Arc Velrata Chapter 1

Luka berjalan di lorong-lorong kelas. Lorong-lorong dipenuhi para murid. Suasana pagi sebelum pergi sekolah. Tepat di persimpangan lorong kelas yang sepi, beberapa orang sepertinya menunggu kedatangannya Luka.

"Lihat-lihat siapa yang datang."

"Tuan muda Luka. Si anak jenius dari house Victoria."

" Jenius tapi sayang sangat disayangkan lahir tak ada kekuatan elemental."

Ketiga anak laki-laki berada di lorong tertawa gelak setelah menghina Luka. Luka menghela napas kecil, menatap mereka dengan tatapan yang yang acuh tak acuh. Luka melanjutkan jalan pergi ke kelas. Tapi langsung dicegat oleh salah satu anak, dengan menarik bahu Luka dan membantingnya ke dinding lorong.

"Mau kemana hah? Urusan kita belum selesai loh?"

"Mau kabur lah itu. Namanya juga pengecut. Kayak tikus lari ketakutan."

"Takut ya, takut kami apa-apain loh hah? makanya loh kabur?"

Luka menghela napas, dan mulai tertawa. Iya tertawa, tertawa gelak mendengar kata-kata ketiga anak itu.

"Lari... Takut... Pengecut... Kayak tikus lari ketakutan... ." Kata Luka. Gelak tawanya semakin kencang. Kata-kata ketiga anak itu membuatnya kehilangan akal.

"Lari... Kemana?... Siapa?... Kenapa? Bukannya itu kalian ya." Tatapan Luka sudah seperti siap menerkam mangsanya. Mata Safirnya berubah sangat gelap. Senyuman jahat mulai terukir di wajahnya. Sekarang raut wajahnya sudah seperti seorang psikopat yang siap melakukan apa saja pada korbannya. ketiga anak itu merinding ketakutan. Bulu kuduk mereka berdiri tegak. Namun, salah satu anak berusaha membalas tatapan mengerikan Luka.

"Kenapa kami pula harus lari? Loh pikir kami takut dengan loh. Sementang loh pasang muka seperti itu, hah?"

"Loh itu enggak ada apa-apanya tau. Kami punya elemental, sedangkan loh enggak. Kami bisa melakukan sesuatu pada loh."

" Bagaimana pun kami masih lebih unggul dari pada loh? kalau mau kenak bilang sini."

"Silahkan. Silahkan saja kalau berani." Luka memasang wajah psikopat yang menantang. Reflek salah satu anak menarik kerah baju Luka dan meninju pipinya. Luka tersudut ke dinding. Ketiga anak itu merasa puas setelah membalas Luka.

"Dan ini akibatnya loh nantangi kami." salah satu anak mengeluarkan kekuatan es di tangannya dan mengarahkan ke Luka. Ketiga anak itu sangat-sangat puas berhasil membuat Luka enggak berkutik. Ketika hendak sampai ke Luka, serangan itu ditangkal dengan elemental api dari jarak yang cukup jauh. Terjadi kabut yang cukup tebal dari tabrakan dua elemental tersebut.Ketiga anak itu terkejut dan mencari sumber serangan itu. Mereka menemukan seorang anak perempuan berambut merah di kuncir kuda kembar. Wajah anak perempuan sangat kesal pada kelakuan ketiga anak itu.

"Kali ini kalian berbuat apa sama Luka hah?" kata gadis itu sambil berjalan mendekat.

" Bisa jangan ikut hah?"

"Pengganggu kali loh itu!!"

"Sibuk kali ikut campur urusan orang. Urus aja urusan loh sana."

"Kelen lah urusan gue. Kalau kelen menggangu Luka, maka kelen berurusan dengan gue. Loh paham enggak?" Balas gadis itu dengan menunjuk ketiga anak laki-laki itu. Mendengar provokasi gadis itu membuat ketiga meninggalkan Luka dan membalas gadis itu. Melihat kesempatan, Luka langsung membanting salah satu anak ke lantai. Dua anak itu terkejut. Dan menyerang Luka, namun dihindari dengan mudah oleh Luka. Salah meninju Luka, sayangnya Luka menangkap tinjuan itu dan membanting anak itu ke lantai. Dan anak terakhir berusaha menendang perut Luka namun, langsung di tangkap dan membantingnya ke lantai.

Ketiga anak itu tidak berdaya dibuat Luka. Luka mendekati gadis tersebut. Dan bertepuk tangan dengannya.

"Terima kasih Luna. Aku benar-benar terbantu. Aku bisa melawan selama lawanku enggak menggunakan elemental. Kalau pakai elemental aku yang langsung k.o." kata Luka sambil tersenyum pada gadis itu.

"Bukan masalah besar kok Luka. Aku senang kau baik-baik saja. Dan ketiga anak buntal yang bandel ini suka kali menjahilimu. Aku benar-benar ingin kesal. Aku beritahu ya, kalau kelen itu kayak babi muda yang beratnya enggak sampai 50 kilo itu. Kalau kelen macam-macam lagi sama Luka. Aku pastikan kelen bakalan kubakar pakai api ku ini jadi babi panggang itu. Kelen ngerti itu enggak???" Kata gadis itu sambil menjewer salah satu anak itu. Mendengar ancaman gadis itu membuat mereka ketakutan. Melihat keadaannya seperti itu Luka terkikik pelan.

"Berdiri kelen SEKARANG!!!" Jeritan gadis itu membuat mereka semakin ketakutan dan langsung menuruti perkataannya.

"JIKA AKU LIHAT KELEN MACAM-MACAM SAMA LUKA. TANPA BA BI BU BE BO. AKAN KUBAKAR KELEN JADI ABU. KELEN NGERTI???"

"Iiiiyaaa. Kami ngerti kok." ketiga anak itu semakin merinding ketakutan. Bahkan ada yang sampai ngompol di celana.

"Bagus. Kalau macam itu... PERGI DARI SINI. SEKARANGGGG!!!" Teriak gadis itu membuat ketiga pembuli itu pergi ketakutan. Mereka lagi bak di kejar harimau. Melihat tingkah pembulinya, Luka ketawa gelak sejadi-jadinya. Melihat itu membuat gadis itu tersenyum lembut melihat Luka baik-baik aja.

"Sepertinya aku berhutang budi lagi padamu, Luna. Aku enggak tau apa aku bisa membalasnya." Kata Luka sambil ngegaruk rambutnya. Mendengar itu Luna terkekeh kecil.

"Bisa kok."

Luka terkejut. Dia heran bagaimana caranya. Dia penasaran apa yang akan dikatakan gadis itu.

"Traktir aja aku makan di crepes paling terkenal di kota. Itu sudah cukup."

Mendengar itu Luka tersenyum. Dia sudah berpikir yang enggak-enggak ternyata cuma crepes dong sebagai balasannya. Luka menghela napas ringan.

'Ada-ada saja si Luna ini ya. Aku pikir dia bakalan minta yang aneh-aneh. Ternyata crepes. Dasar deh. Ampun deh.' Luka mengeluh dalam hati melihat sahabat sekaligus teman masa kecilnya.

"Kenapa kayak gitu ekspresi mu? Apa salah ya aku mintanya??" Luna cemberut melihat tingkah Luka.

"Enggak kok. Enggak ada papa kok. Aku cuma kaget kau tiba-tiba minta itu." Luka menggelengkan kepalanya ringan. Jawaban Luka membuat Luna semakin cemberut. Ia menggembungkan kedua pipinya. Luka semakin tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang satu ini.

"Sudahlah. Ayo ke kelas, bentar lagi bel akan bunyi." Luka mengambil tangan Luna dan bergegas ke kelas bersama.

Sampai di kelas. Semua murid sudah di kelas sambil melakukan aktifitas mengobrol. Mereka bergegas ke meja masing-masing. Tak lama Miss cana datang ke kelas dan memulai pembelajaran.

......☆☆☆☆☆......

Bel pulang berbunyi. Luka memasukan tabletnya kedalam tas dan mengambil sebuah bola silver kecil seukuran permen. Ia memakannya titik yang ada di benda itu dan mencari nama yang ingin hubungi. Tak lama muncul gambar hologram orang yang ia telpon dari benda silver itu.

"Pak John. Hari ini aku pulang sendiri. Aku ada janji dengan Luna pulang sekolah ini. Tolong beritahu ayahanda dan ibunda ya."

"Baiklah tuan muda. Saya akan memberitahu Tuan dan Nyonya perihal tuan muda. Tolong tetap waspada dan jaga diri anda, tuan muda." Kata John sambil menaruh tangan kanannya di bahu kirinya dan sedikit membungkuk. Luka mengangguk kecil dan kemudian mematikan panggilan itu. Luka memasukan alat itu ke kantong rompi bajunya dan bergegas keluar kelas. Rupanya Luna sudah menunggu di luar kelas.

"Lama ya Luna. Maaf ya membuat mu menunggu." Kata Luka khawatir Luna menunggu lama. Luna menyangkalnya dengan menggelengkan kecil dan tersenyum. Ia mengambil tangan Luka dan menariknya keluar dari sekolah mereka.

Sampai di luar sekolah, Luna dan Luka bergegas mengeluarkan hoverboat mereka dan meluncur ke pusat kota Vera. Kota tempat tinggal mereka. Pemandangan pertanian kota Vera menjelang sore hari sangat indah. Jalanan dipenuhi hilir mudik penduduk. Merasakan keindahan ini membuat hati Luka sedikit terobati setelah apa yang ia alami selama ini.

Sebagai anak yang terlahir tanpa kekuatan elemental membuat dia sangat dikucilkan oleh semua orang. Bangsawan, teman-teman di sekolahnya, rakyat biasa hingga keluarga kerajaan. Bahkan kedua adiknya sendiri sedikit bencinya. Ia itu karna mereka juga kenak imbasnya. Tapi dia bersyukur karena orang tuanya masih mendukungnya. Namun, yang paling perhatian, peduli hingga selalu ada untuknya hanya Luna. Teman masa kecilnya ini selalu siap untuk membantunya.

Luna de Ruby adalah teman masa kecil Luka. Ia adalah putri sulung dari Marquis Ruby yang merupakan teman dari Marquis Victoria, ayahnya Luka. House Ruby terkenal akan perdagangannya. Mereka memiliki seperempat dari perdagangan di Kerajaan Velrata. Dan wilayah tempat house Ruby memimpin adalah wilayah jalur perdagangan nomor 4 terbesar di benua ini. Kota mereka tidak kalah makmurnya dengan kota Vera, kota tempat Marquis Victoria memimpin. House Victoria dengan house Ruby memiliki hubungan bilateral yang sangat bagus diantara seluruh hubungan bangsawan yang lain di Kerajaan Velrata. Marquis Victoria secara rutin mengirim pasukannya secara bergantian ke wilayah Sera. Dan Marquis Ruby juga mengirim barang-barang yang sangat sulit di dapat jika, tanpa adanya pedagang dari luar kerjaan mampir ke kota Sera. Salah satu bukti kuatnya hubungan bilateral itu adalah dengan menyekolahkan Luna di kota Vera.

"Sebentar lagi pasukan Red Bull 5 akan berangkat ke kota Sera. Setelah mereka sampai maka pasukan Red Bull 1 akan kembali ke kota ini." Kata Luka melihat keindahan perkotaan yang dibangun dengan teknologi canggih namun, masih mempertahankan kesan zaman kuno. Perpaduan antara modern dan zaman abad pertengahan membuat kota ini punya kesan tersendiri.

"Hmm. Oh ya, ayahanda juga bilang kalau stok barang-barang dagangan dari kota Sera juga akan segera tiba." Luna mulai mengurangi kecepatan hoverboatnya, diiringi oleh Luka. Mereka mulai menurunkan ketinggian hoverboat mereka dengan tanah.

"Aku penasaran sebenarnya berapa lama tugas pasukan yang dikirim Marquis Victoria ke kota Sera, Luka?" Luna selalu penasaran dengan pasukan Marquis Victoria yang bertugas kota kelahirannya.

"Ayahanda bilang mereka bertugas enam bulan sekali di kota Sera, dan setiap enam bulan biasanya ada satu hingga dua regu pasukan yang akan pergi dan juga pulang. Tapi kali ini hanya satu pasukan yang pergi dan yang akan pulang. Ini karena insiden terakhir kali." Luka menjelaskan pada Luna.

"Itu sayang disayangkan sekali. Kenapa lah ada orang kayak gitu? Aku sangat kesal. Mereka mengambil kesempatan untuk merampok barang dagangan pedagang." Luna meninju tangannya sendiri saking kesalnya. Luka menghela napas ringan.

"Namanya juga kejahatan, dimana ada kesempatan disitu mereka beraksi. Terkadang, orang berbuat kayak gitu banyak faktornya. Bisa aja ia sangat kekurangan dalam hal ekonomi." Luka menjelaskan pada Luna. Namun sayangnya Luna masih sangat kesal dan tidak terima akan hal itu.

"Tapi mereka bukan dari golongan yang tidak mampu loh, Luka. Mereka itu orang tergolong sangat kaya walaupun mereka bukan bangsawan." Luna semakin geram. Luka hanya bisa tersenyum melihat sahabatnya ini.

"Kan udah ku bilang tadi, kalau ada kesempatan disitu mereka beraksi. Mereka melihat itu kesempatan yang luar biasa maka mereka melakukan hal itu. Ada beberapa tipe manusia yang tidak pernah merasa cukup dan puas dengan apa yang mereka miliki. Mereka selalu merasa kurang, kurang dan kurang. Makanya berani berbuat seperti itu. Lagian mereka sudah dihukum dengan hukuman yang setimpal. Aku harap itu membuat mereka jera."

"Tapi tetap aja Luka. Aku kehabisan akal dengan tingkah mereka itu loh." Kekesalan Luna mencapai puncak. Luka semakin tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang satu ini. Tak terasa mereka hampir sampai ke pusat kota Vera.

"Dari pada marah-marah kayak gitu. Bagus kita makan crepes aja. Udah mau sampai loh. Nanti mukamu memerah kayak udang rebus loh, Luna." Luka mengatakannya sambil menutup satu matanya. Luna langsung memasang wajah antara senang atau kesal. Senang sebentar lagi ia akan makan crepes kesukaannya. Dan kesal Luka meledeki dirinya.

Akhirnya mereka sampai ke pusat kota. Mereka turun dari hoverboat mereka dan berjalan kaki mencari kede crepes yang sangat laris di pusat kota. Masyarakat hilir mudik di pusat kota menikmati makanan, hiburan yang tersedia di situ dam menikmati pemandangan sore hari yang sangat indah. Sesampainya di kede crepes.

"Bibi, crepes rasa stroberi satu dengan ekstra stroberi." Luna sangat menyukai crepes stroberi. Bahkan ia pernah bilang dia bisa memakan crepes satu hari penuh tanpa makan yang lain. Bibi penjualnya tersenyum manis.

"Sudah lama sekali Luna-chan. Kenapa lama kali enggak mampir kesini, Luna-chan??" Kata Bibi penjual sambil menyiapkan Crepes pesanan Luna.

"Maaf bibi, sibuk belakangan ini. Ini baru bisa mampir bareng Luka." Balas Luna yang sangat tidak sabar mau memakan crepesnya itu.

"Ara, Luka-kun juga disini. Mau pesan apa?" Sambut bibi penjual dengan ramah.

"Crepes matcha satu ya bibi dengan es krim matcha sekalian ya, bibi." Kata Luka dengan lembut.

"Pesanan akan segera disiapkan."

Tak lama kemudian pesanan mereka berdua siap. Luna mengambil dua crepes itu dan Luka membayar makanannya. Dan mereka mulai memakan makanan mereka sambil menikmati suasana di pusat kota. Hiburan sekaligus pemandangan sore adalah sesuatu yang tak ada tandingannya.

Terpopuler

Comments

lastbossmc

lastbossmc

kayak ucapan si cid

2023-08-20

0

Anggara AL-Fatih

Anggara AL-Fatih

loh, loh loh wkwkwkwk

2023-07-26

0

Joko Castro

Joko Castro

Gak sabar nunggu kelanjutannya thor, semoga cepat update ya 😊

2023-07-21

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!