Chapter 9

'Hah, sekarang saatnya latihan perpedang. Dan aku hanya bisa duduk manis disini dan menonton. Aku juga mau berlatih. Tapi ayahanda sudah memberitahukan pada miss dan sir disini untuk tidak mengikutkanku aktivitas yang berat. Hah, ini sangat membosankan." Luna mendongkol pada dirinya sendiri. Ia iri kawan-kawannya kegiatan sekolah. Dan ia tidak diperbolehkan. Alasannya pasti karna jantungnya mudah lelah. Ia cuman bisa menghela napas kesal.

'Siapa mereka? Apa mau mereka? Kenapa mereka melakukan itu padaku? Mengapa? Dari mana mereka mengenal diriku? Padahal aku belum pernah bertemu mereka. Bagaimana bisa?" Luka dipenuhi segudang pertanyaan tentang ketiga orang itu.

"Kekuatan seperti apa yang dibicarakan wanita itu? Siapa yang dimaksud dua pria itu kakakku tersayang? Aku tidak punya kakak? Lalu siapa yang mereka maksud? Apa kejadian itu benar-benar nyata? Atau cuma rasa ketakutanku saja? Ini semakin membingungkan. Aku belum punya petunjuk tentang mereka. Mungkin tidak akan pernah. Jika aku mau menyelidiki mereka. Aku harus menceritakan insiden itu pada orang lain. Aku tidak mau ibunda, Alex, Alexia dan juga Luna semakin khawatir padaku. Itu tidak boleh terjadi. Bagaimana pun ak tidak boleh memberitahukan pada siapapun tentang insiden itu. Tapi aku juga perlu menyelidiki masalah ini. Akh, benar-benar jalan buntu." Luka semakin dibuat bingung apa yang terjadi saat insiden itu. Dan sekarang ia semakin dibuat bingung dengan semua pertanyaan dirinya sendiri. Luka bangkit mendekati tempat sang guru duduk. Ia ijin untuk pergi ke ruang kesehatan. Ia meninggalkan ruang latihan berjalan ke tempat ia tuju.

Di sisi lain. Rose dan Tania berbincang-bincang di ruang kesehatan. Mereka membicarakan topik insiden yang menimpa luka. Namun perbincangan mereka sangat aneh. Tak lama Luka tiba di ruang kesehatan. Mereka berdua menyapa Luka dengan ramah. Luka membalas sapaan itu kemudian ia menaiki tempat tidur disana.

'Hah, aku mau istirahat sebentarlah. Semenjak itu tubuhku sangat-sangat mudah kelelahan.' Luka perlahan menutup matanya. Melihat Luka tampak kelelahan, dokter Tania inisiatif memeriksa keadaan Luka. Luka menerima tawarannya. Tak lama kemudian pemeriksaan selesai. Luka kembali menutup matanya dan tertidur lelap.

''Jadi ini mangsaku. Anak itu sangat mudah kelelahan, ini akan sangat mudah. Kecuali berurusan dengan yang satunya." Seseorang berbisik pada dirinya sendiri. Ia sedang mengintai mangsanya dari balik dedaunan pohon cukup rimbun. Ia meninggalkan tempatnya mengintai dan menghilang dalam gelap.

...☆☆☆☆☆...

Cukup pembicaraannya sampai disini. Langsung saja masuk ke tujuan utama kita." Wanita itu menegaskan. Kedua pria kembar itu langsung berhenti menjahilin Luka dan berdiri tegap di samping tempat Luka. Tatapan mereka berubah menjadi begitu serius.

"Mari kita mulai ritualnya." Wanita memberi aba-aba. Salah seorang pria menaruh salah satu tangannya di dada Luka. Tepat dimana jantungnya berada. Napas Luka semakin tidak beraturan, jantung berdetak begitu hebat. Terlihat tangan pria itu mengeluarkan kekuatan berwarna violet. Seluruh tubuh Luka dipenuhi garis jaringan titik teknologi berwarna ungu. Kekuatan itu mulai masuk ke tubuh dan menusuk jantung Luka.

Luka langsung terbangun dan bangkit. Napasnya memburu, keringat dingin bercucuran di seluruh tubuhnya, ekspresinya kelihatan ketakutan. Ia menutup mata kanannya dengan tangannya.

'Itu lagi. Itu mimpi? Atau betulan nyata? Aku tidak bisa mengingatnya." Luna yang sudah dari tadi disana dan terkejut melihat Luka tiba-tiba bangun dengan penuh keringat dingin. Bergegas mendekatinya. Ia memegang bahu Luka.

"Kau tidak papa, Luka? Hei, ada apa? Kau mimpi buruk kah?" Luna menggoyangkan bahu Luka. Luka tersadar dan menatap Luna dengan ekspresi ketakutan. Ia kemudian tersenyum. Sebuah senyuman terpaksa. Ia tersenyum untuk menyembunyikan kecemasan dan kegelisahannya.

"Aku gak papa. ... Luna kenapa kau ada disini? Kenapa tak masuk kelas?"

"Masuk kelas, masuk kelas. Apanya masuk kelas. Ini udah pulang kau tau." Mendengar itu Luka mencari jam. Matanya berkeliling ruangan itu dan menemukan jam setengah empat sore. Ia menghela napas ringan. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri berapa lama ia sudah tertidur.

"Kalau gitu, aku ambil tau dulu Luna. Kau tunggu disini." Ketika hendak turun Luna langsung mencegatnya.

"Ini tas mu. Karna tau lah aku sahabatku ini tidak boleh kelelahan makanya aku membawanya kemari." Luna memberikannya pada Luka. Luka hanya bisa tersenyum pada sahabatnya ini. Ia sangat tau sahabatnya ini sangat cerewet dan sangat pemarah. Namun, ia sebenarnya sangat peduli dan sayang pada orang-orang yang penting baginya.

"Kalau begitu ayo pulang."

"Ayo."

Mereka keluar meninggalkan ruangan itu dan lorong-lorong sekolah. Mereka bergandengan tangan keluar dari gerbang sekolah. Kali ini mereka pulang jalan kaki tidak menggunakan hoverboat mereka. Menikmati pemandangan pertanian kota Sera yang bertingkat-tingkat yang tersusun sangat rapi dan indah. Selama perjalanan mereka bertemu seorang nenek yang kesulitan membawa barang bawaannya. Luna dan Luka membantu nenek tersebut sampai ke rumahnya.

"Terima kasih cu. Ini. Ambillah. Ini hadiah untuk kalian karna sudah membantu nenek." Nenek itu memberikan dua apel pada mereka.

"Terima kasih, nek." Mereka menerima apel itu. kemudian pamit pulang dan meninggalkan rumah nenek itu. Mereka menelusuri perkampungan sangat rapi, bersih dan indah. Disekitar perkampungan adanya semacam reruntuhan. Sebagian besar bangunannya sudah banyak yang roboh. Namun itu yang menjadi daya tarik pada kampung itu.

"Reruntuhan ini membuat desa ini menjadi sangat unik dan berbeda dari perkampungan manapun." Luka sangat menikmati pemandangan reruntuhan dalam perjalanan pulang.

"Aku setuju. Tapi aku penasaran reruntuhan ini sebelumnya apa sebelum jadi seperti sekarang?" Mereka asik berbincang-bincang dalam perjalanan pulang. Ada yang mengawasi mereka dari salah satu reruntuhan. Ia tersenyum licik seolah merencanakan suatu yang sangat jahat, sangat licik.

"Ara, lihat siapa yang datang. Sepertinya mangsaku datang padaku dengan sendiri. Ini akan menjadi misi yang sangat mudah." Ia menuruni tangga. Ia mengeluarkan benang dari saku bajunya.

"Sudah waktu. Bergerak sekarang." Ia memerintahkan anggota untuk menyebar dan menangkap buruannya.

Luna dan Luka terus berjalan menelusuri reruntuhan itu. Tiba-tiba, sekelompok bandit menyerang mereka. Mereka kalah jumlah. Luka langsung menarik tangan Luna dan pergi menjauh dari para bandit itu. Mereka terus berlari tanpa arah yang jelas. Bagi mereka bisa bersembunyi dari para bandit itu yang paling utama. Jika saat ini hanya Luna seorang diri, ia pasti dengan mudah menumbangkan para bandit itu. Tapi masalahnya, ia bersama Luna saat ini. Mana mungkin bisa mengalahkan bandit itu seorang diri sambil melindunginya. Ia sangat paham kondisinya saat ini. Ia tak lebih sebuah beban bagi Luna. Ia sangat sadar akan hal itu. Ia membawa Luna ke salah satu reruntuhan bangunan. Mereka bersembunyi di bawah tangga di sudut ruangan. Luka terjatuh ke lantai. Jantungnya berdebar-bedar, napasnya begitu gantung. Ia benar-benar kelelahan. Ia tak akan bisa melakukan sesuatu sampai napas dan jantung membaik.

"Luka, kau engak papa?" Luna sangat khawatir pada kondisi Luka saat ini. Luka hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku baik kok. Hanya sedikit kelelahan saja." Luka berusaha meyakinkan Luna. Suara bising langkah kaki memasuki tempat itu. Luka berusaha mati-matian menormalkan pernapasannya. Ia berusaha setidaknya ia tidak mengeluarkan suara. Tapi sayang, itu tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Tak lama para bandit itu menemukan mereka. Luna keluar dari tempat mereka bersembunyi dan berusaha mengalihkan perhatian mereka. Luna melawan para bandit itu seorang diri.

"Ambil ini. Bebola api bertubi-tubi."Luna mengeluarkan banyak bola api dan mengarahkannya pada para bandit. Ia berhasil membalikan keadaan dengan cepat. Para bandit itu kualahan menghadapi serangan Luna.

"Belenggu benang ular." Tubuh Luna terbelit banyak benang. Benang-benang itu mematikan pergerakan Luna. Ia keluar dan menunjukkan dirinya. Ia menarik tubuh Luna dengan benangnya lalu memukul leher Luna. Perlahan pandangan Luna mulai kabur. Ia mulai kehilangan kesadarannya. Luka yang melihat ini langsung keluar dan melawan mereka. Ia tau bahwa perlawanannya tidak akan berarti bagi wanita itu dan bandit-bandit itu. Tapi setidaknya ia harus melakukan perlawanan pada mereka. Ia benci pada dirinya yang sangat lemah ini. Ia benci pada dirinya yang selalu tidak berdaya. Ia selalu berakhir tak berdaya tanpa Luna. Luna selalu menjaga dan melindunginya. Setidaknya sekarang ia harus melakukan hal yang sama. Walaupun itu tidak terlalu berarti.

"Hebat juga nyalimu, nak. Tapi itu belum cukup untuk mengalahkanku." Orang itu menendang perut Luka dan sedang siagap memukul tengkuk leher Luka. Pandangannya mulai kabur. Ia mulai kehilangan kesadarannya.

'Kenapa aku selalu begini. Kenapa aku tidak bisa melawan. Rasanya aku tak lebih dari seorang pecundang. Setiap kali aku butuh bantuan Luna selalu siap. Ia dengan siagap menolong ku. Dan Aku? Kenapa setiap kali Luna butuh bantuanku. Aku tidak bisa menolong seperti yang ia lakukan.' Luka mendongkol pada dirinya sendiri sebelum sepenuhnya kehilangan kesadarannya. Ia sangat membenci dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa di saat genting begini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!