Wahyu sangat gugup ketika semua mata memandang ke arahnya. Ia melirik Vania yang menunduk seolah tidak peduli kepadanya, lalu tatapannya mengedar, menatap semua orang yang ada di sana dan tatapannya itu terhenti pada Zahra yang tersenyum miring menatapnya.
Sial! Kenapa menjadi seperti ini! batinnya.
"Ayo! Wahyu! Kami sejak tadi menunggumu!" Ansel mempersilahkan Wahyu agar segera berbicara.
"Sa-saya ..." Wahyu sangat gugup dan tidak tahu apa yang harus ia katakan.
"Mungkin Pak Wahyu ini gugup," celetuk Zahra tersenyum mengejek Wahyu.
Wahyu mengepalkan kedua tangannya dengan erat bukan karena marah akan tetapi dia merasa malu dengan semua orang di sana, termasuk pada Zahra. Seharusnya dia menunjukkan semua kemampuannya kepada calon mantan istrinya itu akan tetapi ia tidak bisa.
"Gugup? Apa benar begitu Wahyu?" tanya Ansel dengan nada pelan.
"I-iya, Pak, maaf," jawab Wahyu menunduk.
Ansel menghela nafas kasar, lalu tatapan matanya beralih pada Vania.
"Vania! Apakah ini staf yang kamu rekomendasikan untuk menjadi kepala devisi pemasaran?" tanya Ansel penuh penekanan.
Vania bangkit dari duduknya lalu menundukkan setengah badannya, "maafkan saya, Pak," jawabnya.
"Maaf? Kamu bilang maaf? Dan sebelumnya kamu mengatakan kalau Wahyu adalah staf yang berkompeten? Apakah kamu tahu arti 'berkompeten?' apa aku perlu menjelaskannya kepadamu?!" Ansel menatap penuh emosi kepada Vania.
Semua orang di sana menunduk saat melihat kemarahan Ansel.
Vania memejamkan kedua matanya dengan erat, kedua tangannya saling bertaut dan saling meremas bergantian.
"Jangan menyalah gunakan jabatanmu atau kau akan tahu akibatnya!!!" ucap Zahra dengan nada penuh penekanan, menatap Wahyu dan Vania bergantian.
Ini baru permulaan! batin Zahra, rasanya puas mempermalukan dua manusia busuk itu di hadapan para jajaran direksi.
Wahyu dan Vania merasa tersudut dan di permalukan. Tapi, mereka tidak berkutik dan tidak bisa melakukan apa pun.
"Maaf ... Bu." Vania menjawab ucapan Zahra dengan pelan dan ragu saat akan memanggil wanita itu dengan panggilan 'Bu'.
"Panggil aku, Miss Zahra!" ucap Zahra lalu menatap ayahnya yang tersenyum kepadanya.
"Maaf, Miss," ralat Vania.
Ah, sial! Kenapa wanita yang dulunya ia hina, sekarang malah berada di kedudukan yang paling tinggi? bahkan dirinya tidak ada apa-apanya dibanding Zahra.
"Jadi, keputusan naik jabatan Wahyu dibatalkan! Tidak usah bertanya alasannya, karena kalian pasti sudah tahu jawabannya." Keputusan Ansel bagaikan kilat yang menyambar Wahyu.
Wahyu langsung lemas dan tidak bertenaga saat mendengar keputusan mutlak itu.
Vania merasa bersalah kepada Wahyu, tapi mau bagaimana lagi dia juga tak bisa berbuat apa-apa.
Rapat selesai.
Semua orang yang ada di dalam ruangan meeting satu persatu keluar sambil menggosipkan Wahyu dan Vania.
"Vania, habis ini langsung ke ruanganku!" Ansel menatap Vania sebelum keluar dari ruangan meeting itu.
"Baik, Pak," jawab Vania menunduk sedih dan lesu.
Ansel sudah keluar dari ruangan tersebut, di ruangan meeting itu tersisa Zahra, Vania dan Wahyu. Ketiga orang itu saling pandang.
"Bagaimana? Apakah kalian terkejut?" tanya Zahra dengan tatapan sinis.
"Kenapa selama ini kamu menyembunyikan identitasmu?" Wahyu melontarkan pertanyaan lain kepada Zahra.
"Cih! Apakah kau menyesal bercerai denganku?" Zahra menatap tajam Wahyu yang juga tengah menatapnya.
"Tentu saja tidak!" Vania yang menjawab. "Karena Wahyu cintanya sama aku?!"
"Dia hanya mencintai hartamu saja! Maka dari itu selama ini aku menyembunyikan identitasku darinya, karena aku hanya ingin tahu apakah dia tulus atau tidak dalam mencintaiku, tapi ternyata dugaanku benar, kalau dia tidak pernah tulus kepadaku. Jadi, semoga saja kamu nggak bernasib sama seperti aku, wahai pelakor!" Zahra berkata pelan namun begitu menohok di hati Wahyu dan Vania, kemudian ia segera keluar dari ruangan tersebut menuju ruangan Ansel.
Setelah kepergian Zahra, Wahyu mencekal tangan Vania dengan kuat, "kenapa kamu berkata seperti itu kepada Zahra!" geram Wahyu.
"Kenapa? Apakah kamu menyesal bercerai dengannya?!" Vania menatap tajam Wahyu yang juga menatapnya tak kalah tajam.
"Iya! Jika sejak awal aku tahu kalau dia kaya raya, aku tidak akan berselingkuh dan tidak akan menceraikannya!" jawab Wahyu tanpa rasa malu dan merasa bersalah sedikit pun.
PLAK!
"Jahat kamu!" Vania menampar pipi Wahyu dengan kuat, lalu ia segera keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang sangat sesak. Kenapa Wahyu begitu tega kepadanya?
Wahyu mengusap pipinya yang terasa panas.
*
*
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Ansel pada putrinya.
"Aku merasa lebih baik setelah melihat dua manusia itu tidak berkutik," jawab Zahra puas.
"Dua manusia? Maksudmu Wahyu dan Vania?" tanya Ansel dan diangguki oleh putrinya.
"Jadi, selama ini mereka berdua berselingkuh, Pi," jelas Zahra sambil menghela nafas panjang, sudah tidak ada rasa sesak atau sakit hati di dalam hatinya, yang ada kini hanyalah sebuah dendam yang berkobar.
"Astaga! Kenapa dunia ini sempit sekali." Ansel menggerutu.
Obrolan mereka terjeda ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar ruangan. Ansel mempersilahkan masuk seseorang yang mengetuk pintu tersebut, dan ternyata orang tersebut adalah Vania.
"Silahkan duduk, Van." Ansel menunjuk kursi yang ada di hadapannya.
Zahra segera berpindah ke sofa karena ia tidak mau duduk bersisian dengan pelakor itu.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Vania ketika dia sudah duduk manis di hadapan Ansel. Jantungnya berdetak tidak karuan, dia takut di pecat.
Ansel mengambil amplop putih dari mejanya lalu di berikan kepada Vania.
"Ini apa?" Vania menatap amplop putih yang ada di tangannya.
"SP 2!"
"Hah? Kenapa saya mendapatkan SP? Apa salah saya?" Vania sangat terkejut.
"Kamu masih bertanya? Kesalahanmu sangat fatal! Merekomendasikan karyawan untuk naik jabatan lewat jalur cepat!" jelas Ansel menatap dingin pada Vania.
"Maafkan saya, Pak. Saya melakukannya karena ..." ucapannya belum selesai akan tetapi Ansel sudah memotongnya.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi! Silahkan keluar dari ruangan ini!" Ansel mengibaskan tangannya, mengusir Vania.
Vania berdecap lalu beranjak dari duduknya, tatapannya kini tertuju pada Zahra yang duduk di atas sofa sambil memainkan ponsel. Dia geram dan gregetan pada wanita itu!
"Awas saja, aku akan membalas perbuatannya!" batin Vania kesal. Lalu segera keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang tidak karuan. Sepertinya hari ini adalah hari tersial dalam hidupnya.
*
*
Zahra berpamitan kepada Ansel, dia ingin pulang terlebih dahulu, karena ia ingin mempersiapkan diri karena besok adalah peresmiannya menjadi wakil direktur utama. Ansel memerintahkan sopir untuk mengantarkan putrinya, akan tetapi Zahra menolaknya dengan sopan, karena wanita itu ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.
Dan di sinilah ia berada di warung kopi milik Arvan. Siang-siang begini enaknya minum es kopi sekaligus bersantai sambil menghilangkan kepenatan.
"Hai, Kakak cantik, sendirian aja." Arvan sangat senang melihat Zahra berada di warung kopinya.
"Hai, Ar," sapa Zahra tersenyum pada Arvan yang kini duduk di hadapannya.
"Sendirian, Kak?"
"Hu'um, Mattew sedang mengajar," jawab Zahra seraya memilih menu es kopi.
Arvan tidak mendengarkan ucapan Zahra, pemuda itu malah asyik menatap wajah Zahra yang sangat cantik.
"Kak ..."
"Hem? Apa?" jawab Zahra tanpa menoleh, masih asyik memilih menu.
"Hari ini mendung ya kak," ucap Arvan, menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja, kedua matanya terpaku menatap Zahra.
Zahra mengernyit sembari memiringkan kepala, menatap ke arah keluar, cuaca hari ini cerah tidak seperti yang di katakan Arvan.
"Ngaco kamu ah! Langitnya cerah," jawab Zahra sambil geleng-geleng kepala.
"Walau pun langit cerah tapi hati ini tetap berselimut awan gelap kalau kamu nggak ada di sisiku, eaaa ..." Arvan ternyata hanya menggombali calon janda itu. Arvan menaik turunkan alisnya sambil tersenyum tengil menatap wanita cantik itu.
"Hih! Receh banget sih!" meski begitu wajah Zahra bersemu merah. Bisa-bisanya dia salting karena di gombali berondong. Wk wk wk wk.
***
Di kejar berondong nih Calon jendes, wk wk wk
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
ngg dpt 2 ny km yu... Zahra lepas'... Vania setres
2024-12-22
0
Dyah Oktina
pelakor.. kok sewot😠
2024-12-11
0
Rina Susilowati
./Grin//Grin//Grin/
2024-09-02
0