Chapter 14

Cahaya mulai masuk ke pupil matanya. Cahaya itu sangat menyilaukan hingga ia tidak bisa tertidur lagi. Menggosok matanya yang masih sangat kantuk itu. Perlahan ia bangkit dari tempat surgawi itu dan mulai berjalan ke kamar mandi dalam keadaan setengah sadar. Sekarang ia tepat berada di wastafel. Melihat dirinya yang baru setengah sadar di pantulan cermin di hadapannya. Ia membuka keran air dan mulai membasuh wajahnya dengan lembut. Perlahan rasa kantuknya mulai hilang. Ia terus membasuh wajah mungilnya itu sampai rasa kantuknya hilang. Ia mengambil handuk yang ada tepat samping cermin dan mulai mengelap wajahnya hingga kering. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia menghela napas kecil.

"Semua semakin aneh sejak aku menghilang di hutan." Ia berbicara pada dirinya di cermin itu.

"Pertama, jantungku mulai melemah. Apa karna kejadian itu? Apa kejadian itu benar terjadi? Tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Seolah-olah itu cuma mimpi belakang. Kedua, tiba-tiba aku mengeluarkan kekuatan yang luar biasa saat itu. Aku dengan mudah mengalahkan wanita dan para bandit itu seorang diri. Tapi kenapa lagi-lagi aku tidak mengingatnya? Sampai-sampai Luna harus menceritakan balik pada ku. Sampai-sampai Ayahanda, Ibunda, Alex, Alexia juga Luna semakin mengkhawatirkanku. Ditambah sejak itu, aku semakin tak berdaya. Aku jauh lebih lemah dibandingkan waktu aku diculik. Apa ini yang dimaksud wanita itu kekuatan maha dahsyat? Ketiga, Sejak aku kembali dari upacara kelahiran anggota kerajaan. Entah udah beberapa kali, aku muntah darah. Semakin hari tubuhku semakin lemah." Ia terbatuk. Ia menutup mulutnya. Cairan cukup kental berwarna merah mencoba keluar dari celah jari-jarinya. Ia melihat cairan yang ada di tangannya saat ini. Tak lama ia melihat kembali ke cermin dan menemukan mulutnya juga sudah ditutupi cairan merah cukup kental itu.

"Darah." Ia tampaknya sudah tak terkejut lagi melihat itu. Ia dengan tenang dan telaten membersihkan cairan itu dari tangan dan mulutnya. Ia juga membersihkan wastafel itu untuk menghilangkan jejak cairan merah itu dari siapapun. Ia mendengar seseorang memanggil dirinya dari kamarnya sekarang.

"Luka, Luka, Luka sayang. Dimana kau, nak?" Itu suara sang Ibunda. Sepertinya ia sudah terlalu lama di depan wastafel. Ibunya mulai mencari ia. Ia mengeringkan daerah mulutnya dan keluar menjumpai sang ibunda.

"Ada apa ibunda? Aku baru saja bangun loh. Dan sebentar lagi aku akan pergi mandi. Ibunda ingin membangunkan ku tadi. Sekarang ibunda tunggu aja di meja makan. lima belas menit lagi aku akan kesana." Ia dengan perlahan mendorong tubuh ibunya keluar dari kamarnya. Maria cuman bisa mengikuti kemauan putra sulungnya itu.

"Jangan lama ya, sayang. Kami semua menunggumu." Tepat setelah mengatakan itu Maria menuju tangga dan turun ke bawah. Melihat sang ibunda sudah pergi, Luka menutup pintu kamarnya dan bergegas mandi. Selesai mandi, ia membuka lemari pakaian dan mulai mengobak-abik lemari nya. Ia mencari seragam musim dinginnya. Mengingat musim dingin sudah datang. Tepat tadi malam salju mulai turun dengan lembut ke bumi ini dan menutupi lingkungan sekitarnya.

Selesai memakai seragam musim dinginnya, Luka berjalan menuju balkonnya. Hawa dingin mencoba masuk ke dalam seragam musim dinginnya. Kumpulan asap putih keluar dari mulutnya. Menghirup udara dingin membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Luka kembali ke kamarnya yang hangat. Ia menutup pintu balkonnya dan meninggalkan kamarnya. Ia turun ke meja makan. Di sana ada ayahandanya, Ibundanya, kedua adiknya dan beberapa pelayan yang berdiri yang siap siaga kapan saja di samping meja makan.

"Selamat pagi, Tuan muda Luka." Pelayan wanita itu mendorong kursi Luka. Ia mempersilahkan Luka duduk di sana. Tak lama Luka duduk di kursi itu, beberapa pelayan menghidangkan makanan untuk Luka. Makanan kali ini begitu banyak dari sarapan biasanya.

"Selamat pagi, Ayahanda, Ibunda, Alex, Alexia. Apa perasaanku saja, kalau sarapan ku kali ini lebih banyak dari biasanya." Luka melihat makanan di depannya.

"Tidak, memang ibunda yang meminta kepala koki membuat semua makanan itu." Maria meminum teh kesukaannya dengan anggun. Luka hanya terdiam mendengar itu. Ia tidak begitu yakin apa ia sanggup menghabisi semua makanannya itu. Menu sarapannya begitu komplit. Nasi dengan campuran biji-bijian, beberapa slice daging lilit jamur enoki dicampur saus teriayaki yang begitu menggoda, satu telur onsen, salad, sup jamur merang bening dan beberapa potong buah-buahan yang begitu nikmat. Untuk minumnya sang ibu menyiapkan jus jeruk hangat.

"Ibunda, Bukannya ini terlalu banyak? Aku tidak yakin menghabisi ini semua. Dan kenapa makananku lebih banyak dari kalian?"

"Luka, kau tau kan kalau tubuh dan jantungmu cepat kelelahan. Karna itu, Ibunda harus memberikan semua makanan bergizi seperti ini setiap kali kau makan. Ibunda mau mengimbangi kualitas makananmu dengan keadaan tubuhmu itu. Jadi, makananlah. Ibunda yakin kau pasti bisa menghabiskan semua itu." Setelah mendengar perkataan sang ibunda, Luka tanpa banyak basa-basi mulai melahap makanannya itu. Butuh waktu yang cukup lama buat ia menghabiskan semua makanan itu.

Setelah sarapan selesai, mereka berpamitan kedua orang tua mereka dan berangkat ke sekolah. Sepanjang perjalanan, semua ditutupi butiran putih yang halus dan dingin. Udara sangat dingin di luar sini. Jalanan jadi licik karna benda kecil putih itu. Meski dingin, namun semua orang masih melakukan aktifitas tanpa ada gangguan.

Akhirnya mobil mereka sampai di depan gerbang sekolah. Mereka turun dari mobil di sambut butiran salju putih yang turun dari angkasa. Mereka berpamitan dengan supir mereka dan bergegas masuk ke dalam sekolah yang begitu hangat. Di lorong sekolah Luka membuka topi rajutnya. Ia begitu asik berjalan lorong, Luna menghampiri dan mengejutkannya. Mereka berjalan ke kelas bersama. Tak lama bel masuk berbunyi. Para murid mulai berlarian menuju kelas masing-masing sebelum para guru masuk ke kelas untuk memulai jam pertama.

Bel istirahat pertama berbunyi, semua murid berhamburan dari kelas dan mulai melakukan aktifitas yang mereka sukai. Ada yang bermain perang bola salju, membuat boneka salju, membuat istana salju, ke perpustakaan, pergi ke kantin dan masih banyak lagi. Semuanya tampak bersenang-senang. Luka hanya duduk di bangku pinggir taman sekolah dan menyaksikan semua aktivitas yang dilakukan murid lainnya. Ia kemudian menarik kalung yang ia gunakan saat ini. Ini kalung pemberian dari seorang wanita peramal padanya. Kebetulan miss Rose baru saja lewat di lorong dekat taman dan melihat Luka sendirian. Ia menghampiri Luka yang sendirian.

"Ara, tumben kali sendiri, Luka. Kemana Luna, Luka? Biasanya sama Luna. Apa aku boleh duduk di sampingmu?" Luka berdiri dan mempersilahkan miss Rose duduk di sampingnya. Miss Rose tersenyu. dengan lembut lalu duduk di samping Luka.

"Luna lagi ke kantin. Dia bilang ia kelaparan sekarang karna cuacanya yang dingin. Ngomong-Ngomong, miss mau kemana? Apa miss baru keluar dari kelas?"

"Iya Begitulah, Luka. Dan aku ingin mengantar buku-buku ini ke kantor. Tapi saat tengok kau duduk termenung seorang diri aku tidak tega. Kau pasti butuh teman cerita."

"Maaf ya miss sudah membuat mu harus menemaniku seperti ini." Miss Rose dengan lembut menggelengkan kepalanya. Ia tidak keberatan. Hingga kalung milik Luka menarik perhatiannya.

"Luka, kalung ini dari mana kau dapat? Dan siapa yang memberikannya?" Sambil menunjuk kalung ini. Luka mengangkat kalungnya sejajar dengan posisi matanya.

"Kalung ini diberikan seorang peramal wanita padaku. Dia bilang aku akan mengalami beberapa kesialan. Dia memberiku ini. Katanya sebagai jimat keberuntungan sekaligus penolak bala dan sial. Tapi sejujurnya aku tidak percaya pada hal-hal berbau mistis begitu." Luka menaruh kedua tangannya dibelakang tubuhnya dan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya itu. Ia menatap langit yang mendung dengan mata telanjang.

"Kalau kau tidak percaya akan hal begituan. Kenapa kau menerima pemberian wanita itu. Luka kau tau kan, menerima pemberian dari orang yang tidak dikenal itu tidak baik. Apa kau tau niatan seperti apa yang orang itu sembunyikan." Miss Rose sedikit menasehati muridnya yang satu ini. Luka hanya tersenyum kecut. Lalu wajahnya menunjukkan ekspresi bingung.

"Tapi wanita itu kata ia sepupunya mis Rose. Jadi aku berani menerimanya. Bahkan ia punya foto bareng sama mis, loh." Miss Rose memiringkan kepalanya. Wajahnya penuh bertanya-tanya.

"Dia bilang aku sepupuan dengannya." Luka mengangguk.

"Luka, kayak mana ciri-cirinya. Bisa kau gambarkan."

"Wanita itu punya rambut hitam lebat sepinggang. Permata amethyst menghiasi matanya. Matanya seperti mata kucing. Wajah oval dengan pipi yang lumayan tembem. Tingginya kira-kira seratus tujuh puluhan." Luka mencoba mendeskripsikan wanita itu dari ingatannya.

"Begitu ya. ... Luka boleh aku pegang kalung itu." Luka memberikan kalung itu pada miss Rose. Miss Rose berterima kasih. Ia mulai menelah kalung itu. Waktu ia mencari detail kecil, ia mencium aroma yang sangat familiar baginya.

"Aroma ini sangat familiar. Wangi apa ini? Wangi ini... Chocolate. ...Tunggu dulu ini bukan hanya chocolate. Ini lebih ke... Perpaduan permen coklat dengan... vanili." Rose mencari wangi yang sangat familiar ini. Ia memutar otak untuk mengingat wangi itu.

"Wangi ini... aku tau siapa yang suka dengan wangi ini. Tapi dia bilang... Ini wangi bunga... Bunga apa???" Ia terus mencoba mengingat wangi itu. Hingga...

"Wangi ini. Wangi bunga Chocolate Cosmos. Iya tak salah lagi. Ini wangi bunga Chocolate Cosmos. Bunga yang memiliki perpaduan antara permen coklat yang manis dengan vanili yang harum. Iya, tak salah lagi. Ini parfum kesukaannya." Wajahnya di penuhi rasa senang setelah berhasil menebak wangi yang familiar itu.

"Miss tau wangi ini? Jadi apa wanita itu dengan miss sepupuan?" Mendengar itu Rose terkejut. Ia mengangguk pelan dan menatap ke langit.

"Iya. Aku dengan ia sepupunya. Lebih tepatnya sepupu jauh. Jadi aku perlu mengingat beberapa cirinya untuk memastikannya. Tapi aku malah ingat dengan parfum kesukaannya." Luka memiringkan kepalanya. Wajah mungilnya tampak bingung.

"Parfum?"

"Ia, dikalung ini tertinggal wangi parfum kesukaannya. Lebih baik kau menyimpannya bagu-bagus jangan sampai Luna tau. Kau tau apa yang akan terjadi jika Luna tau kau diberikan kalung dari orang yang tak dikenal. Ditambah lagi ada aroma parfum yang samar-samar tertinggal di sini." Rose memasangkan kalung itu ke lehernya Luka. Tak lama bel masuk berbunyi. Mendengar itu mereka berdua saling pamitan satu sama lain.

...☆☆☆☆☆...

Setelah mengantar Luna kediamannya, Luka menggunakan hoverboatnya dengan kecepatan relatif rendah dan terbang enggak sampai satu meter dari tanah. Ia sengaja mengendarai hoverboatnya seperti itu mengingat sekarang musim dingin. Semakin tinggi terbang dengan kecepatan tinggi semakin dingin juga udara disana. Menikmati jalanan ditutupi salju dengan orang lalu lalang di sekitaran kota membuat hatinya sedikit hangat. Luka tiba-tiba terjatuh. Ia seperti menabrak sesuatu. Ia melihat apa yang ia tabrak. Dan tanpa sadar ia menabrak seorang wanita berusia dua puluhan yang lagi berjalan di trotoar. Ia terlalu asik menikmati pandangan sekelilingnya, tanpa sadar menabrak wanita ini.

"Maaf kak. Kakak tidak apa-apa? Apa ada yang terluka? Aku benar-benar minta maaf. Aku terlalu sibuk melihat sekelilingku dan tanpa sadar menabrak kakak. Aku benar-benar minta maaf." Luka merapatkan kedua tangannya yang dibalut sama sarung tangan rajutnya. Wajah mungilnya dipenuhi rasa bersalah. Wanita itu hanya tersenyum dan terkekeh kecil melihat tingkah anak laki-laki usia puluhan awal begitu merasa bersalah karna telah menabrak dirinya.

"Tenanglah, anak manis aku tidak apa-apa." Ia berdiri sambil membersihkan sekitar bajunya. Melihat wajah anak laki-laki manis ini masih memiliki rasa bersalah, ia mengusap tangannya ke pipi sang anak sambil tersenyum manis.

"Ayo, kita duduk dulu. Ada yang ingin kakak bilang." Ia dengan lembut menarik tubuh Luka ke tempat duduk di pinggir jalan itu. Ia memangku Luka.

"Kak, aku benar-benar minta maaf. Aku terlalu asik melihat sekelilingku tanpa sadar menabrak kakak. Aku terlalu ceroboh." Wanita itu dengan penuh kelembutan mengelus kepala kecil Luka.

"Kakak malah lebih senang adik kecil tidak kenapa-kenapa. Itu paling penting, mengingat tubuh mu masih kecil." Ia tersenyum lembut dan penuh perhatian. Luka tersenyum. Akhirnya ia merasa lega mendengar perkataan itu. Tanpa sadar tubuhnya mulai kedinginan. Wanita itu langsung memeluknya saat mengetahui keadaannya. Ia perlahan merasa hangat. Anehnya, pelukan wanita itu merasa nostalgia. Seperti ada seseorang yang pernah dengan penuh kasih sayang, perhatian pernah memeluknya seperti itu. Ia berpikir awalnya itu pelukan sang ibunda. Tapi rasanya berbeda. Itu dua pelukan yang sangat berbeda. Pelukan sang ibu penuh kasih sayang, perhatian pada anaknya. Namun ini, seperti pelukan seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya dengan penuh hati. Cinta murni sang kakak buat adiknya. Itulah yang Luka rasakan saat ini.

Apa mungkin ia tidak pernah merasakan hal itu. Mengingat ia adalah anak sulung, ia enggak punya kakak namun ialah kakak bagi kedua adik kembar. Mungkin ini yang dirasakan sang adik. Luka tersenyum setelah berbicara dalam hatinya. Tak lama Luka berpamitan dengan wanita itu. Ia tak lupa sekali lagi meminta maaf pada wanita itu karna kecerobohan dirinya. Ia kembali menaiki hoverboatnya. Ia masih menerbangkan hoverboatnya dengan ketinggian dan kecepatan yang sama dengan yang pertama kali. Sebelum benar-benar pergi Luka melambaikan tangannya sebagai tanda berpamitan darinya. Wanita itu dengan lembut membalas lambaian itu. Tak lama mulai menjauh ia tersenyum. Kedua bibirnya bergerak seperti mengatakan sesuatu tapi tanpa suara. Dan mulai berjalan ke tempat sepi di samping gedung yang tidak jauh dari situ.

...☆☆☆☆☆...

Saat ini keluarga Victoria baru saja selesai melakukan makan malam. Dan seperti biasa, mereka membicarakan beberapa topik.

"Luka apa kau terjadi sesuatu pada jantungmu, sayang." Luka mengeleng-gelengkan kepalanya dengan lembut untuk menyingkirkan rasa cemas dan khawatir sang ibu tercinta. Sang ibu tersenyum lembut dan penuh lega mendengar hal itu.

"Baguslah, Luka. Dan, iya. Ada yang ingin ayahanda beri tahu kalian. Ayahanda akan pergi ke kota Sera ketempat wilayah Marquis Ruby. Ayahanda mendengar disana terjadi pemberontak yang dipicu orang luar. Memang saat ini belum besar. Tapi kalau dibicarakan itu akan berakhir buruk. Dan kemungkinan terburuknya, kota Sera bisa jadi lautan api." Marquis Victoria menaruh cangkir teh nya dan tatapannya mulai serius.

"Kapan kau akan pergi, sayang?" Perasaan cemas dan khawatir mulai menguasai dirinya. Ia merasa ada firasat buruk. Seperti akan terjadi sesuatu dengan keluarga besarnya lagi.

"Pagi pagi buta nanti aku akan berangkat. Aku akan membawa beberapa pasukan ikut mengawal dan membantuku di sana. Tapi tenang saja, aku sudah meninggalkan setidaknya lima regu pasukan besar yang sangat handal untuk tetap tinggal dan berjaga disini selama aku pergi." Marquis Victoria menatap wajah keluarga satu persatu. Dan berhenti pada saat melihat wajah Luka. Ia menatap wajah putranya cukup lama.

"Luka, Ayahanda tau ini akan cukup berat bagimu mengingat kondisi tubuh mu sekarang. Tolong jaga Ibunda, Alex, Alexia, Luna dan semua orang yang tinggal di kota ini selama ayahanda pergi." Wajahnya tampak serius, penuh harapan dan juga cemas. Semua perasaan itu sekarang tercampur aduk dalam dirinya sekarang. Luka berdiri mendengar perkataan sang ayah. Tubuhnya dalam posisi siap menerima arahan sang atasan.

"Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi harapan, Ayahanda. Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan harapan ayahanda." Mendengar percakapan antara suami dan putra sulungnya membuat ia semakin cemas.

"Ayahanda sudah berbicara dengan komandan saat ini dan menjelaskan semua nya. Bahkan tentang kau akan menjadi seorang komandan tertinggi jika terjadi penyerangan. Ayahanda yakin dengan kemampuan mu dalam mengatur strategi. Dan ayahanda ingin mengingatkan, tetaplah tenang dan berpikirlah logis apapun yang terjadi. Jangan dengarkan kata-kata orang lain yang merendahkan dirimu, Luka. Apapun kata orang-orang bodoh itu, kau tetaplah putraku yang aku banggakan. Aku sebagai ayahmu sangat mengetahui tentang mu lebih dari siapapun." Mendengar perkataan sang ayah, Luka merasa ada sesuatu yang begitu kuat seperti berusaha keluar dari dalam dirinya. Perasaan yang sudah lama ia tak rasakan. Perasaan yang membuatnya nostalgia. Perasaan saat kau diberikan kepercayaan dan perasaan dimana kau diperlukan setelah sekian lama kau dihina dan dilecehkan oleh banyak orang. Perasaan saat mendengar semua itu, kau merasa kau orang paling tidak diperlukan di dunia. Tak lebih dari sebuah sampah yang sangat kotor.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!