Lesta terkejut ketika Bi Darmi memberikannya kunci motor dan ATM kepadanya.
“Bi, ini buat aku?” tanya Lesta.
“Iya, ini dari Nyonya Melisa, gunakan motor ini dengan hati-hati dan ATM ini adalah gaji untukmu, jadi setiap awal bulan gajimu akan di transfer, dan nomor Pin-nya ada di belakang kartunya,” jelas Bi Darmi.
“Kenapa Nyonya Melisa baik kepadaku? Bukankah selama ini beliau tidak suka denganku?” tanya Lesta lagi seraya menatap kedua benda yang ada di tangannya.
“Lesta, Nyonya Melisa adalah wanita yang sangat baik, beliau adalah ibu dan istri yang begitu sempurna. Hanya saja beliau sedang kecewa dengan kamu dan juga pamanmu, di tambah lagi beliau belum bisa menerima statusmu sebagai menantunya, yang sabar, nanti lama kelamaan beliau akan luluh, buktinya sekarang Nyonya Melisa sudah mulai perhatian denganmu,” jelas Bi Darmi sekaligus menenangkan gadis kecil yang ada di hadapannya ini.
Lesta sedikit lega setelah mendengar penjelasan Bi Darmi, ia pun mengangguk dan berpamitan berangkat sekolah kepada Bi Darmi menggunakan motor matic berwarna pink itu.
*
*
Mattew menyeret koper kecilnya, ia menatap kedua orang tuanya yang masih saja menentang keputusannya.
“Aku pamit, Mami, Papi,” ucap Mattew lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
“Terserah kamu saja!” kesal Melisa lalu pergi dari sana menuju halaman belakang, dia sudah melas memberitahu putranya agar tidak ke Paris menyusul wanita itu.
Mattew menghela nafas panjang seraya menatap kepergian ibunya karena marah kepadanya.
“Papi nggak marah sama aku ‘kan?” tanya Mattew, menatap ayahnya dengan intens.
“Mau marah pun percuma karena otak kamu sudah di penuhi dengan Rebecca! Padahal Papi lebih suka dan sreg sama Lesta,” jawab Ansel seraya menipiskan bibirnya.
“Apa bagusnya gadis kecil itu, sampai Papi begitu suka dengannya!” balas Mattew tidak suka, lalu melanjutkan langkahnya menuju halaman rumah di mana sopirnya yang akan mengantarkannya ke Bandara sudah menunggunya sejak tadi.
Ansel geleng-geleng kepala sambil menatap kepergian putranya, setelah itu ia berjalan menuju halaman belakang, menyusul istrinya.
*
Lesta mengendarai sepeda motornya dengan santai, menikmati suasana Kota Jakarta di pagi hari. Hampir 1 jam menempuh perjalanan akhirnya dia telah sampai di sekolahnya. Lesta menjadi pusat perhatian oleh para murid karena menaiki sepeda motor baru. Namun, Lesta tidak memedulikan tatapan para murid tersebut. Lesta sudah biasa mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya hanya karena dia anak orang tidak mampu.
“Tumben si udik bawa motor, sudah naik pangkat kah?” celetuk salah satu siswi kepada Lesta saat sampai di parkiran. Siswi tersebut adalah salah satu fans fanatik Sam, maka dari itu dia sangat membenci Lesta dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Lesta hanya menatap malas kepada siswi tersebut, dia terlalu malas berdebat di pagi hari.
“Heh! Lu budek ya?!” maki siswi itu yang bernama Evelyn menatap tajam Lesta yang berjalan melewatinya. “Pindahin motor butut lu dari sini! Karena nggak pantas bersanding dengan mobil mewah gue!” umpat Evelyn seraya menarik rambut Lesta dengan kuat, hingga membuat kepala Lesta mendongak ke atas sambil meringis kesakitan.
“Lepas!” sentak Lesta akan tetapi Evelyn semakin menarik rambutnya sangat kuat. “Jangan membuatku marah, Eve!” geram Lesta.
“Ha ha ha, emangnya lu bisa apa? Mau mukul gue atau nampar gue?” ejek Evelyn sambil tersenyum miring.
Sepertinya selama ini Lesta sudah terlalu sabar menghadapi para pembully-nya, kali ini dia tidak akan tinggal diam. Lesta menendang salah satu kaki Evelyn menggunakan tumitnya, hingga membuat gadis tersebut berteriak kesakitan dan langsung melepaskan rambut Lesta.
