"Mas, uang yang kamu berikan sisa 1 juta. Nggak cukup buat satu bulan." Zahra berkata suami dan mertuanya berada di meja makan. Zahra melirik ibu mertuanya yang terlihat memakai baju baru.
"Boros banget sih kamu!" Wahyu menatap tajam istrinya, seraya mengeraskan rahangnya.
"Kok aku yang di salahin? Semestinya aku yang nyalahin kamu! Kenapa hanya memberiku uang 3 juta per-bulan, belum lagi tadi pagi Ibu meminta uang 1 juta, dan sisanya buat bayar kontrakan, listrik, air, beras, dan keperluan dapur lainnya. Apalagi semua bahan pokok pada naik, 3 juta mana cukup!" Zahra berkata dengan nada kesal, seraya mengambil satu centong nasi lalu meletakkan di atas piringnya.
"Heh! Di mana-mana yang namanya istri itu harus pintar atur keuangan! Nggak kayak kamu, di beri berapa pun sama suami pasti langsung habis!" sahut Ismi sambil mengambil makan malamnya dengan kasar.
"Aku nggak akan protes kepada Mas Wahyu kalau Ibu tahu diri!" jawab Zahra dengan tajam.
"Hah! Lihat kelakuan istri kamu!" Ismi mengadu kepada putranya dengan nada sedih. Padahal Wahyu sendiri sudah mendengar ucapan istrinya.
"Jangan keterlaluan, Ra!" bentak Wahyu menatap tajam istrinya.
"Apanya yang keterlaluan? Aku ngomong apa adanya, ada yang salah?" Zahra menjawab dengan santai, tapi dalam hatinya sangat kesal, dan emosi luar biasa.
"Wanita yang duduk di samping kamu itu adalah ibu aku yang sudah melahirkan dan membesarkan aku! kamu harus hormat dan sopan kepadanya! Ini sama aja kamu menginjak-injak harga diri aku!" sentak Wahyu tidak terima, dan membela ibu kesayangannya.
Ismi tersenyum miring sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Senang karena putranya terus membelanya.
"Pantaskah aku hormat kepada wanita yang setiap hari memaki dan memperlakukan menantunya seperti pembantu? Semut saja kalau di injak akan menggigit, apa lagi aku, Mas! Aku manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran!" balas Zahra dengan nada tinggi, kedua matanya melotot tajam pada suaminya, nafasnya menderu-deru bertanda jika saat ini dia sangat emosi.
Prang!
Wahyu melemparkan sendok yang ia pegang ke atas meja dengan kasar, dia beranjak dari duduknya seraua menatap tajam istrinya yang sekarang menjadi pemberontak.
"Sudah, Wahyu! Berikan saja uang kepada istrimu lagi, biar dia diam dan nggak berisik lag!" Ismi melerai pertengkaran di meja makan itu.
"Nggak perlu, berikan saja uang itu kepada Ibu, dan biar ibu yang mengatur keuangan dan keperluan dapur lainnya!" Zahra beranjak dari duduknya, kembali ke dalam kamar, dia sudah tidak nafsu makan lagi.
*
*
"Udah ibu bilang berapa kali sama kamu, ceraikan Zahra! Dia itu nggak berguna, menang cantik doang tapi kere!" kesal Ismi pada putranya ketika Zahra sudah tidak terlihat.
Wahyu menghela nafas kasar, lalu berjalan menyusul Zahra ke kamar tanpa mendengarkan ucapan ibunya.
"Ra, bisa bicara sebentar?" Wahyu bersuara ketika berada di dalam kamar sembari menutup pintu, lalu menatap istrinya yang duduk di tepian tempat tidur sambil menangis.
"Bicara saja!" ketusnya tanpa menoleh pada suaminya yang sudah menorehkan luka di hatinya.
Wahyu mendudukkan diri di samping istrinya tapi dengan jarak yang cukup jauh.
"Bisa nggak kamu itu kalau membicarakan masalah keuangan jangan di hadapan ibu." Wahyu menatap wajah cantik istrinya dari samping. Wajah cantik yang selama ini membuatnya jatuh cinta kepada Zahra.
"Kenapa malu?" Zahra menoleh menatap dingin pada suaminya.
PLASS!
Hati Wahyu mencelos seolah di cambuk ketika melihat tatapan dingin itu. Tidak pernah sekalipun Zahra menatapnya seperti itu. Sebenarnya apa yang terjadi kepada istrinya? Wahyu bertanya-tanya di dalam hati.
"Kenapa kamu berubah seperti ini, Ra?" Wahyu bertanya, menatap istrinya dengan lekat. Zahra adalah istri yang selalu menurut sama suami, dan tidak pernah sekalipun istrinya membantah perkataannya, lalu ini apa?
Istrinya telah berubah!
"Berubah? Apanya yang berubah?" Zahra seolah tidak mengerti dengan pertanyaan suaminya. Ia tertawa miris sambil menatap suaminya, tidak terasa air matanya mengalir tanpa di minta.
Dia bahkan bisa tertawa di atas kesedihannya. Sungguh miris bukan? Dan tidak menyangka jika rumah tangganya akan seperti ini.
"Sekarang aku yang tanya sama kamu. Salah aku apa, Mas? Aku kurang cantik? Kurang sexy? Kurang baik? Atau kurang apa? Katakan?" tanya Zahra dengan lirih.
"Kamu tidak mempunyai kekurangan apa pun, kamu wanita sempurna, Ra," jawab Wahyu jujur, karena Zahra memang sangat cantik dan baik, tapi hanya saja dia kurang bersyukur mempunyai istri sempurna seperti Zahra.
"Bohong! Semua yang keluar dari mulut kamu itu hanya kebohongan!!" sentak Zahra penuh emosi, menatap tajam suaminya.
"Maksud kamu apa?!" Wahyu menjadi terpancing emosi.
"Kamu masih mencintaiku?" tanya Zahra lagi tanpa menjawab pertanyaan suaminya. Wahyu menganggukkan kepala pelan penuh keraguan sebagai jawaban atas pertanyaan istrinya.
"Lalu kenapa kamu berselingkuh?" Zahra menatap tajam suaminya.
DEG!
Jantung Wahyu berdetak sangat cepat, bagaimana bisa istrinya tahu tentang perselingkuhannya.
"Ha ha ha, sepertinya kamu sudah mengantuk, makanya ucapanmu itu ngelantur. Sebaiknya kamu cepat tidur." Wahyu dengan cepat mengalihkan pembicaraan karena dia mulai gelisah.
"Ibu kamu sendiri yang bilang kalau kamu selingkuh. Nggak nyangka ya selama ini kalian bekerja sama nikam aku dari belakang!" desis Zahra, menahan rasa sesak di dalam dada.
"Ibu pasti bohong." Wahyu berusaha menyangkalnya, dan menyakinkan Zahra agar tetap tetang dan tidak percaya dengan ucapan Ismi.
"Benarkah ibu kamu bohong? Lalu setelah aku menunjukkan sebuah bukti apakah kamu masih bisa mengelak!" Zahra beranjak dari duduknya, menuju lemari lalu mengambil kemeja suaminya yang dia simpan di sana, kemudian ia melemparkan kemeja itu ke arah suaminya.
"Ra, ini hanya sebuah kemeja!" Wahyu geram pada istrinya.
"Iya kemeja yang tercium aroma parfum wanita dan juga terdapat noda lipstik di sana!" Zahra menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap suaminya dengan tajam.
Wahyu berdecap kesal, dia sudah tidak bisa berpura-pura lagi, mungkin sudah waktunya Zahra mengetahui semua ini.
"Iya, aku berselingkuh dengan atasanku. Karena aku sudah capek hidup miskin, di tambah lagi mempunyai istri yang tidak becus apa-apa!" jawab Wahyu, pada akhirnya mengakui kesalahannya.
Pengakuan Wahyu sangat menyakitkan untuk Zahra.
Zahra meneteskan air matanya, "aku korbankan semuanya kepadamu, bahkan aku rela meninggalkan keluargaku demi bisa menikah dan hidup bersamamu, tapi kamu malah menghianatiku? Aku nggak terima, Mas!!!" teriak Zahra sangat keras, hingga tetangganya sangat terkejut dan segera menempelkan telinganya di dinding, menguping pertengkaran mereka.
"Lantas apa maumu?"
"Bercerai! Ceraikan aku!" balas Zahra menantang suaminya.
Wahyu tergelak mendengarnya, "yakin mau bercerai? Kamu mau jadi gembel lagi di jalanan?" ejek Wahyu pada istrinya.
Ya, Wahyu tidak kenal betul tentang asal usul istrinya, yang ia tahu Zahra adalah seorang pengamen jalanan, karena pertama kali bertemu dengan istrinya dulu, Zahra sedang mengamen di lampu merah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
LENY
BAGUS BERCERAI DUH ZAHRA KAMU CANTIK BANGET PASTI NNT DPT SUAMI 6G BAIK DAN KEVIH SEGALA GALANYA DARI WAHYU. SMG NNT DPT MERTUA YG TULUS BAIK DAN SAYANG KSMU ZAHRA🙏
2025-01-24
0
nobita
ooh begono ceritanya....
2024-09-08
0
Raufaya Raisa Putri
woaah...ini rianti istrinya bang Alex.dilraba bkn ini
2024-09-01
0