Wahyu kini sudah mengetahui penyebab semua rekan kerjanya mengetahui perselingkuhannya. Dia sudah melihat video yang di posting oleh tetangga sebelahnya yang tak lain adalah Baskom alias Mbak Kokom.
“Kenapa bisa ceroboh kayak gini sih? Bagaimana kalau berita ini sampai ke bos, dan bos menelusuri berita ini! Dan akhirnya hubungan kita terbongkar, pastinya salah satu di antara kita akan di suruh mengundurkan diri. Aku nggak mau, Mas! Pokoknya aku nggak mau kalau sampai hubungan kita ketahuan! Aku cinta banget sama kamu,” rengek Vania kepada Wahyu seolah sudah tidak punya harga diri lagi mengemis cinta pada suami orang.
Ish, dasar gatel.
“Tenang saja, berita ini nggak akan ketahuan ke bos. Kamu tenang saja, karena aku juga cinta banget sama kamu,” jawab Wahyu sambil menggenggam tangan Vania dengan erat. Mereka saat ini berada di area parkiran, tepatnya di dalam mobil Vania.
“Bohong banget! Buktinya di video itu kamu menahan istri kamu yang jelek itu agar tidak pergi dari rumah!” Vania merajuk sambil menghempaskan tangan Wahyu yang memegang tangannya.
“Kamu cemburu?” Wahyu menatap wajah Vania yang sedang ngambek, terlihat lucu di matanya.
“Jelas aku cemburu pakai banget!
“Dengarkan aku, di dalam video itu aku hanya berpura-pura baik sama dia.” Wahyu mencoba merayu Vania agar rencananya tidak gagal.
“Lalu kenapa kamu nggak ceraikan dia sekarang juga? Hah?!” kesal Vania menatap tajam Wahyu.
“Emh ... untuk itu aku ...”
“Nggak punya duit? Kamu butuh duit berapa? Aku saja yang biayain perceraian kamu, biar kita bisa segera menyatu!” Vania segera mengambil ponselnya, ia membuka M-Bankingnya dan mengirimkan sejumlah uang ke rekening Wahyu.
“Aku sudah kirim 10 juta! Pokoknya kamu harus segera ceraikan wanita jelek itu!” titah Vania pada Wahyu.
“Ya ampun, Van. Kenapa kamu baik banget sih? Aku nggak minta uang sama kamu.” Wahyu mengambil ponselnya, berakting ingin mengembalikan uang yang baru saja di transfer kekasih gelapnya itu.
“Jangan di kembalikkan! Dan segera ceraikan wanita itu!” Vania menahan tangan Wahyu yang akan membuka aplikasi M-Banking.
“Aku jadi ngggak enak hati. Kalau begitu aku akan segera menceraikanya sesuai permintaan kamu.” Wahyu berkata sangat manis, hingga membuat Vania merasa menang karena di prioritaskan Wahyu.
Dasar wanita bodoh! Dia nggak sadar kalau hanya di manfaatkan oleh Wahyu.
*
*
Sore harinya. Zahra baru pulang ke rumah sambil menenteng beberapa paperbag di tangannya. Jeesany sangat baik kepadanya, ia di belikan beberapa dress yang harganya sangat mahal, bukan hanya membelikannya pakaian saja, tapi ada skincare dan peralatan make-up agar dirinya bertambah glow-up.
Baru saja memasuki rumah, dia sudah di sambut omelan ibu mertuanya.
“Dasar menantu kurang ajar!!!! Jam segini baru pulang! Dan apa ini? Kamu menghabiskan uang yang diberikan oleh Wahyu?!” amuk Ismi pada Zahra yang masih berdiri di ambang pintu.
“Maaf ya, Bu. Memangnya anak ibu kasih duit berapa ke aku? Jangankan buat beli baju, buat beli liptisk saja harus mikir ribuan kali karena saking banyaknya uang yang di berikan Mas Wahyu kepadaku!” jawab Zahra dengan sinis, lalu segera masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan mertunya yang terus memakinya.
“Lalu dapat uang dari mana kamu bisa belanja sebanyak itu? Habis jualan tempe!” Maki Ismi terdengar sangat menyakitkan di hati Zahra. Bukannya sadar, wanita itu malah semakin menjadi dan semakin tidak sadar diri.
Bahwa semua perkataannya yang baru saja diucapankannya mengandung racun.
“Ya Tuhan, beri aku kesabaran seluas samudra untuk menghadapi ibu mertuaku.” Zahra memegang dadanya ketika dia sudah sampai di kamar.
Zahra meletakkan beberapa paperbag di atas tempat tidur, kemudian ia segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sekaligus menenangkan hati dan pikirannya.
*
*
Wahyu hari ini harus melalui hari yang berat karena video viralnya. Bahkan dia mendapatkan hujatan dari rekan kerjanya. Kini ia sudah sampai di rumah menggunakan motor matic-nya.
Setelah memarkirkan motornya di halaman rumah, ia langsung menuju ke rumah Mbak Kokom.
TOK ... TOK ...
Wahyu mengetuk rumah Mbak Kokom dengan sangat keras dan penuh emosi.
“Iya, sabar!” teriakan Mbak Kokom terdengar dari dalam rumah, tidak berselang lama pintu rumah tersebut terbuka, menampilkan Mbak Kokom yang memakai masket putih dan rambut di gulung dengan roll rambut.
Wahyu sampai terkejut melihat penampakan wanita berbadan gempal itu.
“Ada apa Mas?” tanya Mbak Kokom. Wanita itu seolah tidak terkejut dengan kedatangan Wahyu di rumahnya.
“Aku mau, kamu hapus videoku dengan Zahra!” amuk Wahyu menatap tajam Mbah Kokom yang terlihat santai sambil meniupi kukunya yang baru selesai di cat dengan kutek.
“He-em, terus?” ucap Mbak Kokom tanpa takut.
Melihat reaksi wanita itu, membuat Wahyu menjadi sangat kesal bukan kepalang, rasanya dia ingin menggelindingkan wanita berbadan gempal itu ke jalan raya.
“Di hapus juga percuma, Mas. Soalnya sudah tersebar dan sudah banyak yang membagikannya,” jawab Mbak Kokom sambil tertawa pelan. “Kenapa? Merasa malu ya? Tutupin saja mukanya pakai kantong kresek.” Mbak Kokom malah meledek Wahyu tanpa rasa takut sama sekali.
“Aku akan membawa kasus ini ke pengadilan, karena kau sudah mencemarkan nama baikku dan mengambil video tanpa izin!” ancam Wahyu terdengar tidak main-main, berharap kalau wanita yang ada di hadapannya ini ketakutan, akan tetapi dugaanya itu salah.
“Ya sudah sana, laporkan saja, aku tidak takut!” ucap Mbak Kokom lalu menutup pintu rumahnya dengan kasar.
BRAK!
Wahyu memejamkan kedua matanya dengan erat, bersamaan dengan kedua tangannya mengepal kuat, lalu ia menendang pintu rumah tersebut dengan keras. Setelah puas, ia segera kembali ke rumahnya.
“Wahyu! Istri kamu baru pulang dan membawa banyak belanjaan!” adu Ismi pada putranya.
“Dia belanja? Dapat uang dari mana dia?” Wahyu tahu kalau Zahra tidak mempunyai uang, tapi ini sungguh aneh kenapa istrinya bisa berbelanja? Pikiran negatif mulai merayap ke otaknya.
“Syukurin! Pasti menantu gila itu sebentar lagi akan di amuk Wahyu!” Ismi bergumam sambil menatap putranya yang sudah memasuki kamar.
*
*
“Dapat uang dari mana kamu?!” bentak Wahyu pada istrinya yang baru keluar dari kamar mandi, lalu tatapannya beralih pada beberapa paperbag yang ada di atas tempat tidur.
“Yang jelas nggak minta duit sama kamu!” jawab Zahra santai sambil membuka satu persatu paperbag itu dan mengeluarkan isinya.
Kedua mata Wahyu memicing, menatap semua belanjaan istrinya yang harganya sepertinya sangat mahal.
“Apa kamu mendapatkan barang-barang ini dengan cara Open BO?” tuduh Wahyu tak berperasaan.
***
Ya allah, boleh nampol mulutnya Wahyu nggak sih? Gedek banget😭
Please kasih bunga mawar buat Mbak Zahra, biar dia semakin kuat🌹🌹🌹😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Dyah Oktina
iya aku kasih bunga mawar 5 ya buat mb zahra.. supaya kuat. ...kuat.. 👍🏻🌹🌹🌹🌹🌹
2024-12-11
0
Kalele Femmy
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
2024-12-16
0
Kalele Femmy
setujuuuuu😇😇🥰🥰
2024-12-16
0