Wahyu terus mengejar Zahra sampai halaman rumah. Akan tetapi langkahnya terhenti saat melihat tetangga sebelahnya yang sangat dia benci. Begitu pula dengan langkah kaki Zahra yang itu terhenti saat Mbak Kokom mendekatinya sambil memengan ponsel yang di arahkan kepadanya.
"Halo, Mbak Zahra, apa kabar? Widih ... pagi-pagi sudah cantik bener. Mau ke mana, Mbak?" tanya Mbak Kokom sambil mesam-mesem pada Zahra, lalu wajahnya berubah masam saat tatapannya beralih pada Wahyu.
Zahra tersipu malu ketika mendengar pujian Mbak Kokom.
"Ah, bisa aja sih. Mbak Kokom juga cantik banget dan makin glowing," jawab Zahra memperhatikan badan Mbak Kokom yang terlihat seperti kue bantal, dan memakai daster gombrang bermotif flowers.
"Say hai dong, Mbak, sama para penggemar aku," ucap Mbah Kokom ramah kepada Zahra.
Zahra pun menurut lalu melambaikan tangan kanannya ke arah kamera, seraya berkata, "Hai, semuanya."
"Uh, gemezzzz! Mbak Zahra cantik banget sih kalau malu-malu meong. Beruntung sekali suami Mbak Zahra karena sudah memperistri wanita secantik, Mbak." Kokom sangat memuji kencantikan Zahra yang alami, sambil melirik Wahyu.
"Ehem!!" Wahyu berdehem pelan seraya berjalan mendekati Zahra. "Tentu saja aku beruntung mendapatkannya," jawab Wahyu penuh percaya diri .. emh .. tepatnya lupa diri kalau dia akan menceraikan Zahra,
"Heleh! Pretttt!" jawab Mbak Kokom sambil menatap sengit pada Wahyu yang tersenyum angkuh kepadanya. "Kalau merasa beruntung kenapa harus mendua? Dasar pria bandotan! Alias pria kere tapi banyak gaya!" lanjut Mbak Kokom tanpa takut kepada Wahyu yang menatapnya dengan tajam.
Mbak Kokom segera mengakhiri pengambilan video pagi itu. Ia berkacak pinggang seraya menatap Wahyu seolah menantang.
"Apa plotat-plotot! Maju sini!" Mbak Kokom menjadi terpancing emosi melihat tingkah Wahyu yang menjijikkan itu.
"Mbak, sudah ya." Zahra melerai tetangganya itu, agar tidak terjadi keributan.
"Mbak Zahra asal tahu ya, saya ini juga korban perselingkuhan suami. Dan Mbak tahu sendiri kalau saya juga seorang Janda, jadi saya tahu perasaan Mbak Zahra," ucap Mbak Kokom sambil mengusap air matanya dengan dasternya bagian bawah, lalu beralih mengusap ingusnya.
SROTTTT!
"Huah, lega," ucap Mbak Kokom berhenti menangis sejenak, lalu kembali melanjutkan tangisannya lagi.
Zahra terkekeh geli saat melihat tingkah Mbak Kokom yang selalu membuatnya tertawa.
"Jadi kau selama ini menguping pembicaraan kami?" Wahyu menatap tajam Mbak Kokom.
"Idih!!! Pede sekali Anda! Aku itu tidak menguping tapi hanya mendengar, habisnya suaramu dan suara ibumu itu sudah seperti kentut beracun!" balas Mbak Kokom seraya mencebik dan kembali berkacak pinggang.
"Dasar kurang ajar! Aku akan ..." belum selesai bicara, namun ucapannya terhenti saat Zahra memotongnya.
"Udah, Mas! Lagi pula Mbak Kokom nggak salah!" Zahra berkata tanpa menatap suaminya. Lalu ia tersenyum kepada tetangganya itu, seraya menyuruhnya untuk segera kembali ke rumah.
Mbak Kokom pun menurut dan segera kembali ke rumah kontrakanya, dan tidak lupa menutup pintu rumahnya dengan rapat, lalu mengeluarkan ponselnya, bibirnya menyeringai, dan kedua ibu jarinya berselancar di atas layar ponselnya, menyentuh satu persatu huruf yang ada di sana hingga membentuk sebuah kalimat.
Mbak Kokom langsung memposting video tersebut ke akun tok-toknya dengan caption: "FYI part 2! Part 2 lebih seru dan kalian akan melihat penampakan pasangan suami istri itu. Jangan pada terkejut yak, uhuy! Jangan lupa sawer dengan ikan paus! hi hi hi."
"Jangan ikuti aku!" sentak Zahra seraya melepaskan tangan suaminya yang mencekal tangan kanannya dengan kasar.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi!" Wahyu tidak mau kalah, sebisa mungkin dia tetap melarang Zahra pergi keluar.
"Apakah kau lupa jika sebentar lagi kita akan bercerai? Lalu apa ini? Hah!" ucapan Zahra yang tajam seketika itu membuat Wahyu tersadar, namun pria itu tetap pada pendiriannya, melarang istrinya keluar rumah.
"Kau tidak boleh ke mana-mana!" tegas Wahyu tidak ingin di bantah.
"Aku bebas melakukan apa pun di luar sana! Termasuk bertemu dengan pria yang lebih kaya dan tampan darimu!" Zahra masih berusaha melepaskan cekalan tangan suaminya yang terasa begitu kuat.
"Apa kau bilang?! Tidak sadarkah kau jika saat ini sudah mempunyai suami?! Dasar jallang!" umpat Wahyu semakin emosi, dia tidak terima dengan perkataan Zahra yang akan menemui pria lain.
"Ha ha ha, lalu kau sebut dirimu ini apa? Gigollo? Bajingan? Keparat, atau biadap?! Pilih salah satu julukan yang pas untukmu!" teriak Zahra sangat kesal lalu menggigit tangan Wahyu yang masih mencekal salah satu tangannya.
Wahyu kalah telak, pria itu tidak bisa berkata-kata, bahkan dia tidak membalas umpatan istrinya.
"Berkacalah sebelum menilai buruk orang lain!" desis Zahra, kedua matanya semakin menajam, dan terlihat memerah bertanda emosinya telah berada di puncak. Setelah itu, ia segera melanjutkan langkahnya menuju taksi yang sejak tadi menunggunya di depan gang alias jalan sempit di dekat rumah kontrakannya.
Wahyu menatap punggung istrinya yang semakin menjauh dari pandangan. Salah satu tangannya masih menggantung di udara dan terasa sakit karena di gigit oleh Zahra.
"Aku tidak akan membiarkan bersama dengan pria lain!" geram Wahyu penuh emosi.
Zahra memijat kepalanya yang terasa sangat sakit, ketika sudah berada di dalam taxi.
"Alamat tujuan sudah sesuai titik ya, Kak," ucap sopir taxi online itu kepada Zahra.
"Iya, Pak." Zahra menjawab seraya mengangguk pelan.
Sopir taxi itu pun mengangguk lalu segera melajukan kendaraannya dengan hati-hati menuju alamat tujuan.
"Apa ini, Bu?" Wahyu menatap telur dan tempe gosong yang tersaji di meja makan.
"Apalagi kalau bukan sarapan!" ketus Ismi seraya mendudukkan diri di kursi, lalu melepaskan apron dan meletakkannya di atas meja dengan kasar.
"Aku sangat kesal sekali pada wanita laknat itu!" geram Ismi membuat Wahyu mengalihkan pandangannya dari telur dan tempe yang gosong itu.
"Siapa yang ibu maksud?" tanya Wahyu heran.
"Tentu saja istrimu yang tidak berguna itu, sialan!" umpat Ismi sangat kesal bukan kepalang. "Aku sudah katakan berulang kali, kau harus segera melepaskannya, jangan menahannya di sini!" Lanjut Ismi melampiaskan amarahnya kepada putranya.
"Bu, bukankah jika ada Zahra di sini sangat menguntungkan ibu? Dia bisa memasak dan beres-beres rumah." Wahyu menatap ibunya yang terlihat berbinar.
"Kau benar sekali. Tumben pintar!"
Wahyu mencebik ketika mendengar olokan dari ibunya.
"Kalau begitu, tahan dia selama mungkin di sini!" ucap Ismi dan diangguki oleh Wahyu.
Akhirnya Wahyu mempunyai alasan yang tepat untuk menahan istrinya agar tetap berada di sisinya. Sebenarnya dia tidak rela melepaskan Zahra, dan dia juga tidak ikhlas jika kecantikan istrinya dilihat oleh orang lain di luar sana.
****
Tahan ... ya ... tahan , jangan emosi, wk wk wk ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
LENY
DASAR IBLIS SMG NNT MANTU BARU ISTRI WAHYU KEJAM SAMA ISMI BARU NYAHO TAHU RASA LU IBU LAKNAT😡
2025-01-24
2
Atoen Bumz Bums
Zahra bego
seharusnya jgn bedandan dulu buat Wahyu ilfil biar cepet proses cere nya
2025-03-14
0
Aurell And Friends
hadeeh penyakit laki dah..
2025-01-03
0