Di ruangan meeting sudah terlihat ramai. Semua jajaran direksi sudah berkumpul di sana menunggu kedatangan Ansel dan putrinya.
"Aku harap kalian menyambut baik kedatangan putri Pak Ansel," ucap Ricko yang merupakan keponakan Ansel.
"Baik, Pak," jawab mereka serentak.
Vania meremas kedua tangannya bergantian sambil menundukkan kepala saat di tatap oleh Ricko dengan intens.
"Vania, kamu yang merekomendasikan Wahyu untuk naik jabatan menjadi kepala devisi pemasaran?" tanya Ricko.
"I-iya, Pak," jawab Vania sedikit gugup. Semua orang yang ada di ruangan tersebut dengan serempak menoleh ke arah Vania.
"Bukankah Wahyu baru bekerja dua tahun di perusahaan ini? Kamu yang benar saja Vania?!" tegur direktur pemasaran menatap Vania dengan lekat, karena dia baru mengetahui kalau yang merekomendasikan Wahyu adalah Vania.
"Iya, Pak, saya merekomendasikannya karena kinerjanya sangat bagus dan sangat berkompeten," jawab Vania mencari pembelaan.
"Benarkah?!" Direktur pemasaran menatap tajam wanita yang terus menunduk itu.
Ricko tersenyum puas melihat Vania terpojokkan.
"Jangan ribut lagi!" tegas Ricko melerai perdebatan tersebut, kemudian ia meminta kepada sekretarisnya untuk memanggil Wahyu agar ikut meeting pagi hari itu.
Wahyu berjalan tergesa menuju lift yang tidak jauh dari ruangannya, bibirnya melengkung ke atas bertanda kalau dia saat ini sangat senang karena di panggil meeting. "Sudah aku tebak, mereka semua pasti sangat penasaran denganku karena bisa naik jabatan dalam waktu dua tahun." Wahyu berkata penuh semangat dan penuh percaya diri.
Ia mengetuk-ngetukan salah satu kakinya ketika menunggu lift tidak kunjung tiba.
Lima menit kemudian.
Pintu lift terbuka dengan lebar. Wahyu yang tadinya tersenyum lebar kini raut wajahnya berubah terkejut dan kedua mata membola sempurna saat melihat seseorang di dalam lift sana.
"Kamu! Untuk apa kamu berada di sini?" cecar Wahyu seraya masuk ke dalam lift menunjuk Zahra yang berdiri di dalam sana sendirian.
Ansel memerintahkan Zahra untuk masuk ke perusahaan terlebih dahulu karena ia masih ada urusan di lobby.
"Bukan urusanmu!" balas Zahra tanpa menoleh, tatapannya lurus ke depan dan terlihat sangat dingin.
"Hah, aku tahu! Kamu pasti mau melamar pekerjaan di sini 'kan?! Asal kamu tahu ya! Di perusahaan ini nggak menerima wanita seperti kamu yang berpendidikan rendah! Penampilanmu sih oke, tapi sayangnya kamu nggak punya pengalaman sama sekali dalam bidang perkantoran, bisamu cuma ngamen!" Wahyu tidak berhenti mengoceh menghina Zahra. Pria tersebut bahkan menatap calon mantan istrinya dengan sengit dan tajam.
"Teruslah menghinaku sialan! Dan tertawa sepuasmu, karena sebentar lagi tawamu itu akan menjadi penderitaan yang tidak akan pernah berakhir!" batin Zahra penuh dendam.
"Sudah bicaranya?" tanya Zahra melirik tajam pada Wahyu.
"Cih, belagu banget sih! Baru masuk ke dalam perusahaan megah saja gayamu kayak taik!" umpat Wahyu pada Zahra.
"Mulutmu itu busuk benget ya! Atau jangan-jangan mentalmu juga ikut busuk! Sangat di sayangkan sekali perusahaan sebesar ini menerima karyawan busuk sepertimu! Andai aku menjadi pemimpin perusaahaan ini, aku akan mendepakmu langsung!" geram Zahra penuh penekanan.
"Bermimpi saja menjadi pemimpin perusahaan ini!" balas Wahyu emosi.
TING!
Lift sudah sampai di lantai paling atas gedung pencakara langit tersebut, Zahra segera keluar dari lift tersebut tanpa memedulikan umpatan Wahyu. Ia terus melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan.
Sedangkan Wahyu mengurungkan niatnya mengikuti Zahra karena ia harus pergi ke ruang meeting. "Untuk apa dia pergi ke ruangan Pak Ansel?" Wahyu bertanya-tanya di dalam hati, ia segera mengetuk pintu ruang meeting, dan tidak berselang lama pintu tersebut terbuka dari dalam, ia di persilahkan masuk dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.
Wahyu mesam mesem dan menganggukkan kepala sambil menyapa para jajaran direksi yang ada di sana. Padahal tidak ada yang menyambutnya, malahan dia di tatap sini, namun pria itu tidak paham dengan tatapan itu.
"Sebentar lagi Pak Ansel dan putrinya akan datang," ucap Ricko setelah mendengar bisikkan sekretarisnya.
Semua orang yang ada di sana dengan kompak berdiri, menatap pintu ruangan yang terbuka sedikit demi sedikit dari luar sana.
Bisik-bisik mulai terdengar.
"Pasti putrinya Pak Ansel sangat cantik."
"Yang aku dengar kecantikannya seperti bidadari."
"Jelaslah istrinya saja cantik dan Pak Ansel saja tampan, bibitnya pasti sangat berkualitas."
Kira-kira begitu bisik-bisik yang terdengar di ruangan tersebut.
Wahyu yang mendengar suara itu pun langsung menyugar rambutnya, berharap kalau putri Pak Ansel yang cantik terpincut kepadanya.
Ish, nggak sadar diri dan nggak tahu malu. Rasanya mau nimpuk kepala Wahyu pakai batu bata! Geram rasanya!
Ansel memasuki ruangan tersebut sambil menggandeng lengan Zahra yang terlihat putih mulus, lembut nyaris tanpa cela. Semua orang dia sana sangat terpana dengan kecantikan Zahra yang sungguh luar biasa. Kecuali Wahyu dan Vania yang tampak terkejut bahkan membuat kedua mata mereka seolah ingin lepas dari tempatnya.
"Selamat pagi semuanya. Mohon maaf, kalian pasti terkejut karena meeting dadakan ini. Tujuan saya selain mengadakan rapat bulanan adalah memperkenalkan putri saya." Ansel berbicara dengan penuh wibawa sembari melirik putrinya yang berdiri di sampingnya.
"Nggak mungkin!" Wahyu dan Vania menggeleng kompak, mereka berdua yakin kalau semua ini hanyalah mimpi.
Nggak mungkin wanita yang ia kenal sebagai pengamen jalanan adalah seorang putri yang kaya raya. Jadi selama ini Zahra telah membohonginya? pikir Wahyu.
"Halo, semuanya salam kenal, saya Zahra Clark, semoga kita semua bisa bekerja sama dengan baik." Zahra memperkenalkan diri dengan ramah dan full smile.
Semua orang di sana bertepuk tangan senang, menyambut baik kehadiran Zahra yang akan menjadi wakil direktur utama.
"Pak, jadi Zahra ini adalah putri Bapak?" celetuk Vania dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.
"Iya, Zahra adalah putri pertama saya!" jawab Ansel dengan tegas.
JEDERRR!!!!
Bagai di sambar petir di pagi buta, tubuh Vania langsung lemas seketika. Dia bahkan hampir terjatuh kalau kedua tangannya tidak bertumpu pada meja.
Begitu pula dengan Wahyu. Pria tersebut langsung gemetaran, rasanya ingin pingsan. Yang jelas, rasa terkejut dan penyesalan tercampur menjadi satu di dalam rongga dadanya.
Ternyata dia selama ini telah membuang berlian yang sangat berharga. Jadi, ia akan memungut batu berlian itu agar menjadi miliknya kembali.
Pengenalan diri sudah selesai. Semua orang sudah duduk kembali ke kursi masing-masing, melanjutkan rapat bulanan. Zahra duduk di kursi kebesaran ayahnya, sedangkan Ansel berdiri di dekat putrinya. Ia terlihat sangat melindungi Zahra, padahal sekretarisnya sudah memberikan kursi lain akan tetapi dia tidak mau, tetap ingin berdiri di dekat putrinya yang sedang di tatap oleh Wahyu si bajingan itu.
"Wahyu, kamu sebentar lagi akan naik jabatan menjadi kepala divisi pemasaran, sebutkan visi dan misi-mu, sekaligus jelaskan strategimu untuk meningkatkan penjualan dan pendapatan bagi perusahaan. Sebuah strategi yang membantu untuk menjangkau sekelompok pelanggan baru dan meningkatkan pendapatan." Ansel menatap Wahyu dengan tajam.
"Emh ...." Wahyu deg-degan tidak karuan, pasalnya ia tidak mengerti sama sekali tentang strategi pemasaran begitu pula visi dan misinya, karena sebelumnya Vania tidak memberitahukan tentang semua ini/
****
Gemas rasanya sama Wahyu .... sudah puas belum lihat Wahyu dan Vania di samber geledek?! wk wk wk
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
LENY
WADUH SENANGNYA LIHAT MANUSIA DURJANA GAK TAHU MALU KAGET YA UNTUNG GAK PINGSAN WAHYU JGN MIMPI MAU MERAYU ZAHRA LG YG ADA KAMU BAKAL DIPECAT 😂😂😂
TERIMALAH HASIL PERBUATANMU TINGGAL ISMI YG BELUM TAHU NIH BISA MATI BERDIRI NNT ISMI SAKING KAGETNYA😂
2025-01-24
0
mardiana sari
mampus loe wahyu makanya jd org jgn belagu ud miskin belagu lg sombong sm ky ibunya.
2025-02-13
1
Raufaya Raisa Putri
owh....tidak semudah itu feegusooo
2024-12-22
0