Mbak Kokom terperangah ketika di ajak masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Bibirnya berdecap kagum beberapa kali, bertanda kalau dia kagum melihat isi rumah tersebut.
“Mbak, kita mau ke mana?” tanya Mbak Kokom pada Zahra yang terus menuntunnya menuju tangga mewah dan besar yang ada di tengah rumah tersebut,
“Ke kamar, Mbak Kokom pasti lelah karena sudah mengantarku.” Zara menjawab sambil tersenyum tipis.
“Hooh, bukan lelah lagi tapi cuapek banget.” Mbak Kokom menyahut lucu, sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan sekitar, tidak ada siapa pun di sana, mungkin semua penghuni rumah mewah itu sudah pada tidur.
“Maka dari itu.” Zahra menghentikan langkahnya, ketika sudah sampai di salah satu kamar dengan pintu bercat putih. “Malam ini Mbak Kokom tidur di sini ya.” Zahra membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam dan menyalakan lampu kamar tersebut.
“Woah!” Mbak Kokom rasanya berada di negeri mimpi saat melihat kemewahan di kamar tersebut, lalu ia menatap Zahra dengan tatapan bingung, “apakah ini tidak terlalu mewah untuk seorang pembantu?” celetuk Mbak Kokom.
Zahra terkekeh geli mendengarnya, ia menatap Mbak Kokom sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“Yakin?” tanya Mbak Kokom sekali lagi.
“Udah jangan banyak tanya, sekarang Mbak Kokom istirahat dan ganti dasternya dengan baju tidur yang ada di lemari.” Zahra menunjuk lemari besar yang ada sudut kamar tersebut.
“Nggak ah! Enakkan pakai daster, semriwing.” Mbak Kokom berkata sambil mengibaskan dasternya ke kanan dan ke kiri, membuat Zahra tertawa melihatnya.
“Aku tinggal dulu ya, Mbak, aku juga mau istirahat,” pamit Zahra.
“Eh! Tunggu dulu, kamu nggak tidur di sini? Lalu kamarmu di mana?” Mbak Kokom melontarkan banyak pertanyaan pada Zahra.
“Kamarku ada di lantai tiga, nanti kalau Mbak Kokom membutuhkan sesuatu gunakan intercom yang ada di atas nakas,” jelas Zahra sambil menatap Mbak Kokom yang terlihat takut.
“Kamu tidur di sini saja, aku takut, nanti kalau tiba-tiba aku di jadikan tumbal pemilik rumah ini bagaimana?” Mbak Kokom menahan salah satu tangan Zahra, dan memohon kepada wanita cantik yang ada di hadapannya itu.
“Astaga! Mbak Kokom ini berlebihan.” Zahra tergelak mendengarnya. “Di sini aman, dan pemilik rumahnya sangat baik, jadi jangan berpikiran macam-macam.” Zahra segera keluar dari kamar itu setelah Mbak Kokom melepaskan tangannya.
“Pemilik rumahnya baik? Benarkah? Tapi, aku rasa begitu,” gumam Mbak Kokom sambil menutup pintu kamar, setelah Zahra sudah tidak terlihat.
*
*
Zahra memasuki kamar yang sudah 2 tahun ini tidak ia tempati. Semunya masih terlihat sama, tidak ada yang berubah sama sekali. Wanita cantik itu tersenyum lalu mendudukkan diri di tepian tempat tidur sambil mengedarkan pandanganya ke setiap sudut kamarnya.
“Kenapa aku selama ini begitu bodoh di butakan oleh cinta.” Zahra merutuki dirinya sendiri karena telah melakukan kesalahan yang sangat fatal, mencintai seorang pria bajingan selama 2 tahun, rasanya waktunya terbuang sia-sia.
Zahra tersenyum miris melihatnya.
“Oke, Zahra! Sekarang waktunya kamu menunjukkan taringmu!” Zahra menyemangati diri sendiri sambil beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri dan memakai pakaian tidur, ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk-nya yang sangat ia rindukan.
“Ah! Nyamannya.” Zahra menggerakkan kedua kakinya dengan gerakan tidak beraturan.
*
*
Pagi harinya.
“Dasar bodoh! Seharusnya kamu menahan Zahra agar tidak pergi dari sini! Ibu juga ‘kan yang susah!” omel Ismi yang sedang memasak di dapur, membuat sarapan.
Pagi-pagi dia sudah mengamuk saat Wahyu memberitahukan kalau Zahra pergi dari rumah.
“Zahra nggak mau!” jawab Wahyu sambil menatap ibunya yang sedang memotong cabe dan bawang merah, mau bikin nasi goreng ceritanya.
“Kamu yang bodoh! Nggak bisa bujuk dan mengancam Zahra!” geram Ismi sambil mengacungkan pisau kepada putranya.
Wahyu bergidik ngeri melihat pisau tajam itu.
“Aku lagi yang di salahkan!” Wahyu medumel sambil beranjak dari duduknya ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar rumah.
“Siapa yang datang? Jangan-jangan wanita miskin itu kembali karena nggak punya tempat tinggal!” ucap Ismi dengan nada jengkel.
Wahyu membuka pintu rumahnya dengan lebar, kedua matanya membulat sempurna saat melihat sosok wanita cantik berdiri di sana.
“Suprize! Aku sengaja datang ke sini pagi-pagi banget karena mau berangkat kerja bareng kamu. Pasti kamu tadi terkejut ya,” Vania tersenyum lebar lalu memeluk Wahyu yang berdiri di tengah pintu.
“Ha ha ha, iya aku sangat terkejut.” Wahyu tertawa, pura-pura senang, lalu mengajak Vania masuk ke dalam rumah tepatnya menuju dapur.
“Eh, ada calon mantu.” Ismi sangat senang melihat kedatangan Vania di pagi hari. “Kebetulan banget, kamu datang. Bantuin ibu masak yuk!” ajak Ismi dengan senyum yang merekah seperti bunga kamboja yang baru mekar, tapi senyumannya itu langsung layu saat mendengar jawaban Vania yang sangat ketus dan menjengkelkan.
“Belum jadi menantu saja sudah berani nyuruh masak!” ketus Vania sambil menatap sebal pada Ismi.
“Van, nggak boleh begitu dong!” tegur Wahyu.
“Heleh! Nanti jadi kebiasaan!” balas Vania.
“Eh, sudah-sudah jangan ribut ya ... tidak apa-apa, ibu yang akan masak nasi goreng untuk kalian semua.” Ismi terpaksa melerai, kalau bukan karena Vania orang kaya mungkin ia sudah mengusir wanita itu.
“Mana istrimu? Kok nggak kelihatan?” tanya Vania, celingukan mencari keberadaan sosok wanita yang dia cari.
“Dia sudah pergi? Syukur deh, jadi aku nggak perlu buang tenaga untuk mengusirnya!’ Vania tersenyum senang karena pada akhirnya Wahyu akan menjadi miliknya. “Oh, iya, aku sudah menyuruh pengacara aku buat ngurus perceraian kamu sama wanita jelek dan miskin itu!” lanjut Vania pada Wahyu.
Wahyu menjadi gregetan pada Vania yang bertindak sesukanya.
“Kamu apa-apaan sih! Aku bisa mengurusnya sendiri!” geram Wahyu.
“Buktinya mana? Sampai sekarang saja kamu belum bercerai dengan dia! Kamu pikir aku sabar buat tunggu dudamu!” Vania menatap tajam Wahyu yang kesal kepadanya. “Kalau kamu nggak suka, aku kabari pengacaraku sekarang, lagi pula diluar sana masih banyak pria kaya yang ngantri mau dapatin aku!” Vania berkata dengan percaya diri luar biasa.
Mendengar hal itu, Wahyu tentu saja harus menurunkan ego dan meredam amarahnya, dari pada nanti Vania memutuskannya.
“Ya, Sayang, maafkan aku, Sekarang jangan marah lagi, oke!” Wahyu mengajak Vania duduk di kursi,
Vania tersenyum tipis dan hatinya langsung lumer seperti ingus yang keluar dari hidung, hueekkk
“Gitu dong, kalau senyumkan cantik pakai banget.” Gombal Wahyu sambil memeluk Vania dari samping.
Ismi yang melihat pemandangan itu menjadi bertambah kesal pada Vania, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
LENY
JIJIK LIHAT WAHYU DAN VANIA RASAKAN ISMI KAMU NNT DIKASARIN SAMA VANIA SI JUTEX. BUANG BERLIAN DPT SAMPAH. BUSA PINGSAN KSLUAN KALAU TAHU ZAHRA ANAK SULTAN 😂😂
2025-01-24
0
Raufaya Raisa Putri
batu ginjal ngelunjak
2024-12-22
0
Dyah Oktina
😂😂😂huweeeeeekkkk
2024-12-11
0