"Hei bagaimana rencananya sekarang, To Kokkino? Apa perlu kita hancurkan mereka sekarang?" Ble menanyakan rencana mereka kali ini. Saat ini, ia sangat sangat geram. Ia ingin segera meluluh-lantakkan orang-orang itu. Tapi sayangnya ia tidak bisa melakukan itu sekarang. Mengingat To Kokkino adalah sang komando kali ini, dan ia belum mengeluarkan perintah apapun. Jadi ia harus menahan dirinya sampai perintah itu datang dengan sendirinya.
"Aku tau, Ble. Kau pasti tidak sabar mengobrak-abrik mereka. Tapi bersabarlah sebentar lagi. Tak lama lagi, kau bisa mengobrak-abrik mereka sesuka hatimu." To Kokkino tak melepaskan pandangannya dari musuhnya. Mereka bertiga saat ini sedang memperhatikan pergerakan musuh dari atas tebing yang sangat curam. Musuh mereka jauh di bawah sana lagi bergerak ketiga arah yang berbeda. Namun tujuan mereka tetaplah sama. Mata merahnya yang indah terus memperhatikan pergerakan musuh dan memprediksi arah dan tindakan seperti apa yang rencanakan lawan mereka. Sementara wanita yang satu lagi hanya tersenyum lucu melihat tingkah Ble yang begitu tidak sabaran.
"Kau tidak pernah berubah, Ble. Bahkan dari zaman para dewa sifap tak sabaran mu tidak ada yang berubah sama sekali. Mah, meski begitu. Sifat mu itulah yang membuat diri lain dari yang lain. Bahkan Master saja menyukai keunikan mu itu." Wanita itu meledek temannya sendiri dengan ekspresi yang lucu. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya melihat tingkah temannya yang satu ini.
"Diam, Violeta. Kau tidak punya hak untuk mengomentari ku seperti itu. Dan juga jangan bawa-bawa master dalam ucapanmu itu. Jika aku dengar sekali lagi kau membawa master dalam ucapanmu itu. Kau pasti menerima balasan yang setimpal." Ble mengepalkan tangannya. Ia siap kapan saja meninju wajah Violeta. Violeta tertawa geli sambil menutup salah satu matanya.
"Hei, hei, hei. Kenapa kau marah begitu. Emangnya salah ya. Kan memang benar itu yang dikatakan master. Kalau kau tidak percaya, tanya saja pada Kokkino. Ia pasti membenarkan ucapanku." Violeta mengatakan itu sambil mengunakan ekspresi meledek. Ble semakin kesal melihat itu. Ia mengayunkan tinjuannya pada Violeta. Tepat sebelum tinjuan itu mendarat ke wajah Violeta. Perintah dari Kokkina keluar.
"Waktu bergerak. Ble. Kau ke timur. Violeta. Kau ke barat. Dan aku akan ke utara." Mendengar perintah itu amarah Ble menjadi reda. Sekarang ia begitu bersemangat meluluh-lantakkan orang-orang itu. Mereka meninggalkan tempat itu dan langsung berpencar sesuai instruksi Kokkino. Ble sangat begitu senang hingga ia melesat dengan cepat di angkasa.
Saat ini To Kokkino sudah sampai di tempat terdepan musuh di bagian utara. Saat ini ia berdiri di depan para musuhnya itu. Melihat ke datangan orang asing yang tak dikenal membuat mereka memasang posisi bersiap. Bahkan sang komandan, juga ikut dalam posisi siap bertarung kapan saja. Ia tidak percaya ada yang bisa lepas dari kemampuan melacak keberadaan musuh. Ia menatap wanita itu lekat-lekat. Ia hanya seorang diri tanpa ada siapapun berada di sekitarnya.
"Sebelumnya ijinkan aku memperkenalkan diriku. Aku Si Kokkina Matia Elampsan, To Kokkino. Aku diperintahkan untuk menghentikan kalian disini. Jika kalian ingin melewati tempat ini, coba kalahkan aku di sini." Mata merahnya menyala begitu terang. Ia mengintimidasi lawan-lawannya dengan tatapan matanya. Harapannya di penuhi kelicikan, keserakahan dan harus akan pertumpahan darah. Ia bak seorang vampir yang haus akan darah manusia. Para prajurit gemetaran ketakutan melihat mata merah ruby menyala begitu jahat. Bahkan sang komandan juga ikut ketakutan. Namun, ia menyembunyikannya. Baru kali ini ia bisa dibuat ketakutan seperti ini selain amarah Tuan Carionnya. Aura yang dipancarkan wanita itu sangat gelap, sangat jahat dan dipenuhi akan haus darah.
'Sebenarnya, siapa wanita itu? Apa ia wanita yang sama yang diceritakan tuan Carion? Aura nya sangat tidak masuk akal. Begitu pekat dan begitu gelap.' Sang komandan terus bertanya pada dirinya sendiri tentang siapa wanita yang ada di hadapannya sekarang. Namun, ia berusaha menyangkal semua pertanyaan dalam benaknya dan memerintahkan prajuritnya untuk menyerang wanita itu.
"Jangan takut. Ia berusaha mengintimidasi kalian saja agar menyerah dan mundur dari sini. Kita harus menyelesaikan tugas yang diberikan tuan Carion pada kita. Karna itu kita harus melawannya dan mengalahkan dia disini. Tak peduli salah satu dari kita gugur di tempat ini. Kita semua akan mati dengan rasa bangga karna bisa melayani dan menyelesaikan tugas dari tuan Carion. Tunggu apa lagi, Serang!!!" Sang komandan mengatakan dengan lantang penuh keberanian. Suaranya tidak sama sekali menunjukkan ia takut akan kematiannya. Bahkan jika ia harus mati disini. Di tempat ini. Itu akan menjadi kematian yang begitu terhormat baginya. Suara teriakan semangat prajurit begitu bersemangat. Mereka berlari sekuat tenaga menyerang wanita yang ada dihadapan mereka. Kokkino sama sekali tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Ia malah semakin tersenyum jahat.
'Ini akan sangat menarik.' Ia bergumam kesenangan dalam hatinya. Hatinya sangat senang sampai-sampai ia mau menari saat itu juga. Namun kondisi tidak memungkinkan untuk melakukannya. Sebagai gantinya, ia akan memberikan sebuah hadiah pada mereka yang berhasil membuatnya sesenang ini. Ia akan menghadiahkan sebuah kematian tanpa rasa sakit sama sekali. Ia akan mengirim mereka ke alam matian dengan sangat lembut tanpa rasa sakit.
Saat semua prajurit beserta komandannya menyerang dirinya dari segala arah. Ia hanya menangkis semua serang yang datang padanya dengan cepat. Ia berhasil menangkis dan menjatuhkan satu persatu lawan-lawannya. Saat sekelompok prajurit membentuk sebuah bola api yang sangat besar, kelompok lain bertugas membuat dirinya lengah. Tiba waktu yang tepat, bola api yang sangat besar melesat sangat cepat dan menghantam dirinya.
Semua prajurit merasa sangat senang. Mereka yakin kalau dirinya tidak akan sempat mengelak serangan yang sangat kuat itu dan berakhir hancur bersama bola api itu. Walaupun begitu, posisi tubuh mereka masih dalam keadaan siaga. Hanya wajah mereka yang sangat senang.
"Kenapa wajah kalian begitu senang?" Suara yang berbicara itu sangat familiar. Mata seluruh prajurit mencari sumber asal suara itu. Suara itu berasal dari seorang wanita yang lagi duduk salah satu dahan pohon yang cukup tinggi. Ia duduk dengan santainya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa padanya. Semua terkejut termaksud sang komandan. Ia tidak percaya wanita itu bisa menghindari serangan sangat kuat dan cepat seperti itu.
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau menghindari serang sekuat itu tadi. Hanya ada peluang nol koma nol nol satu persen dapat menghindari serangan itu." Salah satu prajurit menjerit. Ia tidak percaya apa yang ia lihat.
"He, jadi begitu kah? Ma berarti aku berhasil memanfaatkan peluang yang nol koma nol nol satu persen itu." Ia hanya membalas dengan santai pertanyaan mereka. Ia semakin tertarik dengan mereka. Tiba-tiba, suara ledakan yang sangat dahsyat terdengar. Diperkirakan suara ledakan itu dari arah timur. Semua orang kecuali Kokkino terkejut.
" Itu dari arah timur. Berarti pasukan timur disana juga diserang." Salah satu prajurit memberitahu kecurigaannya. Sementara sang komandan hanya terdiam setelah mendengar perkataan salah satu prajuritnya. Ia mulai bingung harus bertindak bagaimana sekarang. Ia benar-benar terjebak. Awalnya ia berencana memberikan sinyal pada pasukan yang lain kalau mereka diserang. Namun, semuanya jadi berantakan. Pasukan timur saat ini juga diserang. Ia bertanya-tanya apa pasukan barat masih aman. Untuk saat ini, pasukan utaranya dan pasukan timur yang diserang. Kabar pasukan barat masih belum ada kabar hingga sekarang. Apa mereka masih aman atau sudah dimusnahkan.
"Ble, aku tau kau sangat senang bisa mencincang orang-orang ini. Tapi enggak perlu juga sampai buat ledakan sehebat itu. Sampai terdengar kesini." Kokkino berbisik pada dirinya sendiri. Ia memegang kepalanya yang pusing kemudian menghela napas berat. Ia tidak bisa berkata-kata lagi melihat tingkah temannya ini. Kokkino jadi lengah seketika mendengar ledakan. Sang komandan yang tidak sengaja menoleh ke arahnya melihat kesempatan emas itu. Ia langsung memerintahkan pasukannya untuk menyerangnya. Ia memberikan perintah dari alat komunikasi mereka. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan yang tak akan muncul kedua kalinya. Kesempatan ini harus digunakan dengan maksimal untuk mengalahkan wanita itu.
Kokkino akhirnya tersadar, ketika ia mendapatkan sayatan kecil di pipi kirinya. Ia menyadari lawan memanfaatkan kelengahannya untuk menyerang balik. Ia sempat tersudut beberapa saat. Tapi itu tak lama. Ia mampu membalikan keadaan.
"Aku semakin tertarik dengan kalian. Kalian memanfaatkan kelengahanku untuk menyudutkanku. Walaupun itu tidak lama. Tapi tetap saja, itu hebat. Baru kali ini aku merasakan rasanya disudutkan. Aku harus memberikan hadiah yang sesuai dengan perjuangan kalian. Sekarang aku berhutang dua kali pada kalian." Ia berbisik pada dirinya kemudian ia tersenyum senang dipenuhi kejahatan dan kelicikan. Saat beberapa prajurit itu menyerangnya dengan senjata mereka, di saat itu ia langsung melesat dengan cepat keluar dari kerumunan prajurit. Tetap ia meletakkan kedua kakinya di tanah, darah bercucuran keluar dari bagian tubuh para prajurit. Tak sedikit dari mereka langsung ambruk ke tanah tak bernapas lagi.
Sekarang jumlah prajurit sudah tinggal setengah dari jumlah awal mereka. Sang komandan terkejut dengan yang terjadi. Wanita itu mampu menumbangkan setengah prajuritnya dalam sekejap. Tepat sebelum wanita itu kembali menyerang para prajurit itu, Sang komandan langsung menantang satu lawan satu padanya. Ia terkaget sebentar lalu tersenyum.
"Boleh juga, dirimu. Tapi apa kau tau konsekuensinya melawan ku. Kau akan kehilangan nyawa mu yang begitu berharga. Apa kau yakin, kau siap untuk itu?" Kokkino bertanya kesiapan hati sang komandan melawan dirinya. Sang komandan memegang erat pedangnya kuat-kuat. Tatapan penuh keberanian dan keyakinan. Tatapan tak kenal takut.
"Tentu saja aku tau itu. Aku sangat mengerti akan hal itu." Mendengar apa yang dikatakan sang komandan, para prajurit berusaha menghentikannya.
"Tunggu komandan. Kau tidak perlu melakukan itu. Lebih baik kita mundur dan menunggu bala bantuan. Nyawa mu itu begitu berharga. Dirimu telah menyelamatkan banyak nyawa dan begitu kedepannya. Karna itulah anda harus tetap hidup, Komandan." Prajurit itu memohon pada sang komandan agar memikirkan dua kali keputusannya. Raut wajah sang komandan sama sekali tidak berubah. Hanya saja tatapannya begitu marah.
"Berhentilah merengek. Mana sikap tegas, pemberani dan tak kenal mati kalian, hah? Jangan pernah sekalipun kalian mengaku seorang prajurit dengan sifat cengeng kalian itu. Sekalipun faktanya kalian adalah seorang prajurit. Jika aku mundur dari sini sekarang, aku tak lebih seperti seorang pecundang. Aku tidak akan bisa pernah lagi menatap wajah tuan Carion. Sejak aku masih menjadi prajurit seperti kalian. Aku sudah menanamkan sejak saat itu. Jika aku menjadi seorang prajurit, berarti aku siap mati kapan saja. Siap mati melindungi yang memang seharusnya dilindungi. Mati disini jauh lebih membanggakan dibandingkan aku mundur menunggu bala bantuan. Dan seperti yang kalian bilang. Aku memang sudah berhasil menyelamatkan nyawa banyak orang. Tapi enggak sedikit nyawa yang enggak bisa ku selamatkan. Aku gagal menolong mereka saat mereka membutuhkan bantuan ku. Aku gagal. Jika aku berakhir disini. Di tempat ini. Dan di tangan wanita ini. Aku ingin kalian untuk tidak membalas dendam atas kematian ku pada ia. Dan kedua, aku ingin dari kalian yang berhasil selamat tempat ini. Tolong lanjutkan perjuanganku. Aku ingin kalian menolong nyawa banyak orang yang membutuhkan. Lindungi yang memang seharusnya dilindungi sekalipun itu mengorbankan nyawa kalian. Lakukan. Jangan kabur dari kenyataannya. Karna itulah seorang prajurit sejati. Ia akan selalu melindungi yang memang harus dilindungi. Dan ia siap mati untuk melindungi hal tersebut." Ia dengan lantang menolak permintaan anggotanya. Ia dengan lantang dan gagah berani mengucapkan kata-kata terakhirnya sebelum ia benar-benar dihabisi wanita ini. Tatapan, gestur badan dan tangannya yang menggenggam pedang tidak berubah sedikitpun. Tak kenal rasa takut akan kematiannya. Ia memang sosok seorang komandan perang yang sesungguhnya. Jiwanya yang besar pantas mendapatkan kematian yang begitu terhormat.
"Kalian mundurlah. Beritahukan tuan Carion tentang ini. Dengan begitu, Para dewa-dewi yang maha hebat bisa mengambil tindakan pencegahan." Sang komandan menurunkan perintah terakhir. Ia menyuruh para prajuritnya untuk mundur dan memberitahu pada Carion tentang kejadian ini.
"Tidak, Komandan. Jika komandan ingin melawan wanita itu. Maka kami akan ikut berjuang bersamamu. Itulah harga diri yang dimiliki seorang prajurit. Itulah yang anda katakan, Komandan."
"Bodoh. Kalian bodoh. Aku sudah menyuruh kalian untuk mundur. Akan ku beri kalian waktu untuk mundur selagi aku melawan dia. Karna itu. Jangan sia-siakan kesempatan terakhir yang bisa aku berikan. Aku tau ini egois. Tapi ku mohon. Tolong, turuti permintaan terakhir ku yang sangat egois ini. Kalian harus tetap hidup sampai kalian memberitahukan pada tuan Carion. Dengan begitu, aku bisa mati dengan tenang." Sang komandan masih dalam posisi bersiap bertarung." Mendengar permohonan Sang komandan, para prajurit mulai mundur. Mereka berlari sekuat tenaga. Berlari sejauh yang mereka bisa dari tempat itu. Sekarang di tempat itu hanya ada mereka berdua. Kokkino hanya tersenyum melihat adegan yang begitu haru.
"Tidak ku sangka. Kau rela melawan diriku seorang diri dan membiarkan bawahanmu untuk mundur. Memberikan waktu pada mereka dengan imbalan nyawa mu sendiri. Sungguh luar biasa. Kau memang sangat pantas menjabat sebagai seorang komandan. Kau orang yang kenal nama takut dan mati. Luar biasa. Bagaimana caraku memberikan penghargaan dan penghormatan yang pantas dengan keberanianmu, tekadmu, dan jiwa mu yang begitu besar. Apa kau punya permintaan terakhir sebagai tanda hormatku atas tindakan mu yang begitu luar biasa." Wanita itu menunjukkan sikap sopan, penuh keanggunan dan penuh kewibawaan pada sang komandan. Ia begitu sangat menyukai tindakan heroik sang komandan yang rela mati demi sebuah kesuksesan yang lebih besar.
"Permintaan? Apa aku bisa percaya kau akan menepati janjimu?" Tatapan keraguan terlihat jelas dari silauan matanya. Kokkino hanya tersenyum anggun.
