“Sudah puas membuat ibumu selama ini menderita?!” desis seorang pria pada putrinya yang selama 2 tahun meninggalkan rumah demi seorang pria.
2 tahun yang lalu, putrinya meminta restu kepadanya untuk menikah dengan seorang pria jalanan yang tidak jelas asal usulnya. Akan tetapi ia bersikeras tidak memberikan restu kepada putrinya, tapi siapa sangka putrinya itu malah kabur dari rumah dan menikah dengan pria jalanan itu.
Putrinya yang bernama Zahra itu adalah sosok wanita yang sangat sempurna, dan mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Dulu Zahra sering membantu anak-anak jalanan mengamen di lampu merah di setiap weekend. Mungkin pada saat itu Zahra bertemu dengan pria jalanan itu, dan akhirnya jatuh cinta.
Ah, Ansel menjadi geram jika mengingat kejadian 2 tahun yang lalu.
Putrinya hanya tertunduk malu di hadapannya tanpa menjawab ucapannya.
“Setelah kamu dikhianati dan disakiti, kamu ingin kembali lagi ke rumah ini? Sebegitu mudahnya kamu meremehkan kami!” geramnya kepada Zahra.
“Maaf, Pi, Mi,” jawab Zahra penuh penyesalan.
“Papi tidak habis pikir denganmu yang sudah tergila-gila kepada sosok pria jalanan itu!” Ansel masih sangat geram kepada putrinya sendiri. Tapi, dia juga ingin memberikan pelajaran kepada pria yang sudah menyakiti hati putrinya.
Semarah-marahnya orang tua kepada putrinya, ia tidak akan pernah rela melihat putrinya terluka atau disakiti oleh orang lain, itulah yang di rasakan Ansel dan Melisa saat ini.
“Pi, jangan marah-marah terus. Semestinya Papi senang dan bersyukur karena putri kita sudah kembali.” Melisa menenangkan suaminya yang masih di selimuti amarah. Lalu Melisa beralih memeluk putrinya yang menangis lirih, menyesali perbuatannya dan turus meminta maaf kepada mereka.
Ansel tidak menjawab ucapan istrinya, dia tetap diam dan memasang wajah garang.
“Zahra, jangan di ambil hati perkataan Papi, sebenarnya Papi selama ini juga sangat merindukanmu dan berharap kamu segera kembali ke rumah ini. Cuma Papi masih gengsi untuk mengakuinya,” ucap Melisa kepada putrinya yang masih berada di pelukannya.
“Mami!” Ansel menatap sebal pada istrinya, karena istrinya itu membongkar rahasianya yang selama ini sangat merindukan putrinya.
Zahra menatap ayahnya sambil tersenyum manis, membuat Ansel berdecap seraya memalingkan wajah ketika melihat wajah cantik putrinya yang selama ini dia rindukan.
“Kami semua membuka pintu lebar rumah ini kalau kamu ingin kembali, Sayang,” ucap Melisa sangat bahagia karena putrinya sudah kembali ke pelukannya.
“Terima kasih, Mami, tapi ...”
“Tapi, apa lagi? Kamu ingin kembali dengan pria jalanan yang tidak jelas asal usulnya itu?!” Ansel memotong ucapan putrinya dengan penuh emosi.
“Papi! Zahra belum selesai bicara!” omel Melisa lagi pada suaminya.
“Ya ... aku ‘kan hanya menebak.” Ansel berusaha nge-les.
“Nge-les saja kayak bajai!” kesal Melisa pada suaminya yang masih terlihat jengkel kepada Zahra.
“Sebenarnya, aku belum bercerai dengan Mas Wahyu, dan aku saat ini masih sah menjadi istrinya, jadi mau tak mau aku harus tetap kembali ke rumahnya sampai kami resmi bercerai.” Zahra melanjutkan ucapannya sambil menundukkan kepala.
“Kenapa berbelit sekali sih! Papi akan memanggil pengacara keluarga kita agar segera mengurusi perceraian kamu!” tegas Ansel, akan tetapi keputusannya itu di tolak oleh Zahra.
“Pi, mohon maaf sebelumnya. Bukannya aku menolak kebaikan Papi, tapi biarkan kami menyelesaikan masalah kami sendiri tanpa bantuan siapa pun. Lagi pula selama ini Mas Wahyu dan keluarganya tidak mengetahui siapa diriku sebenarnya,” jelas Zahra pada kedua orang tuanya.
“Jadi kamu menyembunyikan identitasmu?” tebak Ansel dan Melisa bersamaan, lalu di sambutv anggukan kepala oleh putri mereka.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak ingin Mas Wahyu hanya mencintaiku karena harta, akhirnya terbukti kalau dia selama ini tidak tulus mencintaiku karena aku hanyalah seorang wanita miskin, hingga dia tega menghianati aku dan berselingkuh dengan wanita kaya.” Zahra merasa sangat terpukul ketika menjelaskannya, dan kedua matanya berkaca-kaca.
“Kurang ajar!! Ini sama saja dia sudah menginjak-injak harga diri putri kita!” geram Ansel penuh emosi, tapi emosinya langsung mereda saat istrinya menenangkannya.
“Sabar, Pi. Ingat darah tinggi,” ucap Melisa.
“Pi, apakah aku boleh menggunakan kekuasaanku untuk membalas perbuatan mereka?” pinta Zahra kepada ayahnya dengan penuh harap.
Ansel dan Melisa saling pandang, seolah sedang mempertimbangkan permintaan putri mereka.
*
*
“Hallo guys, ada yang baru nih. Berita hot jeletot dan sangat akurat dari Mbak Kokom dot kom.” Seperti biasa, Mbak Kokom memvideokan tetangga sebelahnya yang tak lain adalah Wahyu dan Ismi, tapi kali ini secara diam-diam, ia bersembunyi di balik jemurannya.
“Tuh, lihatin belum bercerai dengan istrinya saja sudah bawa wanita lain ke rumahnya. Dan lebih parahnya ibunya mendukung perselingkuhannya!” cerocos Mbak Kokom dengan suara pelan sambil mengarahkan kameranya ke arah Wahyu dan Vania yang baru keluar dari rumah, sepertinya mereka akan hang-out bareng.
Mbak Kokom segera mengakhiri videonya, karena saat itu Wahyu menoleh ke arah rumahnya, menatap curiga.
“Ada apa, Mas?” tanya Vania pada Wahyu.
“Itu rumah orang yang kemarin mem-viralkan videoku dengan Zahra,” jawab Wahyu seraya menunjuk rumah kontrakan ber-cat biru dengan ujung dagunya.
“Oh, kurang ajar! Sepertinya kita harus memberikan pelajaran kepadanya!” geram Vania seraya mengambil batu koral yang ada di dekat kakinya, dan melemparkannya ke arah rumah Mbak Kokom.
PRAK!!
Batu koral itu mengenai kaca rumah Mbak Kokom.
Mbak Kokom yang sedang bersembunyi di balik jemurannya pun tidak tinggal diam, ia langsung berteriak keras, “MALING ... MALING ...”
Vania dan Wahyu seketika itu langsung panik dan segera melarikan diri ketika warga mulai berdatangan saat mendengar teriakan Mbak Kokom.
“Kokom!! Mana malingnya?” tanya Ismi yang keluar rumah sambil membawa sapu. Pertanyaan Ismi mewalkilkan para warga yang sudah berkumpul di halaman rumahnya.
“Malingnya sudah pergi, nyolong suami orang!” jawab Mbak Kokom penuh sindiran.
“Yang benar saja sih, Kom!” kesal Ismi sambil meletakkan sapunya asal ke atas lantai depan rumahnya.
Sedangkan para warga bersorak riuh lalu membubarkan diri, kembali ke rumah masing-masing.
“Benar atuh, Bu. Informasi dari Kokom Baskom itu nggak pernah salah!” jawab Kokom sambil menepuk dada beberapa kali.
“Lalu suami siapa yang di gondol maling?” tanya Ismi belum sadar kalau Wahyu dan Vania yang sedang dibicarakan oleh Kokom.
“Suaminya Mbak Zahra,” jawab Mbak Kokom, sambil mengambil ancang-ancang melarikan diri ke dalam rumahnya sebelum terkena amukan buaya betina.
“KOKOM!” teriak Ismi sangat kesal pada Janda gembrot itu.
“Selamet ... selamet ...” Mbak Kokom mengelus dada ketika sudah berada di dalam rumah, ia segera mengunci rumahnya dengan rapat agar Ismi tidak bisa masuk ke dalam rumahnya.
“Wah, cari perkara ini Janda gembrot! Kokom keluar kamu!” teriak Ismi seperti orang yang kesetanan.
****
Dukung Mbak Kokom ya biar masuk nominasi tok-tokers ter-hits🤣🤣🙈🙈
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Atoen Bumz Bums
Zahra Cemen balas dendam pake kuasa ortu
bukan dgn skill sendiri
2025-03-14
0
LENY
KEREN
2025-01-24
0
LENY
KETEN MBAK KOKOM 😂😂
2025-01-24
0