Perlahan mata Luka mulai terbuka. Sedikit demi sedikit cahaya masuk dan menyentuh iris matanya. Ia melihat sekelilingnya. Pemandangan yang cukup familiar. Itu kamar rumah sakit yang selalu ia tempati. Matanya berkeliling di ruangan itu. Menemukan ibu, ayah, adik-adiknya, sahabatnya dan juga orangtua Luna. Mereka sepertinya sedang berbicara dengan dokter. Tak lama dokter meninggalkan ruangan ini.
Luka berusaha menggerakkan tubuhnya. Namun, sayang itu tidak mudah. Seluruh tubuhnya sakit semua. Luna menoleh ke tempat tidur. Menemukan Luka yang sudah sadarkan diri dan mencoba bangun dari posisinya. Luna berlari ke arahnya. Semua orang heran lalu menyadarinya setelah melihat ke tempat tidur. Mereka juga bergegas ke tempat Luka.
"Sayang, siapa yang bilang kau boleh bergerak dulu." Maria memegang bahu putranya dan mencegahnya bergerak lebih jauh. Luka kembali ke posisi berbaringnya.
"Kau engak papa, Luka. Apa ada yang sakit?" Luna mengecek satu persatu bagian tubuh Luka. Luka hanya kebingungan melihat tingkah sahabatnya.
"Aman ternyata. Syukurlah." Luna langsung memeluk erat Luka. Luka hanya bisa membalas pelukan itu. Kedua adiknya juga ikut memeluk Luka. Maria dan kedua orang tua Luna tersenyum lembut melihat ini. Hati mereka terasa adem sedikit setelah apa yang menimpa anak-anak mereka. Tak lama Marquis Victoria datang. Ia dengan tatapan yang begitu serius menghampiri mereka semua.
"Luka ada yang ingin ku tanyakan padamu." Mendengar suara Marquis Victoria, mereka melepaskan berpelukan mereka. Melihat ekspresi sang ayah begitu serius. Luka langsung memasang ekspresi yang sama.
"Luka, apa kau tau siapa orang mengalahkan para bandit dan orang itu?" Luka hanya mengeleng-gelengkan kepalanya. Luna dengan cepat menjawab pertanyaan sang Marquis.
"Orang-orang itu dikalahkan sama Luka. Marquis Victoria." Suara terkejut bukan main. Mereka tidak bisa mempercayai perkataan Luna begitu saja. Mengingat Luka terlahir tanpa kekuatan apapun. Itu sangat mustahil untuk terjadi. Itu terdengar seperti bualan yang keluar dari mulut anak kecil yang suka berkhayal. Mereka sangat tatap-tatapan satu sama lain. Marquiness Ruby turun menyamakan tinggi sang anak dan memegang bahu sang putri dengan lembut.
"Apa kau yakin Luna?" Wajah sang Marquiness tampak ragu dengan sang anak. Luna mengeraskan wajahnya. Wajahnya sangat kesal.
"Apa ibunda tidak percaya padaku. Aku tidak berbohong. Aku melihat Luka menumbangkan orang-orang itu dengan mata kepalaku sendiri. Mana mungkin aku berbohong." Suaranya penuh rasa kesal. Ia sangat kesal dikira perkataannya hanya omong kosong belakang. Melihat ekspresi begitu keras dari sang putri tercinta membuat hati Marquiness sakit. Ia tau sang putri anak yang begitu cerdas ditambah ia tidak pernah berbohong.
"Marquiness Ruby. Aku ingin meminta izin sebelumnya. Aku ingin menanyakan tentang insiden yang menimpa mereka." Marquis Victoria bertanya dengan halus agar mendapatkan izin sang Marquiness Ruby tersebut. Marquiness Ruby mengangguk pelan kemudian berdiri. Ketika semuanya sibuk dengan informasi yang di dapat Marquis Victoria, Luka menoleh ke arah balkon. Seolah-olah ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia terbelalak melihat siapa yang berada di balkon itu. Wanita itu berbalik dan tersenyum lembut pada Luka. Luka tidak percaya ia akan berada di situ. Mulut wanita itu bergerak seolah ingin membisikkan sesuatu pada Luka dari tempatnya sekarang. Luka tidak bisa memahami gerakan mulutnya. Tak lama setelah seperti membisikkan sesuatu pada Luka wanita itu menghilang ke sisi gelap balkon. Luka masih tidak percaya wanita itu ada disitu.
"Wanita itu. Wanita yang sama aku temui di hutan. Dan wanita itu juga dalam kejadian dalam mimpi itu. Kenapa ia ada disana? Untuk apa ia kemari? Apa sebenarnya tujuan ia kemari? Ia mencariku kah? Dan... Tunggu... Apa yang di mimpi itu nyata? Itu bukan mimpi. Itu... seperti ingatan dari kejadian itu yang tak bisa ku ingat, kah? Dan... Ia seperti mencoba memberitahuku tadi dari gerakan mulutnya. Tapi apa? Apa yang ia coba beritahu? Ini semakin membingungkan." Luka terus menatap jendela dengan tatapan tercampur aduk. Antara kaget, bingung, dan ketakutan. Pikirannya saat ini kembali di penuhi segudang pertanyaan tentang wanita itu. Pertanyaan dari insiden itu saja belum terjawab. Dan sekarang kedatangan wanita itu semakin menambah banyak pertanyaan. Ia semakin bingung dengan apa yang terjadi. Semua pertanyaan itu membuat ia semakin tidak bisa mencerna apa yang terjadi sebenarnya.
Maria terkejut mendapati tatapan sang putra begitu ketakutan melihat ke arah balkon. Seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan yang lagi mendiami balkon itu. Maria juga ikut penasaran apa yang membuat putranya seperti itu. Ia melihat ke arah balkon. Ia tidak menemukan sesuatu yang aneh ada di balkon. Tidak ada apapun di balkon itu.
"Luka kau baik-baik saja, nak?" Maria memegang bahu sang putra dengan penuh rasa khawatir. Ia sangat khawatir dan takut. Seperti putranya memiliki trauma yang begitu luar biasa. Mendengar Maria memanggil Luka dengan nada suara yang begitu khawatir. Semuanya melihat ke arah mereka. Mereka melihat Luka yang menatap balkon dengan tatapan ketakutan. Luka terus menatap balkon. Seolah ia tidak dapat mendengarkan suara panggilan dari sang ibu. Melihat Luka tidak bereaksi pada panggilannya.
"Luka, Luka, Luka. Kau enggak papa? Apa yang kau lihat di balkon itu, Luka? Katakan pada ibunda, nak!" Maria menggoyangkan bahu Luka. Goyangan itu semakin kuat hingga akhirnya Luka tersadar. Ia langsung menoleh ke sang ibu. Ia mendapati tatapan sang ibu begitu khawatir.
"Kau baik-baik saja kan, Luka? Apa yang kau lihat di balkon itu? Kau seperti begitu ketakutan." Maria menatap lekat-lekat mata safir sang putra.
"Aku melihat ada seorang wanita di balkon itu. Mungkin itu hanya ilusi ku saja. Khayalan ku saja. Mungkin tubuhku masih kelelahan. Makanya aku bisa melihat seperti itu. Aku hanya perlu istirahat yang cukup. Ibunda enggak perlu khawatir begitu." Luka berusaha menyakinkan sang ibu. Tatapan Maria tidak berubah sama sekali. Malah semakin bertambah cemas.
"Apa kau yakin, sayang?" Luka mengangguk pelan. Maria duduk di tempat tidur Luka sekarang. Ia terus memegang bahu kecil putranya itu. Tangan kanannya dengan lembut membelai rambut dan wajah mungil putranya.
"Apa tubuhmu masih sakit, sayang? Bagian mana? Coba tunjukkan pada ibunda mana bagian yang sakit itu?" Luka hanya tersenyum melihat tingkah sang ibu. Kekhawatiran ibunya ini membuatnya ingin tertawa. Sang ibu mulai memeriksa setiap bagian tubuh Luka dengan sangat teliti tanpa meninggalkan satu bagian pun yang terlepas dari pemeriksaannya.
"Luka, istirahatlah. Ayahanda yang akan membereskan masalah ini. Ayahanda berjanji akan memberi mereka hukuman yang setimpal setelah apa yang mereka buat pada kalian." Sang ayah juga ikut membelai rambut dan wajah mungil sang putra. Luka mengangguk. Ia kemudian menutup matanya dan menikmati setiap belaian dari kedua orang tuanya tersebut. Melihat tingkah lucu sang putra, Maria semakin bersemangat memberikan belaian lembut dan manjanya pada sang putra. Marquis Victoria hanya cuma bisa tersenyum sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar enggak tahan melihat tingkah lucu dan mengemaskan putra sulungnya. Adik-adiknya juga ikut meminta diperlakukan yang sama seperti sang kakak. Bukan hanya keluarga victoria saja. Luna tidak mau ketinggalan di perlakukan manja sama sang ibunda tercintanya. Baik Marquis Victoria ataupun Marquis Ruby hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah anak-anak mereka.
......☆☆☆☆☆......
"Sofia, Diakoptis. Apa yang sebenarnya kalian perintahkan pada bawahan kalian? Dari pada melakukan yang tak jelas. Lebih bagus kalian bantu bawahanku untuk membobol tempat itu." Carion sangat marah dan kesal mendengar bawahan Sofia dan Diakoptis melakukan pekerjaan lain yang tidak ada hubungannya dengan masalah kali ini. Ia tidak habis pikir apa yang dipikirkan kedua dewi itu. Baginya dibandingkan melakukan itu lebih baik bekerja sama untuk menghancurkan musuh mereka sampai berkeping-keping.
"Tenanglah Carion. Kau tidak perlu marah begitu. Saat ini bawahanku sedang melakukan sesuatu yang sangat penting. Ini berkaitan dengan kesuksesan masalah yang sedang kita hadapi." Sofia dengan tenang memberitahu Carion tanpa berpaling dari buku yang ia baca saat ini. Di sisi lain Diakoptis hanya tersenyum mendengar amarah Carion yang begitu luar biasa. Ia membuka kedua matanya. Ia dengan tenang mengambil cangkir teh nya di meja dan meminumnya dengan anggun dan sangat berwibawa.
"Apa kau pikir Carion saat ini bawahanku sedang melakukan hal yang sangat tidak berguna, kan? Aku beritahu ya. Aku memerintahkan mereka untuk menelusuri dan memeriksa apa yang ku pikirkan ini benar atau enggak. Apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan cara lawan kita bermain dalam permainan kali ini?" Diakoptis dengan sangat tenang dan dingin mempertanyakan amarah Carion barusan. Ia melipat tangan dan kakinya dengan sangat anggun.
"Aneh? Emangnya ada yang aneh dari cara lawan kita bergerak. Sudah pasti jika benteng mereka diserang. Mereka pasti akan berusaha mati-matian untuk mempertahankan benteng itu kan? Lalu apa yang aneh dengan itu, Diakoptis?"
"Carion, Carion, Carion. Coba kau lihat dari sisi yang lain bagaimana mereka bermain. Coba jika kau menjadi mereka untuk memenangkan permainan kali ini?" Diakoptis hanya bisa tersenyum dingin menjawab semua keraguan Carion.
"Tentu saja, jika aku jadi mereka. Aku bakal mengelabui lawan-lawanku. Aku akan membuat seolah-olah aku sudah kalah perang dan dipenuhi keputusan seakan tidak ada harapan untuk memenangkan pertarungan ini." Setelah menjawab itu, Carion akhirnya tersadar. Ia mulai mengerti apa yang dimaksud mereka. Ia tersenyum ganas bak singa yang siap menerkam dan mengintimidasi mangsanya yang sudah ia tangkap. Melihat Carion yang paham maksud mereka, Sofia dan Diakoptis tersenyum puas. Mereka tidak perlu menjelaskan panjang lebar.
"Benar. Saat ini lawan kita membuat kita lengah dengan tempat itu. Seolah-olah itu adalah benteng asli mereka. Mereka mengirimkan banyak pasukan untuk mempertahankan tempat itu yang menjadi bentengnya." Diakoptis menjelaskan kecurigaan dan spekulasinya pada mereka berdua. Carion dengan cermat mencerna semua ucapan Diakoptis barusan.
"Mereka melakukan itu untuk menyembunyikan keberadaan mereka yang sebenarnya. Dan juga mereka juga menyembunyikan identitas mereka saat ini. Jika kau sadar yang kita lawan saat ini tak lebih hanya pion-pion lawan kita." Sofia menutup bukunya. Ia menaruh buku itu di meja dan mengambil cangkir teh nya. Ia meminumnya dengan penuh keanggunan.
"Mereka memakai pion-pion itu untuk membuat seolah-olah kita berhasil menyerang yang kita anggap markas mereka. Dan disaat yang bersamaan mereka berhasil menyembunyikan markas asli mereka. Dan yang paling penting adalah mereka berhasil menyembunyikan diri mereka dengan sangat sempurna. Seolah-olah mereka sudah memprediksi apa yang akan kita lakukan." Diakoptis semakin tersenyum dingin dan penuh kelicikan. Ia belum pernah bertemu lawan yang cukup hebat seperti mereka. Musuh mereka berhasil membuat mereka berpikir mereka akan memenangkan permainan ini dengan mudah.
"Mereka hanya baru akan menunjukkan diri mereka saat puncak permainan ini. Dan di saat itu juga mereka langsung menujukkan taring mereka. Menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Bagaimana kemampuan dan kekuatannya." Sofia menatap dengan pandangan begitu ambisius. Ia begitu tertarik bagaimana lawan mereka berhasil mengelabui mereka tanpa mereka sadari. Ini sesuatu yang akan muncul kedua kalinya.
"Aku sangat tertarik pada mereka. Mereka berhasil membuat seolah-olah mereka yang menari di tangan kita. Namun kenyataannya, kitalah yang menari di tangan mereka. Saat ini kita berada di dalam jeratan mereka tanpa kita sadari."
...☆☆☆☆☆...
Wanita itu kembali ke kastilnya. Ia berjalan di lorong dengan cahaya yang begitu minim. Tepat ia ingin melewatkan salah satu ruangan.
"Ara, lihat siapa yang baru saja kembali. Dari mana saja." Pria itu menyidir wanita itu sambil asik bermain catur.
"Untuk apa kau kesana? Kau baru saja melihat ia kan? Tumben kali. Biasanya kau tidak akan sudi melakukan itu jika bukan Tuan besar yang memintanya pada mu." Wanita lavender itu kembali menggerakkan bidak-bidak caturnya. Ia bersandar pada kursinya yang begitu empuk. Ia melipat tangan dan kakinya dengan penuh keanggunan. Ia tampak begitu menikmati permainan ini bersama sang pria itu.
"Emangnya ada yang salah dengan itu? Apa kau merasa tidak senang dengan itu?" Wanita itu membalas pertanyaan wanita lavender. Wanita lavender hanya tersenyum sambil memejamkan mata merahnya yang indah.
"Tidak. Ngapain aku merasa keberatan karna itu. Aku hanya merasa aneh saja kau tiba-tiba melakukan hal itu. Itu saja. Tak lebih dan tak kurang." Wanita itu membalas perkataan wanita itu. Balas membalas terjadi. Tapi itu tidaklah lama hingga pria itu membicarakan hal yang lain namun berkaitan orang yang mereka berdua maksud.
"Tapi ini relatif cepat dari yang kubayangkan. Ia berhasil menggunakan kekuatan sejak limiter itu dihancurkan." Pria itu memajukan bidak-bidaknya dan mulai membuat sang wanita lavender terdesak.
"Kau benar. Ini sangat cepat dari yang aku perkirakan. Tapi itu sebuah kabar baik. Dengan begitu rencana kita bisa lebih cepat berjalan. Kita bisa mendekati garis finish tak lama lagi. Semuanya berjalan lancar seperti aliran sungai. Yang terpenting, rencana dan tujuan utama kita berjalan mulus sejauh ini. Tinggal sedikit lagi ia akan berada bersamanya." Wanita itu memberikan perlawanan yang cukup sengit dalam permainan mereka.
Wanita itu yang hanya melihat dari luar ruangan. Akhirnya masuk ke ruangan itu. Tak lama dua orang pelayan datang. Satu membawa sofa untuk wanita itu. Dan satu lagi membawa wine merah yang sangat begitu mewah dan enak. Ia menghidangkan wine itu untuk ketiga orang itu. Setelah selesai melakukan tugas mereka, mereka memberi hormat pada mereka bertiga lalu meninggalkan ruangan itu. Sekarang hanya mereka bertiga di ruangan itu. Mereka berdua masih asik dengan permainan catur mereka yang semakin sengit. Tak lama seorang prajurit datang dan menghampiri mereka bertiga. Ia memberikan laporan terbaru.
"Jadi begitu ya. Jadi para dewa-dewi yang menyebalkan itu menyadarinya. Ini semakin menarik. Aku tidak sabar apa yang terjadi selanjutnya." Pria itu menggoyangkan gelas berisi wine merahnya lalu meminumnya.
"Dasar para dewa kikuk. Baru sekarang mereka menyadari hal ini." Wanita onyx itu tersenyum jahat sambil menutup matanya.
"Ara, kita bisa bilang mereka kikuk. Mereka berhasil menyadari apa yang kita rencanakan. Aku pikir mereka tidak akan sadar sampai puncak permainan ini. Tapi ternyata tidak. Mereka berhasil menyadari. Walaupun itu tergolong sangat lama untuk menyadarinya. Walau bagaimanapun itu masih pantas untuk diapresiasi." Wanita lavender itu saat ini bertaruh siapa diantara raja mereka yang akan mati. Raja pria itu atau rajanya.
"Kau sungguh baik. Kau sampai repot-repot memberikan apresiasi pada mereka." Pria itu terus memajukan bidak-bidak handalnya untuk mendesak wanita itu.
"Bukankah kita harus mengapresiasi orang yang sudah berusaha keras seperti mereka berusaha untuk menyadari hal itu. Dan mereka sangat pantas untuk itu." Wanita itu tetap tenang menghadapi bidak-bidak pria itu. Ia bertahan sampai akhirnya mendapatkan celah yang bagus untuk menyerang balik sang pria.
"Lalu apresiasi seperti apa yang akan kau berikan pada mereka?" Wanita itu semakin tertarik dengan topik pembicaraan ini. Wanita lavender itu hanya tersenyum sangat licik. Ia seperti sedang merencanakan sesuatu hal yang sangat jahat.
"Akan kuberikan mereka penghargaan yang tidak akan pernah mereka lupakan. Kesempatan yang sangat sangat langkah bahkan lebih langkah dari permata yang sangat sangat langkah di dunia ini. Aku akan memerintahkan mereka bertiga untuk bergerak menghadapi pion-pion para dewa itu yang sudah jauh lebih kuat." Wajah wanita lavender itu sangat jahat, penuh kelicikan dan rencana jahat yang begitu mengerikan.
"Mereka bertiga?" Pria dan wanita onyx itu terkejut bukan main mendengar perkataan wanita lavender. Mereka enggak pernah menyangka kalau wanita ini akan mengeluarkan pion paling kuat, paling mematikan, paling hebat milik sang adik. Setiap ketiga pion milik sang adik diturunkan dalam medan tempur. Akan selalu berakhir malapetaka yang begitu dahsyat.
"Benar mereka bertiga. Mereka adalah Sang Kokkina Matia Elampsan, Sang Kataktitis Olon dan Sang I Katastrofi." Wajah semakin kesenangan akan apa yang akan kedepannya. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa jahat setelah mereka bertiga turun ke medan perang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments