Chapter 3

"Hari ini kita akan mempelajari tentang kekuatan kita itu sendiri, kekuatan elemental. Setiap orang terlahir dengan kekuatan elemental masing-masing, ada delapan macam dasar kekuatan elemental. Api, air, angin, tanah, petir, cahaya, kegelapan dan teknologi atau yang sering disebut techno. Setiap elemental punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Contohnya, Kekuatan api yang kuat jika dikombinasikan dengan angin atau tanah namun, lemah jika terkena air. Kombinasi seperti yang miss jelaskan tadi hanya bisa dikombinasikan dengan elemental alam saja. Elemental alam itu ada lima. Api, air, tanah, angin dan Petir." Jelas Miss Rose pada materi yang dari infocus. Salah seorang murid mengakat tangan. Miss Rose mempersilahkan murid tersebut untuk memberikan pertanyaannya.

"Jadi Miss diantara semua elemental alam. Mana yang paling kuat dan paling banyak dapat dikombinasikan dengan elemental alam yang lain?" Aria si bendahara kelas bertanya. Miss Rose tersenyum lembut.

"Pertanyaan yang sangat bagus, Aria. Jawabannya elemental angin. Elemental angin adalah elemental yang paling mudah dan paling banyak untuk dikombinasikan dengan elemental lainnya. Elemental angin dapat dikombinasikan dengan elemental api, air dan tanah. Dan yang paling penting elemental angin bisa menetralisir elemental petir. Ya singkatnya elemental petir lemah menghadapi elemental angin. Sekarang kita lanjutkan lagi. Elemental dibagi atas tiga golongan. Elemental alam seperti yang miss jelaskan barusan, ada elemental tunggal dimana elemental ini berdiri sendiri tapi saling berkaitan satu sama lainnya. Contohnya itu elemental cahaya dan kegelapan. Biar mudah dipahami, kalau kita berdiri dibawah sinar matahari. Kita pasti menemukan diri kita memiliki bayangan. Begitu juga dengan elemental cahaya dengan kegelapan. Dan terakhir elemental berdiri sendiri tanpa berdampingan dengan elemental lain, itu elemental techno. Elemental techno dimana sang pemilik elemental ini memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa dari pada pemilik elemental yang lain. Mereka sangat sangat luar biasa adalah membuat terobosan yang luar biasa dalam perkembangan teknologi di seluruh dunia." Jelas Miss yang sabar. Semua murid dengan semangat menyimak pelajaran yang diberikan. Tak terasa bel pulang sekolah berbunyi. Miss Rose mengakhiri pelajaran elemental. Semua murid membereskan barang mereka masing-masing.

"Sebelumnya, miss ingin mengingatkan untuk tugas kelompok. Masing-masing kelompok membuat satu penemuan teknologi. Dan masing-masing kelompok punya satu anggota elemental techno. Yang baru menyelesaikan tugas itu adalah Untuk kelompok LuLuTi. Luka-Luna-Tiara. Untuk yang lain miss tunggu ya tugasnya." Kemudian miss Rose keluar kelas. Anak-anak mulai berhamburan keluar kelas. Luka dan Luna seperti biasa pulang bersama kerumah. Mereka menggunakan hoverboat mereka dan bergegas ke rumah Luna. Luka mengantar Luna ke rumah kediaman Ruby di kota Vera.

"Luka, kau langsung pulang ke rumahmu kan?" Luna diteras rumahnya. Luka tersenyum dan menggelengkan kecil kepalanya.

"Tidak, Lun. Hari ini aku ke rumah sakit tempat ibuku bekerja. Ada yang ingin ibuku bilang padaku. Kalau begitu aku duluan ya, Lun." Luka menaiki hoverboatnya, melambaikan tangannya. Dan meluncur ke tempat ibunya. Luna melambaikan tangannya saat Luka pergi dan masuk ke dalam rumah.

Luka menaiki kecepatan hoverboatnya ke tempat ibunya. Sesampainya di rumah sakit, ia lalu langsung ke tempat informasi menanyakan keberadaan ibunya pada petugas. Setelah mendapatkan dimana sang ibu berada ia langsung menuju lift dan menekan lantai tempat ibunya berada. Lift berhenti di lantai delapan Luka keluar dan berjalan ke ruangan pribadi sang ibu. Lantai delapan cuman bisa dimasuki orang-orang tertentu saja. Dimana lantai itu tempat semua pengelolaan rumah sakit. Sang ibu adalah kepala sekaligus ceo rumah sakit itu. Tepat di depan ruangan ibunya, Luka mengetuk pintu dan meminta izin masuk pada ibunya. Tak lama sang ibu menyuruhnya masuk, Luka masuk ke ruangan sang ibu.

"Ada gerangan apa ibunda memanggilku seperti ini? Tidak seperti biasanya. Apa terjadi sesuatu ibunda?" Luka berjalan dan duduk di kursi di depan meja sang ibu. Sang ibu menatap keluar jendela dengan tatapan cemas lalu berbalik dan menghampiri sang anak yang ada meja kerjanya. Ia duduk di kursi kerjanya.

"Luka..."

Luka sangat heran dengan ekspresi sang ibu.

"Apa yang terjadi, bu? Ibunda seperti mencemaskan sesuatu."

"Luka, apa terjadi sesuatu yang aneh akhir-akhir ini?"

"Tidak, tidak ada yang aneh, bu. Emang ada apa bu. Ku mohon tolong jangan membuatku cemas, bu. Apa yang sebenarnya terjadi, bu?" Luka semakin cemas melihat sang ibu. Sang Ibu menghela napas berat.

"Ibunda punya firasat enggak enak. Seperti... akan terjadi sesuatu pada keluarga kita. Sesuatu... Sesuatu yang buruk akan menimpa keluarga kita." Wajah Maria semakin cemas. Luka sangat bingung harus bereaksi seperti apa supaya sang ibu tidak semakin cemas.

"Semua akan baik-baik saja itu, bu. Aku akan berdoa pada dewi bumi dan dewi kebijaksanaan untuk melindungi keluarga kita dan dijauhkan dari sesuatu yang buruk." Luka menyakinkan sang ibu. Sang ibu merasa sedikit tenang mendengar perkataan sang putra sulungnya.

"Iya semoga saja, sayangku. Ibunda tidak mau terjadi sesuatu hal yang buruk pada kita, sayang. Kalau begitu bagaimana kalau kita makan di kantin, sayang?" Sang ibu berusaha untuk menyembunyikan kegelisahannya. Luka mengangguk semangat. Melihat sang putra sangat bersemangat hati sudah sebagian besar terobati. Mereka meninggalkan ruangan dan pergi ke kantin Rumah sakit.

...☆☆☆☆☆...

Makan malam keluarga Victoria baru saja selesai. Anggota keluarga masih berkumpul untuk membahas sesuatu. Ini adalah salah satu rutinitas rutin waktu makan malam.

"Luka, ayahanda medapatkan informasi dari Miss Cana kalau kelas kalian akan melakukan study tur ke hutan raya kota Vera untuk pembelajaran sains dengan pergi langsung ke alam bebas." Sang ayah memberitahu informasi yang ia dapat dari sang guru.

"Kapan kelas Luka akan study turnya, sayang" Sang Ibu sangat penasaran akan hal itu. Dia antara senang dan cemas. Namun berusaha untuk menyembunyikan kecemasan.

"Lusa, sayang. Luka ayahanda ingin kau tetap berhati-hati dan senantiasa waspada. Ayahanda khawatir, soalnya kamu tidak memiliki kekuatan elemental. Ayahanda akan minta tolong pada Luna untuk menjaga dirimu."

"Aku sangat berterimakasih kepada ayahanda karna sudah sangat peduli tentang diriku. Tapi ayahanda tidak perlu terlalu khawatir padaku. Aku akan selalu waspada dalam kondisi apapun."

"Apa kak akan baik-baik saja?" Kata alex dan Alexia. Mereka mengkhawatirkan sang kakak.

"Terima kasih sudah mengkhawatirkan diriku, Alex Alexia. Tapi aku akan baik-baik saja." Luka menyakinkan adik-adik tercintanya.

...☆☆☆☆☆...

"Nona, saya sudah memastikannya. Sesuai dengan apa yang kita duga." Seorang wanita berbicara dengan orang di bola kristal. Wanita itu tersenyum puas.

"Kerja bagus, sejauh ini rencana kita berjalan sesuai perkiraan kita. Lanjut ke bagian selanjutnya. Aku menunggu hasil kinerja mu selanjutnya. Jangan kecewakan diriku."

"Dimengerti nona onyx, saya tidak akan mengecewakan anda, nona onyx." Wanita itu memberi hormat pada wanita di bola kristal itu. Percakapan berakhir dengan bola kristal meredup. Wanita itu duduk di kursinya. Ia menepuk tangannya dan tak lama seseorang wanita muda menjumpai dirinya.

"Iya, nyonya. Anda memanggil saya, nyonya." Hormat wanita tersebut. Wanita itu meminum wine merah yang ada di meja.

"Aku ingin kau menandai anak itu. Sebentar lagi rencana nona onyx akan masuk ke tahap yang lebih serius. Aku ingin kau melakukannya tanpa anak itu menyadari kalau ia lagi tandain." Wanita yang duduk di kursi memberi perintah pada sang bawahan. Mendengar titah dari sang atasan, wanita tersebut memberi hormat dan pergi ke dalam kegelapan.

Wanita yang tadinya duduk bangkit dan berjalan menuju balkon. Ia menatap langit malam berbintang dan tersenyum.

"Malam ini sangat indah, para bintang bersinar seperti ribuan berlian berserakan di angkasa. Namun, tinggal menunggu saatnya untuk satu bintang akan lebih bersinar diantara para bintang ini. Cuman masalah waktu saja untuk bintang tersebut diaktifkan. Kebangkitannya akan membawa rahmat bagi seluruh alam semesta." Wanita itu merasa sangat senang. Ia merasa tidak sabar apa yang akan terjadi selanjutnya.

Di sisi lain. Di kastil tua di tengah hutan nan gelap, rimbun, lembab. Tempat para hewan melata raksasa tinggal. Di salah satu ruangan yang sangat minim cahaya.

"Bagaimana? apa semua berjalan sesuai rencana?" Seorang pria serba hitam memainkan sebuah piano. Ia memainkan tus-tus piano itu dengan sangat anggun, dan suara dari tus-tus itu sangat indah. Serasa melodi dari tu-tus piano itu memenuhi kastil itu.

"Semua berjalan sesuai rencana." Onyx memberitahu pria yang bermain piano itu. Pria itu tersenyum. Hatinya sangat senang dan puas mendengarnya.

"Bagus, bagus, bagus sekali. Aku tidak sabar ia akan kembali ke sini. Sudah dua ribu tahun, sejak malapetaka itu terjadi. Dan akhirnya dia bangkit kembali."

"Untuk sepenuhnya bangkit menjadi dirinya yang sebenarnya, akan memakan banyak waktu. Kau pasti ngerti akan hal itu kembaranku." Salah pria menyahut perkataannya.

"Aku tidak peduli akan dengan waktunya. Yang penting aku senang ia kembali ke pelukan kita. Tapi sebelum itu..." Pria itu menghentikan permainan pianonya dan melirik wanita lavender. Wanita itu menunjukkan ekspresi yang sangat dingin. Pria itu melanjutkan permainan pianonya.

"Apa kau sudah membereskan para tikus-tikus yang membunuh adikmu itu? Aku harap tragedi malapetaka itu tidak terjadi lagi untuk yang kedua kalinya. Atau harus ku bilang ketiga kalinya." Ia memainkan piano dengan sangat lihai sambil menyendir wanita lavender. Wanita itu hanya bisa menghela napas kesal. Ia membuka matanya. Terlihat sepasang bola ruby menyala terang dalam ruangan yang sangat minim cahaya itu.

"Apa kau pikir aku akan tinggal diam setelah apa yang mereka buat pada adikku tersayang. Aku sudah lama menyingkirkan orang-orang bodoh itu. Tapi sayangnya... Aku belum menyingkirkan otak dari tragedi itu. Otak dari tragedi itu bukan sembarangan orang. Jika aku melakukan sedikit saja kesalahan, maka tragedi mengerikan dua ribu tahun yang lalu akan terulang lagi. Bahkan akan lebih parah lagi. Karna itu aku belum menghancurkannya." Wanita itu menatap pria yang bermain piano dengan tatapan cukup tajam. Kata-katanya barusan mengandung dendam yang sangat kuat. Namun, ia tidak boleh termakan amarahnya sendiri.

"Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu sekarang. ... Kau benar kita enggak boleh sembarangan menyerang ia. Kita harus mempersiapkan semuanya dengan matang. Dengan begitu kita bisa menghancurkan ia berkeping-keping." Ia terus memainkan piano itu dengan sangat anggun, melodinya sangat indah untuk didengar oleh siapa pun.

"Sekarang tinggal masalah waktu saja aja semua rencana yang kita susun berjalan dengan lancar." Sang kembaran menyahut perkataan sang adik. Tatapan mereka berempat berubah sangat menakutkan. Senyuman jahat di masing-masing wajah mereka. Seolah mereka sudah tau apa yang akan terjadi kedepannya.

Terpopuler

Comments

♡お前のペンデハ♡

♡お前のペンデハ♡

Jalan ceritanya keren abis.

2023-07-22

2

Sarah

Sarah

Bagus banget!!! Aku suka banget ceritanya 🥰

2023-07-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!