Chapter 8

Beberapa hari setelah kejadian itu. Luka akhirnya kembali masuk sekolah. Luna saat itu hanya termenung seorang diri di mejanya. Luka masuk kelas, dan tidak orang menyambutnya. Bahkan setelah ia mengalami insiden yang begitu aneh. Ya itu sangat wajar. Mayoritas teman sekelasnya melihat dirinya lebih buruk dari sampah. Ia diskriminasi karna tidak memiliki kekuatan elemental. Ia melihat ke meja Luna duduk. Luna terlalu asik termenung sampai-sampai tidak menyadari Luka sudah kembali bersekolah.

"Lagi mikirin apa itu? Mikirin biaya makan anabul-anabul tersayang ya tuh?" Luka meledeki Luna dari tempat duduknya.

"Jangan ganggu aku. Aku lagi tidak mau diganggu dulu."

"Heh, macam banyak kali anaknya. Emangnya berapa anaknya, bi?"

"Apaan lah aku lagi mikirin Luka, tau. Udah beberapa hari setelah kejadian itu."

"Emangnya ada apa denganku? Oh terima kasih ya bi udah mengkhawatirkan diriku." Luka mengatakan itu sambil tertawa kecil. Ia penasaran seperti apa ekspresi sahabatnya satu ini jika tahu kalau dia menjahilinya.

"Aku bilang aku enggak mau diganggu. Kau tuli ya. Kenapa kau memanggilku bi? Emangnya wajahku ini sudah seperti bibi ya." Luna sangat sangat kesal. Ia mencari asal suara yang meledeki dirinya. Ia terbelalak melihat siapa yang meledekinya.

"Luka. Kau kembali." Luna langsung bangkit dan memeluk sahabatnya itu. Luka hanya bisa tersenyum dipeluk sahabatnya itu. Luna sangat senang akhirnya Luka bisa bersekolah lagi. Ia hampir menangis saking senangnya.

...☆☆☆☆☆...

Sekarang jam olahraga. Murid-murid berbaris di lapangan. Hari ini ada ujian lari untuk melihat siapa yang punya waktu paling singkat mencapai garis finis. Luka baru saja selesai melakukannya. Ia duduk dipinggir lapangan dengan napas terengah-engah. Luna menghampirinya.

"Kau tidak papa, Luka? Napasmu sepertinya sesak."

"Hah, tidak papa kok. Hanya sedikit kelelahan saja. Sebenarnya sebelum pulang, dokter bilang aku tidak boleh terlalu capek. Menyuruhku menghindari aktivitas berat. Jantungku mudah kelelahan sekarang."

"Ini tidak seperti dirimu, Luka. Kau bukan tipe orang seperti itu loh. Sebenarnya apa yang terjadi waktu kau hilang itu? Butuh waktu yang sangat lama menemukan dirimu dalam hutan. Apa yang terjadi, Luka?"

Luka hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan Luna. Ia tidak bisa memberitahu Luna apa yang terjadi padanya. Tentang mereka. Dan tentang apa yang mereka perbuat pada dirinya. Ia sendiri tidak yakin itu nyata atau ketakutannya saja pada mereka. Ia tidak boleh memberitahukan Luna apa pun yang terjadi. Ia takut Luna tidak bisa menerimanya. Jangankan Luna, ia sendiri tidak bisa percaya dan menerima apa yang ia lihat waktu tertidur itu nyata atau hanya sekedar mimpi buruk belakang.

"Luka, apa yang terjadi waktu itu? Katakan padaku, Luka." Luna menggoyangkan bahu Luka. Luka tersadar, ia tersenyum. Senyuman terpaksa.

"Tidak terjadi apa-apa kok. Aku cuman tergelincir saja dan jatuh ke dalam jurang cukup dalam. Dan aku terluka dan tidak sadarkan diri. Itu saja."

"Bohong. Pembohong. Kau saja ditemukan sama miss Rose tak sadarkan diri dekat aliran sungai. Apa yang sebenarnya terjadi, Luka? aku tau kau pasti lagi menyembunyikan sesuatu. Menyembunyikan fakta dibalik insiden itu." Mata Luna mulai berkaca-kaca. Luka bingung harus bersikap seperti di depan Luna.

"Oh ya, aku tidak ingat itu. Kau tau kan Luna dokter bilang kepalaku sempat terbentur benda keras. Karna terbentur itu, ingatanku sedikit kacau. Hanya sedikit kacau." Luna berusaha meyakinkan Luna bahwa ia baik-baik saja. Luna tampak khawatir namun ia berusaha untuk mempercayai Luka.

...☆☆☆☆☆...

Ruangan itu dipenuhi alunan musik yang sangat merdu. Terlihat dua orang begitu asik bermain papan catur.

"Saat ini lawan kita sudah memajukan satu per satu pion mereka." Pria itu memajukan poinnya. Pria itu memiliki tanda bintang berwarna ungu di pipi kirinya. Ia bersandar kursinya kemudian melipat tangannya.

"Saat ini kita juga mulai menggerakkan pion-pion kita. Tapi yang membedakan kita dengan mereka adalah cara menggunakan pion-pion itu." Wanita lavender itu juga memajukan pion miliknya. Ia melipat kakinya dengan anggun.

"Aku sangat setuju denganmu. Mereka menggunakan pion mereka untuk menyelidiki tentang kita. Sementara kita menggunakan pion kita untuk mengelabui mereka. Mereka mulai berpikir tempat itu adalah markas utama kita. Mereka mulai masuk ke perangkap kita." Pria memajukan satu persatu pion miliknya.

"Dan jangan lupakan, kita menggunakan pion kita untuk mengaktifkan bidak menteri kita. Dengan itu kita lebih unggul dalam hal memanfaatkan pion-pion tersebut." Wanita itu memajukan poinnya dan mengalahkan pion pria itu.

"Kau benar. Tapi butuh waktu yang cukup lama hingga ia bisa bergerak bebas seperti dulu." Pria itu memajukan salah satu kudanya.

"Tentu saja aku tau itu. Tapi kau tidak perlu khawatir dengan itu. Aku yakin dia bisa kembali menjadi dirinya yang kita kenal selama ini dalam kurun waktu sepuluh tahun. Dan itu bisa lebih cepat lagi. Semuanya tergantung keadaan." Wanita itu mulai memajukan kudanya juga.

"Dan tak lama dari setelah itu perang tenma akan segera dimulai. Ini yang kedua kalinya perang tenma dimulai." Mereka terus asik memainkan bidak mereka masing-masing.

"Iya. Terakhir kali aku ingat perang itu terjadi di zaman kita para dewa tinggal. Dimana belum ada apa-apa selain kita saat itu. Dan perang itu sudah selesai."

"Api peperangan kali ini karna insiden dua ribu tahun yang lalu."

"Tragedi dua ribu tahun yang lalu itu sungguh sebuah malapetaka bukan hanya untuk manusia. Tapi untuk kita para dewa juga."

"Kau benar. Tapi ada hal yang membuatku jauh lebih tertarik daripada soal perang tenma."

"Kau penasaran tentang rencana apa yang mereka siapkan untuk mengahadapi kita."

"Benar sekali. Aku tidak sabar kejutan apa yang mereka siapkan untuk kita. Dan kita juga harus menyiapkan kejutan yang menarik untuk mereka juga."

...☆☆☆☆☆...

"Tuan Carion, seperti yang tuan duga. Sepertinya, tempat itu adalah markas mereka. Ada sekelompok orang datang saat kita mengawasi tempat itu." Salah satu bawahan Carion melaporkan kejadian di tkp. Carion tersenyum puas. Ia merasa kalau mereka sudah menemukan tempat persembunyian mereka.

"Sekelompok orang seperti apa yang datang kesana?" Sofia dengan tenang memastikan kondisi di tkp. Ia tidak mau ada satupun informasi yang berharga tertinggal.

"Saat kami melawan mereka, kami berhasil menghancurkan. Tapi..."

"Tapi? Tapi apa?" Carion penasaran apa yang terjadi di tkp. Sofia menyipitkan kedua matanya.

"Setiap kali kami menebas tubuh mereka, tubuh mereka kembali semula. Seolah serangan kami tidak pernah terjadi." Ia menjelaskan tentang kemampuan musuh.

"Kembali semula? Regenerasi tak terbatas? kemampuan memanipulasi ruang dan waktu? Atau kemampuan memutarbalikkan keadaan?" Carion menembak segala kemungkinan kemampuan musuh. Sofia memejamkan matanya. Berpikir dalam diam dan mencari kemungkinan yang paling terdekat dengan fakta yang ada saat ini.

"Atau mereka itu Undead. Pasukan Undead yang dikirim lawan untuk mengahadapi pasukanmu, Carion." Diakoptis menyambung percakapan itu. Mereka bertiga melirik Diakoptis yang berjalan memasukan ruangan itu. Ia duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Ia meminum teh yang sudah di sediakan untuk dirinya.

"Undead kata mu! Tapi bukankah undead hanya tunduk pada sang penguasa alam dunia orang-orang mati." Carion kaget mengetahui fakta yang diberikan padanya. Sofia membuka matanya. Ia mengambil cangkir teh nya lalu meminumnya.

"Akhirnya semuanya potongan puzzle yang hilang ditemukan juga. Sekarang semua informasi yang kita dapat saling berhubungan satu sama lain. Itu menjelaskan kenapa pasukan Carion bisa dikalahkan seperti itu." Sofia menaruh cangkir teh nya ke meja. Ia melipat tangan dan kakinya dengan sangat anggun.

"Lalu apa wanita kurang ajar itu yang mengalahkan prajurit ku seorang diri, juga seorang undead." Carion mulai menerima fakta yang mengejutkan ini. Ia mulai mengerti sekarang siapa sebenarnya musuh mereka. Carion, Sofia dan Diakoptis tersenyum. Mereka mulai menyusun semua bagian-bagian puzzle yang sudah mereka kumpulkan. Akhirnya semuanya terasa begitu jelas dan logis.

"Sejak awal musuh kita adalah sang penguasa alam dunia orang mati. Dan ada kemungkinan atasan wanita itu juga salah satu dari penguasa di sana." Diakoptis sudah menyusun semua fakta yang berhasil mereka kumpulkan. Carion sangat senang dan bersemangat mendengar siapa musuh mereka sebenarnya.

"Tapi ini aneh. Kita memang berhasil mengungkap siapa jati diri mereka. Tapi tujuan dan alasan mereka datang ke dunia ini masih belum terungkap. Dan salah satu bawahanku melaporkan mereka sepertinya tertarik pada seorang anak laki-laki. Apa sebenarnya tujuan mereka kesini? Dan apa yang mereka inginkan pada seorang anak laki-laki di dunia ini? Semuanya masih begitu kabur." Sofia mengeluh tidak dapat memecahkan tujuan lawan mereka ke sini. Ke dunia ini.

"Sudah Sofia. Semuanya akan terjawab satu per satu nantinya. Kau tidak perlu berkecil hati seperti itu. Yang paling penting sekarang, kita bisa lebih berhati-hati menyusun rencana kita untuk menghadapi mereka." Diakoptis menghibur sang dewi kebijaksanaan itu. Sofia tersenyum mendengar Diakoptis menghibur dirinya seperti itu.

...☆☆☆☆☆...

Malam yang begitu cerah. Cahaya bulan purnama dengan lembut bersinar di angkasa. Langit di hiasi oleh ribuan bintang yang berkelap-kelip di angkasa. Angin malam berhembus dengan lembut. Malam yang sangat sempurna.

Di tempat seperti reruntuhan gereja. Seorang berjubah masuk ke reruntuhan itu. Ia masuk ke salah satu yang ada disana dan mulai menelusuri tangga. Ruang bawah tanah itu sangat terang dan dipenuhi suara kebisingan orang lalu lalang. Seorang berjubah itu menelusuri ruang bawah tanah ini. Ia pergi ke salah satu toko di ruangan ini.

"Aku ingin menyewa jasa pembunuh bayangan." Orang berjubah itu berbicara pada sang penyedia jasa.

"Hei tuan, anda tau berapa bayaran menyewa pembunuh bayangan. Aku tidak yakin anda mampu membayar harganya." Orang berjubah langsung melemparkan sekantung berisi uang. Pria itu terkaget melihat sekantung penuh uang. Ia langsung masuk ke dalam toko. Tak lama kemudian, seorang wanita cukup tinggi keluar dari toko. Ia memiliki tatapan elang yang mampu mengintimidasi lawan-lawannya.

"Jadi, apa yang ingin aku lakukan untuk dirimu?" Wanita itu bertanya dengan nada yang sangat dingin. Orang berjubah tersenyum dibalik penutup kepalanya.

"Mudah saja. Aku ingin kau menghabisi dua anak kecil."

"Anak kecil? Lelucon apa yang coba kau mainkan ha? kalau cuman itu, kau bisa membayar pembunuh bayaran yang lain. Tidak perlu kau sampai menyewaku segala." Wanita tersenyum geli. Ia heran kenapa orang ini rela bayar mahal dirinya untuk membunuh dua anak kecil. Ia tidak habis pikir.

"Dua anak kecil itu bukan anak kecil sembarangan. Mereka anak-anak Marquis yang sangat terkenal hebat itu. Dan aku ingin kau menghabisi mereka dalam bayangan. Tentu sebagai anak-anak Marquis dikelilingi oleh banyak pengawal. Ditambah penjagaan rumah mereka sangat ketat. Karna itulah aku ingin kau menggunakan sebagai pembunuh bayangan."

"Jadi kau ingin aku menghabisi mereka seperti apa?"

"Soal itu terserah sama mu. Yang terpenting adalah jangan sampai kau ketahuan sama polisi militer kalau kau yang melakukannya."

"Jadi kau membebaskanku cara menghabisi mereka. Ini menarik. Aku terima." Saat ini hati wanita itu sangat bahagia. Ini pertama kalinya ia menghabisi mangsanya sesuai keinginannya sendiri.

"Jangan lupa foto dan identitas anak-anak itu. Kapan aku harus beraksi?"

"Akan kuberitahu lebih lanjut nanti. Sekarang kau nikmati saja uang mu itu. Bersenang-senanglah dan habisi uang itu. Buat dirimu bahagia dulu sebelum misimu dimulai."

Terpopuler

Comments

iza

iza

Ga nyangka bisa terkena hook dari karya ini. Jempol atas buat author!

2023-07-26

0

Luke fon Fabre

Luke fon Fabre

Makin ketagihan.

2023-07-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!