Zahra saat ini berada di rumah Jessany. Wanita cantik itu menceritakan keluh kesahnya kepada sepupunya itu.
“Lo kenapa masih bertahan di sana? Hah?!” Jeesany merasa geram pada Zahra yang masih mau bertahan tinggal satu atap dengan suami dan mertuanya.
“Tentu saja balas dendam! Mereka harus tahu kalau aku ini tidak selemah seperti yang mereka pikirkan! Dan lagi, aku masih istri sah Mas Wahyu, dan pria itu tidak memperbolehkan aku pergi sebelum kami resmi bercerai. Aku ikuti saja permainannya.” Zahra menjawab dengan tegas, kedua matanya tampak tajam menunjukkan jika wanita itu sangat serius dengan ucapannya.
Jessany terkekeh mendengarnya, tapi sebagai sepupu yang baik, dia tetap memberikan saran kepada Zahra. “Balas dendam dengan cara elegant dan halus, jangan dengan cara norak! Lo paham ‘kan maksud gue?” ucap Jeesany memberikan saran sekaligus bertanya kepada Zahra yang terdiam sambil menata putrinya yang sedang bermain barbie di atas karpet tebal di ruang keluarga.
“Paham,” jawab Zahra, namun tatapannya tidak teralihkan dari gadis kecil yang menggemaskan itu.
“Kenapa? Lo ingin punya anak juga?” tebak Jeesany, menatap Zahra yang masih saja menatap putrinya.
“Aku dulu sempat berpikir ingin mempunyai banyak anak dari Mas Wahyu, tapi setelah mengalami kejadian ini, aku malah bersyukur karena tidak mempunyai keturunan dari dia. Sumpah, aku sangat bersyukur, karena Tuhan masih membukakan mata hati aku untuk melihat kebusukan Mas Wahyu yang selama ini hanya pura-pura mencintai aku,” jawab Zahra dengan nada lirih dan sedih, kedua matanya berkaca-kaca, tapi sekuat mungkin ia menahan air matanya agar tidak terjatuh. Air matanya terlalu mahal jika untuk menangisi suaminya itu.
Jeesany menatap sedih sepupunya itu, lalu ia memeluk Zahra dengan erat sambil menggosok punggung yang terasa bergetar itu seolah memberikan ketenangan dan juga dukungan.
“Jangan menangis, Ra. Pria seperti Wahyu nggak pantas di tangisi.” Jessany berkata seraya mengurai pelukannya, lalu menghapus air mata Zahra yang sudah menetes di pipi.
Sekuat tenaga Zahra menahan air matanya agar tidak jatuh, tapi tetap saja dirinya tidak sanggup. Rasa sakit yang di berikan oleh Wahyu seperti ribuan pisau tajam yang menusuk ke dadanya dengan satu kali tusukan, rasa sakit dan sesak bercampur menjadi satu membuat Zahra hampir saja tidak sanggup untuk menanggungnya. Tapi untung saja masih ada Jeesany yang mau menjadi tempatnya mengadu segala keluh kesahnya selama ini.
“Jadi kenapa lo nggak balik ke rumah orang tua lo saja? Sebenarnya selama ini Aunty Meli dan Uncle Ansel selalu nanyain kabar lo, Ra. Lo nggak kasihan sama mereka?” ucap Jeesany seraya mengelus salah satu lengan Zahra yang masih terlihat sedih.
“Aku malu,” jawab Zahra lemah.
“Ra, jangan kayak gini. Setiap orang tua pasti akan memaafkan kesalahan anak-anaknya.” Jeesany lagi-lagi memberikan saran yang terbaik untuk sepupunya itu.
“Kamu benar, tapi aku belum siap lahir batin, mereka pasti kecewa dan sangat marah sama aku, Sany. Aku perlu menguatkan mentalku dulu, karena aku benar-benar merasa bersalah sama mereka,” jawab Zahra dengan lirih, dan kembali terisak karena ia sedih ketika mengingat orang tuanya.
“Ya, persiapkan diri lo dulu. Meski mereka kecewa sama lo, tapi mereka akan tetap sayang dan mencintai lo, Ra. Percaya deh, cinta dan kasih mereka kepada anaknya lebih luas dari luasnya samudra yang nggak ada ujungnya. Jadi, lo jangan kebayangkan mikir kalau mau ketemu Uncle Ansel dan Aunty Meli. Ingat, surga itu di bawah telapak kaki ibu.” Jeesany memberikan nasehat lagi yang begitu menohok sampai ke relung hati Zahra.
Mendengar perkataan Jeesany, Zahra semakin menangis dan karena rasa bersalahnya kepada orang tuanya semakin besar.
“Thanks banget, San, karena kamu selalu ada untukku.” Zahra memeluk Jeesany dengan dan menumpahkan tangisnya di sana.
“Udah sih! Males ah kalau lihat lo cengeng kayak gini! Lebih baik kita nge-mall saja, aku yang traktir.” Jeesany berusaha menghibur Zahra agar tidak bersedih lagi.
*
*
Di sisi lain, saat ini Wahyu berada di kantor, dia merasa aneh kepada rekan-rekannya yang menatapnya sinis dari pagi sampai menjelang siang.
Wahyu bertanya-tanya di dalam hati, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Hingga rekan-rekan sekantornya seolah menjauhinya?
Lima belas menit kemudian, jam istirahat pun tiba. Wahyu segera beranjak dari kursinya, menuju kantin untuk mengisi perut yang keroncongan karena sejak tadi pagi tidak sarapan.
Saat akan memasuki lift, ia menghentikan langkahnya ketika salah satu rekan kerjanya menepuk pundaknya.
“Hebat banget ya, gaji lo seuprit tapi berani mendua. Btw, bini lo cantik juga, kalau sudah lo buang kasih ke gue ya.” ucap rekannya itu sambil tersenyum mengejek Wahyu.
Wahyu tentu saja merasa bingung dan juga tidak terima mendengar istrinya di samakan seperti barang. Ia pun segera memasuki lift, lalu melayangkan tinju ke wajah rekannya itu.
BUGH!
“Mampus! Kau pikir istriku barang yang bisa di minta kapan saja?!” Amuk Wahyu seraya menuding rekannya itu yang tersungkur di lantai lift. Beruntung di lift tersebut hanya ada mereka berdua, jadi mereka tidak jadi tontonan oleh karyawan lainnya.
“Ha ha ha ha.” Tawa pria tersebut menggelegar memenuhi lift tersebut. Ia beranjak dari lantai lift lalu menatap Wahyu dengan tajam, “ternyata selain brengsek, lo pintar bersandiwara menjadi pria yang baik hati dan sok peduli sama istri!” cibir pria tersebut seraya menatap Wahyu dengan sengit.
“Asal lo tahu, semua karyawan di sini sudah pada tahu kalau lo selingkuh, cih!”
Ting!
Pintu lift sudah terbuka lebar, pria tersebut segera keluar dari dalam lift menuju kantin. Sedangkan Wahyu mematung, memikirkan perkataan rekannya itu, bagaimana bisa semua karyawan di perusahaan itu tahu kalau dia selingkuh? Pikir Wahyu.
Ternyata yang tidak Wahyu ketahui adalah Video yang di posting Mbak Kokom menjadi viral dan tranding topik di seluruh Indonesia.
Wah, sepertinya Mbak Kokom harus di beri penghargaan inih, wk wk wk.
*
*
Zahra dan Jeesany menghabiskan waktu mereka di Mall. Hari itu Jeesany membebaskan Zahra untuk berbelanja.
“Ah, aku jadi nggak enak,” ucap Zahra sambil menenteng beberapa kantong belanjaan di kedua tangannya.
“Santai saja ...” jawab Jeesany sambil menarik lengan Zahra menuju restoran Jepang, untuk mengisi perut mereka yang keroncongan.
Tapi, pada saat mereka baru mendudukkan di kursi, semua pengunjung menatap ke arah Zahra.
“Eh, bukannya itu cewek yang lagi viral itu ya? Yang di selingkuhi suaminya ... ya ampun aslinya cantik banget kayak barbie,” ucapan dari beberapa pengunjung sampai ke telinga Zahra.
“Ra, kenapa mereka bisa tahu kalau lo di selingkuhi si kampret itu?” tanya Jeesany heran.
“Aku juga nggak tahu. Pindah resto saja yuk!” ajak Zahra, dia mulai merasa tidak nyaman karena di perhatikan hampir semua pengunjung di restoran itu.
Besti, jangan lupa like dan kembangnya ya, eakkk🤣🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
LENY
YA AMPUN MBAK KOKOM BISA2 NYA 😂😂😂
2025-01-24
1
Kalele Femmy
anak sambungnya ansel😇😇🥰🥰
2024-12-16
1
Dyah Oktina
ya ampun... kelakuan mb kokom.. nnt akhirny sampai juga k papi ansel sekel deh.. jd tahu sedunia kelaluanmu & suami bereksekmu.. 🤭
2024-12-11
1