"Tuan, hamba dengar Marquis Victoria baru saja meninggalkan kota ini, tuan. Dan hamba mendengar kalau saat ini kota Sera tempat wilayah Marquis Ruby lagi terjadi pemberontakan dilakukan oleh orang asing." Mendengar berita itu, pria paruh baya tersenyum jahat. Ia meneguk wine yang sangat mahal itu.
"Bagus. Itu berita yang luar biasa." Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju jendela yang begitu besar. Kaca jendela itu menunjukkan langit malam penuh dihiasi berlian yang bertaburan di angkasa. Dan sang rembulan dengan lembut bersinar menyinari malam penuh salju.
"Marquis Victoria, jangan kau berpikir kalau aku akan tinggal diam setelah apa yang kau perbuat padaku. Selama ini aku menunggu waktu yang tepat. Dan sekarang waktu itu telah datang dengan sendiri padaku. Sekarang waktunya. Waktunya aku membalas semua perbuatan mu itu. Akan ku pastikan kau akan sangat menderita." Angin berhembus cukup kencang masuk ke ruangan itu membuat baju kedua pria itu melayang-layang.
...☆☆☆☆☆...
"Jenderal, tetaplah berjaga seperti biasa. Jika ada sesuatu yang mencurigakan langsung beritahuku. Kita tidak boleh mengabaikan sesuatu yang mencurigakan walaupun hal yang tampak sepele. Kita enggak akan tau seperti apa akibatnya jika kita mengabaikan itu. Saat ini, ayahanda pergi ke kota Sera untuk mengatasi masalah pemberontakan disana. Dan ayahanda mempercayaiku masalah keamanan kota ini. Aku masih belum ada apa-apanya dibandingkan ayahanda. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin yang aku bisa. Karna itu, mohon bantuannya, Jenderal." Saat ini mereka lagi berbincang di ruang keluarga kediaman Victoria. Di meja terdapat teh dan beberapa cemilan ringan .
"Tuan muda tidak perlu merendah begitu. Aku yakin Panglima mempercayai tugas ini karna Panglima tau dan yakin dengan kemampuan anda, Tuan muda. Dan sudah menjadi tugas saya untuk menjaga dan membantu tuan muda keamanan kota ini. Saya akan berusaha semaksimal mungkin yang saya bisa." Sang Jenderal mulai menikmati teh yang terhidang untuknya. Mereka mulai berbincang-bincang masalah keamanan kota ini.
"Dan jenderal. Hari ini mungkin saya akan pulang terlambat dari biasanya, Jika Jenderal ingin memberikan laporan tolong berikan sehabis makan malam."
"Izin sebelumnya, tuan muda. Kalau boleh saya tau, hari ini Tuan muda ada kegiatan apa sampai pulang terlambat?"
"Hari ini, aku ada tamasya ke taman raya. Untuk pembelajaran kali ini, belajar sambil mengamati pertumbuhan tanaman itu langsung ke alam bebas. Dan bagaimana tumbuhan bertahan saat musim dingin."
"Mohon, tuan muda tolong tetap waspada. Kita tidak akan tau apa yang terjadi. Lebih bagus mencegah sebelum itu terjadi."
"Anda benar, Jenderal. Terima kasih atas nasehatnya. Aku akan senantiasa waspada agar kejadian sebelumnya enggak terjadi kembali." Pembicaraan selesai sampai disitu. Baik Luka maupun Jenderal pergi meninggalkan ruangan itu dan sibuk pada aktivitasnya masing-masing.
...☆☆☆☆☆...
Sekarang taman raya dipenuhi salju putih dimana mana. Para pengunjung tetap asik melihat dan mempelajari tentang tumbuhan di taman raya meskipun sekarang musim dingin. Dingin tidak menghalangi mereka akan mencari ilmu lebih banyak lagi. Begitu juga anak-anak, mereka terus berjalan mengikuti guru mereka sambil mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata.
"Seperti yang kalian tau anak-anak, saat musim dingin tiba. Di situ masa musim hibernasi dimulai. Hibernasi bukannya untuk binatang saja tapi juga tumbuhan. Mungkin beberapa dari kalian ada yang belum tau apa itu hibernasi, bapak akan jelaskan pada kalian. Hibernasi adalah dimana hewan maupun tumbuhan akan masuk ke mode tertidur panjang. Pada masa ini, hewan dan tumbuhan sebagian besar mereka habiskan untuk tertidur. Gunanya untuk menjaga kondisi mereka tetap hangat dan juga menghindari mereka mati kelaparan karna di musim dingin sangat sulit mencari makanan." Salah satu murid mengangkat tangannya. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran dan keingintahuan yang sangat tinggi. Pemandu wisata mempersilahkan gadis kecil manis itu untuk memberikan pertanyaannya.
"Lalu, pak. Apa hewan dan tumbuhan tidak makan selama musim hibernasi?"
"Pertanyaan bagus, gadis kecil. Tentu saja hewan-hewan selama masa hibernasi memerlukan makanan. Tapi jumlahnya tidak sebanyak musim lain. Pada musim ini, mereka memang menghabisi sebagian besar waktu mereka untuk tidur. Namun jika mereka lapar, mereka akan bangun dan memakan makanan yang sudah mereka kumpulkan sebelum musim dingin tiba. Setelah perut mereka kenyang mereka akan lanjut tidur. Dan pasti ada yang bertanya, jadi kapan para hewan mengumpulkan makanan mereka untuk persediaan musim dingin mereka? Jawabannya sekitar sebulan atau beberapa minggu lagi musim dingin akan tiba, disitulah mereka akan mengumpulkan makanan untuk musim dingin mereka. Biasanya mereka akan mengumpulkan cukup banyak makanan untuk menghindari kehabisan makanan mereka selama musim dingin."
"Lalu, bagaimana dengan pohon dan tumbuhan yang lain seperti bunga beradaptasi dengan musim dingin?"
"Untuk pohon mereka akan mulai menggugurkan daun mereka satu persatu saat musim gugur. Itu mengapa musim itu disebut musim gugur. Jadi simpelnya begini, pohon memiliki cadangan air di batang dan rantingnya. Air-air itu saat musim lain selain musim dingin akan disalurkan ke dedaunan untuk menghasilkan makanan dari hasil fotosintesis yang dilakukan dengan klorofil, zat hijau daun. Nah, kita tau kan saat musim dingin matahari sangat sulit bersinar seperti musim lainnya. Makanya itu pada musim dingin daun di pepohonan tidak terlihat dan alasan yang lainnya untuk menghindari penguapan yang berlebihan. Tujuannya agar pohon tidak kehilangan banyak cadangan air saat musim dingin untuk menghindari pohon itu mati saat musim dingin."
"Lalu, tidak ada tumbuhan yang bisa tumbuh saat musim dingin begitu, ya."
"Siapa yang bilang kalau musim dingin, musim yang membosankan karna semuanya tertutupi salju putih. Itu salah besar. Musim dingin tidak semembosankan itu. Musim dingin juga bisa penuh warna, walaupun tidak semeriah musim semi ataupun musim panas. Tapi kalian masih bisa menikmati bunga penuh warna di musim ini. Mari ikut bapak." Pemandu wisata mulai berjalan menuju pekarangan khusus yang banyak di datangi banyak orang. Saat sampai, para murid langsung tersenyum lebar. Mereka enggak pernah menyangka ada pekarangan seindah ini di musim dingin seperti ini. Pekarangan itu penuh warna yang sangat kontras dengan warna putih salju disekitarnya. Di dekat bunga-bunga itu terdapat deskripsi tentang bunga-bunga itu.
"Selamat datang di taman surgawi musim dingin. Taman penuh warna walaupun musim dingin yang begitu dingin. Di sini ada sekitar dua puluh bunga dengan jenis yang berbeda-beda menghiasi tempat ini. Selamat menikmati sambil mengerjakan tugas kalian." Mendengar perkataan pemandu wisata, anak-anak langsung menatap wajah wali kelas mereka. Mata mereka penuh memelas agar diberi ijin menelusuri bunga-bunga cantik itu. Melihat tingkah imut murid-muridnya, Miss Maria hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan murid-muridnya itu. Ia juga memperingati untuk tidak keluar dari taman itu. Mendengar itu semua murid mengangguk kepala mereka dengan penuh semangat. Mereka mulai berpencar melihat dan menikmati kecantikan bunga-bunga itu.
Luka tertarik dengan bunga Viola. Bunga dengan perpaduan warna ungu muda dan violet membuat bunga itu terlihat sangat cantik. Ia membaca penjelasan tentang bunga itu. Saat lagi asik membaca, ia dikejutkan oleh suara kecil yang asik tertawa. Suaranya seperti anak kecil yang lagi asik bermain. Tapi anehnya suara itu sangat kecil. Luka melihat sekelilingnya, ia melihat sepertinya tidak ada orang yang mendengar suara ketawa itu. Ia mulai heran, apa betul suara atau itu ilusinya saja. Ia mulai mencari asal suara itu, ia mulai masuk ke bagian dalam taman surgawi itu.
Pada akhirnya ia menemukan asal suara itu. Tempat itu berasal dari pekarangan bunga Iris Aljazair. Sebuah bunga ungu yang sangat menawan. Dan tepat diatas bunga itu, terdapat banyak manusia yang super kecil dengan sepasang sayap kecil di pinggang mereka. Mereka beterbangan di atas pekarangan itu sambil bermain dan bercanda satu sama yang lain. Mereka sangat bersenang-senang disana.
Luka perlahan mendekati mereka. Ia tidak mau mengejutkan mereka. Namun, salah satu dari mereka menyadari kedatangan Luka. Melihat Luka, mereka langsung bersembunyi di balik bunga-bunga di pekarangan itu. Melihat itu, Luka...
"Tenanglah, aku tidak akan menyakiti kalian. Aku hanya ingin berkenalan dengan kalian." Mendengar perkataan Luka, mereka mulai menatap satu sama lain. Mereka menatap Luka, dan salah satu dari mereka perlahan mendekati Luka.
"Kau bisa melihat kami?" Luka mengangguk. Manusia kecil itu menatap mata safir Luka lekat-lekat.
"Jangan takut. Aku tidak akan menyakiti kalian. Aku hanya ingin berkenalan dan berteman dengan kalian."
"Berkenalan? Berteman?" Perlahan mereka mulai keluar dari tempat persembunyian mereka. Luka memiringkan kepalanya. Ia bingung dan bertanya-tanya makhluk apa mereka ini. Bentuk badannya kecil hanya seukuran telapak tangan orang dewasa, punya sepasang sayap transparan. Dan yang paling aneh baginya, adalah telinga mereka. Bentuk telinga mereka runcing.
"Kalian sebenarnya makhluk apa? Aku belum pernah melihat makhluk seperti kalian ini?"
"Kami adalah peri. Manusia biasa di dunia ini tidak bisa melihat kami. Tapi kau berbeda. Kau bisa melihat kami. Tapi apa alasannya, ya. Ini sangat aneh."
"Peri? Jadi kalian peri. Tunggu itu seperti di dongeng dongeng."
"Hmm. Aneh, aneh, aneh. Dia sangat aneh."
"Ini sesuatu yang sangat tidak biasa." Salah satu dari mereka terbang bebas dan bergerak dengan ceria di atas pekarangan itu.
"Enak saja kau bilang begitu."
"Aku tau kenapa kau bisa melihat kami?" Luka semakin bingung apa yang mereka maksud.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa? Cepat kasih tau kami."
"Hmm. Aku juga penasaran. Apa benar kalau cuman aku seorang yang bisa melihat kalian ya."
"Benar, sekali. Karna setiap kali manusia mendekat pekarangan ini, raut wajah mereka enggak menunjukkan sesuatu yang aneh. Namun, kau berbeda."
"Hmm. Berbeda, berbeda, berbeda."
"Aku? Berbeda? Apa maksud kalian? Aku enggak ngerti lah."
"Baiklah akan ku beritahu. Yang membuatmu berbeda dari manusia pada umumnya di dunia ini. adalah kau memiliki sihir."
"Sihir? Apa itu? Jangan jangan itu yang dimaksud mereka? Kekuatan maha dahsyat yang ada dalam tubuhku ini.?" Luka berbicara dengan dirinya sendiri. Perlahan pertanyaan-pertanyaan selama ini mulai terjawab. Walaupun itu masih sebagian kecil saja. Masih banyak yang belum bisa ia jawab.
"Bisakah, kau menceritakan tentang sihir padaku?" Para peri kecil itu saling bertatapan satu sama lain. Mereka heran baru kali ini ada orang yang tidak menyadari kekuatannya selama ini. Namun mereka masih memakluminya, mengingat ia terlahir di dunia ini bukan di dunia itu.
"Kami tidak bisa menceritakannya."
"Kenapa?" Raut wajahnya sedikit kecewa. Ia baru saja mendapatkan petunjuk untuk pertanyaan pertanyaan yang ia simpan selama ini seorang diri. Dan sekarang ia tak bisa mendapatkan jawaban detail tentang itu sendiri.
"Ada seseorang yang lagi mendekat disini. Kau tidak mau dia menganggapmu orang gila kan? Mengingat cuman kau seorang yang bisa berinteraksi dengan kami." Mendengar Itu Luka semakin kecewa. Ia tidak berhasil mendapatkan informasi lengkap seputar sihir.
"Jangan memasang raut yang menyedihkan dan penuh kecewa. Ini juga sebagai kebaikan untukmu juga kan. Karna kami enggak bisa menceritakan apa itu sihir. Sebagai gantinya, kami akan memberikanmu ini." Luka memiringkan kepalanya. Tak lama beberapa peri menggotong sebuah buku cukup tebal. Luka mengambil buku itu. Ia melihat cover buku tertulis disitu.
"Sihir."
"Kami harap buku ini bisa menjawab beberapa pertanyaan yang mengganggumu selam ini. Kalau begitu sampai jumpa." Mereka mulai masuk ke dalam kelopak bunga Iris Aljazair ungu yang begitu cantik. Luka heran melihat mereka. Tak lama ia tersadar dan memasukkan buku itu ke dalam tasnya. Ia kemudian berjalan keluar meninggalkan pekarangan bunga itu. Tak lama kemudian ia melihat Luna sepertinya mencari dirinya. Luka memanggil dan melambaikan tangan pada Luna. Luna yang menyadari hal itu langsung mendekati Luka.
"Dari mana saja, sih. Kau tau aku capek mencari kau kemana pun. Aku takut kau hilang lagi." Luna memarahi Luka sambil menarik pipinya. Ia gemas sendiri melihat tingkah sahabatnya yang satu ini.
"Mana mungkin aku hilang lagi. Lagian aku juga di tempat ini dari tadi. Tadi bunga bunga itu menarik perhatian ku. Jadi aku datang kemari. Luna lihat bunga ungu itu. Cantik kan." Luka menunjuk ke arah bunga yang ia maksudkan. Luna melihat ke arah yang ditunjuk Luka. Dan benar saja, matanya langsung melebar. Ia begitu terpikat dengan kecantikan bunga Aljazair.
"Hmm. Lihatlah betapa cantiknya mereka. Aku mengerti sekarang kenapa taman ini disebut taman surgawi musim dingin. Di tempat ini. Di taman ini. Banyak sekali bunga yang begitu indah pada bermekaran pada musim yang begitu dingin ini. Ini sesuatu yang begitu menakjubkan." Luka hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya ini. Lalu ia mengajak Luna untuk berkumpul dengan yang lain. Ia tidak ingin mereka malah menganggap mereka berdua lihat di taman yang begitu luas ini. Luna setuju dan mereka berlari ketempat yang lain berada.
...☆☆☆☆☆...
"Ara. Lihatlah siapa yang datang. Sepertinya mereka akan memberikan kejutan pada kita." Wanita lavender menatap layar hologram yang ada di atas meja. Ia memperhatikan apa yang terjadi dari layar itu. Ia tampak begitu senang. Wajahnya dipenuhi dengan senyuman seorang psikopat yang baru saja mengetahui pergerakan mangsanya.
"Tuan. Nona. Tolong turunkan perintah anda. Tindakan seperti apa yang harus kami lakukan, Tuan. Nona." Prajurit sambil memberi hormat pada atasannya. Sepertinya saat ini sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"Ku ingin kalian mundur sekarang juga." Pria yang memiliki pola bintang di pipi kirinya dengan tenang memberi perintah.
"Maaf, tuan. Tapi apa maksud anda? Saat ini kita lagi di serang. Bagaimana mungkin kita mundur sekarang?" Prajurit itu terheran-heran dengan perintah yang baru saja turun itu.
"Karna itulah, makanya kalian kami suruh mundur. Walaupun kalian itu Undead tetap saja lawan kalian kali ini bukan para keronco bawahan para dewa yang menyebalkan itu lagi. Mungkin memang mereka masih ikut berperang. Tapi saat ini para dewa-dewi yang menyebalkan itu juga ikut turun ke pertempuran ini." Sang kembaran menjawab keraguan sang prajurit. Ia dengan tenang meminum wine semerah darah.
"Benar apa yang dia bilang. Saat ini, kami ingin kalian mundur dan kembali ketempat ini sebelum mereka sampai ke tempat itu. Aku ingin kalian meninggalkan tempat itu tanpa mereka sadari. Jadi, saat musuh kita sampai di tempat itu, tempat itu sudah kosong." Wanita onyx dengan anggun melipat kakinya. Tangannya asik menari-nari di meja.
"Sebelumnya hamba mohon maaf. Hamba tau ini sangat tidak sopan. Tapi kalau boleh hamba tau apa tujuan tuan dan nona sekalian menurunkan perintah tersebut?"
"Jawabannya sangat mudah sekali. Tujuan kami melakukan itu untuk membuat lawan bingung apa tujuan kita yang sebenarnya." Wanita onyx sambil menutup matanya. Wajahnya dihiasi senyuman penuh niat busuk.
"Saat mereka sampai. Mereka akan mengintai terlebih dahulu. Melihat keadaan kosong, mereka akan jauh lebih curiga dan waspada dengan keberadaan kita." Pria dengan tanda bintang ungu di pipi kirinya menaruh gelas winenya yang sudah kosong. Ia tersenyum senang.
"Saat mereka begitu waspada, mereka pasti akan dengan hati-hati masuk ke kastil itu. Mereka pasti akan berpikir kalian ada di dalam sana dan menunggu mereka datang dan menghajar mereka. Mereka pasti akan berusaha untuk menghindari sesuatu yang lebih buruk terjadi. Walaupun itu mereka pasti sudah menyiapkan rencana untuk kondisi paling buruk itu sekali." Sang Kembaran dengan tenang menyandarkan punggungnya ke dinding kursi empuknya.
"Iya, tidak ada seorang pun yang mau sesuatu hal yang buruk itu terjadi. Bahkan sekalipun seorang yang ahli perang, ia pasti berusaha menghindari sesuatu yang buruk yang mungkin saja tidak bisa ia tangani. Dan alasan yang kedua adalah... tidak ada seorang pun mau kehilangan nyawa prajuritnya yang begitu berharga. Sekalipun itu seorang panglima perang yang sudah banyak memenangkan peperangan. Ia pasti berusaha sebaik mungkin, sebisa mungkin untuk menghindari itu terjadi." Wanita lavender meminum wine yang sudah dihidangkan untuknya. Ia meminumnya dengan penuh keanggunan. Karna pencahayaan di tempat itu sangat redup, membuat seolah-olah ia sedang meminum darah segar.
"Hanya orang bodoh atau terlalu psikopat lah yang mau mengambil tindakan sebodoh itu. Ya, kau tau kan seorang psikopat tingkat lanjut itu, tidak kenal mati. Dan mungkin itu bisa saja terjadi jika para dewa-dewi yang menyebalkan itu punya sifat seperti itu. Tapi sayangnya tidak." Wanita onyx menanggapi perkataan wanita lavender itu.
"Para dewa-dewi yang menyebalkan itu tidak akan setega itu pada para bawahannya. Mereka terlalu lembut dan terlalu baik sama seperti ia. Saking baiknya ia sampai rela menerima siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Ia dengan senang hati menerima mereka di kekaisarannya." Pria dengan tanda bintang ungu di pipi kirinya lanjut menanggapi percakapan itu.
"Tapi ironisnya, orang yang ia tolong malah menjadi boomerang bagi dirinya, keluarganya,rakyatnya, dan kekaisarannya. Dasar makhluk rendahan tak tau terima kasih. Sudah ditolong malah nyerang balik orang menolong mereka." Perkataan itu disahut sang kembaran.
"Dasar manusia bodoh mereka tak lebih makhluk rendahan dengan asrat yang luar biasa tinggi. Mereka haus akan kekuatan, kekuasaan, dan kehormatan. Mereka akan menggunakan segala cara untuk mendapatkannya. Bahkan itu harus menyingkirkan orang-orang yang sudah mengulurkan tangan pada mereka." Wanita onyx menanggapi perkataan itu.
"Tragedi itu sudah lama sekali. Mungkin itu sudah ada dua koma lima juta tahun yang lalu. Dan awal dari bukti betapa manusia itu terlalu rakus, tamak, serakah. Mereka rela membunuh sesama mereka untuk memuaskan hasrat itu. Bahkan jika diperlukan mereka enggak akan segan-segan membunuh saudara serahim mereka. Tapi aku yakin sekarang, ia jauh lebih selektif lagi dalam mempercayai manusia sejak tragedi itu. ... Setelah musuh kita memeriksa seluruh bagian kastil itu dan tak menemukan satu pun dari kita ada di tempat itu. Mereka mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang kita rencanakan. Dan masih banyak lagi." Wanita lavender menaruh gelas winenya di atas meja. Dengan sigap seorang pelayan mengisi kembali gelas yang kosong itu.
"Kemungkinan besar mereka berpikir kalau tempat itu kosong adalah jebakan yang kita siapkan untuk mereka. Mereka akan sekali lagi menelusuri tempat itu untuk memastikan tempat itu benar-benar ada yang menjaga atau enggak."
"Tepat, saat tempat itu benar-benar kosong. Mereka akan mulai membuat rencana baru untuk mempersiapkan keadaan terburuk yang mungkin akan menimpa mereka."
"Mungkin saja mereka akan berpikir menyerang kita terlebih dahulu sebelum kita melakukan sesuatu pada mereka."
"Mengingat mereka sudah berada di jebakan kita, mereka akan jauh lebih waspada dengan segala kemungkinan. Tapi inilah yang aku suka. Aku sangat menyukai ketika lawanku memberikan kejutan yang tak terduga dalam setiap kali pertemuan. Itu adalah sebuah surprise."
"Kau benar. Itulah yang aku tunggu dalam permainan kali ini. Aku tidak sabar kejutan seperti apa yang akan mereka siapkan untuk kita kali ini."
"Hal yang paling aku suka adalah ketika lawanku memberikan sebuah kejutan yang tak terduga dan aku berhasil membalikan keadaan yang seperti mereka rencana. Itu sesuatu yang begitu luar biasa."
"Kau benar. Itu tidak ada duanya. Mendapatkan surprise dan dapat membalikan keadaan yang sudah mereka kondisikan dengan cepat adalah dua hal yang begitu luar biasa. Itu sesuatu yang sangat langkah bisa terjadi dalam pertarungan."
"Lakukan sekarang juga. Sebentar lagi mereka akan sampai ke tempat itu. Sebelum itu terjadi, cepat perintahkan seluruh prajurit yang ada di tempat itu untuk kembali ke sini. Cepat." Mendengar perintah itu turun, prajurit itu mengiyakan tugas itu dan bergegas menjalankan tugas itu sebaik mungkin.
"Tidak ku sangka puncak permainan akan tiba secepat ini."
"Kau benar. Ini lebih cepat dari yang kita perkirakan. Tapi inilah yang membuatnya semakin menarik."
"Sepertinya lawan kita kali ini tidak memandang kita sebelah mata. Mereka tau kita bukan kelompok sembarang, makanya mereka bergerak secepat mungkin untuk menghindari hal buruk terjadi di dunia mereka."
"Padahal tujuan kita kemari hanya inginkan ia kembali ke tempat yang seharusnya ia berada. Dan sejak awal merekalah yang memulai peperangan inikan. Jika saja mereka tidak menghalangi kita, mungkin semua kematian yang terjadi dapat dihindari. Tapi sayangnya mereka terlalu ikut campur. Dan ini yang mereka dapat dari tindakan ceroboh nan bodoh mereka."
"Siapapun yang menghalangiku untuk mendapatkan kembali adik kesayanganku, akan ku tebas mereka tanpa pandang bulu. Siapapun yang menghalangi jalanku, akan ku hancurkan tanpa ada satu pun yang tersisa. Akan ku pastikan mereka menerima kehancuran yang begitu luar biasa menyakitkan."
"Ara, lihat siapa yang lagi marah. Yang enggak akan segan-segan menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalan rencananya. Benar kan,
Pemengang dari segala kontrak kematian, Sang dewi kontrak kematian, Hell."
"Berhenti meledekku. Bukannya kau juga sama. Hanya saja yang membedakan diriku dengan kau hanya cara kita menghancurkan sesuatu saja. Aku enggak akan segan-segan menebas siapapun yang menghalangiku dengan death scytheku, dan kau? Kau datang seolah-olah malaikat yang turun dari langit membawa kotak penuh berkah pada manusia. Aslinya, kotak yang kau berikan itu isinya tak lain dan tak bukan malapetaka. Kau menghancurkan mereka secara perlahan dan sangat tragis. Sementara aku, menghancurkan mereka dengan cara yang sangat lembut dan tanpa rasa sakit. Yang aku bilang ini tidak salahkan. Sang pembawa malapetaka, Pandora."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments