Chapter 13

"Teknik jarum darah." Tiba-tiba dari langit turun sesuatu yang begitu cepat, kecil dan tajam menghantam para prajurit itu. Mereka jatuh ke tanah. Tak ada lagi yang masih bernapas diantara mereka setelah mendapat serangan barusan. Wanita lavender dengan anggun membersihkan bawah gaun ungunya dari abu dan debu tempat pertarungan itu. Tak ada seorang pun selain dia yang masih hidup di tempat itu.

"Hanya para keronco saja. Ini sangat membosankan. Apa tidak ada lawan yang sebanding apa? Sudah cukup lama aku tidak bertarung. Dan setelah sekian lama, cuman begini saja. ...Aku harus mencari kegiatan yang bisa menghilangkan rasa bosanku ini. Tapi... Apa?" Ia mengeluh pada pertarungan barusan. Bahkan itu belum layak disebut sebagai sebuah pertarungan. Ia dengan anggun melangkahkan kakinya. Ia berjalan menelusuri hutan yang sangat minim cahaya. Tampilannya yang didominasi ungu gelap membuat ia hampir menyatu di kegelapan hutan itu. Suara daun yang diinjak oleh sepatu high heels nya. Membuat suasana hutan itu menjadi semakin horor.

...☆☆☆☆☆...

"Apa kau katakan? Mereka dimusnahkan? Bagaimana bisa?" Carion meninju singgasananya. Ekspresinya begitu keras. Amarah menguasai dirinya saat ini. Perasaan kesal, marah, dan tak percaya dengan apa yang terjadi medan tempur. Semua perasaan yang campur aduk memenuhi dirinya sekarang. Ia tak percaya sebagian besar dari tiga kelompok prajurit yang ia turunkan dihancurkan. Ditambah lagi ketiga komandan kelompok itu berhasil dikalahkan.

"Ceritakan apa yang terjadi?" Sofia begitu penasaran seberapa kuat musuh yang mereka lawan hingga tiga komandan paling kuat bisa dikalahkan. Tiga prajurit mulai menceritakan semua kronologi yang terjadi. Mereka menceritakan satu persatu yang terjadi di masing-masing pasukan.

"Kokkina Matia Elampsan. Si mata merah menyala-nyala. ... Katastrofi. Si Kehancuran. Dan... Kataktitis Olon. Si Penakluk semua orang." Sofia dengan sangat tenang menterjemahkan setiap julukan satu per satu tanpa melepaskan pandangannya dari buku yang sedang ia baca.

"Sebenarnya seberapa kuat musuh kita kali ini?" Gi bertanya-tanya pada diri sendiri. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa empuk. Ia menghela napas kecil. Ia mulai bingung tindakan seperti apa yang harus mereka ambil kedepannya.

"Sepertinya rencana kita kali ini gagal. Tidak ku sangka mereka menyadari tujuan asli rencana kalian." Emporia menyayangkan rencana kali ini gagal total. Ia menghela napas berat.

"Apa kali ini. Dalam pertempuran kali ini. Lawan kita mulai mengeluarkan kartu as nya satu per satu, kah?" Dimiourgos mempertanyakan seberapa kuat lawan mereka dan strategi apa yang dipakai mereka kali ini. Pertandingan adu strategi semakin panas. Lawan mereka mulai bergerak cepat membereskan dan menggagalkan rencana sempurna mereka kali ini dengan sekali serang.

"Apa mereka juga Undead, Diakoptis? Hanya satu orang saja bisa meluluh-lantakkan pasukan elit Carion. Dan terlebih lagi, para komandan dikalahkan dengan begitu mudah. Aku mulai berpikir mereka menganggap kita tak lebih kumpulan orang bodoh, dan lemah." Omorfia mengungkapkan spekulasinya dengan mempertimbangkan situasi sampai saat ini. Ia menatap kebun mawar berbagai warna miliknya yanv terawat sempurna. Lalu menghela napas. Suaranya dipenuhi keputusasaan.

"Kau benar Omorfia. Mereka itu Undead. Undead kelas tinggi. Jika dilihat dari kemampuan bertempur mereka sehebat itu. Besar kemungkinan mereka salah satu dari tangan kanan penguasa alam kematian yang sedang kita lawan saat ini. Dan tidak menutup kemungkinan juga, mereka adalah sang penguasa alam dunia orang mati itu sendiri." Diakoptis mengatakan dengan tatapan yang sangat dingin. Ia melipat kakinya dengan penuh keanggunan.

"Itu sangat mungkin. Untuk masalah kali ini, kita punya dua kemungkinan yang paling mungkin dan paling logis. Pertama, Mereka itu bisa jadi tangan kanan salah satu penguasa alam kematian atau juga mereka itu sendiri sang penguasa yang kita lawan selama ini. Mereka selalu bergerak seperti bayangan yang bergerak dalam pekatnya kegelapan. Jika kita menganggap mereka adalah tangan kanan para penguasa. Ini masuk pertanyaan nomor dua. Kedua, jika ini salah satu dari kartu as musuh. Kita tidak tau berapa banyak kartu as yang masih mereka sembunyikan. Dan kita juga tidak tau seberapa hebat mereka sebenarnya. Jika mereka bertiga saja bisa mengobrak-abrik pasukan elit Carion dengan sangat mudah. Maka kita tidak tau sebenarnya kekuatan sejati mereka. Ditambah dengan kartu as yang masih mereka sembunyikan? Dan ada benarnya, Omorfia. Mereka pasti menganggap kita tak lebih kumpulan orang bodoh dan lemah. " Syndetiras menjelaskan spekulasi yang ia kumpulkan dari spekulasi para dewa lainnya. Ia menyusun pecahan puzzle masalah kali ini dengan tenang. Menyocokkan satu per satu dan menyatukan bagian-bagian puzzle itu dengan teliti dan cermat.

"Tapi tidak kusangka mereka mampu menebak rencana kita ini. Padahal kita menyerang tempat itu untuk menyembunyikan tujuan sejati kita. Menyelidiki markas asli sekaligus markas utama mereka. Mereka berpikir begitu kritis." Dimiourgos mengungkapkan kekesalannya karna gagalnya rencana mereka.

"Mah, tapi akhirnya kita mulai bisa tau bagaimana pola pikir musuh kita. Kedepannya perang strategi akan semakin memanas. Strategi dan kekuatan tempur siapa yang akan mengalahkan siapa. Ini semakin menarik." Carion tersenyum ganas. Bak singa yang memata-matai mangsanya. Semuanya terkejut mendengar perkataan Carion barusan.

"Apa kau baik-baik saja, Carion? Kau begitu marah mendengar para prajurit dan komandanmu berhasil dikalahkan dengan mudah." Tatapan Gi penuh kekhawatiran dan kecemasan.

"Aku baik kok. Memang aku tidak bisa mempercayai kalau para pasukanku. Terutama ketiga komandanku bisa dikalahkan dengan begitu mudah. Aku memang begitu marah mendengar hal itu. Sampai-sampai ingin kuhancurkan mereka menjadi debu. Aku memang sangat sedih. Namun ini bukan saatnya yang tepat meratapi kematian mereka. Dan sebagai dewa perang, aku tidak boleh meratapi apalagi menangis kematian mereka yang gugur kali ini. Itu sebuah penghinaan bagi mereka yang rela mengorbankan diri demi informasi yang begitu berharga ini. Mereka mati dengan penuh kehormatan dan rasa bangga karna telah mengabdi pada ku. Dan tentu saja sebagai dewa perang. Memiliki bawahan seperti mereka adalah sesuatu yang luar biasa. Aku begitu bangga pada mereka. Prajurit yang gugur dari dulu sampai detik ini adalah prajurit yang begitu terhormat. Sudah sewajarnya aku memberi rasa hormatku pada mereka yang gagah berani mengorbankan nyawanya untuk kepentingan yang lebih besar. Diakoptis, aku ingin kau tempatkan mereka ditempat yang layak." Carion mengungkapkan semua isi hatinya dan berbicara tentang prinsip yang ia pegang teguh selama ini. Mendengar permintaan Carion, Diakoptis mengangguk. Baginya itu sudah menjadi kewajibannya untuk menempatkan para prajurit gagah berani ditempat yang layak dengan jasa dan pengorbanan mereka.

...☆☆☆☆☆...

Wanita berambut hitam pekat berjalan di sekitaran taman kastil itu. Ia mencium aroma yang begitu khas dari bunga Lily Spider yang menghiasi taman itu. Tanpa sadar seseorang memanggil namanya. Ia mencari asal suara itu. Dan menemukan wanita berambut putih susu sedang bersandar di batang pohon yang begitu rindang.

"Ara, lihat siapa yang memanggil ku. Si Kokkina Matia Elampsan, To Kokkino. Sedang apa kau disitu, Kokkino? Lagi berteduh dan menikmati bersantai di bawah pohon yang rindang." Wanita itu membalas panggilan temannya itu.

"Dari mana saja kau, Mavros?" Kokkino membuka kelopak matanya. Terlihat dengan sangat jelas dua batu ruby bersinar dengan begitu cantik di kegelapan tempat itu.

"Tidak ada. Aku hanya jalan-jalan di kota Vera saja. Kota dekat markas kedua kita." Ia kembali melanjutkan kegiatannya sebelumnya. Ia kembali mencium dan menikmati keindahan bunga Lily Spider yang begitu mematikan. Kokkino hanya bisa menghela napas berat.

"Heh begitu, ya. Jadi kau jalan-jalan di kota Vera. Tapi tujuan sebenarmu bukan itu. Itu hanya alibi mu saja kan, Mavros? Udah enggak usah bohong deh. Kau memata-matai master kan? Kau melihat kesempatan, kau menyamar agar bisa berinteraksi dengan master." Kokkino mematahkan perkataan Mavros barusan. Mavros hanya terdiam sejenak mendengar perkataan temannya itu. Sebuah lekukan senyum terlihat jelas di wajahnya. Senyuman yanv begitu jahat dan penuh merendahkan.

"He, Kau tak pernah berubah dari dulunya, Kokkino. Sikap mu yang selalu menelaah dulu, membuat mu sangat sangat sulit untuk di tipuin. Aku mengaku. Aku memang bertemu master. Sudah lama aku ingin sekali bertemu master setelah dua ribu tahun yang lalu. Sejak aku mengetahui master telah terlahir kembali dan para penguasa alam dunia orang mati yang begitu hebat menemukan master. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak bertemu tuanku, master ku yang yang maha hebat. Aku tidak bisa, tidak bisa. Kau tau itu Kokkino. Apa kau tidak merasa hal sama, Kokkino? Dan juga bagaimana kau tau aku bertemu dengan master? Tidak mungkin kah bisa menelaah fakta ini hanya dengan perkataanku saja, kan?"

"Akan ku jawab semua pertanyaanmu itu satu persatu. Akan ku mulai dari pertanyaan kedua mu. Bagaimana aku bisa mengetahui kau bertemu master? Itu mudah saja. Aku bisa mencium aroma yang sangat khas dari tubuh mu itu. Dan aroma itu sangat sangat berbeda dari aroma mu seperti bisanya." Kokkino menjawab pertanyaan Mavros diselipkan nada yang sedikit meledek. Mendengar itu, Mavros mulai bertanya-tanya.

"Emangnya kau sudah bertemu master secara langsung, Kokkino? Aku berani bertaruh sembilan puluh lapan persen kau belum pernah bertemu master sejak master terlahir kembali." Mavros mulai menantang Kokkino. Ia memasang wajah penuh menantang. Ia dengan sangat percaya diri bertaruh hal itu belum pernah terjadi. Melihat wajah Mavros, Kokkino dengan anggun menutup mata ruby nya begitu indah. Ia terkekeh kecil. Ia tidak menyangka temannya ini menantang dirinya.

"He, kau memang benar Mavros. Aku belum pernah bertemu master sejak kelahiran master kali ini. Kau pasti bertanya-tanya lalu bagaimana bisa aku tau kau bertemu master. Jawabannya begitu mudah kau tau. Kau tau kan Mavros, temanku tersayang. Roz, ditugaskan untuk membuat semua rencana ini berjalan dengan lancar. Dan karna tugas itulah, ia sering berinteraksi dengan master. Ia juga memberi tau diriku bagaimana bau khasnya master sekarang. Bau itu sangat wangi dan begitu menggoda. Yang membuat siapa saja akan terpikat mendekati master, kau tau." Kokkino berjalan perlahan mendekat Mavros sambil menjelaskan pertanyaan Mavros. Kini ia tepat di hadapan Mavros. Kilauan mata ruby nya begitu merendahkan lawannya. Tatapan dan senyumannya dipenuhi sebuah kepuasan. Kepuasan menekan lawannya sampai ke titik tertentu.

"Dan untuk pertanyaan terakhir sekaligus pertanyaan pertama mu tadi. Apa aku tidak merasakan hal yang sama dengan apa yang kau rasakan, bukan? Jawabannya sangat simple sekali. Tentu saja aku juga ingin bertemu master setelah sekian lama. Aku ingin master memuji diriku atas kerja keras ku selama dua ribu tahun ini. Bagiku tidak ada yang paling membahagiakan di dunia ini selain pujian langsung dari bibir master. Dan tidak ada paling indah dan begitu berharga di dunia ini selain perkataan pujian yang master ucapkan pada kita. Kau pasti tau itu. Dan kau tau betapa bahagianya aku. Betapa senangnya aku mendengar pujian yang dikatakan master tentangku. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari itu. Kau tau, Mavros. Saking bahagia dan senangnya diriku. Sampai-sampai seluruh tubuhku bergemetar mendengar perkataan Master. Getaran itu begitu nikmat dan begitu luar biasa. Aku bahkan tidak bisa berhenti menikmati setiap detik. Setiap menit tubuhku gemetar." Kokkino memeluk dirinya sendiri. Ia begitu senang mengingat semua yang pernah terjadi. Ia meringkuk kesenangan mengingat itu. Melihat tingkah temannya, Mavros hanya tersenyum. Ia tau betapa membahagiakannya hal itu. Ia dan teman-temannya yang lain juga merasakan hal yang sama ketika mereka mendapat pujian dari master yang begitu mereka hormati dan kagumi. Itu sesuatu yang begitu luar biasa berharga. Saking berharganya, tubuh mereka sampai gemetaran menerima pujian itu.

Beberapa menit sejak pembicaraan terakhir mereka, Kokkino sudah kembali seperti semula. Terjadi keheningan sejenak antara mereka. Hingga salah satu membuka pembicaraan.

"Tunggu. Tadi kau bilang Roz ditugaskan oleh para penguasa yang maha hebat untuk membuat semua rencana ini berjalan lancar. Dan kau bilang karna tugas itu dia sering berinteraksi dengan master? Itu tidak adil. Kenapa cuma dia seorang saja, ha? Kenapa tidak aku saja yang menjalankan tugas itu?" Mavros dipenuhi rasa cemburu. Ia tak habis akal kenapa tugas itu diberikan pada Roz dan bukannya dirinya. Padahal ia jauh lebih mampu untuk menjalankan rencana ini dengan sempurna.

"Apa kau lupa siapa Roz itu? Dan kau tau julukan apa yang diberikan master padanya?" Kokkino bertanya balik pada Mavros. Ia hanya tersenyum melihat tingkah temannya ini. Ia dipenuhi rasa kecemburuan pada Roz.

"Tentu saja aku tau. Ia adalah Roz, Si Diprosopo. Atau si bermuka dua. Tapi tetap saja itu tidak masuk di akalku. Kenapa harus dia? Kenapa enggak aku? Apa aku kurang layak untuk tugas itu? Bagaimanapun aku sang Skotadi Tis Nychtas. Atau sang kegelapan malam. Bagaimanapun dan dari sisi manapun aku masih lebih baik. Tidak, sangat-sangat lebih baik dari pada ia. Ini tidak bisa. Aku tidak terima. Aku harus menghadap Nyonya. Kakaknya master." Mavros berjalan memasuki kastil. Sebelum melangkah masuk lebih jauh, Kokkino menariknya kembali ke taman itu.

"Sebelum kau bertemu, Nyonya. Sepertinya kah harus tau apa yang membuat Roz lebih dipilih dari pada kau. Pertama, Apa kau mampu bersikap bersikap munafik, bermuka dua dan manipulatif seperti Roz? Kedua, Apa kau bisa menjamin dirimu untuk tidak langsung menghancurkan orang-orang yang bisa kapan saja melihatmu menjalankan rencana itu? Bagaimana kau bisa menyakinkan orang-orang itu kalau semua baik-baik saja? Ketiga, Apa kau mampu menjadi seorang guru yang baik dan berinteraksi dengan anak-anak lain selain master? Karna itu salah satu kunci keberhasilan rencana kali ini. Keempat, apa kau bisa untuk menahan diri untuk tidak berinteraksi dengan master terlalu banyak. Sementara, kau sering berpapasan dengan master? Ini saja kau langsung menyamar dan melakukan interaksi dengan master. Aku tak yakin kau bisa melakukan hal yang sama dengan Roz. Aku enggak bilang kalau kah enggak boleh merasa cemburu dengan Roz. Jujur saja aku juga cemburu padanya. Aku juga sama seperti mu kok. Kenapa Roz yang dipilih? Kenapa tidak aku? Tapi sebelum semakin jauh cemburu aku membandingkan diriku dengan Roz. Aku hebat dalam hal ini dan Roz hebat dalam hal itu. Masing-masing dari kita punya kehebatannya masing-masing dan tidak bisa disamakan satu sama lain. Dan jujur untuk rencana kali ini, Kelebihan Roz yang paling cocok dan paling berguna untuk rencana ini. Semua pasti sudah diperhitungkan oleh para penguasa yang maha hebat. Jadi kau tidak perlu berkecil hati. Aku yakin kau juga akan diikutkan dalam rencana besar ini. Sesuai dengan kehebatan, kemampuan dan kelebihan mu itu." Kokkino memberikan penjelasan tentang situasi saat ini. Mavros akhirnya mengerti. Ia sangat berterima kasih kepada Kokkino. Sekarang ia tidak akan berkecil hati.

...☆☆☆☆☆...

"Aku tidak sabar mendengar hasil kerja kalian bertiga. Aku yakin kalian tidak akan mengecewakan ku. Bukankah begitu, To Kokkino, Ble, Violeta?" Wanita lavender duduk di singgasananya. Ia menaruh kepalanya ke tangannya yang bertumpuan di sandaran tangan. Ia melipat kakinya dengan anggun. Ia menatap ketiganya dengan penuh harapan. Sementara mereka bertiga memberi hormat pada wanita itu. Salah satu dari mereka mengakat kepala mereka dan memberikan laporan tugas mereka.

"Hormatku pada sang penguasa alam kematian yang maha hebat. Saya Ble sang Katastrofi. Melapor pada anda, nona. Saya berhasil menghabisi mereka tanpa menyisakan sedikitpun bagian yang sudah dipercayakan pada saya." Ia menunjukkan wajah penuh kebanggaan. Mendengar itu wanita lavender tersenyum puas. Begitu selesai memberi laporannya, lanjut salah seorang dari mereka memberikan laporannya.

"Hormatku pada penguasa kematian yang maha hebat. Saya Violeta, Sang Kataktitis Olon. Melapor pada anda, nona. Bagian yang dipercayakan padaku, berhasil saya sapu. Saya juga berhasil mengorek informasi yang begitu berharga dari lawan, nona. Saya hanya membiarkan tiga orang melarikan diri. Tujuan saya melepaskan ketiga orang itu adalah untuk memberikan peringatan keras pada para dewa-dewi yang menyebalkan itu. Nona." Violeta dengan wajah yang tampak senang mengatakan hal itu. Mendengar hal ini wanita lavender itu semakin tersenyum puas. Ia tidak sabar mendengar hasil kerja dari sang komando dalam tugas kali ini. Violeta kembali menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormatnya pada wanita itu yang merupakan atasannya.

"Hormatku pada sang penguasa kontrak kematian yang maha agung. Saya To Kokkino, Sang Kokkina Matia Elampsan. Melapor hasil kerja saya pada anda, nona. Sebelumnya saya ingin meminta maaf nona. Saya memang berhasil mengalahkan setengah pasukan sekaligus sang komandan bagian yang saya pilih, nona. Tapi saya membiarkan setengah pasukan itu melarikan diri. Saya melakukan hal itu karna permintaan langsung sang komandan. Saya begitu tertarik pada sang komandan. Hingga saya akan mengabulkan permohonan terakhirnya. Dan itulah permohonan terakhir sang komandan pada saya. Saya minta maaf, nona. Saya mengabulkan permohonan itu dan sangat tau itu akan bertentangan apa yang nona tugaskan pada saya. Saya mohon kemurahan hati nona untuk memaafkan saya. Jika nona tidak memaafkan perbuatan saya yang tidak pantas ini, saya siap menerima segala hukuman yang nona berikan pada saya." Kokkino mengatakan semua itu dengan sangat tenang. Walaupun ia tau ia mungkin akan dihukum nantinya. Mendengar perkataan Kokkino barusan membuat dua temannya terkejut. Sementara wanita lavender itu semakin tersenyum puas. Ia merasa begitu senang.

"Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu Kokkino. Aku malah terkejut mendengar kau mengatakan kau tertarik pada sang komandan itu. Itu suatu yang sangat langka, Kokkino. Sudah berapa lama kau tidak menikmati pertarungan seperti ini. Berjumpa lawan yang tangguh dan hebat adalah sebuah hal yang begitu luar biasa. Dan itu sudah sangat lama sekali tidak terjadi seperti itu pada mu, Kokkino. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah karna mengecewakan ku, Kokkino. Aku malah senang mendengar kau berjumpa lawan seperti itu setelah sekian lama. Bukan hanya aku saja yang senang mendengar itu, semua penguasa alam dunia orang mati termaksud adikku sekaligus master kalian juga senang mendengarnya. Terlebih lagi tipemu kali jika bertemu lawan yang sebanding. Aku tidak kecewa pada mu, Kokkino. Kerja bagus semuanya. Kalian membuatku begitu senang dan puas dengan hasil kerja kalian." Wanita bangkit dari singgasananya. Menaikan kedua tangannya ke langit-langit ruangan itu. Wajahnya dipenuhi rasa senang, bahagia, dan rasa puas yang tiada tara. Ia berjalan keluar dari ruangan itu. Tepat sebelum meninggalkan ruangan itu, ia menghentikan langkahnya.

"Kalian boleh meninggalkan ruangan ini." Lalu meninggalkan ruangan itu. Setelah wanita lavender itu meninggalkan ruangan itu mereka juga ikut meninggalkan ruangan tersebut.

...☆☆☆☆☆...

"Tak sangka hal semenarik ini akan terjadi." Pria itu menikmati aroma teh nya yang begitu wangi.

"Aku bahkan sudah lupa sudah berapa lama ia seperti itu. Itu suatu yang begitu baik baginya." Wanita Onyx menyuap potongan kue blueberry kesukaannya ke dalam mulutnya. Ia tampak begitu menikmati rasa kue kesukaannya itu.

"Kau benar. Tidak ada salahnya kita membiarkan dia bersenang-senang setelah sekian lama. Dia sudah sepantasnya merasakan itu. Dan kita juga tidak boleh terlalu mengekang kesenangannya." Pria dengan motif bintang berwarna ungu di pipi kirinya hanya meminum teh yang baru ia seduh.

"Kau benar. Ia sudah selayaknya dan sepantasnya menikmati perasaan yang sudah lama ia tak rasakan. Mengingat ia bukan orang yang cepat merasakan hal itu. Ah... Aku penasaran seperti apa reaksinya jika mendengar kabar baik ini. Aku yakin dia pasti sangat senang mendengarnya." Wanita lavender meminum teh nya. Ketiga yang lainnya hanya mengagukkan kepala bersamaan.

"Sepertinya berita baik terus datang pada kita. Dengan ini kita hampir mencapai puncak game ini." Pria itu menaruh cangkir teh nya di meja taman. Taman kastil yang begitu terawat dan tersusun rapi. Di penuhi bunga mawar merah yang begitu indah. Di bagian samping kastil terdapat sebuah kolam ikan yang sangat bersih dan airnya begitu bening. Di atas kolam terdapat bangunan putih berbentuk segi lima dengan kubah diatasnya. Bangunan itu di cat putih bersih dan ada jembatan menghubungkan bangunan itu dengan kedua sisi kolam. Dan dari tempat itu bisa melihat ikan berenang-renang dengan lincah. Tidak akan seorang pun akan berpikir kastil secantik itu ada di tengah hutan nan gelap, lembab dan rimbun tempat hewan melata raksasa tinggal.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!