Zahra dan Mattew berpamitan pulang kepada Arvan karena waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Zahra berniat membayar 2 cangkir mocha latte akan tetapi Arvan menolaknya.
Arvan sebenarnya merasa tidak rela jija Zahra pulang, tapi bagaimana lagi dia tidak mempunyai hak sama sekali untuk melarang atau mencegah wanita itu.
“Next time, aku mampir lagi,” ucap Mattew sebelum masuk ke mobilnya.
“Jangan lupa ajak Kak Zahra juga.” Arvan menyahut penuh harap.
“Nggak janji!” jawab Mattew seraya masuk ke dalam mobil, lalu menancap gas mobilnya dengan kecepatan lambat keluar dari area kafe tersebut.
Arvan menatap mobil yang ada di kendarai Mattew semakin menjauh dari pandanganya, ia menghela nafas kasar seraya menepuk jidatnya kesal, karena ia lupa meminta nomor ponsel Zahra.
“Ah, bagaimana bisa aku melupakannya!” Arvan memaki dirinya sendiri sambil berjalan masuk ke dalam kafe. Sebenarnya dia bisa saja mendapatkan nomor telepon Zahra dari Mattew, akan tetapi jika dia menggunakan cara seperti itu maka ia akan terlihat tidak gentle.
*
*
“Menurut Kakak, Arvan bagaimana?” tanya Mattew menatap Zahra sekilas.
“Bagaimana apanya?” Zahra malah balik bertanya, ia menatap jalanan kota pada malam hari yang terlihat ramai.
“Maksudku ... emh ... pandangan Kakak kepada Arvan seperti apa?” Mattew menjelaskan pertanyaannya dengan detail agar kakaknya tidak bingung.
“Biasa saja,” jawab Zahra sangat cuek, dan masih betah menatap ke arah luar kaca jendela mobil. Akan tetapi, seketika itu ia terdiam dan menoleh pada adiknya, melayangkan tatapan penuh selidik kepada Mattew.
“Jangan bilang kalau kamu memang sengaja mempertemukan aku dengan Arvan?!” Kedua mata indah itu memicing tajam kepada adiknya yang terkekeh sambil mengusap tengkuk, penuh rasa canggung.
“Hais!!!” geram Zahra, melihat ekspresi adiknya yang seperti itu membuatnya sudah mengetahui jawabannya.
“Maaf, lagi pula Arvan adalah pria yang baik. Aku sudah mengenalnya sejak kecil.” Mattew menjelaskan akan tetapi Zahra tidak mau mendengarnya. Wanita cantik itu menuti telinga dengan kedua tangannya.
Zahra tidak ingin mengenal pria mana pun, permasalahannya rumah tangganya dengan Wahyu membuatnya tidak percaya lagi dengan cinta dan juga pria.
Hah!
Mattew menghela nafas panjang, sepertinya terlalu dini untuk menyuruh kakaknya move on. Sebenarnya niatnya baik mengenalkan Arvan kepada Zahra, karena ia tidak ingin kakaknya itu bersedih dan terus mengingat pria bajingan itu.
Mattew terus melajukan mobilnya menuju tempat tinggal Zahra, dan tentu saja dia sampai alamat rumah itu dengan arahan kakaknya sendiri.
Tepat jam 8 malam, mobil yang di kendarai Mattew sampai di dekat gang kecil yang akan memasuki rumah Zahra. Mattew merasa prihatin dengan kakaknya yang harus tinggal di lingkungan yang kumuh dan sempit seperti itu. Mattew mengambil dompetnya, lalu mengambil salah satu ATM-nya dan di berikan kepada Zahra.
“Apa ini? Aku tidak membutuhkannya,” tolak Zahra ketika adiknya menyodorkan ATM berwarna gold kepadanya.
“Membutuhkan atau tidak, kakak harus menerimanya. Aku memaksa, dan aku yakin kalau pria bajingan itu tidak akan memberikan kakak uang, jadi ambil dan gunakan kartu ATM ini untuk keperluanmu.” Mattew memaksa Zahra menerima kartu ATM darinya.
Zahra menatap Mattew dengan lekat, kemudian ia memeluk adiknya dengan sangat erat, tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada adiknya itu.
“Thanks.” Zahra terharu karena tidak menyangka kalau adiknya yang selama ini cuek ternyata sangat peduli dengannya.
Mattew mengangguk sebagai jawaban, seraya mengelus punggung Zahra beberapa kali hingga tidak berselang lama pelukan mereka terlepas.
“Pin ATM itu tanggal dan tahun lahirku, jadi kakak tidak akan kesulitan mengingatnya.:” Mattew memberitahu.
Zahra mengangguk bertanda mengerti, kemudian ia segera turun dari mobil tersebut dan melambaikan tangan kepada adiknya yang sudah melajukan mobil mewah kembali.
Zahra memasukkan dan menyembunyikan kartu ATM tersebut di bagian tersembunyi yang ada di dompetnya. Setelah itu, ia segera berjalan memasuki gang sempit itu menuju rumah suaminya.
Rasa malas menggelayutinya saat rumah kontrakan yang sudah ia tempati bersama Wahyu selama 2 tahun ini sudah terlihat di depan mata. Ia menghela nafas berulang kali, melangkahkan kedua kakinya dengan berat, memasuki rumah kontrakan itu.
Dadanya berdenyut nyeri dan jantungnya berdetak tidak karuan saat memasuki pintu rumah yang terbuka lebar itu, ia harus menyaksikan sebuah pemandangan yang begitu menjijikkan di mana Wahyu sedang bermesraan dengan selingkuhannya.
Cih! Zahra kira selingkuhan Wahyu lebih cantik darinya.
Wajah Vania memang cantik, akan tetapi kecantikannya masih berada di bawah standar. Lebih terkesan biasa aja.
“EHEMMM!!” dehem Zahra sangat keras, sambil terus berjalan melewati ruang tamu di mana dia manusia menjijikkan itu sedang bermesraan di depan televisi.
Wahyu dan Vania sangat terkejut saat mendengar deheman keras itu, mereka yang baru saja akan saling berpatukan terpaksa menjauhkan diri.
“Dasar tidak punya sopan santun!” teriak Vania kepada Zahra.
Zahra menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan seraya menatap tajam pada dua orang itu.
“Seharusnya aku yang bilang seperti itu! Apakah kamu nggak punya harga diri dan nggak tahu malu datang ke rumah suami orang dan bermesraan dengan suami orang!” ucap Zahra dengan penuh penekanan, menatap sengit pada Wahyu dan Vania.
“Opss! Aku lupa kalau kamu memang nggak punya harga diri dan urat malumu sudah putus!” Zahra menutup bibirnya dengan salah satu tangannya, seolah kelepasan bicara lalu terkekeh pelan, sambil menatap Vania dengan tatapan jijik.
“Kurang ajar! Mas, lihat calon mantan istri kamu keterlaluan sama aku!” Adu Vania kepada Wahyu dengan nada manja. Padahal Wahyu sendiri sudah mendengar kata-kata Zahra yang dilayangkan kepada Vania.
“Van, ‘kan aku sudah bilang sebelumnya, kalau kamu jangan datang ke sini dulu, karena statusku dengan Zahra masih pasangan suami istri yang sah,” ucap Wahyu dengan lembut sambil menatap Vania yang juga tengah menatapnya dengan tajam.
Vania menggeram kesal, ia kira Wahyu akan membelanya, tapi justru kebalikannya. Wahyu malah menyalahkannya.
Zahra segera masuk kamar dan menguncinya. Hatinya hancur sampai berkeping-keping, akan tetapi Zahra berusaha untuk kuat dan tetap tegar menghadapi ujian rumah tangganya. Ia berusaha untuk tidak peduli dengan Wahyu dan segala urusan suaminya itu.
“Kok kamu malah membela dia sih?! Seharusnya kamu membela aku! Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus segera menceraikan dia!” teriak Vania dari ruang tengah.
“Iya ... sabar dong,” jawab Wahyu menenangkan Vania dengan cara memeluk wanita itu dengan erat. Dan benar saja, tidak berselang lama Vania menjadi tenang.
Zahra tersenyum miris mendengarkan perdebatan dari ruang tamu itu.
Seketika itu rasa sesak mulai memenuhi rongga dadanya.
Bagaimana pun hatinya akan tetap rapuh dan hancur jika mendengar kata-kata yang menyakiti hati dan perasaannya.
***
Rasanya ingin getok kepala dua orang itu pakai kapak!
Jangan lupa like dan bunga mawarnya🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
LENY
DUH ZAHRA MIMPI APA KAMU PUNTA SUAMI MISKIN BELAGU SELINGKUH SEDANG KAMU CANTIK KAYA DPT SUAMI KAYAK BEGITU BODOHNYA KAMU ZAHRA. MENDING KL SETIA.
2025-01-24
0
mardiana sari
knp ga di grebek warga?kumpul kebo.sm aj zinah.yg bukan muhrimnya seharusnya di grebek warga br rasa
2025-02-13
0
Helen Nirawan
gk.usah nangis mlulu , laki gt di pasar byk ,
2024-07-29
1