“Sialan!” umpat Evelyn ketika tersungkur, ia memegangi kakinya yang terasa sangat sakit.
“Jika kamu menganggapku lemah, kamu salah! Aku diam karena aku tidak ingin membuatmu terluka! Sekarang kamu sudah mengibarkan bendera perang kepadaku, jadi jangan harap kamu akan lolos dari bidikanku!” Lesta mencengkram rahang Evelyn dengan keras dan penuh emosi, lalu melepaskan rahang gadis itu dengan kasar, hingga membuat wajah Evelyn tersentak ke samping.
Lesta menatap tajam Evelyn sebelum beranjak dari sana, dan kejadian di parkiran tersebut di saksikan oleh para murid lainnya yang sedang parkir di sana.
“Brengsek!” umpat Evelyn kesal, ia kira selama ini Lesta adalah gadis yang cupu, tapi ternyata dia salah sangka. Tapi, dia tidak akan tinggal diam, ia akan membalaskan perbuatan Lesta.
*
*
Lesta menghela nafas kasar ketika sudah sampai di kelasnya. Ia berdecap kesal saat para murid pria menatapnya dengan tajam dan mengelilingi mejanya.
“Ada apa?” tanya Lesta dengan nada malas.
“Lu sudah berani mengganggu Evelyn!” ucap salah satu siswa menatap tajam Lesta.
“Oh, jadi cewek manja dan sok famous itu mengadu ke para kacungnya?” balas Lesta mengejek sambil tersenyum miring menatap satu persatu para murid pria yang juga menatapnya tajam, tapi Lesta sama sekali tidak takut kepada mereka.
“Lalu mau kalian apa?” tantang Lesta santai.
“Wah! Ngajak ribut ini cewek udik!” balas salah satu siswa lainnya sambil menunjuk Lesta penuh emosi.
“One By One, berani nggak?!” tantang Lesta lagi seraya menatap tajam, lalu beranjak dari duduknya,
Para murid wanita yang ada di kelas itu menepi sambil melihat Lesta seperti orang kesurupan, biasanya gadis itu akan tetap diam bila di bully, tapi kali ini tidak, Lesta melawan dan terlihat sangat menyeramkan.
“Lu nantangin kita semua!” geram para murid pria itu.
Lesta memasang kuda-kuda, seraya menggerakan ujung jarinya, “kalau berani maju lawan aku!”
“Sial! Si udik ini memang cari perkara!” umpat salah satu siswa lalu melayangkan tinju kepada Lesta, akan tetapi langsung di tangkis dan Lesta balik menyerang lawan, melayangkan tinju ke perut siswa tersebut.
BUGH!
“Arghh!” pekik siswa tersebut sambil membungkuk merasakan sakit sampai ke ulu hatinya.
Semua para siswa pria lainnya sangat terkejut saat melihat kejadian itu.
“Hanya itu kemampuan kalian? Cih! Dasar payah!” umpat Lesta.
“Panggil Wali kelas!” ucap salah satu murid siswi kepada temannya ketika ada yang tumbang atas perkelahiannya itu. Kebetulan wali kelas mereka adalah Mattew, karena mereka memiliki nomor ponsel gurunya itu, salah satu murid langsung menghubungi Mattew.
Mattew yang baru sampai di Bandara menerima telepon dari muridnya.
“Apa?!” pekik Mattew saat mendengar penjelasan dari muridnya yang ada di ujung telepon sana, ia langsung menutup panggilan tersebut dan meminta sopir memutar arah menuju sekolah.
“Tapi, Tuan, pesawat Anda sebentar lagi akan berangkat,” ucap sopirnya.
“Kau ingin di pecat?!” geram Mattew sangat panik dan cemas. Ya, dia sangat mencemaskan Lesta yang terlibat perkelahian, apalagi murid yang menghubunginta tadi mengatakan kalau Lesta di keroyok oleh para murid pria di kelas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Retno Palupi
yah dibilangin mama papa g nurut, pas dikabari kl istrinya d keroyok g jd pergi 🤣🤣🤣
2024-04-29
2
Rifa Endro
katanya mau nyusulin pacarnya, kenapa mendadak mengkhawatirkan istri yg nggak dianggap
2024-04-19
2
Zerazat
Pembullyan harus di kasih pelajaran jangan yang di salahkan yang membela diri walau orang nggak mampu
2024-03-05
1