"Diantara kami bertujuh, aku orang yang akan menepati janjiku pada siapapun yang aku beri permohonan. Master ku yang begitu ku hormati dan ku banggakan pernah mengatakan. Beliau begitu menyukai diriku karena sifat ku yang selalu menepati janji yang telah ku janjikan pada seseorang. Bahkan beliau bilang kalau itu adalah salah satu keunikan diantara kami bertujuh." Ia menunjukkan sikap yang begitu bahagia mengingat pujian yang diberikan sang master tercinta padanya. Ia tidak akan pernah melupakan hari itu. Setiap kata-kata yang keluar dari bibir sang master begitu berharga. Saking berharganya, dunia dan seisinya belum cukup dibandingkan perkataan sang master. Melihat sikap wanita di depannya tidak berbohong. Ia meyakinkan dirinya untuk mempercayai harapan terakhirnya.
"Kalau begitu. Aku ingin kau tidak mengejar para anggotaku. Aku tidak tau apa kau menyerang seorang diri atau berkelompok. Aku juga tidak tau, apa orang yang membuat ledakan luar biasa dari arah barat itu sekutumu atau bukan. Yang pasti aku ingin kau tidak mengejar dan menghabisi anggotaku yang sedang mundur. Apakah bisa menepati itu?" Ia masih memiliki keraguan wanita itu akan menepati janjinya. Kokkino dengan anggun mengangkat kakinya dan berputar dengan indah kemudian membungkuk memberi hormat. Ia kembali ke posisi tegaknya dengan penuh keanggunan.
"Aku berjanji. Aku akan membiarkan prajuritmu sampai ketempat yang kau minta pada mereka. Setelah mereka sampai dan berhasil menyampaikan pesan pada tuanmu. Dan semisalnya diriku bertemu dengan ku lagi di pertempuran selanjutnya. Maka aku diizinkan untuk menghabisi mereka kan? Karna permintaanmu, cuman sampai mereka bertemu tuanmu dan menyampaikan pesan padanya, kan? Sang komandan bijaksana." Kokkino menanyakan sebatas mana permintaan sang komandan itu. Sang komandan mengagukkan kepala dengan penuh berwibawa. Kokkino tersenyum puas. Ia sangat puas dengan permintaan sang komandan. Ia mungkin termaksud salah satu orang bijaksana yang pernah ia temui. Baginya, dapat bertarung dengan orang pemberani dan bijaksana adalah sebuah kehormatan baginya. Ditambah ia semakin senang sekarang. Mengingat sekarang cuman mereka berdua yang masih hidup di tempat itu. Mereka bisa bertarung habis-habisan hingga titik darah penghabisan.
"Mari kita mulai pertarungannya." Mendengar perkataan lawannya sang komandan berlari secepat yang ia bisa dan menebaskan pedangnya ke arah lawan. Tebasan itu ditangkis oleh Kokkino. Gesekan dua pedang itu menghasilkan energi yang sangat kuat. Daerah sekitar mereka ikut hancur karna energi itu. Adu pedang tidak terlewatkan lagi. Bunyi dua pedang saling beradu memenuhi tempat itu. Gerakan yang sangat cepat. Saking cepatnya, mata manusia bisa tidak dapat melihat dengan jelas seperti apa pertarungan mereka.
Serangan dan pertahanan mereka sama sama kuat. Butuh waktu yang cukup lama, untuk bisa menumbangkan salah satu diantara mereka. Tetap sebelum sang komandan menebas tangan Kokkino. Ia langsung menusuk bahu kiri sang komandan dengan mata pedangnya. Darah berhamburan keluar tanpa arah, bak tembok bendungan yang retak. Kokkino menarik mata pedangnya dari tempat itu. Sang komandan langsung menutup luka itu dengan tangan kanannya. Ia berbicara pada dirinya sendiri betapa kuat wanita ini. Wanita ini mampu mengikuti gerakannya yang begitu cepat dan menumbangkannya seperti ini. Kokkino berhenti menyerang. Ia mundur dua langkah menjauh dari tempat sang komandan terduduk. Ia hanya menatap sang komandan yang terluka.
Sang komandan mengeluarkan kain yang cukup lebar dari tas kecilnya. Ia dengan sigap menutup luka itu dengan kainnya. Setelah selesai melakukan pertolongan pertama, ia kembali bangkit. Mengangkat pedangnya. Ia melanjutkan pertarungan mereka. Ia kembali menyerang duluan lawannya. Kokkino dengan penuh ketenangan dan keanggunan menangkis semua serangan yang datang padanya. Serangan yang diarahkan padanya tidak sekuat serangan pertama. Meskipun itu masih tergolong sangat kuat untuk orang yang lagi terluka.
Kokkino masih menangkis serangan yang datang dan menunggu waktu yang pas untuk menyerang balik lawannya ini. Tepat waktunya tiba. Ia tanpa ampun menyerang bahu kanan, dan kedua tumit sang komandan dengan mata pedangnya. Seketika komandan terjatuh tak berdaya menerima serangan balasan lawannya itu. Ia terbaring tak berdaya. Darah mengalir begitu deras di tempat tusukan itu. Ia menatap langit yang begitu cerah. Ia menghela napas ringan. Akhirnya waktunya telah tiba juga. Ia tidak menyesali ucapan dan tindakannya ini. Ia tersenyum menatap langit biru. Ia hanya bisa berharap wanita itu bisa segera mengakhiri hidupnya.
"Karna kau sudah membuatku begitu senang dan kagum dengan ucapan, tindakan dan pertarungan mu. Aku akan memberikan kematian tanpa rasa sakit. Akan kuakhiri rasa sakit mu disini juga." Ia mengeluarkan sebuah sabit yang sangat besar. Itu sabit kematian milik sang master. Ia dipercayakan memegang dan menjaga sabit itu oleh sang master. Ia akan menggunakan sabit ini pertama kalinya dalam kurun waktu dua ribu tahun lamanya. Baginya lawannya ini pantas menerima kematian tanpa rasa sakit dari sabit kematian ini.
Ia mengangkat tinggi tinggi mata sabit itu. Dengan cepat mengayunkan mata sabit itu ke tubuh musuhnya. Saat sabit itu kembali ke udara, musuhnya sudah tak bernyawa lagi. Sabit itu memisahkan raga dan jiwa sang komandan. Komandan itu meninggal dengan wajah tersenyum bahagia. Kokkino dengan cepat pergi dari tempat itu dan menghilang dalam kegelapan hutan. Meninggalkan banyak jasad para prajurit dan Sang komandan yang begitu luar biasa. Ia menyimpan sabit milik sang master dan bergegas kembali berkumpul dengan dua kawannya yang sudah lama berkumpul di tempat awal mereka.
"Tumben kali, Kokkino. Bisanya kau orang pertama ada di tempat. Kau orang yang paling cepat membereskan masalah. Tapi kali ini, kenapa kau yang terakhir datang. Bisanya itu, Violeta yang selalu datang terlambat." Ble menunjukkan wajah keheranan.
"Ada apa, Kokkino? Tidak biasanya kau terlambat seperti ini?" Violeta juga bingung dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa yang membuat temannya yang selalu bertindak cepat, dan sempurna itu tiba-tiba mendadak terlambat seperti ini.
"Maafkan aku. Ada sesuatu yang begitu luar biasa. Lawanku kali ini begitu luar biasa. Ia membuatku terkagum padanya." To Kokkino hanya tersenyum sambil terus berjalan. Mendengar perkataan Kokkino, Ble dan Violeta saling tatapan. Mereka tidak menyangka ada lawan yang bisa membuat Kokkino sampai terkagum padanya.
"Baguslah kalau begitu." Violeta mengejar Kokkino yang sudah cukup jauh dari mereka.
"Sudah lama kau tak seperti ini. Terkagum pada lawanmu sendiri itu sesuatu yang sangat langka. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kau seperti ini. Apa kau ingat, Violeta." Ble menyambut baik berita itu. Violeta hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingat itu kapan terakhir kali terjadi. Itu sudah sangat lama.
"Iya. Ayo kembali. Nona-nona dan tuan-tuan pasti menunggu kepulangan kita. Menunggu hasil kerja kita. Violeta, apa kau sudah mendapatkan informasi dari musuh-musuh kita kali ini." Mereka terus berlari dengan kecepatan maksimal mereka dan terus menelusuri hutan itu.
"Tentu saja, Kokkino. Apa kau lupa siapa aku? Dan alasan kenapa aku di panggil itu?" Violeta bertanya balik pada Kokkino. Kokkino hanya diam menanggapi pertanyaan Violeta sebelum ia menjawabnya.
"Tentu saja aku tau. Kau adalah sang Kataktitis Olon. Atau harus ku bilang. Sang penakluk semua orang." Sorotan mata Kokkino begitu tajam bak sebuah bilah pedang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments