Chapter 17

"Kebakaran, kebakaran, kebakaran. Tolong, siapa saja tolong kami." Suara ricuh terjadi di pinggiran kota Vera. Si jago merah dengan cepat mulai melahap satu per satu yang ada di sekitarnya. Hembusan angin yang cukup kencang membuat si jago merah semakin besar dan menggila. Warga sekitar dengan cepat berusaha mengendalikan kegilaan si jago merah. Namun, si jago merah malah semakin menggila. Berita si jago merah melahap rumah warga sampai ke telinga Luka.

"Sekarang, aku ingin kirim regu penyelamat dan tim medis ke tempat kejadian. Bantu pemadam kebakaran untuk memadamkan kobaran api itu. Jangan sampai si jago merah memberikan kerugian yang besar. Dan paling penting berusahalah untuk metiadakan korban jiwa." Prajurit itu langsung meninggalkan ruangan setelah Luka memberi perintah. Luka menyilangkan jari-jarinya satu sama lain dan mulai berpikir apa yang akan terjadi kedepannya.

"Kebakaran. Belum ada sejarahnya kebakaran terjadi sehebat ini. Mungkin akan butuh waktu yang cukup lama baru kebakaran ini bisa ditaklukkan. Dan pasti ada niat terselubung di balik kejadian ini. Seolah-olah ia ingin mengalihkan perhatian ku pada kebakaran besar ini." Ia mencari maksud tersembunyi dari insiden kebakaran hebat ini. Ia terus mencari kemungkinan yang menjadi sebab kebakaran ini.

 "Aku yakin kebakaran ini sengaja dibuat. Ini bukan karna arus pendek, instalasi listrik tak sempura, atau karna kelalaian di dapur. Tapi itu enggak mungkin. Kalau misalnya instalasi tak sempurna itu enggak mungkin. Tadi siang aku baru saja menyuruh tim dari badan listrik untuk mengecek setiap instalasi listrik yang ada di seluruh penjuru kota. Dan hanya ada satu yang rusak di bagian utara. Kini tempat itu lagi terjadi pemadaman disekitar situ. Sementara kebakaran kali ini ada di barat kota Vera. Jadi kemungkinan karna instalasi listrik tidak mungkin." Ia membaca cepat dokumen-dokumen berkaitan instalasi listrik di meja kerjanya.

"Tapi kalau memang ini kelalaian di dapur, itu mungkin saja. Tapi yang anehnya kenapa enggak ada yang sadar. Kan enggak mungkin satu anggota keluarga yang enggak sadar ada bau gosong. Ini juga enggak mungkin. Lalu... Apa dong? ... Tunggu. Jangan bilang." Luka bergegas menghubungi seseorang. Wajahnya penuh kepanikan.

"Komandan, aku ingin kau menangkap siapa saja yang terlihat mencurigakan. Aku yakin pasti ada dalang dari kebakaran ini. Dan pasti ada niat terselubung yang sangat kotor yang akan segera ia lakukan." Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari kejauhan.

"Tolong. Selamatkan diri kalian. Perampok datang kemari." Jeritan histeris wanita itu membuat semua mulai panik. Tak lama kemudian segerombolan orang datang sambil membawa senjata mereka. Beberapa dari mereka mulai menembakkan anak panah yang terbakar dan melesat ke arah kerumunan warga. Beberapa dari mereka berusaha menikam warga yang ada di sekitar mereka.

"Regu Alpha dan Gamma, kalian lindungi para tenaga medis dan pemadam kebakaran. Regu Beta, Epsilon, Upsilon kalian evakuasi warga dari tempat ini. Regu Zeta, Eta, Theta kalian bantu Regu evakuasi. Tugas kalian lindungi para warga. Aku ingin kalian meminimalisir korban jiwa. Regu Mu, Nu, Phi, Pi Kalian cari dan telusuri kota ini sekarang juga. Ada kemungkinan mereka juga beraksi di bagian lain dari kota ini. Regu Sigma, Omicron, Rho kalian cari siapa dalang dari semua kejadian ini. Dan regu Delta, Lamda, Iota, Omega kalian akan mempertahankan tempat ini bersama dengan diriku. Maju." Ia mengangkat pedangnya tinggi tinggi dan maju menyerang musuh. Regu prajurit mulai bergerak menjalankan perintah yang sudah diberikan.

Melihat apa yang barusan terjadi, membuat Luka mengambil hoverboat dan pedangnya dan berlari ke balkon. Ia menaiki hoverboatnya dan melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Menerjang dinginnya salju yang lagi turun. Tubuhnya mulai menggigil kedinginan tapi ia tidak menggubris hal itu. Sekarang yang paling penting menghentikan insiden ini supaya tidak semakin buruk.

...☆☆☆☆☆...

Perlahan mereka mulai menelusuri tempat yang mereka yakini selama ini menjadi tempat persembunyian musuh mereka. Mungkin. Dan mungkin saja tidak. Jika mereka berhasil melacak lokasi asli musuh mereka sekarang. Mungkin peluang mereka menang akan semakin besar.

Namun sayangnya rencana mereka gagal total. Sekarang mereka dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan. Mereka sudah terdesak oleh keadaan yang semakin tidak menguntungkan ini. Mereka harus bertindak cepat dan punya rencana yang sangat matang dengan tingkat keberhasilan mencapai sembilan puluh lapan persen. Barulah mereka bisa memutar balikkan keadaan mereka ini. Walaupun bukan dimana mereka dapat menjamin mereka menjadi pemenang dalam pertarungan kali ini.

Dimana mereka memiliki peluang menang hanya fivethy-fivethy. Iya, It's okay. Itu jauh lebih baik dibandingkan keadaan mereka yang sekarang. Mereka hampir mencapai puncak ******* pertarungan dan pertaruhan ini.

"Nona Sofia. Apa perasaan saya saja atau memang dari sejak kita datang kemari. Mengintai tempat ini, rasa tempat ini kosong melompong. Aku tak merasakan tanda-tanda aktivitas di tempat ini." Salah seorang bawahannya merasakan keanehan di tempat itu sambil berjaga-jaga untuk keadaan yang tak terduga.

"Sejak awal mereka sudah menjebak kita ke tempat ini. Membuat seolah-olah mereka takut kita serbu tempat ini. Namun aku yakin ada rencana terselubung yang sedang mereka siapkan."

"Kalau begitu kita juga harus bersiap-siap untuk itu. Lagian kita sudah memprediksi kalau ini akan terjadi."

"Aku setuju dengan Gi. Ayo jalankan rencana kita sekarang juga. Kita enggak akan tau kapan musuh kita akan menyerang kita." Syndetiras dari anak tangga paling tinggi di lantai tiga. Semua mengangguk setuju. Mereka mulai bergerak ke tempat masing-masing yang sudah sebelumnya.

...☆☆☆☆☆...

Luka sampai di tempat kejadian. Keadaan sangat ricuh di sana. Ia langsung mengeluarkan pedang dari tempat beristirahatnya. Ia menebas pedang itu ke sisi kirinya. Dan anak panah itu sudah terpotong menjadi dua. Luka sangat waspada dengan sekelilingnya. Dan benar saja, hujan anak panah mulai menghujaninya. Luka menangkis semua serangan itu dengan dengan cepat. Perlahan ia mulai menjauh dari tempat komandan sekarang. Ia semakin ke pinggiran kota Vera.

Serangan terus berlanjut. Kali ini dengan gada yang sangat besar berayun ke arahnya. Gada itu enggak berhasil menyerang Luka namun berhasil menghancurkan apapun yang disentuhnya.

"Siapa kalian? Apa tujuan kalian menyerang kota ini, ha? Emangnya kami punya salah apa sampai kalian melakukan ini ha?" Ia sambil menghindari serangan yang bertubi-tubi datang ke arahnya. Sebuah cabul berjalan di belakangnya dan hendak menikamnya. Ia berhasil menghindarnya namun kaki kirinya terkena sedikit besetan dari ujung cambuk itu. Darah segar mengalir keluar dari celah itu.

Luka terus menghindar sambil memancing musuh menjauh dari permukiman warga. Ia harus meminimalisir kerugian dan kerusakan di permukiman. Ia membawa lawannya ke dalam hutan raya. Tempat dimana ia menghilang.

"Wah, wah, wah. Hebat juga kau anak. Kau menjauhkan kami dari tempat itu dan membawa kami ke dalam hutan gelap gulita ini. Memang hebat putra sulung dari rumah bangsawan yang memegang setengah kekuatan militer kerajaan Velrata. Putra Marquis Victoria, Luka de Victoria." Sebuah senyuman sangat jahat menghiasi wajah pria itu. Saat ini, Luka dalam keadaan yang benar-benar terpojok. Ia harus melawan segerombolan orang itu seorang diri. Ia menguatkan pegang pedangnya.

"Siapa kau? Apa yang kau inginkan, hah? Apa tujuan mu melakukan semua ini, hah? Jawabku." Luka meninggikan suaranya. Segerombolan orang itu tertawa gelak. Mereka sudah berhasil membawa mangsa mereka.

"Siapa aku itu enggak penting. Yang penting sekarang, aku ingin menggulingkan house Victoria." Wajah Luka sangat terkejut. Ia tidak menyangka ada orang yang ingin menggulingkan house Victoria. Mereka mengambil waktu yang sangat tepat. Saat ini Marquis Victoria lagi ke kota Sera untuk mengatasi pemberontakan di sana. Menyerang saat kekosongan seperti ini adalah kesempatan emas yang enggak akan terjadi untuk kedua kalinya.

"Kenapa kalian sampai ingin menggulingkan house Victoria? Emangnya, kami pernah berbuat sesuatu yang membuat kalian sampai sedendam ini?" Pria yang kemungkinan adalah dalang di balik semua kejadian ini membuka penutup kepalanya. Luka terbelalak. Ia enggak menyangka akan bertemu dengan orang itu di sini.

"Marquis Aquila."

"Apa kau tau apa yang telah diperbuat ayahmu, Luka? Ia menghina ku saat pertemuan kerajaan. Ia menghina ku di depan pemimpin rumah bangsawan lainnya. Yang lebih parah lagi, Yang mulia raja dan ratu dan seluruh anggota kerajaan juga mendengar hinaan ini. Kau tau kan itu penghinaan yang paling hina. Dan ayahmu melakukan itu padaku. Apa kau pikir aku akan tinggal diam membiarkan tindakan ayahmu itu begitu saja. Tidak. Aku begitu ingin. Tidak, aku sangat sangat sangat ingin menghancurkan dirinya. Aku ingin membuat ia menjadi orang yang paling menderita di dunia ini sebelum akhirnya ku bunuh dia." Mendengar perkataan itu, Luka mengeraskan ekspresinya. Ia sangat tau rasanya mendapatkan hinaan seperti itu. Ditambah lagi keluarga kerajaan yang mendengar hal itu. Itu sebuah bentuk penghinaan yang paling hina yang ada di dunia ini. Mengingat harga diri rumah bangsawan berada pada rasa kepercayaan keluarga kerajaan pada mereka. Ia sangat tau tindakan ayahnya tidak bisa dimaafkan.

"Aku akan memulainya dari dirimu, Luka. Aku ingin tau seperti apa ekspresinya kehilangan putra sulungnya yang sangat pintar ini. Harus ku akui, Luka. Kau itu anak jenius. Kemampuan mu dalam membaca situasi dan mengontrol keadaan itu sangat menakjubkan. Kau mampu membuat orang-orang percaya padamu hanya dengan perkataan mu saja. Harus ku akui Marquis Victoria di berkahi anak yang begitu luar biasa. Namun, sayangnya kau terlahir tanpa kekuatan elemental. Itu yang membuatmu di pandang sebelah mata. Enggak kau selalu di pandang tak lebih seperti sampah. Sungguh kasihan. Kau pasti sangat menderitakan, Luka. Karna itulah kau harus berterima kasih padaku, Luka. Akan kuakhiri semua penderitaan mu di sini."

"Maaf, tapi aku menolaknya. Memang benar aku selalu di pandang seperti itu. Tatapan dan ucapan orang-orang itu sungguh menjijikkan. Merekalah tak lebih seperti sampah itu sendiri. Aku sungguh muak dengan itu. Bohong jika aku tidak pernah kepikiran untuk mengakhiri hidupku ini. Aku sangat jijik dengan keadaan ku ini."

"Lalu kenapa kau masih mau tetap hidup di dunia yang sangat kotor, menjijikkan dan penuh ketidakadilan ini? Apa yang membuatmu bertahan sampai detik ini juga, hah?"

"Kau memang benar. Dunia ini sangat kotor, busuk, menjijikkan dan penuh ketidakadilan. Dunia ini bergerak dimana orang mempunyai kekuasaan yang akan berkuasa. Siapa yang kuat akan menindas yang lemah. Dunia ini berjalan dengan cara yang sangat diktator. Itu sungguh menjijikkan. Bahkan sampai saat ini, aku masih mempertanyakan apa memang benar para dewa-dewi itu ada. Kalau memang mereka ada, lalu kenapa dunia ini berjalan begitu kejam, kotor, busuk dan sangat menjijikkan seperti ini. Apa yang mereka lakukan di sana? Di istana para dewa. Jika memang mereka ada mereka, seharusnya dunia ini sangat damai. Tidak ada satu orang pun akan menangis karna kelaparan. Menangis karna ditindas yang diatas. Tidak akan ada yang namanya penguasa yang korup. Tidak akan ada pertumpahan darah. Tidak akan ada namanya terpisah dari keluarganya akibat perang. Tidak akan ada namanya diskriminasi di dunia ini. Jika mereka memang ada semua itu enggak akan terjadi. Jika mereka memang ada, seharusnya memberikan azab mereka ke orang-orang itu." Sebuah kristal meluncur di pipinya dengan derasnya. Sebuah tembok pembatas kini roboh dan mengeluarkan semua yang ia tahan selama ini. Di sekitaran sepasang batu safir mulai memerah. Hawa yang dipenuhi rasa kesal, benci dan ketidakberdayaan berkumpul dan menjadi satu dan semakin membesar.

"Lalu apa yang membuatmu mampu bertahan selama ini? sejauh ini, ha?" Luka mengatur napasnya yang sudah tidak teratur. Sepasang batu safirnya berkontak langsung dengan sepasang batu aquamarrine orang itu. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.

"Mereka yang peduli denganku. Mereka yang selalu men-sport diriku. Senyuman, kata-kata, dan ekspresi mereka yang membuat ku bisa bertahan sampai detik ini juga. Aku ingin melindungi senyuman mereka. Karna itu aku harus menjadi kuat untuk melindungi itu. Aku tau aku akan sangat mudah dikalahkan, mengingat aku tidak memiliki kekuatan elemental. Tapi, aku punya sihir. Walaupun aku tidak terlalu mengerti cara mengontrolnya, tapi setidaknya ini cukup menghentikan kalian semua di sini. Tidak akan ku biarkan kalian bertindak sesuka hati kalian. Maaf Marquis Aquila, tapi rencana busukmu akan ku akhiri di sini. Tak peduli jika nyawaku sebagai gantinya." Ia dalam posisi bersiap. Tubuhnya condong ke arah kiri. Ia mengangkat tinggi-tinggi pedangnya yang dibalut dengan kobaran api. Keadaan yang cukup gelap kini jauh sedikit lebih terang.

Kubu yang lain mengangkat senjata mereka masing-masing dan di posisi bersiap. Ia menyipitkan mata safirnya, kemudian melesat sekuat tenaga menerjang musuhnya. Gesekan dua pedang terdengar jelas di sekitar tempat itu. Gerombolan orang itu menyerang Luka bersamaan tanpa ampun. Mereka terus memberikan serangan bertubi-tubi secara bergantian. Sebuah gada raksasa dengan rantai panjang terpasang di gada itu membuat senjata itu begitu mematikan. Luka menghindari serangan itu, namun ia mendapat serangan cambuk dari arah belakang. Ia dengan cepat menghindari kedua serangan itu. Gada itu berbenturan dengan batu dan terperangkap di bebatuan yang runtuh mengenai serangan yang sangat kuat. Melihat kesempatan itu, Luka mengeluarkan sihir es dan kristal secara bersamaan. Serangan itu mampu membuat gada itu tetap berada di tempatnya dalam waktu yang cukup lama.

Sekarang hujaman anak panah dan mata pisau menghujaninya dirinya. Ia berusaha keras memblokir semua serangan itu. Sayangnya ia belum cukup cepat untuk menangkis semua serangan, dan menerima serangan itu. Sekarang tubuhnya di penuhi luka. Ia mulai kehabisan napas. Ia menjauh dari jangkauan serangan musuhnya dan mulai mengatur napasnya. Tubuhnya sekarang terasa sangat panas di dinginnya lingkungan sekitarnya.

"Hebat juga kau, nak. Kau mampu menahan serangan kita selama itu. Harus ku akui kau memang anak jenius. Dan aku masih mempertanyakan apa betul kau tak punya kekuatan elemental. Mengingat kau mampu membalut pedangmu itu dengan api, dan menahan gada raksasa itu di tempatnya. Sebenarnya kau punya kekuatan elemental bukan. Hanya saja ayahmu, Marquis Victoria enggak mau memberitahu hal itu ke publik. Ia takut anaknya yang begitu jenius jadi sasaran empuk kecemburuan bangsawan tak tau diri itu."

"Tidak. Kau salah Marquis Aquila. Sejak awal aku memang terlahir tanpa kekuatan elemental apapun. Saat di baktis, tidak ada reaksi dari batu elemental yang ada di gereja katedral."

"Lalu, bisa kau jelaskan kekuatan yang baru saja kau keluarkan itu. Oh ya, kalau enggak salah kau menyebutnya sihir, bukan. Bisa kau jelaskan pada ku apa itu sihir. Aku jadi penasaran dengan namanya sihir."

"Maaf saja Marquis Aquila. Aku pun juga tidak begitu mengerti dengan namanya sihir. Tapi aku tau sekarang ini adalah mengalahkan dirimu, anggota mu dan rencana busuk mu di sini." Mata pedangnya di arahkan ke arah musuhnya. Mata pedang itu siap menerjang siapa pun yang berada di jalurnya saat ini. Kobaran api yang membaluti pedang itu semakin membesar. Api beterbangan mengitari pedang itu. Posisi Luka yang sudah siap untuk menikam musuhnya tanpa ampun. Tatapannya begitu serius.

"Maaf Marquis Aquila atas tindakan ayahku yang sudah sangat tidak terpuji itu. Aku tau kalau ayahku yang membuat kau marah hingga berbuat seperti ini. Tapi bukan berarti perbuatan dan tindakan mu ini bisa dibenarkan. Aku sebagai anaknya sangat kecewa dengan tindakan ayahku. Aku benar-benar minta maaf. Dan semoga kita dapat bertemu lagi di alam sana. Selamat tinggal, Marquis Aquila. FIRE TORNADO STORM VORTEX." Pusaran api yang begitu kuat dan kencang menerjang Marquis Aquila dan pasukannya. Ledakan besar terdengar sampai ke seluruh penjuru kota Vera. Pusaran yang angin yang sangat kencang memporakporandakan sekelilingnya. Luka terpental jauh menghadapi serangan angin yang ia buat.

Ia membuka matanya. Dan mendapati pemandangan yang cukup mengerikan. Sekelilingnya hancur lebur. Pohon-pohon pada terbakar. Membuat tempat itu yang tadinya gelap menjadi sangat terang. Api menjalar dengan cepat dari pohon satu ke pohon lainnya. Ia tidak percaya apa yang ia lihat. Ia melihat kedua telapak tangannya. Ia tidak percaya ia mampu meluncurkan serangan yang begitu dahsyat.

Sesuatu bergerak keluar dari tubuhnya saat ini. Ia bisa merasakan tenggorokan saat ini sangat penuh. Dan benar saja ia kembali muntah. Salju disekitarnya menjadi berwarna merah terkena cairan kental merah yang mengalir keluar dari mulutnya. Ia kembali muntah darah. Kali ini benar-benar banyak. Tubuhnya kini mulai lemas. Ia terlalu banyak kehilangan darah.

"Serangan yang sangat menakjubkan." Luka langsung menoleh ke asal suara itu. Seorang pria tinggi besar dengan tatapan yang begitu mengintimidasi. Ia terbelalak. Ia tidak menyangka akan bertemu pria itu lagi disini. Pria yang ia jumpai sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya di dalam hutan ini juga. Dan pria itu yang menusuk jantungnya dengan cahaya ungu aneh yang ada di mimpinya.

"Kau tidak perlu begitu terkejut dan ketakutan begitu. Aku enggak akan berbuat sesuatu yang buruk pada mu, oke. Aku hanya begitu kagum kau mampu mengeluarkan serangan yang begitu dahsyat tadi. Semenjak limitermu itu dihancurkan. Kekuatan maha dahsyat yang ada dalam dirimu mengalir dalam dirimu tanpa perlu ada yang menghalanginya lagi. Dan aku sangat terkesan, kau mampu mengeluarkan serangan sehebat itu hanya dengan membaca dan mempelajari tentang sihir secara otodidak. Harus ku akui kau belum bisa mengontrol kekuatan yang begitu hebat dalam dirimu. Itu yang membuat tubuh mu melemah dan terus menerus muntah darah. Tapi tenang saja, semua itu akan sirna setelah kau mampu mengontrol kekuatan yang begitu hebat dalam dirimu."

"Siapa kau sebenarnya? Lalu siapa wanita dan pria yang satu lagi bersama mu saat itu? Apa yang kalian mau dari ku? Apa kekuatan yang maha hebat yang kalian maksud itu adalah ini? Apa maksud ada limiter menahan kekuatan ku? Apa limiter itu yang menahan kekuatan ku selama ini?" Pria itu hanya tersenyum lucu mendengar semua pertanyaan anak kecil didepannya. Ia menyamakan tingginya dengan si anak. Mereka berkontak mata dengan sangat lekat.

"Siapa kami itu tidak penting. Nanti kau juga akan ingat sendiri siapa ku dan mereka. Kami ingin kau kembali ke pelukan yang seharusnya. Kami hanya ingin kau kembali ke kami, temanku. Kau tau, kakak mu sangat-sangat merindukan dirimu. Ia hampir gila setelah insiden besar yang menimpa dirimu." Ia membisikkan semua itu ke telinga kecil Luka. Luka terbelalak. Ia semakin dibuat bingung dengan ucapan sang pria. Pria itu perlahan menjauhkan wajahnya dari Luka. Ia berdiri dan membelakangi Luka.

"Serangan itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan serangan itu. Kau itu sangat-sangatlah kuat, hanya saja ada limiter yang menahan kekuatan mu. Dan sekarang limiter itu sudah hancur. Kau saat ini menjadi orang paling kuat dari semua manusia yang di dunia ini. Itu terbukti dari serangan mu barusan. Lihatlah sekitarmu. Betapa porakporanda tempat ini. Dan serangan itu bisa jauh lebih kuat lagi jika, kau mampu mengontrol kekuatan mu itu."

"Lebih kuat lagi? Mengontrol kekuatan ku? Apa aku bisa jauh lebih kuat dari ini?"

"Tentu saja. Tapi saat ini kau dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan. Kau saat ini dalam pertaruhan hidup dan mati."

"Apa maksudmu?"

"Tubuh mu semakin hari semakin melemah. Jika kau kembali ke tempat mu sekarang, maka tinggal hitungan hari saja kau bisa menikmati napasmu di dunia ini. Atau..."

"Atau apa? Cepat kasih tau aku."

"Atau kau pergi tempat yang ada di buku itu. Kalau kau pergi ke tempat itu, angka kehidupanmu jauh lebih tinggi. Bukan hanya itu saja, kau akan terus bertambah kuat lagi. Dan juga kau tidak perlu kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana? Bukankah itu sesuatu yang begitu luar biasa? Dan sekarang semua ke putusan ada di tangan mu. Kau yang menentukan bagaimana dirimu kedepannya. Aku harap kau tidak mengambil keputusan yang bakalan kau sesali seumur hidup." Pria itu berjalan menjauh dan menghilang bersamaan tiupan angin yang membawa salju bersamanya. Luka terdiam. Ia harus mengambil keputusan dengan cepat. Tubuhnya semakin dingin kalau enggak ia akan mati kedinginan dan kehabisan darah di tempat seperti ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!