Zahra berpamitan pulang kepada orang tuanya ketika hari sudah sore. Wanita cantik itu di antar kedua orang tuanya sampai halaman rumah.
“Benar tidak mau di antar?” Ansel menegaskan sekali lagi karena putrinya tidak mau diantarkan olehnya atau pun di antar oleh sopir.
“Iya, nggak usah, Pi, aku naik taksi saja.” Zahra tersenyum lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
Zahra berjalan mundur seraya melambaikan tangan pada orang tuanya yang membelas lambaian tangannya. Kemudian Zahra membalikkan badan, seraya melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang rumah mewah itu dengan perasaan yang tidak karuan.
Ada rasa bahagia dan sedih. Bahagia karena kedua orang tuanya menerima dirinya dengan tangan terbuka, sedangkan ia sedih karena masih merasa bersalah kepada orang tuanya.
“Putri kita sudah kembali, Pi,” ucap Melisa seraya memeluk lengan suaminya sambil meletakkan kepalanya di pundak kanan Ansel, kedua matanya menatap punggung Zahra yang mulai menjauh dari pandangan.
Ansel mengangguk sebagai jawaban. Meskipun Zahra bukan putri kandungnya akan tetapi ia sangat menyayangi putri sambungnya itu seperti anaknya sendiri.
Ya, sebenarnya Zahra adalah anak Melisa dengan mantan suaminya. Dulu Melisa juga di selingkuhi oleh mantan suaminya.
Nasib Melisa tidak jauh berbeda dari nasib Zahra.
Zahra mengerutkan keningnya saat ada mobil mewah berhenti di depan pintu gerbang rumah orang tuanya, bertepatan dengan ia yang baru keluar dari pintu gerbang tersebut. Mobil tersebut tampak asing baginya, setelah beberapa detik mengamati akhirnya pemilik mobil itu keluar dan menghampirinya.
Kedua mata Zahra membulat sempurna saat melihat pemuda tampan yang keluar dari mobil mewah tersebut. Pemuda yang selama ini sangat dia rindukan. Pemuda itu berpakaian rapi dengan gaya casual, dan rambutnya di tata rapi belah pinggir, wajah tampan itu seperti duplikat wajah papi Ansel waktu masih muda.
“Kak!” seru pemuda tampan itu sambil berjalan ke arah Zahra, tanpa banyak kata, ia langsung memeluk wanita cantik yang ada di hadapannya ini.
Zahra terkekeh tapi dia juga terharu sampai mengeluarkan air mata, ia pun membalas pelukan tersebut tidak kalah erat seraya menepuk-nepuk punggung lebar dan kokoh itu.
“Mattew, Kakak merindukanmu.” Zahra berkata setelah pelukan mereka terurai, ia mendongak menatap adik kesayangannya yang menjulang tinggi di hadapannya.
“Aku tahu! Tapi, sayangnya aku nggak rindu sama Kakak!” ketus Mattew seraya menatap kakaknya dengan tatapan sebal dan penuh dendam, tapi percayalah di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat merindukan Zahra lebih dari siapa pun.
“Iya ... iya, aku percaya.” Zahra tersenyum seraya berjinjit lalu mencubit salah satu pipi adiknya sangat gemas.
“Aww! Jangan mencubit aku, nanti aku nggak tampan lagi, kebiasaan!” Mattew cemberut manja dan juga sangat narsis sambil mengelus salah satu pipinya yang baru saja di cubit oleh Zahra.
Sifat Mattew tidak berubah sama sekali, jika bersama dengan Zahra.
“Dasar bocah tengik!” umpat Zahra sambil tertawa pelan saat melihat bibir Mattew semakin mengerucut tajam.
Pemuda yang usianya sudah memasuki 28 tahun itu masih saja seperti anak kecil dan anak mami, tapi karena sifat adiknya itu lah yang membuat Zahra semakin merindukan dan gemas dengan Mattew.
Mattew mencebikkan bibir mendengar umpatan kakak perempuannya. “Kakak sudah ingat rumah? Nggak tersesat lagi?” sindir Mattew.
Zahra terkekeh lalu menggandeng lengan adiknya menuju mobil.
“Kamu sedang meledek Kakak?” tanya Zahra kemudian terdiam sejenak, menatap Mattew dari samping.
“Maafin Kakak ya,” lanjut Zahra dengan nada pelan.
“Akan terdengar sangat jahat kalau aku tidak memaafkan kakakku sendiri,” jawab Mattew seraya mengusap pucuk kepala Zahra dengan lembut. “Sudah masuk ke rumah belum?” tanyanya sambil menatap Zahra.
“Sudah dari tadi pagi, dan ini mau pulang.”
“Jahatnya, kenapa tidak ada yang mengabari aku kalau Kakak hari ini datang!” kesal Mattew sambil berdecap kesal.
“Ha ha ha, karena kamu sedang sibuk, jadinya Mami dan Papi tidak ada yang berani mengganggumu,” jawab Zahra memukul dada bidang adiknya dengan pelan.
“Ck! Baiklah kalau begitu, tapi Kakak harus mentraktirku minum kopi, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepada kakak.” Mattew membukakan pintu mobil untuk Zahr, dan kakaknya itu segera masuk ke dalam mobil, mendudukkan diri di kursi penumpang dibagian depan.
“Oke! Tapi, jangan kopi yang mahal ya, soalnya lagi krisis,” ucap Zahra sambil tertawa pelan, menatap adiknya yang sudah duduk di balik kemudi mobil.
“Aku tahu tempat kopi yang enak tapi harganya pas di kantong.” Mattew menjawab sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan menuju warung kopi, kakak beradik itu saling berbagi cerita setelah sekian lama tidak bertemu.
*
*
Jika Zahra sedang berbahagia bertemu dengan keluarganya, berbeda dengan Wahyu dan Vania yang baru selesai berbagi kenikmatan di atas ranjang. Ya, mereka saat ini berada di sebuah hotel mewah yang ada di pusat kota.
“Kamu memang luar biasa, Mas.” Vania memuji keperkasaan Wahyu yang baru saja selesai menggagahinya.
Tubuhnya terasa lemas dan kedua kakinya bergetar karena di hajar 3 ronde oleh pria perkasa yang ada di sampingnya ini.
“Terima kasih atas pujiannya,” jawab Wahyu sambil memeluk Vania dari samping. “Kamu juga hebat,” bisiknya di dekat telinga Vania.
“Masa? Kalau di bandingkan dengan Zahra, hebatan mana?” tanya Vania seraya mengubah posisi tidurnya yang awalnya terlentang kini menjadi miring ke samping, menghadap Wahyu.
“Tentu saja kamu yang terhebat! Zahra tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan kamu.” Bohongnya, padahal Zahra lebih pro bila di atas ranjang dengannya, bukan hanya itu saja, milik Zahra juga lebih sangat nikmat.
“Aku tersanjung dengan pujianmu.” Vania sangat senang dan hatinya berbunga-bunga sambil memeluk tubuh Wahyu dengan erat. Rasanya dia ingin seperti ini terus dengan pria yang di cintainya ini.
Dasar pasangan nggak tahu diri!
“Mas, aku berencana akan menyewa pengacara untuk menangani perceraianmu. Aku sudah tidak bisa menunggu lama lagi, apa lagi aku sudah lepas KB.” Ucapan Vania membuat Wahyu terkejut bukan kepalang, bahkan pria itu sampai mendudukkan diri lalu menatap Vania dengan tajam.
“Kenapa kamu lakukan itu tanpa persetujuan dariku?!” Wahyu terdengar sangat marah pada Vania.
“Loh, kok kamu jadi marah sama aku? Bukannya dulu kamu pernah bilang kalau ingin punya anak banyak dari aku, karena istri kamu itu nggak bisa hamil?!” Vania tidak kalah marah dari Wahyu.
Seketika itu Wahyu langsung tersadar dan ia harus meredam emosinya agar rencananya tidak gagal dalam mendapatkan semua harta Vania.
“Maaf, tadi aku hanya terkejut saja. Maksud aku, kamu harus izin sama aku kalau mau lepas KB, apalagi aku belum bercerai dengan Zahra. Dan juga kamu janda, apa kata orang nanti kalau kamu hamil di luar nikah.” Wahyu berkata lembut, dan berhasil membuat Vania menjadi luluh dan tidak marah lagi.
Dasar wanita bodoh!
***
Gregetan sama pasangan laknat itu! kayaknya pengen nyumpah serapahin aja, gemas 😡😡😤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
LENY
DASAR WANITA JALANG BODOH DITIPU WAHYU LAKI2 BIADAB YG CUMA MAU HARTAMU BODOH. PASANGAN BIADAB BERZINA TERUS 🤮🤮
2025-01-24
0
Mentari Pagi
betina murahan emang sering gt..
2024-08-28
1
Yus Nita
fasar suami munafik
selalu meenjelek2 kan istri ny pada si jaalang
2024-06-13
2