjalan dan menghantam pusaran badai marah muda Omorfia.
Hantaman kedua badai itu menimbulkan hembusan angin yang sangat-sangat kencang. Rambut dan baju mereka beterbangan mengikuti hembusan angin kuat itu. Pusaran badai hitam itu berhasil menghancurkan serangan milik Omorfia dan melesat ke arahnya sekarang. Ia terpental jauh. Ia membuka mata rhodochosite-nya yang indah. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya. Sayangnya usahanya itu nihil. Tubuhnya mati rasa setelah mendapat serangan tadi.
Suara langkah kaki terdengar dengan sangat jelas. Memecahkan keheningan di tempat itu. Hell berjalan dengan sangat anggun walau sekujur badannya sudah penuh luka. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Sebuah rasa sakit yang sangat nikmat. Ia menghampiri Omorfia. Ia duduk tepat di samping Omorfia terbaring tak berdaya. Ia tersenyum manis padanya. Tatapan ruby-nya penuh rasa senang, bahagia. Tak ada sedikitpun rasa menghina lawannya yang sudah terbaring tak berdaya. Omorfia membalas senyuman manis lawannya itu dengan senyuman hangatnya. Ia harus mengakui kekalahan pada lawan yang ada di depannya sekarang. Ia begitu kuat dan tangguh.
"Omorfia, terima kasih atas pertarungan tadi. Aku sangat menikmatinya."
"Aku juga, Hell. Kau sungguh luar bisa kau tau itu. Aku sangat menikmati setiap detik, setiap luka dari pertarungan kita tadi. Aku sangat senang. Mungkin ini pertama kalinya, aku merasa sangat bahagia dalam sejarah pertarunganku. Hell."
"Aku juga sama, Omorfia. Berkat dirimu, aku bisa mengingat kembali momen-momen yang sangat berharga yang hampir terlupakan dari ingatanku. Baru inilah, aku sangat menikmati pertarungan ini dalam sejarah pertarunganku, Omorfia."
Mereka saling tertawa satu sama lain. Walau kondisi mereka sangat buruk saat ini. Mereka menatap ke atas. Hanya ada putih penuh kehampaan diatas sana. Hell menghela napas kecil, lalu menatap lawannya.
"Seperti yang aku katakan tadi. Aku tidak akan membunuhmu, Omorfia. Aku hanya akan membuatmu tak sadarkan diri saja. Sudah waktunya aku pergi ke tempat pertarungan selanjutnya. Dan sebentar lagi, kau tak akan sadarkan diri. Sampai jumpa, Omorfia. Jaga dirimu. Aku berharap kita bisa berjumpa lagi. Tapi tidak untuk saling bertarung. Melainkan untuk saling berbagi senyum dan keceriaan."
"Hmm. Apa yang kau bilang benar, Hell. Sekarang aku mulai kehilangan kesadaranku sedikit demi sedikit. Sampai jumpa, Hell. Jaga dirimu. Aku juga berharap kita bisa bertemu bukan sebagai lawan yang harus saling melukai melainkan, sebagai kawan yang saling berbagi kebahagiaan." Tak lama setelah mengatakan itu. Omorfia benar-benar kehilangan kesadarannya. Hell menatap lawan yang sudah ia anggap sebagai temannya itu dengan tatapan senduh. Di hati kecilnya ia berharap perkataan Omorfia akan menjadi kenyataan suatu saat nanti. Kemudian ia bangkit dan melanjutkan perjalanannya. Pertarungan belum berakhir. Ia harus segera mengakhiri ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments