"Luka, Luka. Kau baik-baik saja?" Perlahan Luka mulai sadar. Ia mendengar dengan samar-samar suara Luna memanggilnya. Pandangan masih kabur. Ia melihat sekelilingnya dengan pandangan yang kabur. Saat ia melihat tangan dan kaki Luna terikat. Luna digantung di pembatas tangga.
"Luna kau enggak papa? Tenang aku akan menolong mu." Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia menyadari tangan dan kakinya juga terikat oleh benang-benang itu. Pergerakan tubuhnya dimatikan. Saat ini hanya kepalanya yang dapat bergerak dengan bebas. Langkah kaki terdengar ke ruangan mereka berada. Matanya mulai berkeliling ruangan itu dan mencari sesuatu untuk melepaskan diri. Ia menemukan pecahan botol kaca. Ia merayap mendekat. Namun naas. Para bandit itu memasuki ruangan itu dan mendekati Luna. Wajahnya berubah menjadi marah.
"Ara, lihatlah gadis manis dan mungil ini."Salah satu bandit mengelus kemudian mencubit pipi Luna. Wajah Luna semakin marah. Namun ia tak berdaya. Seorang wanita masuk ke ruangan itu. Ia berjalan ke samping Luka dan duduk di sebuah kota tepat di samping Luka. Kedua kakinya ia taruk di punggung Luka. Sekarang mereka berdua benar-benar terjebak. Hari semakin gelap dan mereka terjebak di reruntuhan tersebut dan dikelilingi para bandit dan pembunuh itu. Tidak ada jalan keluar untuk mereka.
"Hei, bos bolehkah kami bermain dengan gadis mungil yang cantik ini." Salah satu bandit sambil meremas pipi Luna. Wanita itu hanya tersenyum.
"Silahkan saja. Terserah kalian mau apakan gadis kecil itu. Yang pasti, setelah kalian puas bermain dengannya. Akan ku habisin gadis itu bersama anak ini juga." Jari telunjuknya menunjuk Luka. Mendengar si bos mengijini mereka. Wajah mereka dipenuhi senyuman yang sangat mesum.
Tanpa basa-basi, mereka mulai mencelucuti pakaian Luna. Luna menjerit meminta tolong. Melihat tindakan para bandit berbuat tak senonoh pada sahabatnya ini. Luka menjerit untuk tidak melakukan itu pada Luna. Sayangnya, teriakan Luka sama sekali tidak digubris. Mereka semakin menggila mendengar jeritan minta tolongnya Luna. Mereka hanyut dalam napsu mereka.
Di sisi lain. Di kediaman Victoria. Maria terus mondar-mandir di ruang keluarga. Wajah dipenuhi rasa cemas, khawatir dan ketakutan. Ia berulang kali menghela napas yang sangat berat. Tak lama Marquis Victoria memasuki ruangan itu. Ia menghampiri sang istri. Melihat kedatangan suaminya, Maria langsung berlari menghampiri sang suami.
"Bagaimana, sayang? Apa sudah ada kabar dimana Luka dan Luna berada?" Nadanya dipenuhi kekhawatiran. Saat ini pikirannya dipenuhi banyak hal buruk yang bisa saja menimpa putra dan sahabatnya itu. Marquis Victoria menggelengkan kepalanya dengan ringan.
"Belum ada kabar tentang Luka dan Luna sampai saat ini. Ditambah tidak ada warga yang melihat dimana terakhir mereka terlihat. Ini cukup menyusahkan. Kau tidak perlu khawatir, Maria. Aku sudah mengerahkan banyak personil untuk menelusuri ke seluruh penjuru kota ini. Jadi kau tidak perlu khawatir. Aku yakin kita akan segera menemukan mereka. Sekarang aku ingin kau menenangkan dirimu, Maria." Marquis Victoria memegang bahu sang istri dan menuntunnya duduk di sofa ruang itu.
"Aku harap begitu, sayang. Tapi satu sisi sangat takut jika terjadi apa-apa sama mereka." Matanya berkaca-kaca. Namun ia berusaha untuk tidak menjatuhkan genangan itu ke pipinya. Marquis mengusap mata istrinya tercinta. Tangan kekarnya membelai pipi istrinya dengan lembut.
"Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja. Kau tau Maria. Luka maupun Luna bukan anak-anak yang lemah. Mereka anak-anak yang sangat cerdas. Mereka pasti memikirkan tindakan apa yang harus mereka ambil pada kondisi mereka saat ini. Aku sangat yakin itu. Sekarang aku mau kau tenangi dirimu disini. Dan berdoalah untuk keselamatan mereka. Kau taukan doa seorang ibu untuk anaknya cepat dijawab oleh tuhan." Ia membelai rambut istrinya dengan lembut dan penuh kasih. Maria menjatuhkan tubuhnya ke tubuh kekar suaminya. Ia hanya bisa mengaguk kepalanya kecil.
"Oh dewi bumi, ku mohon tolong berikan petunjuk pada kami dimana keberadaan anak-anak ku. Wahai dewi kebijaksanaan, tolong berikan secercah kebijaksanaanmu, pada anak-anak itu agar mereka bisa keluar dari masalah yang sedang menimpa mereka saat ini. Dan wahai dewi kehidupan. Sang pemilik segala kehidupan di muka bumi ini. Ku mohon tolong jaga kehidupan mereka saat ini. Tolong berikan belas kasihmu pada mereka." Maria memanjatkan doa dalam pelukan sang suami. Marquis Victoria mendekap dalam sang istri.
Di sisi lain. Para bandit itu mulai menjamah satu per satu tubuh Luna. Mereka saat ini dikuasai oleh hawa nafsu yang sudah tak terbendung lagi. Teriakan dan jeritan Luna semakin kuat. Ia dibuat tak berdaya dengan tindakan para bandit kurang ajar itu.
Luka yang melihatnya semakin marah. Ia semakin kuat berteriak untuk menghentikan tindakan tidak senonoh para bandit itu. Tapi saat ini wanita itu duduk diatas punggung kecilnya. Yang membuat ia tak bisa kemana-mana. Ia semakin membenci dirinya saat ini. Dirinya yang tak mampu melakukan sesuatu untuk menolong sahabatnya yang lagi dilecehkan. Ia benci pada dirinya yang di bisa memberikan perlawanan. Ia selalu berakhir menjadi samsakkan orang lain tanpa bantuan Luna. Ia benci dirinya yang selalu membutuhkan uluran tangan orang lain untuk menghadapi ketidakadilan pada dirinya sendiri. Ia benci dirinya yang selalu tidak berdaya dan tidak bisa diandalkan di saat-saat kondisi seperti ini.
Ia sangat membenci semua tentang itu dari dirinya sendiri. Ia tak lebih seperti pecundang. Ia hanya selalu berakhir menjadi penonton dalam saat-saat seperti ini. Tanpa uluran tangan orang lain ia akan berakhir menyedihkan. Ia sangat membenci dirinya yang pecundang. Membenci dirinya berakhir menjadi penonton pada saat-saat dibutuhkan. Membenci seberapa ketidakberdayaan dirinya. Membenci dirinya yang selalu membutuhkan uluran tangan orang lain untuk keluar dari masalahnya. Ia sangat sangat jijik pada dirinya sendiri. Benci dan jijik tentang semua fakta itu.
Semua rasa benci itu membuat sesuatu bergejolak dalam dirinya. Sesuatu yang sangat cepat, dahsyat seperti berusaha keluar dari dirinya. Tubuhnya mulai memanas. Ia semakin gelap mata pada tindakan para bandit itu. Ia berteriak keras.
"BERHENTI." Teriakannya membuat para bandit itu terlempar jauh. Bahkan wanita yang mendudukinya ikut terbanting juga. Terpaan angin yang sangat kuat menerpa orang-orang itu bersamaan teriakan kuat Luka. Luka duduk dan menarik kedua tangannya menjauh untuk melepaskan tangannya yang diikat benang. Ia mengeluarkan kekuatan tenaganya dan menjerit keras dan. Benang-benang itu putus. Tangannya akhirnya terbebas.
Seperti ada sesuatu yang mengebun-gebun keluar dari dalam dirinya. Seolah-olah ia memiliki tenaga dan kekuatan sangat luar biasa dalam dirinya. Wanita itu terkejut dan dengan kecepatannya ia berlari mendekati Luka. Ia siap menerkam Luka kapan saja. Sebelum sempat ia menyerang Luka. Ia kembali terlempar. Ia menabrak tembok yang ada disana. Ia seperti terdorong keras oleh hembusan angin yang sangat kuat. Tempat tembok yang ia tabrak sampai retak.
"Sudah ku bilang pada kalian untuk berhenti." Kali ini tempat itu membeku oleh es yang sangat dingin. Wanita dan para bandit itu terjebak dalam sebuah bongkahan yang sangat keras. Mereka tidak bisa menggerakkan tubuh mereka. Hanya kepala mereka yang tidak ikut terjebak. Itu adalah sebuah bongkahan kristal yang sangat besar. Mata Safir Luka begitu gelap. Ia tertelan oleh amarah dan kebencian pada keadaan terutama pada dirinya sendiri.
"Kalian harus membayar perbuatan tak pantas itu pada Luna." Banyak bola api melayang di sekitar Luka. Yang siap kapan saja menghancurkan siapa saja yang membuat Luka marah. Wanita itu dan para bandit tidak percaya apa yang mereka lihat.
'Yang benar saja. Anak yang terlahir tanpa kekuatan elemental bisa melakukan ini. Mampu melakukan semua ini. Yang benar saja. Ini bohong. Ini semua pasti hanya ilusi aku saja. Ini hanya khayalanku saja.' Wanita itu tidak percaya pada apa yang barusan ia lihat dan alami ini. Ia terus bertanya-tanya apa yang ia lihat ini nyata atau hanya ilusinya saja.
"Biarkan api-api ini menghanguskan dosa-dosa kalian." Bebola api itu melesat dengan cepat ke orang-orang itu dan meledak. Ledakannya sangat besar hingga menghancurkan sebagian bangunan itu. Wanita itu dan para bandit itu tercampak jauh setelah mendapat serangan itu. Suara ledakan itu terdengar sampai ke tengah kota Vera. Para prajurit yanv dikerahkan mencari Luka dan Luna sampai terkejut mendengar ledakan hebat itu. Mereka langsung bergegas ke tempat asal ledakan itu.
"Luka..." Luna tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia begitu kebingungan dengan apa yang terjadi begitu cepat. Ia terus menatap Luka dengan tatapan tak percaya. Ia tidak bisa menerima apa yang barusan terjadi.
Setelah melakukan serangan pamungkas yang begitu dahsyat, tubuhnya seperti kehilangan tenaga. Kakinya mulai goyang seolah tidak sanggup menahan berat badannya. Pandangannya mulai kabur. Akhirnya Luka terjatuh tak sadarkan diri.
"Luka" Luna berteriak begitu keras. Api terus berkobar dan semakin besar. Perlahan mulai menutupi seluruh bangunan itu. Api itu merambat mendekati tubuh Luka yang terbaring di tanah. Luna berusaha mati-matian melepaskan diri dari ikatan yang menahan dirinya. Namun, sayang itu tidak mudah. Butuh beberapa waktu untuk bisa melepaskan diri dari ikatan itu. Luna mulai panik. Mereka berdua terjebak dalam bangunan yang sebentar lagi akan dilahap si jagoan merah.
Terdengar suara langkah kaki bergemuruh mendekati bangunan itu. Para prajurit sudah sampai di tempat mereka berdua berada. Mereka menelusuri seluruh bangunan itu. Dan mereka menemukan Luna yang tergantung dengan pakaian yang sudah tidak utuh lagi dan tubuh Luka terbaring di tanah tak sadarkan diri. Dengan sigap para prajurit itu mengevakuasi mereka berdua. Dan tak lupa menahan para bandit dan wanita itu yang juga tak sadarkan diri. Dengan sigap Luka langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments