Chapter 16

Sudah beberapa hari sejak Luka bertemu dengan makhluk yang menyebut dirinya peri. Ia sekarang sibuk dengan kertas-kertas dokumen di atas meja kerja sang ayah. Mengingat sang ayah tidak berada di kota ini, jadi ia harus menggantikan posisi dan semua tanggung jawab sang ayah selama ia pergi. Ia semakin sibuk sang ayah pergi ke kota Sera untuk mengatasi pemberontak di sana. Ia sampai meminta sang sekretaris ayahnya untuk mengatur jadwalnya, dimana ia harus bersekolah, belajar dan mengerjakan pr nya, mengerjakan semua dokumen, berlatih kemampuan pedangnya, dan juga melakukan patroli. Ia benar-benar kewalahan dengan semua tanggung jawab itu. Walau begitu ia menganggap semua ini sebagai pembelajaran untuk membantu sang adik untuk menjadi kepala keluarga selanjutnya.

Ia juga masih menyempatkan waktunya untuk membaca dan meneliti buku tentang sihir itu yang diberikan para peri itu. Ia melakukan itu pada waktu tidurnya. Ia memangkas waktu tidurnya, untuk meneliti buku tersebut. Sebagai gantinya ia sering kali ketiduran saat jam pelajaran. Walau begitu, ia tetap bisa menjawab dengan benar semua pertanyaan guru yang diberikan pada dirinya.

Sebuah ketokan pintu terdengar dari ruang kerja sang ayah. Tak lama seorang pelayan datang sambil membawa teh dan beberapa cemilan untuk dirinya. Pelayan itu menaruh teh dan cemilan itu di atas meja tamu yang ada di ruangan itu.

"Tuan muda Luka. Tolong beristirahatlah sejenak tuan muda. Berikan waktu anda sejenak untuk menyantai dan menyatap makanan ini. Anda sudah bekerja begitu keras hari, tuan muda."

"Terima kasih sudah membawakan teh dan cemilan itu untukku, Teresa. Tapi aku masih ada kerjaan saat ini. Mungkin sebentar lagi aku akan bersantai." Luka terus membaca satu per satu dokumen-dokumen itu dengan seksama. Ia tak mau satu informasi penting terlewatkan.

"Tidak ada salahnya berhenti dan bersantai sejenak. Ayahmu juga sering melakukan itu." Mendengar suara yang begitu familiar, Luka langsung menoleh ke asal suara itu.

"Ibunda. Apa ibunda membutuhkan bantuanku?" Maria hanya tersenyum mendengar jawaban sang putra. Ia berjalan mendekati sang putra.

"Ara, apa salah ya seorang ibu mengunjungi dan melihat keadaan anaknya ya?"

"Tentu saja tidak. Hanya saja, ibunda tiba-tiba datang. Itu sangat tidak biasa. Apa ibunda tidak bekerja hari ini." Maria semakin tersenyum. Ia berusaha mati-matian untuk menyembunyikan ketawa nya melihat tingkah lucu putranya ini.

"Asik benar ya mengerjakan semua tumpukan kertas itu, sampai-sampai tidak tau sekarang sudah jam berapa ya." Luka langsung mencari jam di ruangan itu. Ia mendapati sekarang jam setengah enam sore. Ia baru mengerti mengapa sang ibunda berkata seperti itu. Ia melihat ke arah jendela. Suasana di luar begitu hangat. Matahari mulai terbenam, cahaya berwarna jingga yang begitu menyelimuti semua yang menyentuhnya. Suasana sore musim dingin yang begitu hangat.

"Istirahatlah, Luka. Kau sudah setengah hari asik bergulat dengan dokumen-dokumen itu. Kau harus mengistirahatkan tubuh dan pikiran mu, belum lagi kau harus belajar, kan?" Mendengar ucapan sang ibunda, Luka langsung meninggalkan meja kerja sang ayah dan pergi ke sofa untuk bersantai. Maria, ikut bersantai dengan putra sulungnya itu. Ia duduk di sofa yang empuk itu kemudian memberikan isyarat kepada sang pelayan untuk membiarkan mereka berdua di ruangan itu saja. Pelayan itu meninggalkan ruangan itu.

"Luka, ibunda sangat senang kau begitu bertanggungjawab dengan tugas yang ayahanda berikan pada mu. Kau sungguh bekerja keras. Kau melakukan dengan sangat baik, seolah-olah kau ingin memberikan yang terbaik. Ibunda tau kau ingin membuat ayahandamu terkesan, bukan? Tapi ingat, kau tidak boleh kelelahan. Tubuh dan jantungmu itu tidak sekuat yang dulu. Semenjak kejadian kau menghilang di hutan raya, tubuhmu langsung drop begitu. Ibunda tidak tau apa yang terjadi padamu waktu itu. Tapi yang pasti, ibunda mau kau jaga kesehatanmu itu. Kau harus makan yang banyak dan bergizi, tidur yang cukup, olahraga yang cukup dan yang lebih penting bekerjalah yang cukup juga. Jangan dipaksakan kali, ibunda enggak mau kau drop lagi. Jika kau mulai merasa lelah, enggak ada salahnya untuk memberikan tubuh dan pikiran mu istirahat yang cukup. Itu membuatmu jauh lebih produktif dibandingkan dipaksakan seperti ini."

"Baik, ibunda. Aku akan melakukannya untuk kedepannya. Hanya saja aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kota ini. Bagaimanapun, Kota ini tempat aku dan banyak orang lahir di sini. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk selama ayahanda pergi. Ayahanda pasti mati-matian berusaha untuk mencegah pemberontak di kota Sera. Aku juga harus berusaha keras untuk menjaga kota ini. Saat ini Luna terus kepikiran keluarganya di sana. Dan aku terus meyakinkannya semua akan berakhir baik-baik saja. Kita hanya perlu memohon kepada para dewa-dewi agar hal itu bisa terjadi." Luka meminum teh dari cangkirnya. Ia begitu menyukai aroma teh itu. Aromanya sungguh lembut. Aroma itu membuatnya jauh lebih rileks sekarang. Ia menaruh cangkir teh nya dan mulai memakan cemilan yang tersedia.

"Kau benar, semoga semua berakhir dengan baik. Aku berharap semua orang di kota Sera baik-baik saja. Aku berharap para pemberontak itu cepat tertangkap. Aku berharap ayahandamu kembali pada kita dalam keadaan selamat. Aku berharap tidak terjadi sesuatu yang begitu merugikan kota Sera. Aku harap semua berakhir dengan baik untuk semua orang, baik untuk penduduk kota Sera, Keluarga Marquis Ruby, maupun untuk kita. Keluarga kita, Kota kita, dan keamanan kota kita ini. Ku mohon tolong jaga kami semua para dewa-dewi yang maha agung." Maria melipat tangannya memohon pertolongan para dewa-dewi untuk masalah yang mereka semua lagi hadapi.

...☆☆☆☆☆...

"Bagaimana persiapannya?" Pria itu duduk dengan tenang di sofanya sambil menikmati segelas wine yang begitu nikmat.

"Semuanya lancar, tuanku. Kami semua siap menyerang kapan saja, tuanku." Seorang pria yang sepertinya bawahan pria itu memberikan laporan kepada sang bos. Ruangan yang minim cahaya itu membuat kedua wajah kedua pria itu tidak kelihatan dengan jelas.

"Bagus. Sebentar lagi kehancuran akan menghampiri dirimu, Keluargamu, dan wilayah mu yang sangat kau cintai itu, Marquis Victoria. Nikmati saja waktu kalian ini sebelum kalian benar-benar menderita nantinya." Angin berhembus dengan kuat, rambut dan baju yang pria itu mulai bergoyang dengan kuatnya.

"Mari kita mulai permainan ini. Pergilah. Aku ingin semua berjalan sesuai rencana kita. Jangan kecewakan aku."

"Baik tuanku. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan anda, tuanku." Pria itu menghilang dalam kegelapan malam meninggalkan pria itu sendiri di ruangan itu. Ia tersenyum jahat. Ia tidak sabar menunggu apa yang akan terjadi kedepannya.

...☆☆☆☆☆...

"Hah, lelahnya. Apa ini yang ayahanda lakukan setiap harinya? Ternyata jadi kepala rumah bangsawan itu yang semudah yang dipikirkan banyak orang." Luka menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur empuknya. Menutupi matanya dengan tangan kanannya. Lalu mengangkatnya tinggi-tinggi seolah mengapai langit-langit kamar itu.

"Ayahanda begitu hebat. Ia selalu begitu terang bagiku, Alex dan Alexia. Aku mengerti sekarang, kenapa ibunda begitu kagum dengan ayahanda. Sosoknya begitu terang bagai matahari yang menyinari alam semesta ini, dan begitu lembut bak cahaya rembulan menyinari gelapnya malam. Aku... Apa aku... Apa aku bisa... Apa aku bisa jadi seperti ayahanda? Menjadi sosok yang kuat, tanggung, penyayang, penuh dedikasi tanpa pamrih. Sosok yang bertanggung jawab atas banyaknya kehidupan di kota ini? Di kerajaan ini? Apa aku bisa seperti ayahanda?" Tangan kanan yang seolah mengapai langit-langit kamarnya menghalangi cahaya lembut lampu kamarnya ke matanya. Ia mengepal kuat-kuat tangannya seolah menggenggam cahaya lembut itu. Ia tak berniat melepaskan cahaya yang begitu terang dan lembut itu. Ia ingin memiliki dan menjaga cahaya itu selamanya.

"Apa aku bisa seperti ayahanda? Iya..., walaupun aku bukan sang penerus kepala house Victoria selanjutnya. ...Tapi Aku tetap ingin membantu agar house Victoria tetap jaya. Tapi... Apa aku bisa? Saat ini tubuhku semakin lemah saja. Entah berapa kali hari aku bulak-balik kamar mandi. Dan selalu berakhir begitu. Aku selalu berakhir muntah darah. Tubuhku kian hari kian melemah. Apa yang harus aku lakukan? Aku yakin cepat atau lambat mereka akan tau akan hal ini." Ia bangkit dari posisi nyaman nya, mengambil handuk dan pergi mandi. Luka menanggalkan pakaiannya, dan menghidupkan shower. Tetesan air dingin membasahi tubuh mungilnya yang kelelahan. Pikirannya melayang-layang. Ia mencoba untuk merilekskan pikiran dan tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, Luka baru saja menyelesaikan ritual mandinya dan mulai mencari piyama yang nyaman di lemari nya. Kemudian ia berjalan ke arah meja belajarnya dan mulai membuka laci meja belajarnya itu. Ia mengambil pensil dan memasukkan ujung runcing pensil itu ke lubang bagian bawah laci tersebut. Laci itu terangkat. Terlihat ada penyimpanan rahasia di laci itu. Di sana dimana Luka menyimpan buku yang diberikan para peri itu padanya. Ia mengambil buku itu dan membuka halaman yang sudah ditandainya.

"Waktunya untuk meneliti." Ia mulai membaca bagian halaman itu dengan teliti. Ia mencatat bagian yang ia rasa sangat penting.

"Jadi intinya sihir itu sama kayak kekuatan elemental. Komponen elemennya banyak yang sama. Sama-sama perlu pengucapan mantra untuk mengeluarkan kekuatannya. Dan sekarang... jika aku punya kekuatan sihir ini. Elemen apa aja yang bisa aku kuasai?" Luka lanjut membaca halaman berikutnya. Setelah membaca bagian halaman itu, Luka mulai melakukan eksperimen. Ia membuka telapak tangannya dan mulai membacakan mantra yang ada di buku itu.

"Snow." Sebutir salju yang sangat indah muncul di tangannya. Ia begitu mengagumi salju itu. Ia tidak percaya ia berhasil melakukannya. Walaupun ini pengetahuan paling mendasar dari sihir, namun ia tetap senang bisa berhasil melakukannya. Ia mengepal tangannya dan mulai membaca bagian yang lain.

Bab selanjutnya cukup kompleks pembahasannya. Bab itu berisi penjelasan tentang elemen tunggal kegelapan. Ia membaca dengan sangat hati-hati dan sangat teliti. Ia berusaha menafsirkan kalimat per kalimat dalam bab itu.

"Elemen kekuatan adalah salah satu dari elemen tunggal. Elemen kegelapan sangat kuat sama seperti elemen cahaya. Namun, elemen ini sangat sulit dikontrol. Jika sang pemilik elemen ini tidak dapat mengontrol elemen ini dengan sangat baik, sang pengguna akan kehilangan kontrol pada dirinya. Lama-kelamaan ia akan ditelan oleh kegelapan itu dan berubah menjadi monster yang sangat mengerikan. Hanya sedikit elemen orang yang mendapatkan elemen kegelapan ini. Hanya sekitar dua koma lima persen dari jumlah populasi yang memiliki kekuatan sihir yang mendapatkan elemen kegelapan. Dan hanya nol koma dua persen saja dari jumlah pengguna elemen kegelapan yang mampu mengontrol elemen ini dengan baik. Sisanya berubah menjadi monster yang sangat mengerikan yang menempati devil's forest. Wah, elemen yang begitu mengerikan. Aku harap aku enggak mendapatkan elemen ini. Tapi jika aku ada elemen ini aku harus cepat cepat mengontrol elemen ini supaya enggak berakhir seperti itu." Luka kembali muntah darah tak lama setelah itu. Ia buru-buru menampung darah itu dengan tangannya. Ia tidak mau darah itu jatuh kemana pun. Ia bergegas ke kamar mandi. Ia pergi ke wastafel dan mulai memuntah darah. Ini jauh lebih banyak dari biasanya. Tubuhnya lemas. Ia perlahan jatuh dan terduduk di kamar mandi. Ia belum pernah muntah darah sehebat ini. Ia mengelap darah di bibirnya menggunakan tangan kirinya. Ia berusaha mengatur napasnya yang begitu sesak.

Di sisi lain. Di Kamar orang tuanya. Maria berdiri di pembatas balkon menatap langit malam yang cukup gelap. Kumpulan awan menutupi sang rembulan yang ingin menerangi gelapnya malam. Angin malam yang dingin berhembus dengan kencang. Saking kencangnya, pintu balkon sampai bergetar. Rambutnya berayun-ayun diterpa angin yang kencang. Duffle yang menyelimuti tubuhnya akan terbang entah kemana jika tidak ditahan kedua tangannya.

"Angin malam ini berhembus tidak seperti biasanya. Rembulan tidak menampakkan dirinya malam ini. Malam ini jauh lebih dingin dan gelap dari biasanya. Kenapa... aku merasa ada firasat buruk. Seperti sesuatu yang begitu besar akan terjadi dalam waktu dekat ini. Sesuatu yang begitu besar... Sesuatu bencana yang begitu mengerikan... akan terjadi dalam waktu dekat ini." Maria menyelipkan rambutnya ke telinganya. Ia menatap angkasa dan mencoba menebak dimana sang rembulan bersembunyi diantara kumpulan awan sekarang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!